
Raja Graha terlihat tenang saat mendengarkan cerita ketiga bersaudara itu. Saat itu hanya ada mereka berempat tanpa putri Hara.
“ Aku tau kalo Istriku memiliki rahasia dan kemungkinan dia terlibat dengan hilangnya pusaka kerajaan juga sangat besar. Tapi Aku tak bunya bukti, jadi Aku tak ingin salah memberi hukuman...,” kata raja Graha sedih.
“ Maafkan jika ini membuatmu sedih Tuan...,” kata Hanako prihatin.
“ Gapapa Nak. Ini bukan salahmu. Tapi Kalian bisa membantuku membuktikan keterlibatan istriku dengan hilangnya pusaka kerajaan itu kan...?” tanya raja Graha.
“ Insya Allah Kami akan membantumu...,” sahut Iyaz yang diangguki raja Graha.
Iyaz, Izar dan Hanako bertekad membuktikan bukan mereka lah pencuri sebenarnya karena justru mereka bertiga dimanfaatkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Rupanya ada orang lain yang mencoba memanfaatkan kedatangan mereka ke kerajaan ini sekaligus menjadikan mereka kambing hitam atas hilangnya pusaka kerajaan.
\=====
Dua jam setelah pertemuan rahasia raja Graha dengan ketiga bersaudara itu, raja Graha memanggil seluruh penghuni istana untuk berkumpul dan menghadap padanya.
Ketegangan pun terjadi saat para penghuni istana di kumpulkan di ruangan tempat sang raja biasa menghakimi orang-orang yang bersalah. Istana pun dijaga ketat oleh para pengawal khusus kepercayaan sang raja.
Di dalam ruangan nampak hadir raja Graha berserta Gayatri dan Hara berikut dayang pribadi masing-masing. Para pengawal pribadi raja berdiri di belakang raja dan sebagian menyebar di penjuru ruangan sambil mengawasi pergerakan semua orang. Sedangkan pengawal yang biasa bertugas di sekitar istana juga dikumpulkan di ruangan yang sama untuk mendengarkan titah sang raja.
Gayatri dan Hara duduk di samping raja Graha sambil menatap semua orang yang ada di dalam ruangan. Senyum nampak tersungging di wajah Gayatri saat tiga orang pengawal masuk ke dalam ruangan sambil membawa Iyaz, Izar dan Hanako.
“ Kenapa Ayah memanggil mereka juga Bu...?” tanya Hara tak mengerti.
“ Nampaknya Ayahmu tau kalo mereka lah penjahat sesungguhnya yang telah mencuri benda pusaka kerajaan Kita...,” sahut Gayatri yakin.
“ Mustahil Bu, mereka orang baik. Mereka ga mungkin mencuri benda itu karena mereka ga tau gimana wujudnya...,” kata Hara membela ketiga bersaudara itu.
“ Cukup Hara. Jangan terus membela mereka hanya karena mereka berhasil menyembuhkanmu. Kesalahan mereka justru menghapus kebaikan yang mereka lakukan terhadapmu...,” sahut Gayatri gusar.
Saat Hara hendak menjawab ucapan sang ibu, raja Graha mengangkat tangannya pertanda jika sidang itu akan segera dimulai. Sebelumnya di tengah ruangan diletakkan meja dengan bola kaca di atasnya.
“ Kalian lihat di sana ada bola kaca. Kalian harus menyentuh bola kaca itu, tapi sebelumnya Kalian harus meletakkan tangan Kalian di atas nampan berisi bubuk itu. Jika Kalian terbukti bersalah, maka bola kaca akan mengeluarkan warna merah. Tapi jika Kalian tak bersalah maka bola kaca itu akan tetap seperti semula...,” kata raja Graha.
“ Apa itu berlaku juga untuk ketiga tamumu itu Suamiku...?” tanya Gayatri dengan suara yang sedikit dikeraskan.
“ Tentu saja Istriku. Semua orang harus melakukannya termasuk Aku, Kamu dan Hara...,” sahut Graha tegas hingga membuat Gayatri terkejut.
“ Kita juga...?” tanya Gayatri tak percaya.
“ Iya...,” sahut raja Graha cepat.
