Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
32. Mau Lihat


__ADS_3

Shera menjemput kedua anaknya di sekolah. Saat itu Iyaz dan Izar  memasang wajah tegang seolah baru saja melihat atau mendengar sesuatu yang menakutkan. Apalagi sepanjang perjalanan tak terdengar celoteh bocah kembar itu sama sekali hingga membuat Shera bingung.


“ Kalian kenapa sih...?” tanya Shera sambil memarkirkan motornya di parkiran mini market.


“ Gapapa. Emangnya kenapa Bun...?” tanya Iyaz.


“ Lho kok malah balik nanya. Kalian ini lagi berantem ya, ribut lagi. Masa sama sodara musuhan sih...,” kata Shera tak suka.


“ Kami ga musuhan kok Bun...,” sahut Izar akhirnya.


“ Terus kalo ga lagi musuhan, Kalian tuh kenapa...?” tanya Shera penasaran.


Iyaz dan Izar saling menatap seolah sepakat untuk menutupi kegelisahan mereka.


“ Gapapa Bun, Kami capek aja abis main bola tadi...,” kata Iyaz sambil tersenyum.


“ Bunda mau belanja kan, yuk Aku temani...,” kata Izar sambil menggamit tangan Shera.


" Aku juga Bun, Aku mau nemenin sama bantuin Bunda belanja deh...," kata Iyaz tak mau kalah.


Melihat sikap kedua anaknya Shera pun tersenyum. Iyaz dan Izar terlihat sigap memilih lalu memasukkan barang-barang yang ada dalam daftar belanjaan Shera ke dalam keranjang. Setelah semua terbeli, mereka pun keluar dari mini market.


“ Cuma ini aja Bun, kok sedikit...?” tanya Izar.


“ Iya, ini hanya beli yang penting aja dan mau segera dipake. Kalo belanja keperluan bulanan kan bareng Ayah biar bisa ngangkut lebih banyak...,” sahut Shera sambil tersenyum dan diangguki Izar.


“ Kita pulangnya lewat kantor Pos ya Bun...,” pinta Iyaz.


“ Tapi itu lebih jauh lho Nak...,” sahut shera.


“ Gapapa Bun, sekalian jalan-jalan aja...,” kata Iyaz setengah memaksa.


“ Ok deh...,” sahut Shera pasrah.


“ Yeeyyy..., berangkaaatt...!” seru Iyaz dan Izar semangat hingga membuat Shera menggelengkan kepalanya.


Motor pun melaju dengan kecepatan sedang. Iyaz dan izar nampak memperhatikan sisi kanan dan kiri jalan hingga mereka melintas tepat di depan lahan kosong dimana wahana hantu itu berada. Sekeliling lahan nampak dipagari seng berwarna merah dengan tulisan ‘DILARANG MASUK’ yang ditulis dengan cat berwarna putih. Huruf kapital yang dipakai menandakan jika larangan itu serius dan penuh ancaman, begitu lah yang dirasakan oleh Iyaz dan Izar.


“ Ini tempat apa sih Bun, kok dipagar kaya gitu...?” tanya Izar pura-pura tak tahu.


“ Oh, itu taman bermain yang udah ga dipake lagi. Bunda juga ga tau kenapa ditutup...,” sahut Shera.


“ Kok Bunda ga pernah ngajakin Aku ke sana...?” protes Iyaz.


“ Dulu banyak wahana permainan di sana yang hanya boleh dinaiki oleh Anak-anak usia sepuluh tahun ke atas dengan tinggi badan minimal 120cm. Kalian kan dulu masih kecil dan belum boleh masuk ke sana. Maksud Bunda mau ngajakin Kalian ke sini pas umur dan tinggi badan Kalian cukup. Eh, ga taunya malah udah tutup...,” sahut Shera santai.


“ Kok peraturannya gitu sih Bun...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Karena wahana permainan yang ada di sana itu sedikit extrim dan hanya boleh dimainkan oleh Anak-anak yang matang emosinya. Yang berani sama ketinggian dan ga cengeng. Kalo Anak di bawah sepuluh tahun kan biasanya masih suka nangis dan gampang takut sama hal baru, makanya pengelola di sana bikin peraturan kaya gitu supaya


ga merepotkan dan menyenangkan buat semuanya...,” sahut Shera.


“ Tapi Matheo bisa masuk dan main di sana Bun...,” kata Izar sambil cemberut.


“ Pasti bisa lah, kan Matheo gemuk, tinggi lagi. Jadi ga ada yang nyangka kalo usianya belum sepuluh tahun dulu. Apalagi Matheo juga berani dan ga cengeng. Sekarang aja orang ga percaya kalo Matheo masih sepuluh tahun. Kalo menurut Bunda sih, Matheo tuh malah keliatan kaya Anak umur 14 tahun lho...,” sahut Shera hingga membuat Iyaz dan Izar tertawa.


Iyaz dan Izar memang tertawa tapi mereka bisa merasakan aura mistis yang menguar dari dalam taman bermain itu. Keduanya tersenyum diam-diam saat memiliki ide cemerlang untuk mengisi liburan akhir tahun kali ini.


