
Setelah mendengar keinginan Hanako dan si kembar untuk berlibur, Faiq memutuskan mengambil cuti.
“ Papa beneran mau ikutan Kami liburan...?” tanya Hanako tak percaya.
“ Insya Allah. Kenapa mukanya kaya gitu sih Ci...,” sahut Faiq sambil menahan tawa.
“ Bukan gitu Pa. Bukannya Papa ini sibuk banget ya...?” tanya Hanako.
“ Papa udah ngajuin cuti sebelum waktu kelulusan si kembar. Tadinya mau istirahat aja di rumah. Tapi pas denger Kalian mau liburan, Papa pikir kayanya seru nih kalo ikutan...,” sahut Faiq sambil menoleh kearah Shera yang sedang tersenyum kearahnya.
“ Opa sama Oma juga mau ikut lho...,” kata Farah tiba-tiba sambil menaik turunkan alisnya.
Hanako, Iyaz dan Izar sontak menoleh dan tertawa bersamaan.
“ Yeeyyy..., Kita liburan bareng...!” sorak Iyaz dan Izar bersamaan sambil melompat-lompat seperti anak kecil.
Semua orang tertawa melihat tingkah si kembar, sedangkan Hanako hanya memonyongkan bibirnya karena iri dengan si kembar yang didampingi kedua orangtuanya saat berlibur nanti.
\=====
Faiq membawa keluarganya berlibur ke daerah Lombok. Faiq ingin memberikan pengalaman yang berbeda pada Iyaz dan Izar. Jika selama enam tahun si kembar akrab dengan alam perbukitan yang berhawa dingin, kini Faiq sengaja mengajak keluarganya menikmati suasana pantai.
Lombok yang terkenal dengan wisata pantai indahnya setelah Bali itu membuat Hanako, Iyaz dan Izar menjerit senang setiap kali mereka tiba di pantai yang berbeda untuk mencoba sensasinya.
Hari pertama mereka pergi ke pantai Senggigi yang terletak di lombok barat dan merupakan pantai paling terkenal di Lombok. Saat menginjakkan kaki pertama kali di sana Iyaz dan Izar sudah tertarik ingin mencoba kegiatan snorkeling agar bisa menikmati keindahan taman bawah laut dari jarak 3 meter saja dari permukaan laut.
“ Kita coba snorkeling yuk Yah...,” ajak Izar semangat.
“ Boleh. Kamu mau ikut ga Yaz...,” tanya Faiq.
“ Mau dong Yah...,” sahut Iyaz cepat.
“ Aku ga mau ah. Aku sama Mama dan Oma di sini aja. Basah-basahan kaya gitu bikin ribet...,” kata Hanako sambil
melengos.
“ Ya udah gapapa, Kalian tunggu di sini ya...,” sahut Erik sambil mengikuti anak dan cucunya dari belakang.
Sepertinya Erik pun tertarik mencoba kegiatan snorkeling ini. Kemudian keempatnya mengenakan pakaian dan masker menyelam, kaki katak dan membawa tabung oksigen kecil agar bisa menikmati keindahan taman bawah laut. Sedangkan Farah, Shera dan Hanako duduk menunggu di salah satu kafe yang ada di pantai itu sambil berfoto.
Hampir dua jam keempat pria beda generasi itu menikmati kegiatan snorkeling yang memanjakan mata. Mereka nampak tersenyum puas saat kembali bergabung dengan tiga orang wanita yang menunggu mereka dengan sabar di kafe.
“ Kalian daritadi di sini aja...?” tanya Faiq.
“ Ga dong. Kami jalan-jalan di sekitar sini sambil belanja oleh-oleh juga nih...,” sahut Shera sambil memperlihatkan kantong plastik berisi souvenir yang dibelinya bersama Hanako dan Farah tadi.
“ Iya. Daripada bete nungguin Kalian snorkeling, mendingan keliling liat-liat...,” tambah Farah sambil tersenyum.
“ Masa sih, mana buktinya...?” tanya Izar tak percaya.
