
Iyaz menatap hantu Marwah yang nampak menatap sang ibu yang bernama Mardiyah itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“ Silakan minum, maaf Kami hanya punya ini di rumah...,” kata Mardiyah.
“ Terima kasih, ini juga udah lebih dari cukup untuk Kami...,” sahut Osman tak enak hati.
“ Nah itu Gusman pulang...,” kata Mardiyah saat suara motor berhenti tepat di pintu rumahnya.
Iyaz dan Osman menoleh dan melihat seorang pria berbadan gempal dengan rambutnya yang beruban nampak turun dari motor. Melihat suaminya masuk ke dalam rumah ibu Marwah pun menyambutnya. Mereka bicara dengan berbisik lalu menoleh kearah Osman dan Iyaz.
“ Saya harus pergi. Kalian bisa lanjutkan urusan Kalian dengan Gusman...,” kata Mardiyah.
“ Baik lah...,” sahut Osman sambil menganggukkan kepalanya.
Gusman pun tersenyum lalu masuk ke dalam rumah untuk membasuh wajah, tangan dan kakinya. Setelahnya ia menemui Iyaz dan Osman.
“ Saya Osman, teman lama Marwah. Dan ini Iyaz, mahasiswa yang ditemui arwah Marwah yang penasaran...,” kata Osman saat Gusman duduk di hadapannya.
Ucapan Osman membuat Gusman terkejut namun hanya sesaat. Osman nampak menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya kuat.
“ Apa yang Marwah inginkan...?” tanya Gusman.
“ Dia ingin agar kematiannya diungkap dan orang yang menyebabkan kematiannya mendapat hukuman yang layak...,” sahut Osaman cepat.
“ Dia meninggal karena sakit, apalagi yang harus diungkap...?” tanya Gusman gusar dan itu membuat Osman dan Iyaz saling menatap bingung.
Tapi tiba-tiba sebuah lampu meja jatuh dari tempatnya hingga membuat ketiganya menoleh. Di samping meja arwah Marwah berdiri dengan penampilan seperti terakhir kali ditemukan, wajah lebam dan darah yang mengalir dari sela bibir, hidung dan telinga. Dia nampak marah mendengar ucapan ayahnya.
“ Kenapa bisa jatuh ?. ini benda kesayangan Marwah, apa dia...,” ucapan Osman terputus saat iyaz memotong cepat.
“ Iya, dia marah. Dia kecewa saat Anda tak peduli dengannya...,” kata Iyaz.
“ Dia..., Marwah..., di sini...?” tanya Osman dengan mata berkaca-kaca.
Iyaz dan Osman mengangguk kemudian menatap kearah samping meja. Gusman mengikuti arah tatapan mereka lalu menangis. Dalam tangisnya terdengar Gusman mengatakan banyak hal yang tak dimengerti Iyaz. Namun Osman yang mengerti apa yang diucapkan Gusman nampak menunduk sambil mengusap air mata yang jatuh di ujung matanya.
Melihat sang ayah menangis kemarahan arwah Marwah pun mereda. Ia melayang mendekati Iyaz yang nampak
kebingungan itu.
“ Ayahku harus tau semuanya. Tolong bantu Aku...,” kata Marwah yang diangguki Iyaz.
Tak lama kemudian Gusman menghapus air matanya lalu bangkit dan melangkah ke kamarnya. Saat kembali Gusman membawa kotak berisi surat-surat milik Marwah dan menyerahkannya kepada Osman.
__ADS_1
“ Katakan pada Marwah, bukan Aku tak peduli padanya. Aku diam karena Aku tak berhenti menyalahkan diriku sendiri atas kematiannya. Aku gagal jadi Ayah yang baik untuknya. Bekali-kali Aku merutuki diriku sendiri karena saat terakhir bertemu Marwah ada hal yang ingin dia sampaikan tapi Aku mengabaikannya. Aku menyayanginya, sangat...,” kata Gusman sambil memejamkan matanya.
Osman membuka kotak itu dan mulai mengurai isinya satu per satu dibantu Iyaz.
“ Apa Anda sudah membaca semua surat ini...?” tanya Iyaz.
“ Iya...,” sahut Gusman.
“ Di sini Marwah bilang kalo Anda harus mengawasi Ibu. Apa maksudnya...?” tanya Iyaz.
“ Marwah curiga kalo Ibunya mengkhianati Aku dan punya kekasih gelap di luar sana. Tapi Aku yakin Istriku ga seperti itu. Meski pun dia cerewet dan galak, tapi ga ada urusan rumah yang terbengkalai. Dia tetap masak dan membereskan semuanya tepat waktu. Saat Aku pulang ke rumah semuanya sudah rapi dan tersedia...,” kata Gusman.
Osman dan Iyaz mengangguk lalu meminta ijin untuk membawa surat-surat milik Marwah. Gusman setuju dan berharap jika arwah anaknya bisa tenang setelah semuanya terungkap.
“ Semoga setelah ini arwah Marwah bisa pergi dengan tenang...,” kata Gusman saat mengantar tamunya keluar dari rumah.
“ Aamiin...,” kata Iyaz dan Osman bersamaan.
