Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
35. Penemuan Kerangka


__ADS_3

Setelah kematian siluman babi hutan di tangan Faiq, suasana di arena bermain itu mendadak ramai. Suara tangisan dan tawa arwah-arwah yang menyaksikan pertarungan Faiq dan Fatur dengan siluman babi hutan itu terdengar saat siluman itu mati dan lenyap dari hadapan mereka.


Reaksi arwah anak-anak yang tersandera itu sungguh di luar dugaan. Mereka nampak melayang lalu melesat cepat seperti kelebatan bayangan yang berseliweran di atas kepala Faiq dan keluarganya.


Hanako, Iyaz dan Izar nampak menatap ke atas sambil tertawa bahagia melihat kebahagiaan arwah-arwah itu yang


seperti berlarian di atas kepala mereka.


Walau saat itu Heru tak bisa melihat apa yang dilihat oleh lima orang yang ada bersamanya, namun Heru ikut


bahagia saat melihat raut wajah bahagia mereka. Ia yakin jika sesuatu yang baik telah terjadi di sana.


“ Baru kali ini Aku liat arwah yang berlarian saking senangnya...,” kata Hanako sambil tertawa.


“ Itu karena mereka tau kalo ga lama lagi mereka bakal bebas dan kembali ke haribaan Allah. Tempat dimana seharusnya mereka berada sekarang...,” sahut Faiq yang diangguki Hanako.


Setelah melihat fenomena aneh itu mereka kembali duduk merapat  membentuk lingkaran. Mereka pun kembali berdzikir. Faiq memimpin dengan membaca doa untuk mengantar arwah-arwah yang penasaran itu kembali ke haribaan Allah.


“ Terima kasih ya..., Kami pergi dulu...!” kata arwah anak-anak yang berhasil keluar dari arena bermain itu sambil melambaikan tangannya.


“ Iya..., selamat jalan...!” sahut Iyaz dan Izar bersamaan. Keduanya menatap ke langit sambil melambaikan tangan.


Wajah keduanya berbinar bahagia hingga membuat keempat orang yang bersamanya ikut tersenyum bahagia.


Namun rupanya tak semua arwah berhasil diantar kembali ke haribaan Allah. Ada beberapa arwah yang masih


tertahan di sana dan tengah menatap kearah Faiq dengan tatapan sedih.


“ Ayah, kok mereka masih di sini...?” tanya Izar tak mengerti.


“ Karena mereka berbeda keyakinan dengan Kita Nak. Jadi doa yang Kita lantunkan tadi ga bisa mengantar mereka


pergi...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Terus gimana Yah. Kasian kan kalo mereka tertahan di sini...,” kata Iyaz.


“ Kalian tenang aja. Insya Allah Ayah akan minta bantuan sama teman Ayah yang seorang pendeta untuk mengantar mereka pergi...,” sahut Faiq lagi.


“ Jadi sampe teman Papa itu datang, Kita akan tinggalin mereka di sini...?” tanya Hanako.


“ Terpaksa Nak, Kita ga mungkin bawa mereka ke rumah Kita kan. insya Allah besok pagi Kami akan balik lagi ke


sini buat ngantar mereka...,” sahut Faiq sambil tersenyum dan diangguki Hanako.


“ Ehm, maaf ya. Bisa ga ngobrolnya di rumah aja. Rasanya ga nyaman ya ngobrol di tempat kaya gini...,” sela Heru.


Mendengar ucapan Heru, semua pun tertawa. Mereka maklum dengan rasa takut yang dirasakan oleh Heru saat itu.


“ Ok, Kita keluar sekarang. Anak-anak, ayo pimpin cari jalan lagi kaya tadi ya...!” kata Faiq.


“ Siap Ayah...,” sahut Iyaz dan Izar antusias.


\=====


Sarapan di rumah Erik terasa sedikit berbeda dengan kehadiran keluarga kecil Efliya. Mereka memutuskan menginap di sana selama liburan akhir tahun. Fatur juga masih tertahan di sana karena masih ada urusan yang belum selesai.


