Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
334. Mau Ikutan


__ADS_3

Faiq , Shera dan Izar tiba di depan rumah Qiana. Faiq dan Izar melihat sosok makhluk berpakaian compang camping tengah mengetuk pintu rumah Qiana. Makhluk itu menoleh lalu menghilang saat melihat Faiq dan Izar datang mendekat.


“ Siapa dia Yah ...?" tanya Izar.


" Kita bahas itu nanti ya Mak. Sekarang yang penting Kita bantuin Ratih dan Qiana dulu...," sahut Faiq yang diangguki Izar.


Sesaat kemudian pintu rumah terbuka dan memperlihatkan wajah Qiana yang pucat karena takut.


" Assalamualaikum...," sapa Faiq dan Izar bersamaan.


" Wa alaikumsalam, mari silakan masuk. Ratih ada di kamar Pak...,” kata Qiana sambil menepi untuk memberi jalan pada Izar dan ayahnya.


“ Saya mengajak Istri Saya untuk menghindarkan fitnah...,” kata Faiq sambil memperkenalkan Shera kepada Qiana.


“ Iya Pak, makasih...,” sahut Qiana sambil tersenyum.


Kemudian keempatnya masuk ke dalam kamar Qiana dan melihat Ratih yang melayang di udara dalam keadaan terbaring.


Dalam penglihatan Faiq dan Izar saat itu mereka melihat sosok hantu pria tinggi kurus yang tadi dilihat Qiana tengah menggendong tubuh Ratih. Makhluk itu berniat membawa Ratih pergi namun sayangnya gagal. Rupanya Ratih ada dalam penjagaan khodam leluhur yang selalu menemaninya selama ini yang berwujud pria berpakaian compang camping yang tadi ditemui Faiq dan Izar di depan pintu rumah Qiana.


“ Lepaskan dia...!” kata Faiq lantang.


“ Tidak. Aku akan membawanya pergi karena Aku menyukainya...,” sahut hantu berwujud pria kurus itu sambil berusaha menarik tubuh ratih yang tertahan oleh kekuatan sang khodam.


“ Alasan kuno. Kita ga perlu bertele-tele Zar...,” kata Faiq sambil menoleh kearah Izar.


Izar mengangguk lalu merangsek maju sambil menendang makhluk itu hingga tubuh makhluk itu terjungkal ke lantai dan menyebabkan tubuh Ratih terhempas keras ke atas tempat tidur. Melihat Ratih lepas dari dekapannya, makhluk itu pun melesat cepat menuju Shera dan Qiana yang tengah berdiri mengamati dari ambang pintu. Faiq dan Izar pun bergerak cepat kearah dua wanita itu lalu menghalangi makhluk itu sebelum menyentuh Shera dan Qiana.


Sekelebat angin panas menerpa Shera dan Qiana hingga membuat keduanya refleks menjauh. Faiq dan Izar berhasil menangkap makhluk itu dan mengikatnya dengan kuat. Setelahnya mereka mengirim makhluk itu kembali ke rumah kost.


Kemudian Shera dan Qiana membantu menyadarkan Ratih yang didampingi khodamnya itu. Ratih pun siuman dengan wajah bingung. Sedangkan sang khodam nampak tersenyum lalu menatap Faiq dan Izar bergantian.


“ Terima kasih...,” kata makhluk berpakaian compang camping itu sebelum pergi meninggalkan rumah Qiana.


“ Sama-sama...,” sahut Faiq dan Izar bersamaan.


Saat itu Izar mengerti jika makhluk berwujud pria berpakaian compang camping itu adalah ‘penjaga’ Ratih yang berusaha menunjukkan eksistensinya dengan cara mengetuk pintu. Kehadirannya bisa menahan serangan makhluk yang mengejar Ratih walau tak cukup kuat melawannya.

__ADS_1


Ratih pun siuman beberapa saat kemudian. Qiana dan Shera nampak tersenyum melihatnya.


“ Kamu gapapa kan Tih...?” tanya Qiana cemas.


“ Aku takut Qi. Hantu yang Aku liat di rumah kost tadi juga ada di sini...,” sahut Ratih.


“ Kamu tenang aja. Hantu itu udah diusir sama Pak Faiq dan Pak Izar...,” kata Qiana menenangkan Ratih.


“ Sebaiknya Kamu ga usah tinggal di sana lagi Ratih. Makhluk yang mengejarmu rupanya jatuh cinta padamu dan ingin menikahimu. Beruntung Allah mengirimkan pertolonganNya melalui khodam leluhur yang selalu mengikuti kemana pun Kamu pergi. Jadi Kamu masih bisa selamat...,” kata Faiq.


“ Iya Pak. Saya juga ga mau lagi tinggal di sana. Tapi barang dan dokumen Saya masih ada di sana. Gimana cara ngambilnya...,” kata Ratih gusar.


“ Biar kami temani, iya kan Yah...?” tanya Shera.


“ Iya Bun...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah. Kapan Kita ke sana Pak...?” tanya Ratih.


“ Insya Allah besok siang. Sekarang Kami pulang dulu ya...,” sahut Faiq yang diangguki Ratih dan Qiana.


