
# Assalamualaikum readersku... Maaf ga bs up kmrn krn Author flu berat. Tiap mau nulis ga bisa bertahan lama karena ngantukkk bgt (efek obat kayanya). Alhamdulillah hr ini bs up walau agak siangan yaa. Makasih suportnya readers terlove...\, lanjuuttt.... #
Memasuki hari ke tiga masa percobaan, delapan karyawan baru makin terlihat piawai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Viona hanya perlu mengarahkan sekali saat briefing pagi dan mereka langsung paham apa yang menjadi tugas mereka hari itu.
Masih sama seperti awal masuk kerja, lagi-lagi Suraj memberi perhatian lebih kepada Hanako. Rupanya bukan hanya Hanako yang menyadari jika dirinya diamati oleh Suraj, sang manager personalia itu. Laras dan Fera juga ikut melihat bagaimana cara Suraj menatap Hanako.
“ Eh, liat deh. Kayanya Pak Suraj tertarik deh sama Hanako...,” kata Fera sambil berbisik.
“ Iya. Wajar sih, kan Hanako cantik...,” sahut Laras.
“ Tapi Kita kan juga cantik...,” kata Fera tak mau kalah.
“ Tapi Kita bukan typenya Pak Suraj. Mungkin yang model Hanako gitu lah typenya Pak Suraj...,” sahut Laras cepat dan disambut cibiran Fera.
Hanako yang juga mendengar kasak kusuk kedua temannya itu pun menoleh karena tak suka dengan apa yang mereka bicarakan.
“ Jangan ngaco deh ya. Mana ada Pak suraj tertarik sama Gue...,” kata Hanako sambil membulatkan matanya.
Laras dan Fera saling menatap sejenak kemudian tertawa kecil hingga membuat Suraj menghampiri keduanya dan menegur mereka.
“ Apa ada yang lucu Nona Laras dan Nona Fera...?!” tanya Suraj dengan suara lantang.
“ Oh, maaf. Ga ada yang lucu kok Pak...,” sahut Fera sambil menunduk.
“ Terus kenapa Kalian malah tertawa ?. Apa Saya ijinkan Kalian tertawa di saat jam kerja...?” tanya Suraj sambil menatap Fera dan Laras bergantian.
“ Maaf Pak, Kami ga sengaja. Kami janji ga akan mengulanginya lagi...,” sahut Laras sambil menunduk.
“ Kenapa Kalian ga bisa mencontoh Hanako. Dia serius mengerjakan tugas dan ga banyak bicara kaya Kalian...,” kata Suraj membandingkan Fera dan Laras dengan Hanako sambil berlalu.
Mendengar ucapan Suraj membuat Fera dan Laras membulatkan mata sambil menatap Hanako lekat. Sedangkan Hanako telihat cuek dan tak menggubris pujian Suraj padanya tadi.
\=====
Viona memperhatikan delapan karyawan baru yang tengah berada dalam satu ruangan itu dengan seksama. Ia memang bertugas mengawasi mereka dan menjawab setiap hal yang tak mereka mengerti. Dari tempatnya berdiri Viona bisa melihat kehadiran Suraj sang manager personalia yang juga tengah menatap delapan karyawan baru itu.
Melihat Suraj membuat Viona teringat pada seseorang di masa lalunya. Seorang gadis yang merupakan teman dekat yang juga dikenal Viona di gedung itu. Nama gadis itu Katrina. Gadis cantik berkulit putih, bermata sipit, dengan senyum manis yang memikat. Sikap Katrina yang ramah dan low profile membuat Katrina dalam sekejap menjadi idola di kantor mereka meski pun saat itu Katrina adalah karyawan baru di kantor itu. Viona adalah salah satu gadis yang mengidolakan Katrina.
__ADS_1
Kedekatan Viona dan Katrina berawal dari ketidak sengajaan mereka yang terkunci di toilet. Saat itu waktu pulang kerja dan sebagian karyawan sudah meninggalkan gedung. Viona yang memang sedang datang bulan memutuskan ke toilet untuk mengganti pembalut sebelum pulang karena perjalanan pulang kantor yang biasanya macet saat jam pulang kerja.
Saat memasuki toilet Viona melihat Katrina yang sedang membasuh wajahnya di wastafel. Wajah Katrina sedikit sembab dalam penglihatan Viona. Namun tak ingin dianggap sok tahu, Viona hanya menyapa Katrina seperlunya.
“ Belum pulang Kat...?” tanya Viona sambil melangkah masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
“ Belum...,” sahut Katrina sambil mengeringkan wajahnya dengan tissu.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Viona pun keluar lalu menghampiri cermin besar dimana Katrina tengah
bercermin. Viona memperbaiki penampilannya sambil melirik kearah Katrina. Ia melihat Katrina sedang menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Nampaknya Katrina sedang menangis karena hidung dan matanya terlihat merah.