“ Hari ini Kita balik lagi ke tempat itu kan Nak, jam berapa...?” tanya Fatur memecah kesunyian.


“ Insya Allah jam delapan Kita ke sana Om. Kebetulan teman Aku punya waktu pagi ini sebelum dia sibuk nyiapin


natal di gereja...,” sahut Faiq.


“ Aku mau ikut ya Yah...,” kata Izar.


“ Maaf, tapi kali ini Kalian di rumah aja ya...,” sahut Faiq.


“ Kok gitu sih Yah...,” protes Iyaz.


“ Iya emang gitu. Kalian bertiga kan masih lelah usai berinteraksi sama makhluk halus semalam, jadi harus istirahat biar tenaga Kalian pulih. Nanti Oma bakal cek kondisi Kalian dan kasih vitamin biar ga ngedrop...,” sahut Faiq


“ Tapi...,” ucapan Izar dipotong cepat oleh Farah yang gemas mendengar celoteh cucu kembarnya itu.


“ Ga ada tapi-tapian. Pokoknya Kalian harus stay di rumah. Itu udah kesepakatan Kita kalo Kalian mau tetap


membantu mereka. Iya kan...?” tanya Farah sambil menatap tajam kearah Iyaz dan Izar.

__ADS_1


Iyaz dan Izar mengangguk cepat tanda setuju dengan ucapan sang Oma. Melihat sikap patuh keduanya membuat Shera dan Faiq tersenyum diam-diam. Sedangkan Hanako terlihat santai karen paham ‘kesepakatan’ yang dimaksud Farah. Hanako malah asyik mengusap perut Efliya dimana calon adiknya berada sekarang sambil mengajaknya bicara.


“ Adik Sayang, kalo udah lahir harus nurut ya, jangan kaya Abang Iyaz sama Abang Izar...,” bisik Hanako lalu


mengecup perut bundanya dengan sayang.


“ Insya Allah Kakak...,” sahut Efliya sambil tersenyum seolah mewakili sang bayi.


Mendengar ucapan Hanako membuat Iyaz dan Izar cemberut karena kesal dijadikan contoh yang buruk.


“ Ga lucu Ci...!” kata Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Ups, sorry...,” sahut Hanako dengan mimik lucu hingga membuat Iyaz dan Izar bertambah kesal. Hal itu justru


memancing tawa semua orang yang ada di ruang makan pagi itu.


“ Setelah semua arwah korban wahana permainan itu diantar pergi, terus apalagi Bang...?” tanya Efliya sambil


meneguk susu khusus ibu hamil yang dibuatkan suaminya.


“ Kita harus nyari siapa yang melakukan pesugihan. Karena korbannya ga hanya satu atau dua orang tapi banyak.


Dan mau ga mau Kita harus melibatkan Polisi untuk nangkap penjahat sebenarnya...,” sahut Faiq sambil melirik kearah Heru.


“ Insya Allah kapan aja dihubungi Gue siap Bang...,” kata Heru mantap.


“ Ok, kalo udah selesai Kita jalan ya Her. Gue sama Om Fatur nunggu di depan...,” kata Faiq sambil menepuk pundak adik iparnya itu.


Heru mengangguk sambil mengunyah suapan terakhir di mulutnya.


\=====


Faiq, Fatur, Heru dan pendeta Subekti telah berada di lokasi. Saat itu pendeta Subekti tengah melakukan ritual ‘mengantar’ arwah yang tersisa untuk kembali kepada Tuhannya. Tak jauh dari tempat pendeta Subekti berdiri, Faiq tengah berinteraksi dengan makhluk astral yang mendiami tempat itu jauh sebelum taman bermain itu dibuat.


Sedangkan Fatur dan Heru berkeliling mengamati lokasi.


