
Faiq mengantarkan Iyaz dan Izar kembali ke pesantren saat hari menjelang Maghrib. Di perjalanan Iyaz dan Izar terlihat cemas dan itu membuat Hanako bingung.
“ Kenapa wajah Kalian kaya gitu sih. Jelek tau...,” gerutu Hanako.
“ Ck, apaan sih Ci...,” sahut Izar sambil berdecak sebal.
“ Kalo Aku sih lagi mikirin siapa sebenarnya pembunuh Desiree itu Ci. Kasian kan Bu Siti disalahin kaya gitu. Padahal jelas-jelas bukan dia pelakunya...,” sahut Iyaz.
“ Kalo itu Aku juga tau. Tapi Kita kan masih perlu ngelakuin penyelidikan dan itu bukan wewenang Kita. Itu udah jadi ranahnya Polisi. Iya kan Pa...?” tanya Hanako sambil menatap Faiq yang sedang mengemudi.
“ Betul Ci...,” sahut Faiq cepat.
“ Terus gimana cara Kita bantuin Bu Siti dong Yah...?” tanya Iyaz penasaran.
“ Insya Allah Ayah bakal tanya ayahnya Cici dulu. Karena ayahnya Cici kan Polisi, mungkin Kita bisa punya jalan untuk tau udah sampe mana kasus ini. Sekalian nyari tau apa pelakunya udah ditangkap atau belum...,” sahut Faiq.
“ Masalah ini bakal diurusin sama Ayah. Kalian tenang aja dan fokus belajar...,” kata Shera menambahkan.
“ Tapi Kami juga mau tau kelanjutan kasus ini Bun...,” sangkal Izar.
“ Apa yang Bunda bilang itu bener. Kalian fokus belajar dan ini biar jadi urusan Ayah sama Ayahnya Cici. Insya Allah Ayah bakal mampir dan ngajak Kalian juga nanti kalo udah tahap penyelesaian kasus ini. Sedangkan prosesnya biar jadi urusan Ayah sama pihak kepolisian ya Anak-anak...,” kata Faiq memberi pengertian pada kedua anaknya.
“ Aku juga diajak kan Pa...?” tanya Hanako ragu.
“ Insya Allah kalo Kamu masih mau ikut...,” sahut Faiq sambil menatap Hanako melalui kaca spion.
“ Aku pasti mau ikut Pa...,” sahut Hanako antusias hingga membuat Faiq dan Shera tertawa.
Mobil pun memasuki area pesantren. Semua turun untuk mengantarkan Iyaz dan Izar. Kemudian mereka pergi ke kantor guru untuk melapor jika Iyaz dan Izar telah kembali ke pesantren. Saat itu lah tak sengaja mereka bertemu dengan ustadz Hamzah yang kebetulan tengah bersiap memasuki masjid untuk memimpin sholat berjamaah.
“ Assalamualaikum Ustadz...,” sapa Faiq dan keluarganya bersamaan.
“ Wa alaikumsalam Mas Faiq, Mbak Shera dan Anak-anak...,” sahut ustadz Hamzah sambil tersenyum.
“ Apa kabar Pak Ustadz...?” tanya Faiq sambil mencium punggung tangan ustadz Hamzah diikuti Iyaz dan Izar.
“ Alhamdulillah Saya baik-baik aja. Semoga Kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt...,” sahut ustadz Hamzah.
__ADS_1
“ Aamiin yaa Robbal’alamiin...,” sahut Faiq dan keluarganya.
“ Maaf Kami baru sampe jam segini, ada sedikit masalah tadi di jalan Pak Ustadz...,” kata Faiq.
“ Gapapa. Masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum gerbang ditutup kok...,” sahut ustadz Hamzah sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
“ Kalo gitu Kalian cepat siap-siap buat sholat berjamaah ya Anak-anak...,” kata Faiq sambil menatap si kembar.
“ Siap Yah...,” sahut Iyaz dan Izar sambil berlari menuju mess santri.
Melihat tingkah Iyaz dan Izar membuat Shera dan Hanako tertawa. Iyaz dan Izar juga ikut tertawa. Mereka membalikkan tubuhnya lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke area mess santri.
Setelahnya Faiq, Shera dan Hanako pun pergi ke tempat wudhu untuk bersiap mengikuti sholat Maghrib berjamaah. Saat masuk ke dalam masjid Faiq pun disambut oleh ustadz Hamzah yang langsung bertanya apa yang telah Faiq dan keluarga kecilnya alami tadi.
“ Memangnya ada masalah apa...?” tanya ustadz Hamzah.
Faiq pun menceritakan secara singkat apa yang telah ia dan keluarganya alami tadi. Ustadz Hamzah nampak mendengarkan dengan seksama. Perbincangan mereka harus terhenti karena muadzin mengumandangkan adzan Maghrib. Kemudian keduanya pun bergabung bersama para santri untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah.
