Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
115. Jangan Menghakimi


__ADS_3

Suara jeritan orang-orang di loby penginapan terdengar hingga ke restoran yang terletak di lantai dua tempat Faiq dan keluarganya tengah menikmati makan malam. Sesaat setelah suara jeritan itu, terlihat Faiq, Izar dan Erik sigap berlari kearah jendela restoran untuk melihat apa yang terjadi. Sedangkan Hanako tampak tersedak makanan saking terkejutnya. Shera pun bergegas membantu dengan menepuk punggung Hanako untuk meredakan batuknya sambil menyodorkan segelas air minum.


“ Hati-hati Nak...,” kata Shera lembut.


“ Iya Ma, makasih...,” sahut Hanako lalu meneguk air minum pemberian Shera hingga tersisa setengah gelas.


“ Suaranya keras banget ya Sher. Ada apaan ya...?” tanya Farah sambil berdiri dari duduknya.


“ Aku ga tau Ma...,” Sahut Shera sambil menatap anak dan suaminya yang tengah berdiri di pinggir jendela.


Karena penasaran, Shera pun ikut melihat melalui jendela dan meninggalkan Hanako yang terlihat jauh lebih baik.


Shera berdiri di samping Izar sambil melihat ke halaman penginapan melalui jendela.


“ Ada ap...,” ucapan Shera terputus saat melihat Iyaz tengah berdiri dengan pakaian berlumuran darah di samping


mobil di bawah sana.


Shera menjerit tertahan lalu berbalik dan bergegas menuruni tangga untuk menemui Iyaz. Melihat sang Bunda berlari dengan cepat membuat Izar pun lari mengejarnya karena khawatir jika Shera terjatuh karena panik.


“ Bunda tunggu...!” panggil Izar.


“ Nanti aja Nak. Iyaz..., Iyaz berdarah...,” sahut Shera sambil terus berlari cepat menuruni tangga.


Izar berhasil mengejar Shera dan meraih tangannya. Saat Shera menoleh, Izar dapat melihat jika kedua mata sang


bunda nampak berkaca-kaca.


“ Bunda jangan panik. Iyaz gapapa kok...,” kata Izar lembut.


“ Tapi...,” ucapan Shera terputus saat Izar membawanya mendekat kearah Iyaz yang berdiri diantara kerumunan orang itu.


“ Liat kan Bun, Iyaz gapapa...,” kata Izar sambil menunjuk Iyaz yang terlihat baik-baik saja.


Kemudian Izar maju dan menepuk pundak Iyaz hingga menoleh kearahnya. Shera langsung memeluk Iyaz erat karena tak kuasa menahan haru.

__ADS_1


“ Iyaz..., ya Allah. Kamu gapapa kan Nak...?” tanya Shera panik saat melihat baju bagian depan Iyaz berlumuran darah.


“ Alhamdulillah Aku gapapa Bun...,” sahut Iyaz sambil mengusap punggung Shera dengan lembut.


Faiq, Erik, Farah dan Hanako pun tiba di halaman lalu berdiri mengelilingi Iyaz. Mereka nampak menghela nafas lega saat mendapati Iyaz baik-baik saja. Tiba-tiba kerumunan orang itu pun buyar saat security datang memecah kerumunan massa.


“ Permisi Pak Bu, tolong kasih jalan ya...,” kata security penginapan.


Saat kerumunan orang terurai terlihat seorang wanita tengah memeluk dan menangisi seorang gadis cilik yang berlumuran darah. Faiq mengerutkan keningnya saat melihat hantu bocah laki-laki yang nampak menatap penuh dendam kearah gadis cilik yang terluka itu.


“ Kita bawa ke Rumah Sakit sekarang ya Bu. Mari silakan...,” kata security sambil berusaha membantu menggendong tubuh Sandria.


“ Jangan sentuh dia !. Dia Anakku...!” kata mama Sandria galak.


“ Cukup Ma. Buang dulu egomu itu. Sandria perlu pertolongan sekarang...!” kata papa Sandria lantang hingga menyadarkan istrinya.


Mama Sandria nampak tersentak kaget lalu membiarkan suaminya menggendong tubuh Sandria. Sebelum masuk ke dalam mobil mama Sandria menoleh kearah Iyaz sambil tersenyum.


“ Terima kasih udah berusaha menolong Anak Saya tadi. Tolong doain supaya Sandria selamat ya...,” pinta mama Sandria dengan suara bergetar.


“ Insya Allah Tante...,” sahut Iyaz cepat.


Semua anggota keluarga Faiq nampak berkumpul di kamar yang ditempati Iyaz dan Izar. Mereka menunggu Iyaz mandi dan berganti pakaian. Sedangkan Shera nampak mondar mandir di dalam kamar karena tak sabar menunggu cerita Iyaz.


“ Minum dulu Bun biar tenang...,” kata Faiq sambil meyodorkan sebotol air mineral kepada istrinya.


