
Setelah kematian Purwa, Oce dan Reno pun hidup lebih baik. Bahkan Oce ikut ketularan menjadi dukun dadakan yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Semula Oce ragu akan kemampuan yang dimilikinya. Namun saat ia mencoba membantu seorang wanita yang lumpuh bertahun-tahun, wanita itu pun sembuh dan bisa berjalan lagi.
Berita tentang sembuhnya seorang wanita dari lumpuh yang dideritanya selama bertahun-tahun setelah diobati oleh
Oce pun menyebar ke seantero kampung. Dalam sekejap rumah Oce dibanjiri pengunjung yang bermaksud meminta bantuannya.
Perlahan namun pasti kehidupan Oce dan Reno pun berangsur membaik. Mereka tak perlu risau kekurangan uang karena dari profesi barunya itu Oce bisa menghasilkan banyak uang. Bahkan ada beberapa pengunjung yang meminta bantuan Oce untuk melakukan ‘pekerjaan khusus’ dengan bayaran yang tinggi.Nampaknya kemampuan Oce dalam memberi layanan khusus itu membuat pamor Oce melesat dengan cepat hingga dalam waktu singkat bisa membawa nama Oce makin melambung tinggi dan terkenal sebagai dukun handal dengan bayaran selangit.
Kesibukan Oce melayani para pasiennya membuatnya lalai menjaga dan mengawasi anaknya. Reno tumbuh menjadi anak yang liar sekaligus manja yang semua permintaannya harus selalu dituruti. Namun satu yang selalu disesali Oce adalah Reno jadi anak putus sekolah karena terpengaruh pergaulan bebas teman tongkrongannya. Reno juga mulai mentatto dirinya sebagai ekspresi kegelisahan di hatinya.
Reno tumbuh sebagai pribadi yang kasar dan pemarah hingga membuat Oce kewalahan saat harus berhadapan dengan tingkahnya. Namun kala Oce memerlukan bantuan dengan senang hati Reno akan membantunya. Profesi Oce sebagai dukun pun menuntutnya untuk melakukan kekerasan. Dan eksekutornya adalah Reno.
Jika Oce memerlukan seseorang untuk ditumbalkan, maka Reno lah yang bekerja keras mencari sasaran untuk
dilumpuhkan. Dan kebiasaan itu berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya Reno bertemu dengan Qiana.
Saat pertama kali bertemu Qiana, Reno langsung jatuh hati. Kesederhanaan Qiana dan keramahannya telah membuat Reno mabuk kepayang. Reno rela melakukan apa pun agar bisa berinteraksi dengan Qiana termasuk menjadi nasabah di Bank tempat Qiana bekerja. Reno juga mulai mengikuti bahkan menghubungi Qiana dengan nomor ponsel yang berbeda. Cara yang dilakukan Reno memang salah namun itu Reno lakukan karena ia tak mengerti bagaimana caranya berkomunikasi yang baik dan benar dengan seorang gadis.
Hingga akhirnya Oce memerintahkan Reno mengawasi Qiana tanpa tahu alasannya. Reno mengira Oce merestui
keinginannya mendekati Qiana. Sedangkan Oce sendiri memerintahkan Reno mengawasi Qiana karena ia merasa jika ciri-ciri fisik Qiana sesuai untuk ditumbalkan. Namun saat Reno mengetahui niat Oce, Reno pun marah hingga berani menyakiti Oce seperti hari itu.
“ Gara-gara cewek itu sekarang Reno berani menyakiti Aku. Jadi Aku harus membuat perhitungan sama cewek itu sebelum terlambat...,” gumam mami Oce sambil mengepalkan tangannya.
\=====
Qiana baru saja selesai mandi saat ponselnya berdering. Qiana menatap layar ponselnya dan melihat nama ‘cowok
jutek’ tertera di sana. Qiana meraih ponselnya lalu menerima panggilan itu.
“ Assalamualaikum Qiana...,” sapa Izar dari seberang telephon.
“ Wa alaikumsalam Pak Izar. Ada apa ya...?” tanya Qiana.
“ Maaf kalo mengganggu. Apa di saku jaket yang Kamu pake kemaren ada kertas penting...?” tanya Izar.
