
Usep nampak menahan nafas saat melihat wujud asli wanita yang telah memberinya kepuasan malam itu.
Arwah Mayang Jati terlihat menyeramkan di mata Usep. Mengenakan kebaya hijau dan jarik batik yang lusuh dan sobek di sana sini. Penampilannya yang berupa tulang belulang dengan serpihan daging dan kulit yang menempel di wajah dan tubuhnya membuat Usep mual seketika.
Arwah Mayang Jati mendekatkan wajahnya kearah Usep sambil menyeringai. Dari jarak sedekat itu Usep bisa
melihat dengan jelas rongga mata, hidung dan mulut Mayang Jati dipenuhi pasir. Usep nampak menelan saliva dengan sulit karena ini adalah kali pertama ia melihat wujud hantu dari jarak dekat.
“ Jangan ganggu dia Mayang Jati. Dia bukan Wasal...!” kata Izar lantang sambil berdiri di hadapan Usep dengan merentangkan kedua tangannya.
“ Aku tak mengganggunya. Aku hanya ingin dia berterima kasih padaku setelah Aku menyelamatkannya dari serangan Kang Purba dan pasukannya waktu itu...,” sahut arwah Mayang Jati.
“ Bukan kah dia telah berterima kasih. Dia juga sudah mengubur jasadmu dengan baik di tepi sungai. Untuk ukuran Kalian saat itu bukan kah itu cukup layak...?” tanya Iyaz.
“ Aku ingin selalu di sampingnya, bersamanya, menemaninya...,” kata arwah Mayang Jati sedih.
Iyaz dan Izar menatap Usep lalu menganggukkan kepala pertanda saatnya Usep mengucapkan kalimat pemutus hubungan dengan arwah Mayang Jati. Usep mengangguk lalu mulai bicara.
“ Mayang Jati, entah dimana posisimu saat ini. Tolong dengarkan Aku. Maafkan Aku karena tak bisa menerima
cintamu. Bukan karena Aku tak menghargaimu atau karena Kau memiliki kekurangan. Tapi karena Aku merasa tak sepadan denganmu. Kau gadis yang baik sudah seharusnya mendapat pasangan yang baik dan itu bukan Aku. Purba lebih cocok untukmu karena keluarganya sederajat dengan keluargamu. Selain itu dia sangat mencintaimu. Aku yakin Kalian bahagia jika bersama. Maafkan Aku yang telah hadir diantara Kalian hingga membuat hubungan Kalian berantakan. Maaf. Dan terima kasih karena Kamu telah menyelamatkan Aku waktu itu. Pengorbananmu tak akan pernah kulupakan selamanya Mayang. Terima kasih...,” kata Usep tulus.
Iyaz dan Izar nampak saling menatap karena tahu jika saat itu bukan Usep yang bicara melainkan arwah Wasal yang merasuk ke dalam tubuhnya. Karena saat itu Usep terlihat hanya mematung tanpa mengatakan sepatah kalimat pun.
Melihat kehadiran arwah Wasal di hadapannya membuat arwah Mayang Jati tertegun, sedih sekaligus senang. Ia
mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Wasal yang kini merasuki Usep.
“ Kau di sini Wasal, Kau datang untukku...?” tanya arwah Mayang Jati.
“ Iya Mayang. Seperti yang Kau bilang, Septian adalah keturunanku. Dia adalah cucu dari anakku. Aku datang ke
sini untuk memintamu pergi dan tak mengganggunya lagi. Bisa kan Mayang...?” tanya arwah Wasal penuh harap.
__ADS_1
“ Karena ini permintaanmu, maka Aku akan pergi Wasal. Kau tau kan kalo Aku ga pernah bisa menolak semua permintaanmu...,” sahut arwah Mayang Jati sambil tersenyum.
“ Terima Kasih Mayang. Kau memang gadis yang baik. Jika ada kehidupan selanjutnya Aku berharap bisa bertemu denganmu lebih awal dan mencintaimu sampai akhir karena Kau layak untuk dicintai Mayang...,” kata arwah Wasal sambil menatap arwah Mayang Jati dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Wasal membuat Mayang Jati terharu. Ia merasa pertemuannya dengan Wasal terjadi bukan di waktu yang tepat. Ia bertemu dengan Wasal saat telah bertunangan dengan Purba. Jika mereka bertemu lebih awal mungkin Mayang Jati bisa menikahi Wasal. Di titik ini lah Mayang Jati mengerti jika Wasal tak ditakdirkan untuknya meski sekeras apa pun ia mencoba.
Kini Mayang Jati tak lagi menyesali keputusannya menyelamatkan Wasal. Ia bahagia karena bisa melakukan sesuatu untuk melindungi Wasal meski pun ia harus kehilangan nyawanya. Mayang Jati nampak menganggukkan kepalanya lalu tersenyum kerah Wasal. Sesaat kemudian arwah Mayang Jati pun memudar lalu lenyap terbawa angin.
Arwah Wasal yang masih bersemayam di dalam tubuh Usep pun melepas kepergian Mayang Jati dengan tenang. Kemudian ia menoleh kearah Iyaz dan Izar lalu tersenyum.
