
Masa remaja Iyaz dan Izar dilalui dalam keceriaan layaknya remaja pada umumnya. Meski pun pelajaran yang mereka hadapi cukup berat, tapi keduanya nampak menikmati itu semua tanpa beban. Apalagi ada mata pelajaran tambahan yaitu latihan taekwondo yang bisa mereka ikuti setiap Sabtu malam membuat Iyaz, Izar dan kedua teman sekamarnya bertambah semangat.
Sang pelatih yang dipanggil Sabeum itu bernama Bayan. Seorang pria tegas yang sangat berwibawa. Bayan adalah pribadi yang baik dan tidak pilih kasih terhadap semua muridnya. Sejak pertama kali melihat Iyaz dan Izar, Bayan merasa jika kedua anak di hadapannya memiliki ‘sesuatu’. Diam-diam Bayan sering memperhatikan Iyaz dan Izar saat mereka sedang berlatih bersama teman-temannya.
Bayan sengaja mengajak Neta, anak bungsunya yang juga telah mahir taekwondo itu ikut serta mendampinginya saat mengajar di pesantren. Dibandingkan dengan Iyaz, Izar dan teman-temannya, kemampuan Neta berada jauh di atas mereka meski pun mereka memiliki usia yang sama. Semua terasa wajar karena Neta dan ketiga kakaknya memang diajar langsung oleh Bayan hampir setiap hari.
Pertama kali datang di pesantren Neta berdiri di samping Bayan dengan wajah setengah menunduk. Neta memang
terkenal pemalu dibanding anak Bayan lainnya. Dan itu membuat Bayan khawatir jika anak bungsunya itu kesulitan mendapat teman. Kemudian Bayan memperkenalkan Neta pada semua muridnya. Neta hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat semua murid sang ayah menyapanya.
“ Cukup basa basinya. Neta tunjukkan di depan mereka bagaimana cara menyerang...,” kata Bayan sambil melangkah ke tengah lapangan untuk menjadi sparing partner Neta.
“ Baik Sabeum...,” sahut Neta.
Kemudian Neta dan Bayan mencontohkan beberapa jurus menyerang dan bertahan. Semua santri nampak terkagum-kagum melihat pertunjukan yang ditampilkan ayah dan anak itu. Mereka bahkan bertepuk tangan saat Bayan dan Neta saling memberi hormat usai melakukan beberapa gerakan tadi. Kemudian Bayan memerintahkan para santri berdiri dan mulai mengikuti gerakan yang ia lakukan.
Pelatihan taekwondo berjalan lancar. Selama latihan berlangsung beberapa santri mencoba melirik kearah Neta yang nampak berdiri di pinggir lapangan.
Pembahasan tentang Neta pun berlanjut hingga keesokan harinya. Para santri membicarakan sosok Neta yang pendiam dan lembut itu.
“ Wah ga nyangka ya kalo cewek kalem kaya Neta bisa punya gerakan cepat dan berbahaya...,” puji Mat Roziq.
“ Betul. Itu artinya Kita ga bisa sembarangan gangguin dia dong...,” sahut Bandung.
“ Lagian siapa yang berani gangguin anaknya guru taekwondo sih Ndung...,” kata Mat Roziq.
“ Ya kali aja. Kan emang udah kodratnya cowok naksir cewek, jadi wajar lah kalo godain cewek yang dia taksir. Apalagi selama mondok kan Kita jarang bisa ngobrol sama cewek...,” sahut Bandung.
“ Bukannya Kita sering ngobrol sama cewek ya Ndung...,” kata Mat Rozik mengingatkan.
“ Kapan, sama siapa...?” tanya Bandung tak mengerti.
“ Sama Ibu kantin lah. Kan dia juga cewek. Tiap hari malah Kita ketemu plus ngobrol sama dia...,” sahut Mat Roziq santai disambut tawa teman-temannya.
“ Rojiiikkk, awas Lo ya...,” kata Bandung kesal sambil melempar sandalnya hingga mengenai kepala Mat Roziq.
Mat Roziq pun berlari menghindari lemparan Bandung sambil tertawa keras. Ia nampak bahagia bisa ‘mengerjai’ sahabatnya itu.
\=====
__ADS_1
Neta baru saja selesai berganti pakaian saat ia berpapasan dengan Iyaz dan Izar. Ketiganya nampak gugup dan berusaha tersenyum. Untuk mencairkan suasana Izar memberanikan diri menyapa Neta lebih dulu.
“ Baru ganti baju ya Net...,” sapa Izar basa basi.
“ Iya, Kalian sendiri kenapa ga ganti baju...?” tanya Neta.
“ Masih gerah. Lagian kamar mandi masih ngantri. Daripada ngantri di depan kamar mandi mendingan Kami di sini
menghirup udara segar. Tau sendiri kan suasana kamar mandi santri. Iya kan Yaz...,” sahut Izar yang diangguki Iyaz.
“ Menghirup udara segar atau malas mandi...,” kata Neta sambil tersenyum.