\=====

__ADS_1


Heru, Efliya dan Hanako sedang berbahagia menyambut calon anggota keluarga baru di rumah mereka. Rupanya Efliya kembali hamil anak keduanya ketika usia Hanako mendekati angka lima belas tahun.


Saat mengetahui sang Bunda hamil, Hanako lah orang pertama yang bersorak gembira. Hanako memang telah lama menginginkan seorang adik untuk menemaninya di rumah jika ayah dan bundanya sedang sibuk.


Efliya terlihat tak percaya saat dirinya kembali berbadan dua. Sedangkan Heru tak lagi bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Heru memeluk dan menciumi wajah Efliya sambil mengucapkan kata terima kasih berulang kali. Sesekali Heru juga membisikkan kata cinta di telinga Efliya hingga membuat wajah Efliya bersemu merah.


“ I love You Sayang...,” bisik Heru sambil mengecup kepala Efliya dengan sayang.


“ Ayah apaan sih, malu tau...,” sahut Efliya sambil mencubit pinggang suaminya.


“ Gapapa Bun. Hanako juga senang kok. Liat tuh...,” kata Heru sambil menunjuk Hanako dengan ujung dagunya.


Efliya menoleh kearah yang ditunjuk suaminya dan melihat Hanako nampak tertawa gembira sambil melompat-lompat seperti anak kecil.


“ Alhamdulillah..., akhirnya Aku bakal punya Adik...!” seru Hanako antusias sambil melompat gembira.


“ Kamu serius mau punya Adik Nak...?” tanya Efliya hati-hati.


“ Iya Bun. Tolong lahirin Adik Aku ini ya Bun, please...,” pinta Hanako penuh harap dengan mimik lucu.


“ Tapi Kamu harus mulai belajar mengalah lho Nak, kan kalo jadi Kakak emang harus ngalah sama Adiknya dalam hal apa pun...,” kata Efliya mengingatkan Hanako.


“ Gapapa Bun. Insya Allah Aku siap kok ngalah sama Adik Aku ini...,” sahut Hanako sambil mengelus perut bundanya dengan hati-hati.


“ Serius...?” tanya Efliya lagi.


“ Serius Bun...!” sahut Hanako mantap.


“ Ya udah kalo emang Kamu dan Ayah siap. Insya Allah Bunda juga siap melahirkan si Adik...,” kata Efliya sambil tersenyum.


“ Makasih ya Bunda Sayang...,” kata Heru dan Hanako bersamaan sambil memeluk Efliya erat.


Dalam hati Efliya tak menyangka jika kehamilannya membawa kebahagiaan tersendiri untuk anak dan suaminya. Melihat antusias dua orang yang disayanginya itu membuat Efliya pun semangat menyambut kehadiran anak keduanya.


Sebagai salah satu bentuk kesiapan Hanako adalah tidak kemana-mana saat liburan akhir tahun kali ini seperti tahun-tahun sebelumnya. Kali ini Hanako harus rela memberikan waktu untuk sang bunda beristirahat karena kehamilannya yang sudah masuk bulan ke tujuh. Hanako memilih menginap di rumah Erik agar bisa menghabiskan liburan bersama Iyaz dan Izar. Walau Hanako tahu jika ia bakal berhadapan dengan keusilan si kembar nanti.


Dan sekarang ketiganya terlihat sedang asyik mengayuh sepeda sambil menyusuri jalan tak jauh dari rumah Erik. Di jalan mereka bertemu dengan teman-teman si kembar yang juga sedang bersepeda.


“ Kakak cantik itu siapa...?” tanya Helmi saat melihat Hanako ada di samping Iyaz dan Izar.


“ Oh, ini sepupu Aku. Namanya Hanako, tapi Aku sama Izar biasa panggil dia Cici...,” sahut Iyaz.


“ Hai, apa kabar. Namaku Hanako...,” kata Hanako sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai salam perkenalan.


“ Hai juga, Aku Helmi. Kalo itu Leo dan yang besar itu Matheo...,” sahut Helmi sambil ikut menangkupkan kedua tangannya di depan dada mengikuti Hanako.


“ Mmm, boleh ga kalo Kami panggil Kakak ini Cici kaya Iyaz sama Izar...?” tanya Matheo ragu-ragu.


“ Mmm, boleh ga ya...,” sahut Hanako sambil pura-pura berpikir.


Iyaz dan Izar nampak tersenyum karena bisa menebak jawaban Hanako. Sedangkan Leo, Helmi dan Matheo tampak menunggu jawaban Hanako dengan cemas karena khawatir Hanako marah.


“ Boleh...!” sahut Hanako sambil tertawa melihat ekspresi lucu di wajah ketiga anak kecil di hadapannya itu.


Leo, Helmi dan Matheo menghela nafas lega lalu keenamnya tertawa bersama.


“ Kalian mau sepedaan kemana...?” tanya Izar.


