
Setelah warga puas memarahi Bintang dan kelima temannya, warga pun membubarkan diri satu per satu. Kini tinggal keluarga Faiq dan Bintang cs yang masih bertahan di depan lahan kosong itu. Karena tak memungkinkan untuk melanjutkan penyelidikan hari itu, maka Fatur meminta Faiq untuk mencari hari lain untuk kembali ke sana.
Sebelum mereka memisahkan diri dan kembali ke rumah masing-masing, Bintang dan kelima temannya menyempatkan diri untuk mengecek kondisi motor mereka masing-masing. Dan kasak kusuk pun terdengar diantara teman-teman Bintang. Mereka melihat dengan jelas jika sikap Bintang sedikit gugup saat berhadapan dengan Hanako. Dan mereka menduga jika Bintang dan Hanako memiliki hubungan khusus.
“ Ehm, jadi Lo ga mau ngenalin dia sama Kita Bin...?” tanya Refan.
“ Dia siapa...?” tanya Bintang tak mengerti.
“ Cewek berhijab itu lah, siapa lagi emangnya...,” sahut Refan kesal.
“ Oh, namanya Hanako...,” sahut Bintang dengan enggan karena tak ingin mereka mengenal Hanako lebih dekat dibanding dirinya.
“ Gitu doang, kenalin yang bener dong...,” protes Boris.
“ Tau nih, kayanya Bintang ga mau Kita deket ya sama cewek itu...,” goda Tomi sambil melirik Bintang.
“ Iya. Kayanya dia takut kalo cewek itu justru tertarik sama salah satu diantara Kita...,” kata Ari yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Bintang yang salah tingkah itu.
“ Ck, bukan itu masalahnya. Gue ga enak aja sama dia karena harus ketemu di sini dalam keadaan kaya gini pula...,” sahut Bintang memberi alasan.
“ Bukannya karena jelous...?” kejar Bara sambil tertawa.
“ Terserah deh Lo mau ngomong apaan...,” sahut Bintang kesal hingga membuat kelima temannya tertawa.
Izar yang mendengar ucapan Bintang dan kelima temannya pun ikut tersenyum. Ia memang bersikap tak ramah
pada Bintang hanya karena ingin Bintang tahu jika Hanako memiliki saudara yang akan selalu melindunginya dan tak memberi kesempatan pria mana pun untuk menyakitinya.
Sedangkan Hanako tak mendengar ucapan Bintang dan kelima temannya karena asyik membalas chat dari
teman-temannya.
“ Sebaiknya Kalian pergi sekarang...,” kata Faiq mengingatkan.
“ Ehm, apa Kami ga boleh ngobrol sebentar sama Om...?” tanya Ari hati-hati.
“ Ngobrol tentang apa...?” tanya Faiq tak mengerti.
__ADS_1
“ Tentang kejadian yang Kami alami semalam di dalam sana Om. Jujur Saya pribadi takut kalo hantu penunggu lahan kosong ini ngikutin Saya dan nerror Saya kaya di film-film itu...,” sahut Ari.
“ Kalo takut kenapa ikutan uji nyali segala. Kan Lo tau itu udah jadi resiko orang yang coba-coba berinteraksi sama makhluk halus...,” kata Izar kesal.
“ Tapi ini beda Bro, biasanya Gue gapapa. Tapi ternyata semalam Gue pingsan setelah nyari jalan keluar ga ketemu...,” sahut Ari tak mau kalah.
“ Ck, tiap tempat kan emang punya kadar kehorroran sendiri Ri. Kenapa bingung sih...,” kata Tomi.
“ Tau nih Ari, kaya orang yang baru pertama kali aja ngelakuin uji nyali...,” gerutu Refan dan Boris.
“ Terserah deh Lo pada mau ngatain Gue cemen kek, pengecut kek, peneakut kek, Gue ga peduli. Yang penting hantu di lahan kosong ini ga ngikutin Gue sampe ke rumah, titik...!” kata Ari lantang hingga membuat ketiga temannya itu terdiam.
“ Udah jangan ribut. Kita cari tempat lain buat bahas hal ini ya, gimana...?” tanya Faiq.
“ Setuju Om...,” sahut Bintang dan kelima temannya bersamaan dengan semangat.
“ Bukannya Lo bertiga tadi ngatain Gue ya, kenapa sekarang malah paling semangat bilang setuju...,” kata Ari sambil mencibir hingga membuat semua orang tertawa.
“ Kita ke kafe Matahari di depan sana aja ya Yah...,” ajak Izar hingga membuat Hanako dan Bintang tersentak dan saling melirik sekilas.
“ Boleh...,” sahut Faiq sambil mengikuti Fatur yang bergegas masuk ke dalam mobil.