“ Terima kasih karena Kalian telah membantu Septian dan Mayang Jati. Kini arwah Mayang Jati tak akan menganggu lagi. Semoga Kalian bahagia selamanya...,” kata arwah Wasal.
“ Sama-sama. Kami senang bisa membantu...,” sahut Iyaz dan Izar sambil tersenyum.
“ Baik lah. Sekarang waktunya Aku pergi...,” kata arwah Wasal.
Iyaz dan Izar mengangguk lalu membacakan doa untuk mengantar kepergian arwah Wasal.
“ Alhamdulillah, ternyata sederhana banget cara membujuk arwah itu pergi. Hanya dengan kalimat berisi ungkapan perasaan bisa membuatnya luluh dan bersedia pergi dari sini tanpa Kita melakukan sesuatu yang berat ya Yaz...,” kata Izar takjub.
“ Keliatannya Wasal juga menyukai Mayang Jati tapi terhalang banyak hal...,” kata Izar.
“ Betul Zar, karena Wasal orang baik makanya dia milih pergi karena ga ingin merusak hubungan Mayang Jati dengan tunangannya itu...,” sahut Iyaz yang diangguki Izar.
Kemudian Iyaz mendekati Usep yang masih berdiri mematung itu. Iyaz menepuk punggung Usep dengan lembut hingga mampu mengembalikan kesadaran Usep yang nampak menatap linglung ke sekelilingnya seolah ia baru saja tiba di tempat yang asing.
“ Gimana perasaan Anda Pak Septian...?” tanya Izar sambil mengulum senyum.
“ Kok Mas Izar tau nama asli Saya. Padahal Saya udah ganti dengan nama Usep karena kalo pake nama Septian selalu sial Mas...,” kata Usep sambil menggaruk kepalanya.
“ Ga boleh ngomong gitu Pak. Mana ada nama sial. Orangtua Pak Usep pasti punya maksud tertentu ngasih nama itu untuk Pak Usep...,” kata Iyaz menengahi.
“ Iya sih Mas. Saya dikasih nama Septian karena Saya anak ke tujuh dari tujuh bersaudara alias bungsu Mas.
__ADS_1
Panggilan Saya ya memang Usep dari kecil. Mungkin merujuk dari sebutan Saya untuk diri Saya sendiri waktu baru belajar ngomong. Saya merasa kalo pake nama Septian keberuntungan selalu jauh dari Saya. Makanya Saya pilih pake nama Usep aja, selain masih nama Saya juga kan lebih gampang diinget...,” kata Usep sambil tersenyum.
“ Terus Istri Pak Usep tau ga nama asli Pak Usep...?” tanya Izar penasaran.
“ Ya tau dong Mas. Kan waktu nikah Saya pake nama asli. Di ijazah dan KTP nama Saya juga Septian lho Mas...,”
sahut Usep berusaha meyakinkan.
“ Iya iya, Saya percaya kok Pak Usep...,” kata Izar sambil tertawa.
Iyaz yang mendengar pembicaraan Usep dan Izar pun ikut tertawa.
“ Terus hantu wanita itu udah pergi kan Mas...?” tanya Usep.
“ Alhamdulillah udah Pak. Itu semua karena leluhur Pak Usep hadir juga di sini dan ngomong langsung sama arwah Mayang jati tadi...,” sahut Izar.
“ Leluhur Saya kenal sama arwah Mayang Jati Mas...?” tanya Usep tak percaya.
“ Iya Pak. Ternyata leluhur Pak Usep adalah Wasal, orang yang dicintai Mayang Jati...,” sahut Iyaz.
“ Masa sih. Kok Saya ga tau kalo punya leluhur namanya Wasal...,” kata Usep sambil berusaha mengingat.
“ Pertemuan mereka terjadi ratusan tahun lalu dan melewati beberapa generasi Pak. Jadi wajar kalo Pak Usep ga kenal sama leluhur Pak usep itu...,” kata Izar bijak.
“ Betul juga ya Mas. Pantesan dia ngikutin Saya, mungkin karena Saya mirip sama leluhur Saya itu ya Mas...,” sahut Usep.
“ Bisa juga. Tapi sekarang yang penting Pak Usep harus menyingkirkan sofa tempat Pak Usep bercinta sama makhluk itu secepatnya. Kalo sofa itu masih ada di sana justru bisa membuat Pak Usep keinget terus sama kejadian itu dan bisa membuat hubungan Pak Usep dengan Bu Tinah memburuk...,” kata Iyaz.
“ Iya Mas. Saya bakal buang sofa itu secepatnya, kalo perlu hari ini juga...,” kata Usep semangat.
“ Perlu bantuan ga Pak...?” tanya Iyaz.
“ Boleh. Sekalian aja Kita ke toko furniture untuk beli sofa baru biar Istri Saya ga ngamuk pas ngeliat sofa kesayangannya ga ada di tempatnya...,” kata Usep yang membuat Iyaz dan Izar tertawa.
__ADS_1
\=====