Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
94. Melepas Rima


__ADS_3

Pemakaman Rima berjalan alot karena ayah Rima berkali-kali menolak saat jasad sang anak akan dimasukkan ke


liang lahat. Hal itu membuat kehebohan apalagi hari sudah menjelang senja dan tak mungkin memakamkan Rima saat Maghrib tiba.


Dengan berat hati salah seorang kerabat ayah Rima minta pada pengawal ayah Rima agar melakukan sesuatu untuk melumpuhkan majikannya itu.


“ Kenapa harus pake cara kaya gitu Pak...?” protes Faiq saat melihat ayah Rima berhasil dilumpuhkan dengan memukul tengkuknya hingga pingsan.


“ Ga ada jalan lain Pak. Saya tau betul keras kepalanya dia...,” sahut kerabat ayah Rima.


“ Tapi...,” ucapan Faiq terputus saat pria itu memotong cepat dan memberitahu siapa dia dalam keluarga Rima.


“ Saya yang akan bertanggung jawab. Saya Adik kandungnya Ayah Rima, Omnya Rima. Nama Saya Rudolf...,” kata


pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


“ Oh gitu. Saya Faiq...,” sahut Faiq sambil menjabat tangan Rudolf.


“ Makasih atas bantuannya ya Pak. Abang Saya udah ceritain semua bantuan yang Bapak dan keluarga Bapak berikan untuk almarhumah Rima. Hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan Bapak dan keluarga...,” kata Rudolf dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian keluarga Rima berhasil menyelenggarakan pemakaman Rima dengan baik walau ayah Rima tetap hadir di pemakaman dalam keadaan pingsan. Tak lupa Rudolf memerintahkan pengawal sang kakak untuk merekam proses pemakaman Rima agar ayah Rima bisa melihat proses pemakaman putri semata wayangnya itu walau dalam bentuk rekaman video.


Pemakaman Rima selesai bertepatan dengan berkumandangnya adzan Maghrib. Semua pelayat yang sebagian masih ada di pemakaman pun bergegas meninggalkan area pemakaman.


Faiq, Fatur dan Hanako yang hadir dalam pemakaman Rima pun nampak menghela nafas lega karena bisa memakamkan jasad Rima sebelum Maghrib.


“ Alhamdulillah jasadnya Kak Rima bisa masuk liang lahat sebelum adzan Maghrib ya Opa...,” kata Hanako sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


“ Iya Nak. Kuasa Allah bisa Kita liat tadi. Opa malah ngerasa kalo waktu berjalan lambat banget sore ini. Padahal Ayahnya Rima nangis udah lama banget dan bikin semua orang kesal karena ngelarang jasad Rima dimasukin ke liang lahat tadi...,” sahut Fatur sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“ Iya Om, Aku juga ngerasa kaya gitu tadi. Mungkin Allah ngasih kesempatan sama Ayahnya Rima untuk meratapi


kepergian Anaknya untuk terakhir kalinya sebelum Allah sadarkan Kita semua kalo waktu Maghrib udah deket...,” kata Faiq.


“ Ini pemakaman terlama yang pernah Aku hadiri lho Pa. Tiga jam lebih Kita stay di sini hanya untuk nyaksiin Ayahnya Kak Rima marah tiap kali jasad Anaknya mau dimasukin ke liang lahat. Keliatan benget kalo Ayahnya Kak Rima itu belum ikhlas melepas kepergiannya..,” kata Hanako.


“ Betul Nak. Wajar aja kalo beliau bersikap kaya gitu. Rima adalah Anak perempuan semata wayangnya. Selama


beberapa tahun ini dia hanya hidup berdua karena Ibunya Rima udah meninggal saat Rima berusia sepuluh tahun. Sekarang saat dia bahagia mendapat seorang Cucu laki-laki, tapi Allah justru memanggil Rima untuk pulng ke


haribaanNya...,” sahut Faiq prihatin.


“ Dia perlu seseorang yang akan selalu mengingatkan jika dia harus tetap bertahan untuk Cucunya itu...,” kata Fatur.


“ Ada Pak Rudolf yang bakal lakuin itu Om...,” sahut Faiq sambil menepuk punggung Rudolf yang berjalan di


sampingnya.


“ Alhamdulillah, Kami tenang karena Ayah Rima punya orang kuat yang bakal suport dia nanti...,” sahut Fatur


sambil tersenyum.


Kemudian mereka melangkah menuju musholla yang ada di area pemakaman untuk menunaikan sholat Maghrib. Setelahnya mereka kembali ke rumah Rima untuk menghibur ayah Rima.


Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi keberadaan Hanako di pemakaman itu. ternyata pemilik sepasang mata itu adalah Albani, senior Hanako di kampus. Albani nampak tersenyum melihat interaksi Hanako dengan orang-orang di sekitarnya.


Usut punya usut ternyata Albani juga mengenal Rima dan sempat dekat di awal masa perkuliahan. Namun sikap


almarhumah Rima yang agak ‘bebas’ membuat Albani mundur dan menjaga jarak dengan Rima. Saat mendengar berita duka tentang meninggalnya Rima yang disiarkan pihak kampus, Albani dan beberapa rekan seangkatan pun datang melayat. Dan mereka juga mengantar jenasah Rima hingga ke pemakaman untuk memberi penghormatan terakhir pada almarhumah Rima.

__ADS_1


\=====


Ayah Rima siuman setelah tiba di rumah. Dia kembali berteriak bahkan memaki para pengawalnya. Rudolf maju dan menenangkan ayah Rima.


“ Kami terpaksa lakukan itu karena Abang terus ngelarang buat nguburin jasadnya Rima tadi. Padahal udah hampir Maghrib. Kasian Rima kalo kelamaan dibiarin begitu aja Bang...,” kata Rudolf.


“ Aku tau. Aku cuma mau nahan dia sebentar lagi...,” sahut ayah Rima.


“ Untuk apa...?” tanya Rudolf tak mengerti.


“ Bukankah Rima hanya mati suri. Itu artinya dia bakal bangun lagi nanti. Kalian aja yang ga sabar nungguin dia bangun dan malah nguburin Rima...!” sahut ayah Rima marah.


Plaakk !


“ Kenapa Kau memukulku...?!” tanya ayah Rima sambil memegangi pipinya.


“ Itu untuk mengingatkanmu Bang. Kau harus bisa melepas Rima. Dia sudah meninggal. Jasadnya udah mulai bau dan harus segera dikubur. Bagaimana mungkin Abang malah nyalahin mereka yang udah berbaik hati menguburkan Rima...?!” tanya Rudolf dengan suara lantang.


Fatur dan Faiq maju untuk menengahi. Fatur menepuk pundak Rudolf untuk membuat Rudolf berhenti menekan ayah Rima. Sedangkan Faiq menepuk lembut punggung ayah Rima lalu membisikkan kalimat yang menenangkan ayah Rima.


“ Jangan kaya gini Pak, masih banyak tamu di sini. Mereka sedih ngeliat Bapak kaya gini. Dan liat di sana, Cucu Bapak juga lagi nunggu Bapak. Dia nunggu untuk dipeluk. Tapi ngeliat Bapak marah-marah kaya gini keliatannya dia malah takut...,” bisik Faiq di telinga ayah Rima.


Ayah Rima tersentak lalu menatap kearah pintu kamar dimana anak Rima sedang digendong oleh salah seorang kerabatnya. Ia juga menatap ke sekelilingnya dan melihat para pelayat yang ada di sana tengah menatap iba kearahnya. Kemudian ayah Rima menunduk menatap lantai sejenak lalu kembali menegakkan kepalanya. Walau ada air mata di sudut matanya ayah Rima tersenyum.


“ Maafkan sikap Saya hari ini ya Bapak – bapak dan Ibu- ibu. Saya terlalu shock kehilangan Rima. Terima kasih udan membantu memakamkan Rima tadi. Maaf kalo udah bikin Kalian tertahan lama di pemakaman karena ulah Saya tadi...,” kata ayah Rima dengan suara bergetar.


“ Sama-sama Pak, Kami maklum Bapak pasti sangat kehilangan Mbak Rima. Tapi udah cukup sedihnya ya Pak. Kasian Cucu Bapak kalo Eyangnya kelamaan sedih. Dia juga butuh kasih sayang dari Bapak lho, karena hanya Bapak yang dia punya dan bakal dia andalkan...,” sahut ketua RT mewakili semua orang yang ada di sana.


Ayah Rima mengangguk lalu tersenyum. Perlahan ia mendekati cucunya lalu meraihnya ke dalam gendongannya. Sang cucu nampak menggeliat lalu memejamkan mata seolah memang menanti pelukan sang kakek untuk mengantar tidurnya.

__ADS_1


Semua orang nampak menghela nafas lega saat melihat ayah Rima kembali menjadi dirinya. Terlihat keharuan di wajah semua orang saat menyaksikan ayah Rima menimang sang bayi sambil menyenandungkan sholawat untuk menidurkan cucunya itu.


\=====


__ADS_2