“ Kertas penting, maksud Pak Izar mungkin kuitansi pembelian pasir urug sebanyak tiga truk itu...?” tanya Qiana sambil membaca kuitansi yang ia letakkan di meja.
“ Iya betul. Alhamdulillah kalo kertas itu ada sama Kamu. Tolong disimpan baik-baik ya karena itu untuk laporan
ke perusahaan...,” pinta Izar.
“ Baik Pak. Terus gimana sama jaketnya Pak Izar...?” tanya Qiana.
“ Kenapa sama jaket itu...?” tanya Izar tak mengerti.
__ADS_1
“ Kan Aku janji mau mulangin jaket itu setelah selesai dicuci. Terus Aku harus mulangin kemana...?” tanya Qiana hingga membuat Izar tersenyum diam-diam.
“ Kita ketemuan aja di luar atau Aku yang ngambil ke rumah Kamu...?” tanya Izar.
“ Ketemu di luar aja...,” sahut Qiana cepat.
“ Ok, Kamu yang tentukan waktu dan tempatnya ya...,” kata Izar yang diangguki Qiana.
\=====
Siang itu untuk pertama kalinya Izar dan Qiana bertemu dalam suasana santai dan hanya berdua saja. Meski pun mereka bertemu di tempat yang ramai namun tetap membuat Qiana gugup.
Izar tiba lebih dulu di kafe yang dipilih Qiana. Letak kafe yang tak terlalu jauh dari rumah Qiana adalah alasan utama Qiana memilih tempat itu. Sambil menunggu kedatangan Qiana, Izar meneguk kopi yang dipesannya tadi. Sesekali matanya menatap kearah pintu masuk berharap Qiana segera tiba.
Tak lama kemudian Qiana pun terlihat di ambang pintu. Izar melambaikan tangannya kearah Qiana dan gadis itu pun tersenyum.
“ Maaf terlambat...,” kata Qiana dengan santun.
“ Gapapa, Aku juga baru datang kok...,” sahut Izar sambil tersenyum.
Qiana pun duduk di hadapan Izar yang diam-diam mengamati pergerakannya dengan intens. Saat pelayan kafe
mendekat, Qiana pun memesan minuman dan makanan ringan. Setelah pelayan kafe berlalu Qiana mengeluarkan bungkusan dari dalam tas besarnya itu.
“ Sama-sama. Kalo Kamu mau, jaket ini buat Kamu aja...,” sahut Izar yang hanya mengambil kuitansi tapi balik menyodorkan jaketnya kearah Qiana.
“ Serius nih...?” tanya Qiana dengan mimik tak percaya.
“ Serius lah, ngapain juga bohong...,” sahut Izar cepat.
Mendengar ucapan Izar membuat Qiana heran. Ia memberanikan diri menatap Izar yang juga tengah menatapnya. Untuk sesaat keduanya saling menatap namun Qiana segera mengalihkan tatapannya.
“ Ga mau ah...,” tolak Qiana.
“ Lho kenapa, takut dimarahin sama pacar Kamu ya...?” tanya Izar setengah menyelidik.
“ Ga juga. Mungkin pacar Kamu yang bakal marah pas tau jaket itu Aku pake...,” sahut Qiana sambil mencibir.
“ Kamu tenang aja. Aku ini jomblo, jadi Kamu ga usah khawatir dilabrak sama cewek lain nanti. Atau gini aja,
gimana kalo Kamu yang jadi pasangan Aku...?” tanya Izar sambil menatap Qiana lekat hingga membuat Qiana terkejut.
“ Apaan sih Kamu, ga lucu tau...,” sahut Qiana sambil melengos hingga membuat Izar tertawa.
Hati Qiana pun terasa menghangat saat melihat tawa lepas Izar. Selama ini ia hanya melihat sikap Izar yang kaku dan galak. Tak ingin larut dengan pesona pria di hadapannya, Qiana pun memilih pulang.
__ADS_1
“ Kalo gitu Aku pulang ya...,” kata Qiana sambil bersiap beranjak dari tempat itu.
“ Biar Aku anter Kamu sekalian...,” kata Izar menawarkan diri.
“ Eh ga usah, nanti malah ngerepotin...,” sahut Qiana tak enak hati.
