
Setelah mengetahui apa yang dilakukan Mardiyah di belakang suaminya, Iyaz menceritakan apa yang dilihatnya itu kepada Osman. Terkejut dan tak percaya itu lah ekspresi Osman saat mendengarnya.
“ Jadi apa yang dibilang sama Marwah itu benar. Tapi kenapa Pak Gusman ga percaya sama Marwah...,” kata Osman tak mengerti.
“ Mungkin ada hal lain yang Kita ga tau. Atau jangan-jangan sebenarnya Pak Gusman udah tau kalo Istrinya itu berselingkuh tapi pura-pura ga tau...,” tebak Iyaz.
“ Bisa jadi. Atau mungkin Pak Gusman dan Istrinya punya perjanjian sebelumnya...,” kata Osman.
“ Ayahku ga tau kalo Ibuku selingkuh. Dia juga ga tau kalo Ibuku udah nyuruh Adik-adikku bekerja. Aku ga tau kenapa Ayahku secuek itu sama nasib Kami...,” keluh hantu Marwah.
“ Sabar ya Marwah. Kita masih bakal cari tau tentang ini...,” hibur Osman yang diangguki hantu Marwah.
“ Mmm..., apa teman sekamarmu ga tau apa pun soal ini...?” tanya Iyaz tiba-tiba.
“ Maksudmu Raqiya...?” tanya hantu Marwah.
“ Aku ga tau siapa namanya. Yang Aku tau dia tinggal sekamar denganmu hingga Kau ditemukan meninggal di atas tempat tidurmu itu...,” sahut Iyaz.
“ Betul. Mungkin Raqiya tau sesuatu. Kan kalian tinggal sekamar, biasanya ga ada rahasia diantara dua perempuan kalo udah tinggal sekamar kaya gitu...,” kata Osman.
“ Mmm..., jujur Aku lupa bagaimana hubunganku dengan Raqiya dulu. Tapi Kalian bisa temui dia di rumah Suaminya di komplek perumahan Polisi...,” kata hantu Marwah.
“ Suami Raqiya seorang polisi...?” tanya Iyaz.
“ Iya. Waktu Aku tinggal sekamar dengannya, Raqiya sudah menikah dengan Rauf. Tapi karena Rauf ditugaskan ke wilayah lain selama beberapa bulan, Raqiya memutuskan untuk kost karena ga nyaman tinggal di rumah dinas Suaminya sendirian...,” sahut hantu Marwah.
“ Kebetulan banget. Kita bisa minta bantuan Suami Raqiya buat ngungkap kasus kematianmu secara diam-diam kan...,” kata Iyaz antusias.
“ Mungkin. Tapi Aku ga yakin Raqiya mau membantuku, karena seingatku dia sangat shock hingga keguguran saat menemukanku meninggal di kamar itu...,” sahut hantu Marwah sambil berlalu.
“ Kasian Marwah. Selama hidup hingga meninggal dunia ga banyak teman yang dia punya...,” kata Osman sambil menatap tempat kosong dimana hantu Marwah menghilang tadi.
“ Kita harus cepat bergerak Pak. Saya khawatir hantu Marwah balas dendam dengan caranya sendiri dan itu pasti menyeramkan...,” kata Iyaz.
“ Ok. Kita ke rumah Raqiya sore ini...,” sahut Osman yang diangguki Iyaz.
\=====
Raqiya sedang menyirami tanaman di taman bunga mini miliknya. Wajah cantiknya tetap terlihat jelas meski ia mengenakan hijab lebar yang menutupi kepala hingga sebagian tubuhnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri seorang gadis belia juga nampak asyik membaca buku. Sama seperti Raqiya, gadis yang diyakini anak perempuan Raqiya itu juga nampak mengenakan hijab meski pun dengan style yang berbeda.
Dari tempatnya berdiri hantu Marwah menatap penuh haru kearah Raqiya. Hantu Marwah telah tiba lebih dulu di rumah Raqiya saat tahu Iyaz dan Osman akan berkunjung ke sana. Merasa jika dirinya diawasi oleh seseorang membuat Raqiya menoleh ke kanan dan ke kiri hingga membuat sang anak bertanya.
“ Cari apa Ummi...?” tanya Nahilma.
__ADS_1
“ Ga cari apa-apa. Ummi cuma ngerasa ada seseorang yang lagi ngeliatin Ummi tapi ga tau siapa orangnya...,” sahut Raqiya.
“ Pasti lah Kita lagi diperhatiin sama Allah dong Ummi...,” sahut Nahilma sambil tersenyum.
“ Anak nakal, Ummi juga tau kalo itu. Maksud Ummi kaya ada yang lagi ngeliatin Ummi dan Ummi merasa kenal dengan aura ini...,” kata Raqiya sambil duduk di kursi di samping Nahilma.
“ Aura apa sih Ummi, Aku kok jadi bingung...,” sahut Nahilma tak mengerti.
“ Ini aura saat Ummi bicara sama teman Ummi sebelum dia meninggal dunia...,” kata Raqiya sambil menatap jauh ke depan seolah sedang mengingat Marwah, teman sekamar yang ia temukan meninggal dunia di atas tempat tidurnya.