Gayatri pun menelan saliva dengan sulit karena tak menyangka harus ikut menjalani proses pemeriksaan
__ADS_1
sama dengan yang lain. Hara pun nampak mengelus lengan sang ibu untuk menenangkannnya.
“ Untuk menghilangkan rasa penasaran Kita semua di sini, maka Aku titahkan pada ketiga tamuku untuk melakukan apa yang tadi Aku katakan...,” kata raja Graha sambil menatap Iyaz, Izar dan Hanako.
Tanpa banyak bicara ketiga bersaudara itu melakukan apa yang diperintahkan oleh sang raja. Usai menyentuh bubuk dalam piring, mereka menyentuh bola kaca. Tak terjadi apa pun pada bola kaca karena mereka bertiga memang tidak mencuri apa pun di istana itu.
Kemudian semua orang bergantian melakukan hal yang sama. Setelah semua selesai melakukan ritual yang
dimaksud, bola kaca tak menunjukkan reaksi apa pun .
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari salah satu sudut ruangan. Ternyata seorang dayang istana nampak meringis sambil memegangi tangannya yang melepuh kemerahan. Sesaat kemudian jeritan susul menyusul pun terdengar di ruangan itu hingga membuat kegaduhan.
“ Ada apa ini Ayah...?” tanya Hara cemas.
“ Ayah juga ga mengerti Nak. Kita tunggu saja apa yang terjadi selanjutnya...,” sahut raja Graha.
Sesaat kemudian makin banyak orang yang bertumbangan dengan luka melepuh di tangan. Jika tangan itu mereka gunakan untuk menyentuh bagian tubuh yang lain, maka bagian tubuh yang tersentuh itu pun akan ikut melepuh kemerahan disertai rasa sakit dan panas.
“ Yang terluka tetap di tempat dan yang masih sehat menepi ke sebelah sana...!” kata raja Graha.
Semua orang yang tak terdampak oleh bubuk di atas nampan pun nampak menepi dan menyisakan beberapa orang yang tersungkur di lantai sambil memegangi tangannya yang melepuh itu. orang-orang yang tangannya terluka itu menjerit saat rasa panas dan sakit itu menjalar hingga ke siku tangan. Jangan ditanya bagaimana rasanya karena mereka nampak bergulingan di lantai karena tak kuasa menahan sakit.
Melihat orang-orang terluka membuat Hara dan Gayatri iba. Mereka berusaha mendekat namun Graha menghalangi mereka. Dalam hati raja Graha bahagia karena sang istri tak merasakan apa pun dan itu artinya sang istri tak terlibat dengan hilangnya pusaka kerajaan.
“ Liat itu, Bu Gayatri juga merasakan hal yang sama kaya mereka...,” kata Iyaz.
“ Iya. Ga nyangka ya kalo Istri Raja bisa berkhianat. Padahal Raja Graha adalah orang yang baik dan bertanggung jawab, tapi kenapa memiliki Istri yang ga tau diri kaya dia...,” sahut Hanako kesal.
“ Abaikan dia, sekarang Kita harus mengobati mereka...,” kata Izar yang diangguki Iyaz dan Hanako.
“ Bagaimana, apa Kalian sudah menyiapkan obatnya...?” tanya raja Graha yang belum menyadari jika istrinya juga mengalami luka yang sama yang merupakan pertanda bahwa dia berkhianat.
“ Kami sudah siap Tuan...,” sahut Izar cepat.
“ Bagus, tolong obati mereka...,” kata raja Graha.
“ Baik Tuan...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Dan Kalian, masukkan mereka ke penjara setelah selesai diobati...!” kata raja Graha kepada para pengawalnya.
“ Siap Tuanku...!” sahut para pengawal pribadi raja bersamaan.
Saat raja Graha membalikkan tubuhnya untuk kembali ke singgasananya, tiba-tiba Gayatri menjerit keras lalu tersungkur jatuh ke lantai hingga mengejutkan semua orang yang hadir di sana. Kedua tangan Gayatri nampak melepuh kemerahan hingga ke siku. Gayatri pun menjerit dan menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan.
__ADS_1
Melihat luka yang diderita istrinya membuat raja Graha mematung di tempat sambil menatap penuh makna kearah sang istri. Gayatri sendiri nampak mengulurkan tangannya seolah meminta bantuan pada suaminya itu namun raja Graha menepis tangan Gayatri.