__ADS_1
“ Ga percaya banget sih jadi orang. Nih liat...,” sahut Hanako sambil memperlihatkan foto-foto di ponselnya.
Iyaz dan Izar melihat galeri foto Hanako dan terkagum-kagum. Sedangkan Hanako nampak tersenyum puas karena bisa menandingi keseruan si kembar saat snorkeling tadi.
“ Masya Allah keren banget. Dimana tuh Bun...?” tanya Iyaz.
Belum sempat Shera menjawab, Hanako telah lebih dulu menjawab.
“ Di sekitar sini lah. Gimana, bagus kan fotonya. Siapa dulu dong fotografernya...,” sahut Hanako sambil menepuk dada.
“ Yang bagus kan tempatnya Ci. Kalo tempatnya ga bagus, mana mungkin hasil fotonya sebagus ini...,” kata Izar asal hingga menyulut emosi Hanako.
“ Iiihhh, kenapa susah banget sih bilang iya...,” kata Hanako sambil menjambak rambut Izar dengan gemas.
“ Aduuhhh..., sakit Ci. Lepasin ga...?!” jerit Izar.
“ Ga bakalan. Bilang dulu kalo fotografernya pinter, cantik, baik hati dan tidak sombong...,” kata Hanako mengajukan syarat.
“ Iya iya. Cici tuh emang pinter, cantik, baik hati dan tidak sombong...!” sahut Izar lantang sambil mendorong Hanako hingga jatuh terjengkang di atas sofa.
“ Izar...!” panggil Hanako marah karena tak suka diperlakukan seperti itu.
“ Hanako...!” sahut Izar sambil berlari menghindar.
Mendengar nama aslinya dipanggil dengan mimik mengejek, Hanako tak tinggal diam. Ia mengejar Izar yang berlari menuju pantai. Iyaz pun asyik merekam aksi kedua saudaranya itu sambil tertawa-tawa. Sedangkan Faiq, Shera, Erik dan Farah ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“ Padahal kan mereka itu udah besar ya Ma. Kok kelakuannya masih kaya Anak-anak sih...,” kata Shera di sela tawanya.
“ Betul. Biarin mereka puas merajut kebersamaan mereka karena sebentar lagi mereka bakal terpisah dalam waktu
lumayan lama gara-gara nempuh pendidikan di tempat yang berbeda. Siapa tau pas si kembar lulus kuliah, eh si Cici malah dapat jodoh terus nikah. Kebayang deh gimana ribetnya si Cici nanti...,” kata Erik sambil tersenyum.
“ Kalo Cici nikah, artinya Kita udah tambah tua ya Pa...,” sahut Farah sambil bersandar pada tubuh Erik.
“ Iya Ma. Tapi biar tambah tua, Papa tetep sayang lho sama Mama...,” kata Erik sambil mengecup kening Farah lembut hingga membuat Farah tersenyum.
Faiq dan Shera pun saling menatap lalu tersenyum. Keduanya menautkan jari sambil menatap tingkah Hanako, Iyaz dan Izar yang masih berlarian dan saling mengejar di pantai itu.
\=====
Setelah menjalani hari yang melelahkan mereka kembali ke penginapan. Setelah membersihkan diri dan sholat Maghrib, mereka kembali bertemu di restoran penginapan untuk menikmati makan malam.
“ Kemana Iyaz...?” tanya Shera saat melihat hanya ada Hanako dan Izar di sana.
“ Tadi keluar sebentar Bun, ga tau mau ngapain...,” sahut Izar.
“ Kok malah keluar sih. Emangnya dia ga mau makan dulu ya...?” tanya Shera sambil menuangkan nasi dan lauk ke piring suaminya.
“ Katanya masih kenyang Ma. Dia malah nyuruh Kita makan duluan tadi. Iya kan Zar...?” tanya Hanako sambil menoleh kearah Izar.
__ADS_1
“ Hmmm...,” sahut Izar sambil menganggukkan kepalanya dengan mulut penuh terisi makanan.