Fatur sengaja mengarahkan Heru pada suatu tempat dimana banyak terdapat tumpukan tulang belulang manusia yang merupakan jasad dari arwah yang telah berhasil mereka bebaskan kemarin malam. Tempatnya yang tersembunyi membuat Fatur sedikit kesulitan mengarahkan Heru yang terkenal takut dengan makhluk halus itu.


“ Coba Kamu cek sebelah sana Her, Om mau ngecek yang sebelah sini...,” kata Fatur.


“ Kenapa ga barengan aja sih Om...?” protes Heru yang merasa bulu kuduknya meremang saat langkah kakinya


“ Biar cepet aja Her. Kenapa, kamu takut ya...?” tebak Fatur tepat sasaran.


“ Ah, ga kok Om...,” sahut Heru cepat.


“ Kalo takut mah kebangetan Kamu Her. Ini kan masih siang, terang benderang, ada sinar matahari juga. Masa Kamu kalah sama Anak perempuanmu itu...,” ledek Fatur sambil menggelengkan kepalanya.


“ Apaan sih Om Fatur ini. Aku berani kok. Ya udah, Aku cek sebelah sini ya...,” sahut Heru sambil melangkah


cepat ke tempat yang dimaksud.


Fatur tersenyum diam-diam. Dalam hati ia mulai menghitung dan menunggu jeritan Heru yang terkejut saat menemukan sesuatu di sana nanti.


“ Satu..., dua..., ti...,” gumaman Fatur terputus saat jeritan Heru membahana di tempat itu.


“ Aaaaa..., Astaghfirullah aladziim..., Om sini Om...!” jerit Heru memanggil Fatur.


Jeritan Heru bukan hanya menarik perhatian Fatur, tapi juga Faiq dan pendeta Subekti yang telah menyelesaikan tugasnya.


“ Ada apaan Her...?” tanya Faiq pura-pura tak tahu.


“ Liat Bang, ada banyak tulang belulang manusia di sini. Kayanya ini korban pembunuhan ya Bang...,” sahut Heru


lalu mulai menghubungi seseorang melalui ponselnya.


“ Ooh itu, Gue tau. Makanya kan Gue minta Lo siap-siap karena Kita bakal melibatkan Polisi dalam kasus ini...,” sahut Faiq santai.


Tak lama kemudian Polisi datang bersama team forensik. Tempat yang semula sepi dan tertutup pagar seng itu pun mendadak ramai. Warga yang penasaran nampak memadati jalan dimana taman bermain itu berada. Lokasi itu dipasangi police line agar para petugas Kepolisian dan Rumah Sakit bisa bekerja maksimal.


Beberapa kantong jenasah nampak digotong keluar dari dalam taman bermain menandakan jika ada jasad atau tulang belulang manusia yang ditemukan di sana. Saat melihat hal itu warga pun terkejut.


“ Ya ampun, pantesan ditutup. Ga taunya udah terjadi pembunuhan toh di dalam sana...,” kata seorang warga.


“ Tapi Kita ga pernah dengar jeritan atau apa pun yang mencurigakan ya Bu...,” sahut warga lainnya.

__ADS_1


“ Iya...,” sahut wanita itu.


“ Bisa aja pembunuhannya dilakukan di tempat lain tapi mayatnya dibuang di sini buat ngilangin jejak. Makanya ga


heran kalo warga sekitar ga ada yang dengar jeritan minta tolong atau sejenisnya...,” kata seorang warga mencoba menganalisa.


Lepas dari semua gunjingan warga yang berkerumun itu, Faiq nampak bisa bernafas lega karena telah berhasil


mengantar semua arwah korban wahana maut itu.


“ Gue balik sekarang ya Iq. Udah ditunggu sama panitya persiapan natal di gereja nih...,” kata pendeta Subekti


sambil menjabat  tangan Faiq, Fatur dan Heru bergantian.


“ Iya, thanks ya udah mau bantuin Gue Bro...,” sahut Faiq sambil memeluk pendeta Subekti dengan erat.


“ Sama-sama. Jangan sungkan hubungin Gue kalo Lo ada perlu ya...,” pesan pendeta Subekti sambil masuk ke


dalam mobil.