“ Ok...,” sahut Bintang sambil mulai menstarter motornya.
Tak lama kemudian enam motor itu melaju meninggalkan lokasi SPBU ghaib. Sedangkan keluarga Faiq masih bertahan di sana beberapa saat sambil mengamati sekelilingnya.
“ Hawa mistis di dalam sana terasa pekat banget ya Om...,” kata Faiq.
“ Betul Nak. Apa yang Kamu liat tadi...?” tanya Fatur.
“ Aku liat ada penampakan karyawan SPBU di sebelah pojok, bukan satu tapi tiga. Kalo dari penampilannya sih keliatannya mereka menjadi korban kebakaran Om...,” sahut Faiq.
“ Betul Pa. Kalo ga salah ingat, karyawan SPBU yang ngisi bahan bakar itu selalu nunduk, bajunya kotor lusuh kehitaman gitu kaya abis kena api...,” sela Hanako.
“ Kamu ga curiga saat itu Ci...?” tanya Fatur.
“ Curiga juga Opa, Aku tau kalo karyawan SPBU itu hantu. Tapi kemarin kan Aku lagi buru-buru mau interview. Eh,
__ADS_1
ga taunya tetep aja terlambat...,” sahut Hanako kesal.
“ Bukan rejekimu kerja di kantor itu Nak...,” kata Faiq mencoba menghibur.
“ Iya Pa...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
“ Mungkin setelah ini Kamu malah dapat pekerjaan yang lebih baik dengan gaji besar dan lingkungan yang menyenangkan seperti apa yang Kamu impikan...,” kata Fatur.
“ Aamiin..., iya Opa...,” sahut Hanako lagi.
“ Kita jalan sekarang yuk, kasian kalo mereka kelamaan nunggu...,” kata Fatur.
“ Siap Opa...,” sahut Izar lalu mulai melajukan mobil perlahan meninggalkan jalan dimana lokasi SPBU ghaib itu berada.
Saat mobil melintas, tiga hantu karyawan SPBU menampakkan diri sambil melepas kepergian mereka dengan tatapan kecewa.
\=====
Mobil tiba di halaman kafe Matahari dan diarahkan untuk parkir di sebelah kiri pohon mangga. Di sana Izar melihat penampakan Miss K yang nampak asyik melamun di atas pohon. Wajah hantu wanita itu terlihat sedih, gaun putih lusuhnya nampak berkibar tertiup angin. Wajah pucatnya membuat siapa pun yang melihatnya pasti enggan untuk bertemu lagi dengannya. Karena selain pucat, wajah itu juga hancur dipenuhi belatung yang bergerak hidup di permukaan kulit wajahnya.
“ Masih siang udah ngelamun aja Tante...,” sapa Izar sambil berlalu hingga membuat Miss K itu tersentak dan menoleh kearah Izar lalu tersenyum.
“ Iseng banget sih Zar...,” kata Hanako sambil membulatkan matanya.
“ Apaan sih Ci. Aku kan hanya menyapa...,” sahut Izar tak mau kalah.
“ Tapi cara menyapamu itu ga banget Zar. Gimana kalo dia marah terus malah ngikutin Kita ke dalam dan nerror pengunjung kafe atau semua orang di kafe itu...?” tanya Hanako ketus.
“ Iya juga ya Ci...,” sahut Izar sambil menoleh kearah pohon mangga dan melihat hantu wanita itu melayang turun dan mendekat kearahnya dengan senyum mengembang di wajahnya.
“ Tuh kan bener. Tanggung sendiri ya Zar, Aku mau masuk ke dalam...,” kata Hanako sambil melangkah masuk ke dalam kafe dan meninggalkan Izar sendiri di samping mobil.
“ Jangan gitu dong Ci. Cici...!” panggil Izar salah tingkah saat dilihatnya hantu wanita itu makin mendekat kearahnya.
Izar bukan takut pada hantu wanita yang legendaris itu. Ia hanya enggan berurusan dengan hantu wanita yang gemar menggangu para pria itu. Izar yang terbiasa ringan mengomentari apa pun nampaknya harus kena batunya kali ini. Karena hantu wanita yang disapanya tadi justru tertarik padanya dan berniat mengikuti Izar kemana pun dia pergi walau pun Izar sudah menolaknya mentah-mentah.
Sementara itu dari balik pintu kafe Hanako nampak tertawa geli melihat reaksi Izar saat diikuti hantu wanita penunggu pohon mangga itu. Hal itu membuat Bintang dan kelima temannya saling menatap bingung. Sedang Fatur dan Faiq terlihat santai karena tahu apa yang terjadi pada Izar di luar sana.
__ADS_1
\=====