
Hanako menyampaikan kecurigaannya pada sang ayah yang ia ketahui sedang berusaha membuka kasus pembakaran SPBU itu lagi. Heru pun mendengarkan dengan serius analisa Hanako itu.
“ Siapa nama Kakek itu...?” tanya Heru.
“ Pujo Yah...,” sahut Hanako.
“ Dia memang dicurigai terlibat dengan kematian ketiga temannya itu. walau alibinya sangat kuat yaitu mengantar kerabatnya yang sakit, tapi polisi tetap bisa menemukan kejanggalan...,” kata Heru.
“ Apa itu Yah...?” tanya Hanako penasaran.
“ Sebaiknya Kita tunggu Papamu ya Kak. Sebentar lagi juga sampe kok...,” kata Heru.
“ Papa ngajak Opa juga Yah...?” tanya Hanako.
“ Iya. Ayah yang ngundang mereka ke sini sekalian ngopi-ngopi...,” sahut Heru sambil tersenyum.
Hanako pun mengangguk lalu ke dapur untuk membantu sang bunda menyiapkan kopi dan cemilan yang diinginkan sang ayah. Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Haikal terdengar menjerit senang menyambut kehadiran Fatur, Faiq dan Izar.
Efliya pun nampak tersenyum melihat tingkah Haikal. Sedangkan Hanako terlihat membawa nampan berisi kopi dan setoples kue kering yang dibuat Efliya tadi lalu meletakkannya di atas meja.
Kini keluarga Efliya duduk bersama Fatur, Faiq dan Izar di ruang tamu sambil berbincang akrab.
“ Aku ketemu sama Kakeknya Bintang lho Pa...,” kata Hanako membuka pembicaraan.
“ Ciee..., cieee..., yang lagi pedekate...,” goda Izar sambil mengedipkan matanya.
“ Siapa yang pedekate sih Zar. Kakeknya Bintang itu ternyata security yang kerja di SPBU ghaib itu...,” sahut Hanako sambil cemberut.
“ Oh ya...?” tanya Faiq.
“ Iya Pa. Namanya Kek Pujo...,” sahut Hanako.
“ Dia security yang katanya pulang lebih dulu itu ya Nak...?” tanya Fatur.
__ADS_1
“ Betul Opa. Tapi ada yang aneh sama Kek Pujo itu...,” sahut Hanako.
“ Apa yang aneh...?” tanya Fatur.
“ Kek Pujo nanya apa dari ketiga hantu temannya itu ada yang cerita sesuatu tentang kejadian malam naas itu...,” sahut Hanako.
“ Kenapa dia nanya kaya gitu ya...,” kata Izar sambil mengunyah kue kering buatan Efliya.
“ Karena dia terlibat dengan kematian ketiga temannya itu...,” sahut Heru tiba-tiba.
Ucapan Heru tentu saja membuat semua orang di ruangan itu terkejut.
“ Maksudmu apa Nak...?” tanya Fatur.
“ Sebenarnya Kami mencurigai security bernama Pujo itu terlibat dengan kedatangan para preman ke SPBU malam itu. Keliatannya dia sengaja mengatur rencana dengan kepala preman itu untuk merampok SPBU yang terkenal sepi saat malam hari. Sayangnya tindakan para preman itu terlalu brutal hingga menyebabkan kematian dua karyawan SPBU dan karyawan mini market yang bertugas malam itu...,” sahut Heru.
“ Ya Allah, ga nyangka ya kalo Kakeknya Bintang orang jahat. Padahal Bintang keliatannya orang baik-baik...,” kata Izar sambil menggelengkan kepalanya.
“ Bintang ya Bintang, beda sama Kakeknya. Jangan samain Bintang sama Kakeknya Nak. Karena Cucu penjahat bisa aja jadi seorang ulama sedang cucu Ulama malah bisa jadi penjahat. Jadi kalo Kakeknya penjahat belum tentu Cucunya juga penjahat...,” kata Fatur mengingatkan.
“ Iya Opa, maaf...,” sahut Izar cepat saat menepuk mulutnya yang berkomentar tak tepat itu.
“ Terus lanjutannya gimana Her...?” tanya Faiq.
“ Polisi masih nyari satu lagi security yang bertugas malam itu Bang. Namanya Husni. Sampe sekarang dia belum ditemuin karena usai kejadian itu dia menghilang gitu aja. Walau mungkin dia ga terlibat, tapi kayanya Husni tau sesuatu tentang kebakaran itu...,” sahut Heru.
“ Kira-kira berapa lama lagi waktu yang diperluin Polisi Her...?” tanya Faiq tak sabar.