“ Ga usah Yah, Aku gapapa kok...,” tolak Shera.


“ Bunda Sayang...,” panggil Faiq dengan suara lirih sambil menatap Shera lekat.


Shera tersentak lalu menatap kedua mata suaminya. Mengerti jika Faiq tak suka dengan sikapnya, Shera pun mengangguk sambil meraih botol berisi air itu kemudian Shera duduk di pinggir tempat tidur untuk meneguk air pemberian suaminya.


Tak lama kemudian Iyaz keluar dari kamar mandi sambil mengusak rambutnya. Ia menatap bingung saat melihat keberadaan keluarganya di sana.


“ Jadi apa yang terjadi tadi Yaz...?” tanya Izar tak sabar.

__ADS_1


“ Oh itu. Gadis cilik itu namanya Sandria. Aku ga sengaja ngeliat dia di gazebo depan tadi. Aku tertarik karena ngeliat dia duduk sendirian dan tangannya berdarah. Waktu Aku tanya kenapa, dia bilang sih gapapa. Tapi Aku juga ngeliat hantu anak kecil usia balita di tempat itu. Anehnya Sandria juga bisa ngeliat hantu balita itu yang ternyata adalah adiknya. Pas Sandria dipanggil sama Mamanya, hantu balita itu langsung mendorong Sandria kearah mobil yang melintas cepat itu. Bisa diliat kan gimana akhirnya, Sandria tertabrak sampe masuk ke kolong mobil. Waktu Aku narik tubuhnya dari kolong mobil tadi Sandria masih sadar. Dia bilang kalo dia udah membunuh Adiknya dulu. Sandria juga mendorong tubuh Adiknya ke jalan raya hingga terlindas mobil dan meninggal di tempat. Abis bilang gitu Sandria langsung pingsan...,” kata Iyaz panjang lebar.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...,” kata semua orang di ruangan itu.


“ Sadis amat sih tuh Anak...,” kata Izar sambil menggelengkan kepalanya.


“ Masa masih kecil aja udah kejam kaya gitu, gimana ntar kalo udah tua...,” sahut Hanako kesal.


“ Kita ga bisa menghakimi gitu aja tanpa tau akar masalahnya Anak-anak. Mungkin ada hal yang belum Kita tau yang juga ga diceritain sama Iyaz tadi...,” kata Faiq mengingatkan Izar dan Hanako.


“ Betul. Ada baiknya kalo Kita ke Rumah Sakit untuk ngeliat gimana keadaan Sandria sekarang...,” saran Erik yang


diangguki Faiq, Shera dan Farah.


Tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang. Hanako pun membuka pintu dan mempersilakan sang security untuk masuk ke dalam kamar.


“ Siapa Nak...?” tanya Farah.


“ Ini Oma, Pak security mau ngomong sama Iyaz...,” sahut Hanako.


“ Selamat malam...,” sapa sang security dengan santun.


“ Malam, ada apa ya Pak...?” tanya Faiq sambil mendekat kearah security itu.


“ Maaf mengganggu Pak. Saya hanya mau menyampaikan pesan untuk Mas Iyaz dari orangtua Sandria. Mereka minta supaya Mas Iyaz berkenan menjenguk Sandria di Rumah Sakit sekarang...,” kata sang security.


“ Kebetulan Kami juga berniat menjenguk gadis itu Pak...,” sahut Faiq cepat.


“ Alhamdulillah. Kalo gitu mari ikut Saya. Penginapan udah nyiapin mobil untuk Bapak dan keluarga pergi ke Rumah Sakit...,” kata sang security antusias.


“ Baik, terima kasih...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


Kemudian Faiq dan keluarganya pun bergegas keluar dari kamar. Mereka diantar menuju ke Rumah Sakit tempat Sandria dirawat oleh salah seorang karyawan penginapan. Sedangkan supir yang tak sengaja menabrak Sandria telah diamankan oleh pihak kepolisian karena memiliki andil dalam kecelakaan tadi. Ternyata sang supir juga mengemudi dalam keadaan mengantuk usai minum obat.


Di dalam mobil terlihat hantu balita yang tadi mendorong Sandria nampak duduk sambil menundukkan wajahnya seolah merasa bersalah. Melihat hal itu Faiq menepuk pahanya sambil memberi kode agar hantu balita itu duduk di atas pangkuannya. Hantu balita itu nampak tersenyum kemudian melayang kearah Faiq lalu duduk di atas pangkuannya dengan nyaman.

__ADS_1


Iyaz dan Izar nampak tersenyum melihat tingkah lucu hantu balita itu. Sedangkan Hanako nampak membuang pandangannya keluar jendela karena masih merasa kesal saat mengingat ulah hantu balita itu yang telah mencelakai Sandria dan membuatnya terluka.


\======


__ADS_2