Setelahnya ustadz Hamzah mengajak Faiq menepi keluar masjid untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang
terhenti tadi.
“ Begitu ya Ustadz...,” sahut Faiq sambil mengerutkan keningnya.
“ Itu pendapat Saya. Sebaiknya hati-hati karena masalah ini juga melibatkan orang besar di daerah itu...,” pesan ustadz Hamzah.
“ Makasih Ustadz. Kalo gitu Saya pamit...,” kata Faiq sambil mencium punggung tangan ustadz Hamzah.
“ Titip si kembar ya Pak Ustadz. Jewer aja telinganya kalo mereka nakal...,” kata Shera sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“ Rasanya sulit ngelakuin itu Mbak Shera. Mereka berdua hampir ga pernah melakukan kesalahan fatal selama ini. Hanya kesalahan kecil dan itu pun udah ada sanksinya dari pesantren...,” sahut ustadz Hamzah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal hingga membuat Faiq, Shera dan Hanako tertawa melihatnya.
“ Kami permisi Pak Ustadz, Assalamualaikum...,” kata Faiq sebelum masuk ke dalam mobil.
“ Wa alaikumsalam..., hati-hati ya...,” pesan ustadz Hamzah.
“ Insya Allah, makasih Ustadz...,” sahut Faiq sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Ustadz Hamzah pun tersenyum sambil menatap kepergian Faiq dan keluarganya. Ia melirik kearah hantu Amsir yang juga tengah berdiri di sampingnya sambil menatap kearah yang sama dengannnya.
“ Kamu masih ngambek Sir...?” tanya ustadz Hamzah.
Hantu Amsir menjawab pertanyaan ustadz Hamzah dengan menggedikkan bahunya. Sejak hantu Amsir melihat
Faiq didampingi oleh Dayang, sejak saat itu lah hantu Amsir selalu menghindari Faiq. Rupanya hantu Amsir kecewa karena Faiq lebih memilih hantu lain untuk menjadi pendamping ghaib selain dirinya.
“ Itu bukan maunya Faiq lho Sir. Dayang yang maksa ikut sama Faiq. Kita sama-sama tau kalo Faiq bukan type orang yang suka memanfaatkan keadaan. Lagian andai Kamu ngikutin Faiq juga ga bakal baik untukmu dan Faiq...,” kata ustadz Hamzah.
“ Ga baik kenapa emangnya...?” tanya hantu Amsir penasaran.
“ Kamu kan ga bisa jauh dari pesantren ini, sedangkan Faiq tinggal jauh di Jakarta sana. Bukan kah pendamping ghaib itu harus selalu ada dan siap membantu jika diperlukan. Bagaimana caramu membantu Faiq kalo Kamu aja jauh dari dia. Walau pun Kamu bisa membantu itu akan terasa sulit karena hanya bisa membantu dengan bisikan tanpa tindakan nyata...,” kata ustadz Hamzah menjelaskan.
Hantu Amsir nampak termenung sesaat usai mendengar penjelasan ustadz Hamzah. Nampaknya hantu Amsir sadar jika ia telah bersikap egois. Hal itu bisa dimaklumi karena Amsir meninggal saat usia remaja dan itu artinya cara berpikir hantu Amsir pun kadang sesuai dengan usianya saat ia meninggal dulu.
Hantu Amsir pun tersenyum lalu menatap ustadz Hamzah malu-malu.
“ Apa sikapku menyebalkan Hamzah...?” tanya hantu Amsir.
“ Kadang-kadang...,” sahut ustadz Hamzah cepat.
“ Maafkan Aku...,” kata hantu Amsir lirih.
“ Harusnya Kamu minta maaf sama Faiq bukan sama Aku. Kan dia yang udah Kamu kecewain...,” sahut ustadz Hamzah sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam pesantren.
“ Iya Aku tau. Tapi Kamu kan bisa bantu Aku. Bilang sama Faiq kalo Aku minta maaf karena udah salah paham sama dia...,” kata hantu Amsir sambil melayang di samping ustadz Hamzah.
“ Gimana caranya, Faiq aja udah pulang daritadi...,” sahut ustadz Hamzah pura-pura bingung.
“ Kamu kan bisa telephon dia Hamzaaahhh...!” kata hantu Amsir gemas sambil berteriak di telinga ustadz Hamzah.
“ Iya, iya. Ga usah teriak juga dong, kupingku bisa tuli nanti...,” sahut ustadz Hamzah sambil mendelik kesal kearah hantu Amsir.
“ Bodo amat...,” kata hantu Amsir sambil melayang pergi.
Ustadz Hamzah nampak tertawa kecil melihat sikap hantu Amsir yang kesal itu. Dalam hati ustadz Hamzah merasa lega karena telah berhasil memberi pengertian pada hantu Amsir. Dan itu artinya ia telah berhasil mendamaikan hubungan Faiq dengan hantu Amsir.
__ADS_1
\=====