“ Insya Allah, hati-hati Bek...!” sahut Faiq sambil melambaikan tangannya.


“ Siaaapp...!” sahut pendeta Subekti sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.


Mobil pun melaju meninggalkan lokasi yang kini dipadati warga itu. Polisi langsung membawa jasad yang mereka


temukan untuk diotopsi di Rumah Sakit.


Berita penemuan jenasah yang tinggal kerangka itu menggemparkan warga di seantero negeri. Para wartawan


berbagai media pun datang dan merekam proses pengangkatan para jenasah ke dalam ambulans. Diantara mereka juga terlihat Hendro yang nampak tak terkejut saat melihat Faiq sudah lebih dulu ada di lokasi.


“ Jadi tentang apa nih Iq...?” tanya Hendro.


“ Kalo menurut versi kepolisian ini kasus pembunuhan berencana Hen. Sebagian besar korbannya adalah Anak-anak...,” sahut Faiq.


“ Ck, Gue paling kesel kalo ngeliput berita tentang penganiayaan terhadap Anak. Apalagi kalo mereka sampe meninggal kaya gini. Pelakunya ga pernah jadi Anak-anak kali ya...,” kata Hendro sambil berdecak sebal.


“ Sabar Hen. Insya Allah pelakunya bakal segera tertangkap karena namanya udah dikantongin Polisi...,” sahut Faiq


sambil menepuk pundak Hendro.


“ Nah gitu dong. Semangat deh Gue sekarang kalo tau pelakunya bakal diciduk sama Polisi...,” sahut Hendro sambil tersenyum.


Setelah mendapat berita yang diperlukan Hendro pun pamit. Sedangkan Faiq dan Fatur memilih mengikuti Heru


pergi ke kantor polisi.


\=====


Dalam waktu singkat Polisi telah memasukkan pengelola taman bermain dalam daftar pencarian orang karena dia


telah melarikan diri saat polisi tiba di rumahnya. Pelaku bernama Dante, pria tambun berusia lima puluh tahun. Dante melarikan diri setelah melihat berita yang ditayangkan televisi. Dante pergi meninggalkan rumahnya dengan membawa semua dokumen penting yang ia simpan di dalam brankas.


Polisi yang telah membawa surat penangkapan untuk Dante pun menerobos masuk ke dalam rumah untuk melakukan penggeledahan. Namun sayang, polisi tak menemukan bukti kejahatan Dante di rumah itu. Asisten rumah tangga Dante yang bernama Parmi nampak gemetar ketakutan saat melihat banyak polisi mengepung rumah tuannya.


“ Mana kunci ruangan ini Mbok...?” tanya seorang polisi saat mendapati pintu salah satu ruangan terkunci.


Polisi merasakan kejanggalan karena pintu ruangan itu memiliki ukuran, warna dan motif yang berbeda dari semua pintu yang ada di rumah Dante.


“ Saya ga tau Pak...,” sahut Parmi.


“ Masa ga tau. Kan Mbok Parmi bertugas bersihin rumah, terus kalo mau bersihin ruangan ini gimana...?” tanya


polisi.


“ Kalo ruangan itu bukan Saya yang bersihin Pak. Biasanya Tuan sendiri yang bersihin...,” sahut Parmi sambil menunduk.


“ Oh gitu. Kapan waktunya Pak Dante bersihin ruangan itu...?” tanya polisi namun Parmi tetap membisu.


“ Keliatannya Mbok Parmi lebih suka kalo menginap aja di penjara ya...,” kata seorang Polwan hingga membuat


Parmi tersentak.


“ Jangan penjarain Saya Bu, Saya takut. Iya, iya Saya jawab deh. Tuan bersihin kamar setiap malam Sabtu Kliwon

__ADS_1


Bu...,” sahut Parmi cepat hingga mengejutkan para polisi yang sedang menggeledah rumah Dante.


Bersambung


__ADS_2