\=====


“ Mbak Ratih...,” panggil Memed sang pengurus rumah kost.


“ Eh, Pak Memed. Kebetulan Bapak ada di sini. Saya mau bilang kalo hari ini Saya bakal pindah dari kost ini Pak...,” kata Ratih.


“ Kok mendadak banget Mbak. Ada apa sih...?” tanya Memed penasaran.


“ Ratih akan tinggal bersama Kami Pak...,” sahut Shera.


“ Kalian siapa...?” tanya Memed.


“ Kami famili jauhnya Ratih Pak. Baru kemarin ketemu di mall. Makanya pas tau Ratih ini tinggal di rumah kost Kami memutuskan mengajaknya tinggal di rumah Kami...,” sahut Faiq.


“ Oh gitu ya...,” kata Memed sambil menatap Ratih yang berjalan memasuki rumah kost dengan tatapan menyelidik.


Tiba-tiba salah satu pekerja bangunan mendekati Memed dan menanyakan sesuatu. Memed pun pamit dan meninggalkan Faiq dan Izar di teras. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Faiq dan Izar untuk mengamati rumah kost itu sambil menunggu Ratih selesai berkemas.

__ADS_1


Saat itu lah Faiq dan Izar melihat banyak makhluk halus yang berkeliaran di dalam rumah kost. Saat sedang menunggu Ratih berkemas, keduanya mendengar jeritan dari ruangan yang tengah direnovasi. Rupanya salah satu pekerja bernama Sukun diganggu oleh makhluk halus yang berkeliaran di dalam rumah itu.


Pekerja lain mencoba menenangkan namun nampaknya Sukun sudah terlanjur takut dan ingin berhenti bekerja saat itu juga.


“ Jangan kaya gitu lah Kun, kalo Lo pulang tenaga kerja Kita berkurang dan otomatis pekerjaannya bakal kelar lebih lama dari waktu yang udah ditentuin...,” kata sang mandor.


“ Tapi Gue takut banget Bang. Rumah ini banyak hantunya. Dan salah satu hantu itu ngikutin Gue terus dari kemaren...,” sahut Sukun putus asa.


“ Emangnya Lo ngeliat apa lagi Kun...?” tanya sang mandor.


“ Ngeliat orang melayang tapi ga ada kakinya Bang. Mukanya hancur penuh darah. Bahkan tadi dia duduk di sana dan menjegal kaki Gue, makanya Gue jatuh terus daritadi...,” sahut Sukun.


“ Ya ga usah diliatin lah ...,” kata sang mandor.


“ Gue ga ngeliatin tapi dia yang terus ngikutin Gue Bang. Pokoknya Gue mau berhenti hari ini, titik...,” kata Sukun.


“ Saya juga mau berhenti Pak...!” kata seorang pekerja bernama Anto tiba-tiba.


“ Kenapa Kamu. Jangan latahan ya jadi orang. Ada yang kerja, Kamu ikut kerja. Sekarang ada orang mau resign, kamu ikutan. Punya prinsip dikit lah To...,” kata sang mandor kesal.


“ Saya juga diganggu setan selama ngerjain rumah ini Pak...,” kata Anto.


“ Setan apa, jangan membual Kamu To...,” kata sang mandor.


“ Saya ga bohong Pak. Saya sering ngeliat penampakan hantu di sini Pak. Kadang Saya liat anak kecil lagi lari-larian sambil ketawa. Padahal kan di sini kost an cewek single, mana ada yang anak kecil di sini. Belum lagi bau busuk yang terus menerus bikin mual...,” sahut Anto.


“ Itu kan biasa To. Jangan diambil hati lah...,” kata sang mandor berusaha santai.


“ Ada yang manggilin nama Kita satu per satu kaya orang ngabsen gitu Pak. Kalo siang sih gapapa. Nah ini ngabsennya malam Pak, menjelang tidur. Kan berasa kaya lagi diabsen buat jadi tumbal Pak...,” kata Anto sambil bergidik.


Ucapan Anto mengejutkan sang mandor juga pekerja lain. Anto sendiri terlihat kusut sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang selalu dibawanya. Memed yang juga mendengar ucapan Anto pun tak bisa berbuat banyak karena semua hal mistis yang dialami pekerja bangunan itu adalah nyata.


Tiba-tiba Ratih nampak bergegas keluar dari dalam rumah didampingi Shera sambil menyeret koper besar lalu menghampiri Faiq dan Izar. Semua pekerja, mandor dan Memed juga melihat kearah Ratih. Bahkan Anto membulatkan matanya saat melihat Ratih.


“ Saya juga ngeliat cewek yang mirip Mbak Ratih lagi duduk di balkon sana tadi. Padahal Saya tau kalo Mbak Ratih keluar kemaren malam. Terus dia turun ke bawah sana bukan pake tangga tapi melayang gitu aja Pak. Awalnya Saya mau nolongin tapi batal karena ngeliat mukanya Mbak Ratih kok pucat banget ditambah ada tanduk di keningnya...,” kata Anto sambil manatap takut kearah Ratih.


Ucapan Anto kembali membuat semua orang terdiam karena rupanya sebagian dari para pekerja bangunan itu juga telah melihat apa yang dilihat oleh Anto.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2