“ Insya Allah ga lama lagi semuanya bakal terungkap Bang. Laporan anak buah Gue bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya...,” sahut Heru sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah, syukur lah kalo gitu. Semoga setelah ini Aldi, Beatrix dan Chandra bisa pulang dengan tenang seperti seharusnya...,” kata Faiq.
“ Aamiin yaa Robbal alamiin...,” sahut semua orang bersamaan.
__ADS_1
\=====
Kakek Pujo sedang berbaring di kamarnya. Saat akan memejamkan matanya ia mendengar menantunya yang tak lain ibu kandung Bintang tengah memarahi Bintang. Ibu Bintang tak suka jika Bintang menghabiskan masa mudanya dengan menelusuri tempat-tempat angker hanya untuk sekedar uji nyali. Ibu Bintang ingin anak laki-lakinya itu melakukan kegiatan lain yang lebih positif seperti pengajian atau sejenisnya.
Kek Pujo bangkit dari tidurnya bermaksud melerai kemarahan menantunya itu seperti biasa. Namun langkah kaki Kek Pujo terhenti saat ia mendengar apa yang dikeluhkan Bintang.
“ Aku pingsan di lahan kosong itu Bu, makanya Aku baru pulang sekarang...,” kata Bintang.
“ Pingsan, kok bisa. Bukannya Kamu sama teman-temanmu itu ga kenal takut. Atau jangan-jangan hantu penghuni tanah kosong itu lebih serem dari hantu di tempat lain...,” kata ibu Bintang kesal.
“ Bukan gitu Bu. Hantunya sih ga seberapa serem, tapi tempatnya yang ga enak Bu. Kata kabar-kabar yang beredar dulu di sana ada bangunan SPBU yang terbakar. Ada tiga karyawan yang terjebak di dalam api dan ga selamat. Ketiganya meninggal dunia di tempat...,” sahut Bintang.
“ Apa pun alasanmu Ibu ga mau dengar lagi ya Bintang. Sampe kapan Kamu kaya gini, Ibu capek nasehatin Kamu...,” kata ibu Bintang gusar.
“ Maafin Aku Bu. Aku janji ini yang terakhir...,” sahut Bintang dengan wajah memelas.
“ Bulan kemarin Kamu juga bilang kaya gitu tapi mana buktinya. Toh Kamu tetap jalan lagi ke tempat kaya gitu...,” kata ibu Bintang.
“ Itu karena Aku penasaran sama tempatnya Bu. Kan Aku pernahbilang sama Ibu kalo Aku pernah terjebak di SPBU ghaib. Nah, kemarin temanku ngajakin Aku uji nyali di tempat itu. Aku langsung mau karena tertarik sama kejadian yang sebenarnya. Tapi baru setengah jalan Aku dan teman-temanku malah pingsan. Padahal saat itu Kami ga terlalu takut banget. Untung tadi ada orang yang bantuin nyadarin Kami dan nemuin Kami di lahan kosong itu. Kalo ga, mungkin Aku sama teman-teman masih terjebak di lahan itu dan belum pulang...,” sahut Bintang.
“ Bersyukur lah Allah mengirim orang baik untuk menolong Kamu dan teman-temanmu itu. Apa orang itu juga nyuruh Kamu melakukan sesuatu untuk buang sial...?” tanya ibu Bintang.
“ Bukan buang sial Bu. Tapi nyuruh Kami supaya rajin ibadah. Kami disuruh mandi wajib, jaga sholat fardhu dan sering berdzikir supaya pengaruh negatif yang ada di lahan kosong itu ga ngikutin terus atau malah nerror Kami nanti...,” sahut Bintang.
“ Bagus. Nah sekarang tunggu apa lagi ?. Mandi sana...!” kata ibu Bintang galak sambil melempar serbet kearah Bintang saking kesalnya.
“ Iya Bu...,” sahut Bintang sambil melangkah cepat kearah kamar mandi.
“ Rasain. Kena juga Kamu akhirnya kan. Terima kasih ya Allah..., tolong beri umur panjang dan kesehatan pada orang-orang yang telah menyelamatkan Anakku tadi. Aamiin...,” doa ibu Bintang dengan tulus lalu mengusap wajahnya.
Dari balik pintu Kek Pujo nampak terkejut mendengar percakapan Bintang dan ibunya tadi. Perlahan kek Pujo kembali ke tempat tidur lalu mulai menyusun rencana untuk bertanya pada Bintang nanti. Dan kek Pujo melaksanakan niatnya itu keesokan harinya dengan cara mengajak Bintang bertemu di taman dimana ia juga akan bertemu Hanako untuk pertama kalinya.
\=====
__ADS_1