Sementara itu di taman penginapan terlihat Iyaz tengah menatap kearah gasebo. Ia melihat seorang gadis cilik berusia delapan tahun yang tengah duduk sendirian di sana. Tangannya nampak terluka dan berdarah hingga membuat Iyaz penasaran.
“ Ngapain Kamu sendirian di sini Dik...?” sapa Iyaz sambil mendekati gadis cilik itu.
“ Aku lagi nungguin Mama sama Papa Aku Kak...,” sahut gadis cilik itu.
“ Emangnya mereka dimana...?” tanya Iyaz lagi.
“ Tuh, lagi meeting di sana...,” sahut gadis cilik itu sambil menunjuk kearah loby penginapan.
“ Oh gitu. Namamu siapa, kok tanganmu berdarah...?” tanya Iyaz.
“ Namaku Sandria Kak. Ini luka karena Aku jatuh tadi...,” sahut Sandria sambil meniup-niup luka di jemarinya.
Tiba-tiba sekelebat bayangan anak kecil yang usianya jauh di bawah Sandria nampak melintas di depan Iyaz sambil berlari-lari kecil. Iyaz tahu jika itu adalah makhluk tak kasat mata yang ingin berinteraksi dengannya.
Iyaz pun berdzikir dalam hati agar bisa beinteraksi dengan hantu anak kecil tadi. Sesaat kemudian Iyaz pun terkejut saat melihat Sandria berdiri lalu bicara pada hantu anak kecil itu.
“ Udah mainnya. Aku sakit nih gara-gara Kamu dorong tadi...,” kata Sandria sambil memperlihatkan jarinya yang terluka.
“ Kamu bisa ngeliat dia juga ?. Emangnya dia siapa...?” tanya Iyaz.
“ Dia Adikku, namanya Vino...,” sahut Sandria santai.
Saat Iyaz hendak bertanya lagi, terdengar suara mama Sandria yang memanggil Sandria sambil melambaikan tangannya.
“ Aku pergi dulu ya Kak, Mama udah manggil Aku tuh...,” pamit Sandria.
“ Iya, hati-hati ya...,” sahut Iyaz.
Sandria mengangguk lalu berlari kearah sang mama. Tiba-tiba hantu Vino mendorong Sandria dengan kekuatan penuh hingga tubuh Sandria tersungkur dan jatuh di lantai tepat saat mobil milik penginapan melintas. Semua orang menjerit saat melihat tubuh Sandria terlindas mobil. Iyaz pun bergegas berlari dan berusaha menyelamatkan tubuh Sandria dari kolong mobil.
“ Sandria !. Kamu gapapa kan Sandria...?!” tanya Iyaz cemas.
“ Gapapa Kak...,” sahut Sandria lirih.
“ Kok Adikmu jahat banget sih. Ini ga bisa dibiarin, biar Kakak kasih pelajaran dia...,” kata Iyaz sambil memeluk tubuh Sandria yang berlumuran darah.
“ Jangan Kak. Vino ga sa... lah kok. Dia cu... ma ngelakuin apa yang udah Aku contohin du... lu...,” sahut Sandria.
“ Kamu ngomong apa sih Sandria...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Vi..., Vino mati karena Aku men..., mendorongnya ke tengah jalan yang ramai dilewatin mobil Kak. Vino ter... ter...lin... das ban mobil dan meninggal di tem... pat...,” sahut Sandria terbata-bata lalu jatuh pingsan.
Iyaz terkejut. Ia tak menyangka jika gadis cilik itu telah membunuh adik kandungnya sendiri di usianya yang masih sangat belia. Iyaz mundur dan menjauh saat kedua orangtua Sandria meraih anaknya. Iyaz melihat bagaimana terpukulnya mereka menyaksikan anak mereka terlindas mobil di depan mata kepala mereka sendiri.
“ Jangan..., jangan lagi...!” seru mama Sandria histeris saat merasakan tubuh Sandria perlahan mulai membeku di dalam pelukannya.
__ADS_1
Bersambung