Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
216. Kiriman


__ADS_3

Hanako, Iyaz dan Izar datang lebih awal ke rumah baru Pita sesuai permintaan Pita. Mereka bertiga disambut ramah oleh keluarga Pita dan Ramdan. Rupanya mereka sudah tahu jika Hanako dan kedua sepupunya itu telah membantu mengusir hantu di rumah itu.


“ Apa ada kabar baru Mas...?” tanya Iyaz pada Ramdan.


“ Ada Yaz. Kemarin tetangga Saya bilang kalo tetangga yang rumahnya di ujung itu tiba-tiba datang dan berdiri di depan rumah Saya...,” sahut Ramdan.


“ Siapa namanya...?” tanya Iyaz.


“ Namanya Yori. Padahal seingat Saya dia adalaha salah satu tetangga yang ga ramah di sini. Waktu Saya dan Pita pertama kali datang, Kami sempatkan diri menyapa sekaligus berkenalan dengan para tetangga, tapi dia memperlihatkan sikap permusuhan sama Kami. Bahkan Istrinya aja dilarang dekat atau ngobrol sama Pita...,” sahut Ramdan.


“ Keliatannya dia lah pemilik kedua tuyul itu Mas...,” kata  Pita tiba-tiba.


“ Kok Kamu bisa nebak kaya gitu Ta...?” tanya Pandu.


“ Kata tetangga di sini, sebelumnya ekonomi keluarga Pak Yori itu ga sebagus sekarang Mas. Pak Yori itu bisa dibilang kaya mendadak walau pun pekerjaannya masih sama yaitu mengumpulkan barang bekas. Namun setelah kaya dia beralih profesi jadi pedagang baju di pasar...,” sahut Pita.


“ Kalo gitu siapa pun bisa Ta. Karena rajin dan ulet makanya dia bisa kaya. Atau mungkin dia dapat warisan makanya kaya mendadak...,” kata Pandu.


“ Tapi tetangga di sini ga percaya kalo Pak Yori itu kaya karena dapat warisan Mas. Yang aneh dari Pak Yori, dia ga pernah ke musholla lagi sejak kaya raya. Mungkin itu pantangan buat Pak Yori...,” sahut Pita sinis.


Pandu pun menatap Hanako dan kedua sepupunya bergantian. Ia ingin melihat bagaimana reaksi ketiga orang di hadapannya itu.


“ Kita bahas ini usai acara ya Mas. Semoga setelah doa yang diaminkan banyak orang nanti bisa menghilangkan efek negatif dari kehadiran makhluk tak kasat mata itu dari rumah ini...,” kata Iyaz.


“ Aamiin...,” sahut semua orang yang ada di sana bersamaan.


\=====


Acara aqiqah sekaligus tasyakuran rumah Pita dan Ramdan berjalan lancar. Banyak tamu yang hadir untuk mendoakan Pita dan keluarga kecilnya itu.


Sepanjang acara berlangsung berkali-kali Pandu mencuri pandang kearah Hanako. Kekaguman Pandu makin bertambah pada gadis itu sejak ia mengetahui Hanako memiliki kemampuan berinteraksi dengan makhluk halus. Sedangkan Hanako nampak menundukkan wajahnya saat menyadari tatapan Pandu padanya. Sesekali Hanako balas menatap Pandu lalu keduanya tersenyum.


Iyaz dan Izar yang melihat sikap Hanako dan Pandu pun nampak tersenyum bahagia. mereka berharap Pandu dan Hanako berjodoh hingga kepelaminan nanti.


Acara pengajian pun selesai dan tibanya menyajikan berbagai hidangan kepada para tamu. Hanako, Iyaz dan Izar pun turun tangan membantu. Saat Hanako hendak mengantar sepiring kue ke luar melalui pintu samping, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang nampak menatap marah ke rumah Pita dari luar pagar. Pandu yang juga melihat pria itu pun menenangkan Hanako.


“ Gapapa Sha, dia ga bakal berani macam-macam. Kan banyak orang...,” kata Pandu.


“ Dia siapa Mas...?” tanya Hanako.


“ Mungkin orang yang diceritain Pita tadi...,” sahut Pandu.

__ADS_1


“ Oh gitu...,” kata Hanako sambil berlalu.


“ Aku senang Kamu datang hari ini Eisha, makasih ya...!” kata Pandu lantang hingga membuat Hanako membalikkan tubuhnya lalu mengangguk dan tersenyum.


Pandu pun tersenyum. Saat hendak kembali ke dalam rumah, tak sengaja Pandu melihat Yori melempar sesuatu kearah Hanako. Pandu pun menarik tangan Hanako hingga membuat Hanako terkejut.


“ Kamu gapapa kan Sha...?” tanya Pandu.


“ Aku gapapa Mas, apaan itu tadi...?” tanya Hanako sambil melihat bungkusan kain yang dilempar kearahnya.


“ Aku ga tau, sebaiknya Kamu masuk ke dalam ya Sha. Aku ke sana dulu...,” kata Pandu lalu segera mengejar Yori yang berlari cepat kearah tanah kosong di samping rumah Pita.


Rupanya Iyaz dan Izar juga melihat apa yang dilakukan Yori. Dan kini mereka berdua tengah mengejar Yori. Namun keduanya kalah cepat dengan Pandu yang sigap melompati pagar setinggi satu meter setengah itu.


Pandu yang berlari lebih dulu berhasil menangkap Yori dan meringkusnya. Sedangkan Iyaz dan Izar menyusul kemudian.