“ Kenapa Suamiku, Kau jijik melihat luka ini. Rasanya sakit dan panas. Apa Kau tidak ingin membantuku meredakan rasa sakitnya...?” tanya Gayatri menghiba.
Hara yang melihat ibunya terluka pun bermaksud mendekati Gayatri untuk membantu meredakan sakitnya. Namun langkah Hara terhenti saat Graha menahan tangannya dan menariknya ke pelukannya.
“ Jangan sentuh dia Hara. Wanita seperti dia tak pantas menjadi Ibumu...!” kata Graha lantang hingga mengejutkan semua orang yang langsung menoleh kearah Gayatri.
“ Apa maksud Ayah...? tanya Hara cemas.
“ Ibumu termasuk satu dari sekian orang yang ingin menyingkirkan Raja yang sah. Dia adalah pengkhianat. Dan seorang pengkhianat tak layak tinggal di kerajaanku dan mendapatkan semua fasilitas...,” sahut Graha mengejutkan Hara.
Mendengar ucapan suaminya membuat Gayatri terkejut sekaligus malu. Ia berusaha menggapai kaki Graha sambil mengatakan beberapa kalimat pembelaan.
“ Kamu jangan salah paham Suamiku, Aku bukan pengkhianat. Ini hanya efek dari bubuk yang ada di nampan itu...,” kata Gayatri menjelaskan.
“ Bagaimana bisa salah. Di dalam nampan itu adalah bubuk ajaib yang telah disiapakan tamuku untuk membuktikan siapa saja yang berkhianat dan berniat jahat padaku dan kerajaan ini...,” sahut Graha ketus.
“ Apa, jadi Kalian menjebakku. Kalian...,” ucapan Gayatri terhenti saat rasa sakit itu menderanya lagi.
“ Itu adalah bubuk kayu kamper yang telah diruqyah Tuan. Jika seseorang melakukan kejahatan dengan cara bersekutu dengan iblis, maka bagian tubuh yang terkena bubuk kayu kamper itu akan melepuh, panas dan sakit. Sedangkan bola kaca itu hanya hiasan dan tak memiliki makna apa pun..,” kata Izar menjelaskan.
Mendengar penjelasan Izar membuat semua orang yang mengalami luka melepuh kemerahan itu pun terkejut dan tak bisa mengelak lagi. Saat mereka selesai diobati, mereka pun digiring ke dalam penjara sambil menunggu hukuman apa yang akan dijatuhkan untuk mereka kelak.
\=====
Gayatri dirawat di sebuah kamar berukuran kecil dan bukan di kamar utama yang biasa ia tempati. Semula Gayatri protes, namun saat raja Graha menjelaskan alasannya ia pun terdiam.
“ Sekarang katakan, dengan siapa Kau menjalin kerja sama Gayatri...?” tanya Graha.
“ Aku bekerja sendiri dan untuk diriku sendiri...,” sahut Gayatri sambil menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang merambati kedua tangannya.
“ Oh ya, tapi Aku ga percaya...,” kata raja Graha sambil tersenyum.
Kemudian raja Graha memanggil seorang dayang untuk membawa nampan ke dalam ruangan lalu meletakkannya di samping tempat tidur Gayatri.
“ Silakan Gayatri, Kau atau Aku yang membukanya...?” tanya raja Graha namun Gayatri hanya melengos.
Gayatri mengira itu adalah makanan yang dibuat khusus untuknya. Sejak ia diletakkan di kamar itu Gayatri memang belum makan apa pun. Graha tak peduli dengan sikap Gayatri. Lalu dengan tenang Graha menyibak kain penutup nampan untuk memperlihatkan isinya.
Di atas nampan terlihat potongan kepala seorang pria dengan mata terbuka dan mulut menyeringai. Darah segar masih mengalir dari bekas luka di lehernya akibat senjata tajam. Gayatri pun menjerit lalu jatuh tak sadarkan diri saat mengenali potongan kepala itu.
Raja Graha melangkah keluar meninggalkan ruangan itu dengan rasa kecewa memenuhi dadanya. Sedangkan Iyaz, Izar dan Hanako masih bertahan di sana karena tahu pertempuran itu belum usai.
__ADS_1
Bersambung