“ Mau jalan aja sambil olah raga pagi biar tetap sehat...,” sahut Helmi diplomatis.

__ADS_1


“ Kalo Kalian bertiga mau kemana...?” tanya Matheo.


“ Sama kaya Kalian juga...,” sahut Hanako mewakili Iyaz dan Izar.


“ Gimana kalo Kita ke taman bermain yang diceritain Kakak kelas enam itu...,” usul Matheo sambil menatap wajah Hanako yang nampak cantik dengan hijab pinknya itu.


“ Ayo, siapa takut...!” sahut Iyaz, Izar, Helmi dan Leo bersamaan.


“ Eh sebentar, Kalian mau kemana...?” tanya Hanako tak mengerti.


Kemudian Izar menceritakan apa yang didengarnya tentang wahana permainan hantu di lahan yang ada dekat kantor Pos itu. Hanako nampak serius mendengarkan penuturan Izar. Sesaat kemudian Hanako mengangguk tanda mengerti dan setuju untuk ikut.


“ Serius Cici mau ikutan sama Kita...?” tanya Leo tak percaya.


“ Iya...,” sahut Hanako sambil mulai mengayuh sepedanya.


“ Tapi tempatnya serem lho Ci...,” kata Helmi mengingatkan.


“ Iya udah tau. Kan Izar udah bilang tadi...,” sahut Hanako.


“ Cici ga takut...?” tanya Leo hati-hati.


“ Insya Allah ga. Udah yuk buruan, Kita ketinggalan tuh...,” sahut Hanako sambil menunjuk Iyaz, Izar dan Matheo yang sudah berada jauh di depan.


Helmi dan Leo pun tersenyum lalu ikut mempercepat laju sepeda mereka dan mensejajarkannya dengan tiga teman lainnya.


Tak lama kemudian mereka tiba di depan lahan yang dimaksud. Saat melihat tempat itu Hanako nampak mengerutkan keningnya sambil berusaha mengenang saat ia masuk ke dalam taman bermain itu dan menjajal beberapa wahana permainan di sana.


“ Aku pernah masuk dan main beberapa wahana di sini dulu sebelum tempat ini ditutup...,” kata Hanako.


“ Seru ga Ci...?” tanya Izar penasaran.


“ Seru banget. Permainannya agak ekstrim untuk Anak-anak seusia Kalian. Tapi kalo udah sebesar Aku insya Allah malah seru. Istilahnya tuh memacu adrenalin gitu laahh...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Bedanya apa sih Ci sama wahana permainan lainnya yang sama kaya gini...?” tanya Helmi tak mengerti.


“ Kalo menurut Aku sih ketinggian dan kecepatan permainannya. Misalnya kora-kora. Biasanya kan ayunannya tuh hanya 20 kali ayunan per menit. Tapi di sini bisa 30 kali ayunan per menit bahkan lebih. Kebayang kan gimana rasanya diayun dalam tempo cepat di tempat yang tinggi. Itu pasti bikin histeris tapi seru...,” sahut Hanako sambil


tertawa membayangkan ia menjerit keras saat menjajal wahana itu dulu.


“ Oh gitu maksudnya...,” sahut Iyaz cs sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Kemudian mereka berenam menyelinap masuk ke dalam melalui pintu seng yang sedikit terbuka. Nampaknya sudah ada orang lain yang masuk ke sana sebelum mereka. Saat tiba di dalam mereka disambut oleh rumput ilalang yang terbentang sepanjang lahan hingga menghalagi pandangan.


Setelah memarkirkan sepedanya di tempat yang cukup aman, mereka pun melangkah masuk dan menyibak ilalang yang tinggi menjulang lebih dari satu meter itu.


“ Tetap berdekatan dan jangan berpisah ya...,” kata Hanako mengingatkan.


“ Siap Ci...!” sahut Iyaz cs.


Setelah berhasil menyebrangi padang ilalang yang terbentang itu, mereka bisa melihat wahana permainan yang nampak menjulang megah di depan mereka. Meski dikelilingi ilalang, namun wahana permainan yang ada di hadapan mereka itu masih terlihat cukup kuat dan terawat karena cat yang melapisinya masih terlihat baik.


“ Wuiihhh..., seru nih kayanya. Kita coba yuk...,” ajak Matheo tak sabar sambil melangkah kearah wahana permainan bianglala.


“ Jangan...!” kata Iyaz, Izar dan Hanako hingga mengejutkan Matheo.


“ Eh, kenapa emangnya...?” tanya Matheo sambil meraba dadanya untuk menetralisir jantungnya yang berdetak cepat karena terkejut mendengar teriakan Iyaz, Izar dan Hanako tadi.


Iyaz, Izar dan Hanako saling menatap bingung karena tak tahu bagaimana cara memberi tahu Matheo jika ada sosok makhluk astral yang menatap marah kearahnya. Makhluk ghaib itu menunjukkan rasa tak suka dengan kehadiran Matheo yang memang terlihat antusias ingin mencoba semua wahana permainan yang ada di sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2