“ Ga ngerepotin kok. Yuk Kita ambil motor dulu...,” ajak Izar sambil bangkit dari duduknya.
“ Tunggu sebentar. Tumben Kamu baik banget sama Aku, padahal kan biasanya kalo ketemu selalu ngajak ribut...,”
kata Qiana sambil menatap Izar.
Qiana sengaja mengungkapkan uneg-uneg yang selama ini bersemayam di kepalanya. Perubahan sikap Izar memang membuatnya nyaman. Tapi Qiana khawatir itu hanya sesaat karena ia terbiasa berhadapan dengan sikap Izar yang tak bersahabat.
Izar kembali duduk di hadapan Qiana. Ia mengerti mengapa Qiana ragu padanya. Kemudian Izar pun mulai bicara menjelaskan semua perubahan sikapnya belakangan ini.
“ Selama ini Aku memang keterlaluan, tolong maafin Aku ya. Jujur dulu Aku emang ga suka sama Kamu karena udah bikin teman-temanku berantem gara-gara berebut cari perhatian Kamu. Tapi setelah Kita ketemu lagi dan Aku ngeliat gimana sikap Kamu sesungguhnya sama lawan jenis, Aku sadar kalo Aku udah salah paham sama Kamu dulu...,” kata Izar.
“ Jadi gara-gara itu Kamu musuhin Aku. Kamu ga tau gimana susahnya Aku menghindari mereka. Sampe Aku juga dimusuhin sama temen-temen cewek karena mereka pikir Aku udah ngerebut pacar mereka. Bukan mauku lahir dengan fisik yang bagus ini, tapi ini kan kehendak Allah. Sikap Kamu dan orang-orang yang memusuhiku bikin Aku down. Bahkan Aku pernah membenci diriku sendiri karena lahir dengan fisik yang cantik. Tapi Ummi dan Abi mengingatkan Aku supaya Aku bersyukur dan melakukan yang terbaik dalam hidup. Menunjukkan prestasi untuk mengabarkan pada dunia bahwa Aku juga punya otak. Buktinya sekarang Aku bisa mendapat pekerjaan yang baik, yang mengandalkan otak bukan sekedar penampilan fisik yang menarik...,” sahut Qiana dengan tatapan sedih.
Izar menelan salivanya dengan sulit saat mendengar Qiana menceritakan masa lalunya. Izar merasa ikut andil memperburuk keadaan Qiana saat itu.
“ Aku tau ini sangat terlambat. Maafkan atas segala sikapku yang telah membuatmu ga nyaman Qiana. Maaf...,” kata Izar dengan tulus sambil menatap Qiana lekat.
Untuk sesaat tatapan mereka kembali bertemu. Qiana hampir menangis karena merasa beban berat yang dipikulnya selama bertahun-tahun hilang seketika saat mendengar permintaan maaf Izar. Tak ingin Izar melihat air matanya Qiana pun mengalihkan tatapannya kearah lain.
“ Iya. Aku juga minta maaf karena bikin Kamu ga nyaman dengan kehadiranku...,” kata Qiana sambil memalingkan wajahnya.
“ Tapi belakangan ini Aku terlanjur suka dengan kehadiranmu Qiana. Aku malah kangen kalo ga ketemu sama Kamu...,” kata Izar hingga membuat Qiana tersipu.
“ Apaan sih Kamu...,” sahut Qiana dengan wajah merona.
“ Aku serius Qi. Tolong kasih Aku kesempatan yang sama kaya cowok lain ya...,” pinta Izar.
“ Kesempatan apa...?” tanya Qiana tak mengerti.
“ Kesempatan buat ngejar Kamu dan mendapatkan hati Kamu Qiana...,” sahut Izar cepat hingga mengejutkan Qiana.
Qiana menoleh dan melihat Izar tengah menatap kearahnya dengan tatapan yang menenangkan hingga membuat Qiana tersentuh. Perlahan Qiana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan itu membuat Izar ikut tersenyum.
Kebahagiaan melingkupi Izar dan Qiana. Meski pun tak ada janji yang terucap namun keduanya tahu jika kini hati
mereka saling terpaut.
Bersambung
__ADS_1