Viona bukan lah orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Namun melihat kondisi Katrina saat itu membuat Viona penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya.
“ Ehm, maaf kalo lancang. Lo gapapa kan, Lo kenapa...?” tanya Viona.
Bukannya menjawab pertanyaan Viona, Katrina malah menangis makin keras hingga membuat Viona bingung. Karena tak ingin jadi pusat perhatian, Viona memeluk Katrina erat untuk meredakan tangisnya.
“ Emang salah ya kalo Gue suka sama orang. Apa rasa suka itu begitu menjijikkan dan ga boleh diperlihatkan di depan umum...?” tanya Katrina di sela isak tangisnya.
Mendengar pertanyaan Katrina membuat Viona mengerutkan keningnya bingung. Bagaimana mungkin ada pria yang menolak gadis secantik Katrina. Gadis yang nyaris sempurna hingga membuat Viona dan beberapa rekan kerjanya iri karena keistimewaannya itu.
“ Iya...,” sahut Katrina malu-malu.
“ Siapa cowok itu, pasti dia bakal jadi cowok yang beruntung karena udah disukai sama seorang Katrina sang primadona...,” kata Viona.
“ Apaan sih Lo, ga lucu tau...,” sahut Katrina sambil mengurai pelukannya.
“ Gapapa kalo ga mau cerita. Yuk Kita keluar sekarang...,” ajak Viona yang diangguki Katrina.
Namun langkah keduanya terhenti karena pintu terkunci.
“ Terkunci nih...,” kata Viona cemas.
“ Serius Lo, tadi gapapa kok...,” sahut Katrina sambil memutar handle pintu sedemikian rupa namun gagal.
“ Wah gimana nih. Coba Lo hubungi temen Lo Kat...,” pinta Viona.
__ADS_1
“ Teman yang mana nih maksud Lo...?” tanya Katrina sedikit tersinggung.
“ Ya Allah Katrina..., ini urgent lho. Please deh ga usah pake ngambek...,” kata Viona tak suka melihat sikap Katrina yang menurutnya tak tepat itu.
“ Terus Gue harus nelephon siapa dong, kan temen Gue banyak...,” kata Katrina sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
“ Yang pasti harus cowok. Kalo bisa security kantor yang punya akses ke semua ruangan...,” sahut Viona cepat.
Agak sulit menghubungi security di jam pulang kantor seperti saat itu karena mereka juga tengah disibukkan dengan tugas mereka mengawasi lalu lalang orang yang melintas sekaligus memastikan tak ada pencuri atau sejenisnya. Setelah beberapa saat mencoba, akhirnya salah seorang teman yang dihubungi pun merespon permintaan tolong Katrina.
Sambil menunggu petugas yang dimaksud datang, Katrina dan Viona pun duduk di lantai sambil berbincang akrab. Semula Viona tak ingin bertanya apa pun tentang penyebab Katrina menangis tadi. Namun rasa penasaran mendominasi hatinya membuat Viona pun bertanya pada Katrina.
“ Jadi siapa cowok yang udah berani nolak Lo dan bikin Lo patah hati...?” tanya Viona.
“ Yang pasti dia bukan orang biasa...,” sahut Katrina sambil menunduk.
“ Iya lah, kalo orang biasa ga bakalan Lo cinta sampe nangis-nangis kaya gini...,” kata Viona sambil mencibir hingga membuat Katrina tersenyum kecut.
“ Buat Gue dia istimewa. Sejak pertama kali Gue ngeliat dia, Gue langsung suka. Dia dewasa, pintar, berwibawa dan..., ganteng...,” sahut Katrina sambil tersipu malu.
“ Kayanya Gue tau siapa orang yang Lo maksud Kat...,” kata Viona.
“ Lo tau...?” tanya Katrina.
“ Pak Suraj ya...?” tanya Viona ragu.
“ Iya. Gue bilang terus terang sama dia kalo Gue suka sama dia, eh dia malah marahin Gue. Gue malu karena dia marahin Gue di depan orang-orang Vi...,” sahut Katrina dengan wajah merona.
“ Ya Allah Katrina. Lo kan tau tuh orang paling anti sama cewek. Kok nekad banget sih Lo...?” tanya Viona gusar.
“ Gue ga bisa nyimpen perasaan ini sendirian Vi. Gue cuma mau dia tau kalo Gue sayang sama dia. Gue pikir dia ga bakal nolak Gue karena selama ini kan dia juga ga pernah deket sama cewek mana pun di kantor ini. Tapi ternyata dia malah maki-maki Gue...,” kata Katrina sedih.
“ Dia ga pernah deket sama cewek kan karena dia anti sama cewek. Gue juga ga paham gimana cara berpikirnya,
padahal kan dia juga lahir dari cewek tapi kok bisa segitu bencinya sama cewek ya...,” sahut Viona.
Pembicaraan mereka terhenti saat petugas berhasil membuka pintu toilet yang terkunci itu.
__ADS_1
\=====