“ Siapa Lo, apaan yang Lo lempar tadi...?” tanya Pandu sambil mencekal kerah baju Yori dengan erat.


“ Ampuunn..., jangan pukul...,” sahut Yori sambil menutupi wajahnya dengan lengannya.


“ Jawab dulu pertanyaan Gue, Lo mau apa...?!” tanya Pandu kesal namun Yori tetap bungkam.


Izar maju lalu mengatakan sesuatu yang membuat Yori marah.


“ Kalian kemanakan mereka...?!” tanya Yori marah.


“ Makhluk kecil pengganggu itu sudah Kami larung ke laut. Kenapa memangnya...?” tanya Izar.


“ Sia*an, kurang ajar. Kalian harus tanggung akibatnya...!” kata Yori lantang.


“ Kami akan tanggung akibatnya. Panggil dukunmu itu ke sini...!” tantang Izar.


Pandu pun melepaskan cekalan tangannya dan membiarkan Yori pergi. Setelahnya ketiganya kembali ke rumah dan melihat wajah cemas Hanako di sana.


“ Kalian gapapa kan, ketangkep ga orangnya, apa katanya...?” tanya Hanako beruntun hingga membuat Iyaz, Izar dan Pandu tertawa mendengarnya.


“ Kok ketawa sih, emangnya ada yang lucu...?” tanya Hanako sebal.


“ Kamu yang lucu Ci. Kalo nanya tuh satu-satu dong, gimana jawabnya kalo nanyanya borongan kaya gitu...,” sahut Iyaz hingga membuat Hanako tersadar lalu ikut tersenyum.


“ Eh, kemana bungkusan yang tadi dilempar orang itu Ci...?” tanya Izar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


“ Aku taro di bawah pohon sana tuh...,” sahut Hanako.


“ Kamu ga pegang pake tangan kan Sha...?” tanya Pandu khawatir.


“ Ga Mas, Aku dorong pake sapu tadi...,” sahut Hanako yang diangguki Pandu.


“ ltu orang yang diceritain Mbak Pita tadi Ci. Kita liat apa isi bungkusannya Yaz...,” kata Izar.


Iyaz mengangguk lalu membuka bungkusan itu sambil berdzikir.


“ Astaghfirullah aladziim..., masih aja ngirim kaya ginian. Apa dia ga tau kalo ini semua sia-sia dan malah bisa berbalik ke keluarganya sendiri nanti...,” kata Iyaz sambil menggelengkan kepalanya saat melihat isi dari bungkusan yang ternyata paku, rambut dan peniti.


“ Emangnya itu apaan sih...?” tanya Pandu penasaran.


“ Ini sejenis santet Mas. Dikirim dengan tujuan ingin menyakiti keluarga Mbak Pita. Kasian kalo yang kena si bayi, bakal fatal akibatnya nanti...,” sahut Iyaz.


“ Ya Allah, gimana nih...?” tanya Pandu cemas.


“ Selesai acara tasyakuran Kita langsung bergerak Mas...,” sahut Izar yang diangguki Iyaz dan Hanako.


Pandu pun menghela nafas panjang karena tak menyangka jika hal mistis masih mengintai keluarga Pita.


Setelah acara tasyakuran selesai dan para tamu pulang, tiga bersaudara itu segera mempersiapkan diri. Pandu pun ikut membantu dan setia mendampingi ketiganya. Iyaz nampak meletakkan bungkusan yang dilempar Yori tadi di atas sebuah asbak perunggu milik Ramdan. Kemudian Iyaz, Izar dan Hanako mulai berdzikir dibantu Pandu, Ramdan dan keluarga mereka. Sedangkan Pita nampak memeluk bayinya dengan erat seolah takut jika sang bayi terluka.


Tiba-tiba paku dan peniti terlihat bergerak seolah ada yang menggerakkan. Gerakan itu menimbulkan gesekan hingga menyebabkan percikan api yang langsung membakar rambut beserta kain pembungkusnya itu. Setelah api melahap semuanya, api itu perlahan melayang lalu melesat dengan cepat keluar.


“ Ga usah dikejar Zar...!” kata Iyaz saat melihat kembarannya hendak mengejar api itu.


“ Kenapa Yaz...?” tanya Izar.


“ Api itu kembali pada pengirimnya. Kita tunggu di sini aja. Sebentar lagi kampung ini bakal ramai...,” sahut Iyaz tenang sambil menyiramkan air ruqyah ke atas asbak perunggu hingga terdengar suara mendesis.


Semua orang nampak tegang usai mendengar ucapan Iyaz. Mereka menunggu sesuatu yang akan terjadi itu dengan cemas. Hingga beberapa menit kemudian terdengar jeritan warga.


“ Kebakaran...!, kebakaran...!” jerit warga panik.


Semua laki-laki di dalam rumah Pita keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi, kecuali Ramdan yang harus berjaga di samping anak dan istrinya. Hanako pun hanya duduk menunggu karena bisa menebak apa yang terjadi.


“ Kebakaran dimana Pak...?” tanya Pandu.


“ Itu Mas, rumahnya Pak Yori...,” sahut salah seorang warga hingga membuat keluarga Pita dan Ramdan saling menatap.

__ADS_1


Dalam sekejap kobaran api membesar seolah mengamuk. Kobaran api pun melahap rumah beserta isinya dengan cepat. Warga hanya bisa mamatung di depan rumah karena tak bisa menyelamatkan rumah Yori. Sedangkan Yori nampak memeluk anak istrinya sambil menatap rumahnya yang terbakar dengan tatapan nanar.


Bersambung


__ADS_2