Melihat senyum Neta mebuat Iyaz dan Izar ikut tersenyum. Mereka merasa jika Neta adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara.
“ Dua-duanya...,” sahut Iyaz dan Izar sambil tertawa hingga membuat Neta ikut tertawa.
“ Kalian dari Jakarta ya...?” tanya Neta.
“ Iya. Kok Kamu tau...?” tanya Iyaz.
“ Kalian keliatan beda, lebih modis. Makanya Aku nebak kaya gitu eh ternyata bener ya...,” sahut Neta asal.
“ Masa sih. Perasaan Kita sama aja sama santri lainnya. Apalagi di sini kan pake seragam semua, gimana cara bedainnya...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Maksudnya...?” tanya Iyaz dan Izar bersamaan.
Namun belum sempat Neta menjawab, sang ayah terdengar memanggil namanya dari kejauhan.
“ Neta, ayo Kita pulang...!” panggil Bayan.
“ Siaapp Ayah...!” sahut Neta sambil melangkah cepat kearah ayahnya dan meninggalkan si kembar begitu saja.
Iyaz dan Izar nampak mengangguk hormat kearah Bayan yang tersenyum kearah mereka.
“ Kami pulang dulu ya. Insya Allah minggu depan Kalian bisa ngobrol lagi...,” kata Bayan sambil menstarter motornya.
“ Baik Sabeum...,” sahut Iyaz dan Izar patuh.
Kemudian Bayan melajukan motornya meninggalkan pesantren. Di belakangnya Neta nampak duduk sambil melambaikan tangannya kearah Iyaz dan Izar yang balas melambaikan tangan.
__ADS_1
Tiba-tiba seruan dari para santri mengejutkan Iyaz dan Izar. Para santri yang juga ikut berlatih taekwondo tadi nampak menatap Iyaz dan Izar sambil menggelengkan kepala hingga membuat si kembar kebingungan.
“ Oh, jadi gini ya siasat Kalian buat deketin si Neta...?” tanya Mirza sambil menatap tak suka kearah Iyaz dan Izar.
“ Pake alasan masih gerah segala...,” sindir Lucki.
“ Eh, Kalian ini kenapa sih. Emang gerah kok, makanya Aku sama Izar jalan-jalan dulu ngilangin gerah...,” sahut Iyaz.
“ Alasan...!” kata Aji dan Saeful yang merupakan senior di pesantren itu.
“ Iya, bilang aja mau ngobrol sama Neta...,” sindir Mat Roziq.
“ Yang sportif dong kalo mau bersaing. Jangan kaya gini caranya...,” kata Bandung sambil mendekat kearah Iyaz dan Izar.
“ Bersaing buat deketin Neta. Ya ampuunn..., Kalian ini konyol banget sih. Masa ngobrol sama Neta aja ga boleh. Dasar aneh...,” gerutu Izar.
Tiba-tiba enam orang santri yang ‘mengeroyok’ Iyaz dan Izar pun tertawa dengan keras. Mereka nampak puas karena berhasil mengerjai Iyaz dan Izar yang kebingungan melihat respon enam santri di hadapannya itu.
Sadar jika sedang dikerjai oleh senior dan teman sekamar mereka membuat Iyaz dan Izar ikut tertawa sambil menggaruk kepala.
“ Ciee..., cieee..., mukanya sampe merah kaya kepiting rebus...,” goda Aji sambil menepuk pundak Iyaz.
“ Apaan sih. Lagian di sini kan gelap, mana mungkin Kalian bisa ngeliat perubahan warna mukaku...,” sahut Iyaz cepat yang disambut tawa Izar dan keenam santri lainnya.
“ Ngobrol apaan aja tadi, seru banget kayanya...?” tanya Saeful penasaran.
“ Oh itu, ngobrol biasa aja. Neta nanyain kenapa ga mandi kaya santri lain, Kami bilang masih gerah. Udah itu aja...,” sahut Izar sambil melangkah menuju ke kamar mandi.
“ Tapi Kalian janji ketemu lagi ya...?” tanya Lucki.
“ Iya, Minggu depan...,” sahut Izar.
“ Serius Lo, dimana...?” tanya Mat Roziq dengan logat Betawinya yang kental.
“ Di pesantren ini, bada Maghrib...,” sahut Izar sambil menutup pintu kamar mandi.
“ Huuu..., itu kan jadwal Kita latihan sama Ayahnya si Neta...,” kata Mirza.
“ Betul. Kan yang janjian ngajak ketemu lagi emang Ayahnya Neta, Pak Bayan...,” sahut Iyaz sambil masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Enam santri yang tanpa sadar mengikuti si kembar ke kamar mandi pun nampak ternganga tak percaya. Mereka saling menatap sejenak lalu pergi meninggalkan area kamar mandi sambil menggerutu. Sedangkan Iyaz dan Izar yang mandi di ruang yang bersebelahan pun nampak tertawa puas karena berhasil mengerjai balik enam orang santri itu.
\=====