\=====
Iyaz sedang mengamati surat yang ditulis Marwah untuk ayahnya. Jumlah surat itu ada sebelas buah dan semuanya berisi tentang kegelisahan Marwah akan perilaku ibunya. Hantu Marwah yang berdiri di belakang Iyaz pun buka suara.
“ Aku mengirimkan itu karena Aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri Ibuku berpelukan dengan seorang pria di tengah jalan...,” kata hantu Marwah mengejutkan Iyaz.
“ Berpelukan, mungkin itu saudaranya...,” sahut Iyaz.
Tak lama kemudian hantu Marwah kembali dengan wajah tegang. Iyaz yang baru selesai merapikan surat-surat Marwah pun berdiri lalu menghampiri hantu Marwah.
“ Kenapa...?” tanya Iyaz.
“ Dia ada di sini...,” sahut hantu Marwah.
“ Dia siapa...?” tanya Iyaz.
“ Pacar gelap Ibuku. Pria yang bertamu di depan itu, kerabatnya Idris. Dia lah pria itu...,” sahut hantu Marwah.
“ Kenapa malah sembunyi. Ayo Kita keluar dan temui dia...,” ajak Iyaz sambil melangkah keluar kamar.
Hantu Marwah pun melayang mengikuti Iyaz menuju teras rumah dimana Idris menjamu tamunya.
Saat tiba di teras Idris menyambut Iyaz dan memperkenalkannya dengan pria itu yang tak lain adalah kerabat paman Idris. Pria bernama Malhaj itu tesenyum lalu membalas uluran tangan Iyaz. Kemudian mereka berbincang akrab untuk beberapa waktu. Tak lama kemudian Malhaj pamit karena masih harus menemui seseorang.
“ Maaf Saya harus pergi sekarang...,” kata Malhaj sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
“ Sebentar lagi ya Paman, kan Kita baru aja ketemu setelah bertahun-tahun...,” pinta Idris.
“ Kapan-kapan Saya ke sini lagi, soalnya teman Saya ini istimewa. Dia ga suka menunggu...,” sahut Malhaj sambil tersenyum.
“ Ok lah, kalo soal yang satu itu Saya ga bisa ikut campur...,” kata Idris hingga membuat Malhaj tertawa.
“ Memangnya Pamanmu itu mau kemana...?” tanya Iyaz saat Malhaj melewati pintu gerbang kost.
“ Mau ketemuan sama temannya di dekat pasar sana...,” sahut Idris.
“ Apa Pamanmu itu udah menikah...?” tanya Iyaz.
“ Setauku sih belum, kenapa memangnya...?” tanya Idris.
“ Gapapa...,” sahut Iyaz sambil melangkah keluar area kost.
“ Kau mau kemana...?” tanya Idris.
“ Cari angin...,” sahut Iyaz asal.
“ Cari angin, kan di sini juga ada angin...,” gumam Idris sambil menggelengkan kepalanya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Rupanya Iyaz mengikuti Malhaj. Dari kejauhan Iyaz bisa melihat jika Malhaj berdiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari seseorang. Tak lama kemudian Malhaj tersenyum saat melihat orang yang ditunggunya datang. Malhaj memeluk wanita itu dan mencium bibirnya sekilas lalu membawa wanita itu pergi dari sana. Wajah Iyaz menegang saat mengenali wanita yang bersama Malhaj adalah ibu Marwah, Mardiyah.
Ternyata Malhaj mengajak Mardiyah ke sebuah rumah makan kecil di pinggiran pasar. Di sana mereka duduk berdampingan. Sambil menunggu pesanan mereka diantar keduanya bicara serius. Iyaz pun duduk tak jauh dari posisi mereka duduk dan bisa mendengar pembicaraan keduanya.
“ Kenapa Kamu keliatan panik...?” tanya Malhaj sambil mengusap pipi Mardiyah.
“ Ada orang datang ke rumah dan mencoba mengungkap kematian Marwah...,” sahut Mardiyah sambil mengamati sekelilingnya.
“ Apa, kok bisa. Siapa mereka...?” tanya Malhaj gusar.
“ Aku ga tau. Tapi Aku takut mereka curiga sama Kita...,” sahut Mardiyah sambil mengusap peluh di keningnya.
“ Kita ga bersalah, untuk apa takut. Polisi aja ga bisa mengungkap kematiannya. Kita lupakan itu. Apa kau bawa uangnya...?” tanya Malhaj.
“ Ck, kenapa Kau selalu minta uang saat Kita bertemu...,” sahut Mardiyah kesal.
“ Aku kan juga memberikan sesuatu yang tak bisa diberikan oleh Gusman. Jadi Kamu toh ga rugi apa pun kan...?” kata Malhaj sambil mengedipkan matanya hingga membuat wajah Mardiyah merona.
“ Iya, iya. Nih, Aku belum dapat uang lagi. Jadi terima dulu seadanya...,” kata Mardiyah sambil meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
“ Gapapa. Aku bakal sabar nunggu uang selanjutnya...,” sahut Malhaj sambil tersenyum.
__ADS_1
Iyaz dan hantu Marwah saling menatap sejenak saat melihat Mardiyah mengeluarkan sejumlah uang. Berbagai dugaan negatif memenuhi kepala mereka. Tak lama kemudian Iyaz meninggalkan tempat itu setelah melihat Mardiyah dan Malhaj keluar dari rumah makan itu.
Bersambung