Tiba-tiba lamunan Raqiya buyar saat ada suara dua orang pria yang menyapanya.
“ Assalamualaikum...,” sapa Iyaz dan Osman bersamaan.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Raqiya dan Nahilma bersamaan sambil menoleh kearah pintu pagar besi yang terkunci.
“ Maaf, Bapak cari siapa ya...?” tanya Nahilma santun sambil menghampiri Osman dan Iyaz.
“ Kenalkan nama Saya Osman dan ini Iyaz. Kami mau bicara penting sama Bu Raqiya, apa boleh...?” tanya Osman.
“ Kalian siapanya Ummi Saya...?” tanya Nahilma penuh selidik.
“ Kami teman Marwah, Marwah itu teman Ummi Kamu. Betul kan Bu Raqiya...?” tanya Osman mengeraskan suaranya.
“ Darimana Kalian tau rumah ini...?” tanya Raqiya.
“ Marwah yang bilang kalo Kamu tinggal di sini. Alamat rumah ini Kami dapat dari bertanya-tanya sama penghuni rumah di depan sana...,” sahut Osman.
“ Kalian jangan bercanda ya, Marwah itu udah lama meninggal. Kalo Kalian mau menipu lebih baik batalkan saja. Suami Saya Polisi yang handal dan dengan mudah bisa menjebloskan Kalian ke penjara...,” kata Raqiya galak.
“ Tapi Kami emang dapat alamat rumah ini dari Marwah. Anak ini indigo, dia didatangi hantu Marwah yang minta agar kematiannya diungkap dan pembunuhnya ditangkap. Kalo Kamu ga percaya Kamu bisa tanya sama Anak ini...,” sahut Osman.
Raqiya menatap Iyaz dengan lekat. Entah mengapa Raqiya percaya saat melihat wajah Iyaz yang tenang itu.
“ Tapi Saya ga bisa mempersilakan Kalian masuk karena Suami Saya belum pulang...,” kata Raqiya.
“ Gapapa. Kami bisa nunggu di luar sini sampe Suami Ibu pulang nanti...,” sahut Osman cepat.
“ Baik lah, terserah Kalian. Kalo gitu Saya masuk dulu...,” kata Raqiya sambil menggamit tangan Nahilma dan membawanya masuk.
“ Ummi percaya sama mereka. Gimana kalo mereka berniat jahat sama Kita...?” tanya Nahilma.
“ Telephon Abi sekarang...!” perintah Raqiya sambil mengamati Osman dan Iyaz dari balik gorden jendela.
__ADS_1
“ Iya Mi...,” sahut Nahilma.
Nahilma menghubungi ayahnya yang ternyata sudah tiba di gerbang komplek perumahan itu.
“ Abi cepet pulang ya. Ada tamu asing di depan rumah...,” kata Nahilma.
“ Jangan bukain pintunya sampe Abi datang ya Na. Abi udah masuk komplek nih, sebentar lagi sampe...,” pesan Rauf dari sebrang telephon.
“ Iya Bi...,” sahut Nahilma.
Sesaat kemudian mobil Rauf pun berhenti di depan gerbang dan ia turun dari mobil lalu menyapa Iyaz dan Osman.
“ Assalamualaikum, Kalian siapa ya. Ada apa berdiri di depan rumah Saya...?” tanya Rauf pura-pura tak tahu.
“ Wa alaikumsalam. Pak Rauf kan...?” tanya Osman ragu.
“ Iya betul. Apa Kita pernah saling kenal...?” tanya Rauf.
“ Masya Allah, Alhamdulillah..., Saya Osman. Dulu Kita beberapa kali bertemu untuk membahas kasus kematian Marwah. Apa Pak Rauf ingat...? tanya Osman.
“ Kematian Marwah, gadis yang meninggal di kamar kost itu ya...?” tanya Rauf.
“ Iya...,” sahut Osman cepat.
“ Tentu Saya masih ingat. Kan Istri Saya teman sekamar Marwah...,” kata Rauf.
“ Jadi Bu Raqiya Istri Pak Rauf...?” tanya Osman.
“ Iya. Tapi ngomong-ngomong ada perlu apa Anda ke sini...?” tanya Rauf.
Osman belum sempat menjawab saat tiba-tiba Nahilma keluar dari dalam rumah dan membuka kunci pintu pagar.
“ Jadi Abi kenal sama mereka...?” tanya Nahilma.
“ Iya Na. Biarkan mereka masuk dan tolong bilang sama Ummi kalo mereka tamu Abi...,” sahut Rauf.
“ Baik Bi. Mari silakan masuk...,” kata Nahilma sambil tersenyum kearah Osman dan Iyaz.
“ Terima kasih...,” sahut Osman dan Iyaz bersamaan.
Tak ada raut kecewa di wajah Osman dan Iyaz meski pun sempat mendapat respon tak bersahabat dari Raqiya dan Nahilma tadi. Mereka maklum dengan kondisi Raqiya dan Nahilma yang terbiasa bersikap waspada akibat didikan Rauf yang seorang polisi itu.
\=====
__ADS_1