
Berita tentang kebakaran
di apartemen X pun menyebar dengan cepat. Dugaan sementara penyebab kebakaran
adalah karena korsleting listrik. Ada dua lantai yang terbakar. Dan hari ini
Suraj bersama para korban kebakaran lainnya pun sibuk membereskan sisa-sisa
kebakaran berharap masih ada yang bisa diselamatkan.
Saat pertama kali tiba di
lantai empat belas terlihat kepulan asap yang mulai menipis. Suasana terasa
pengap dan panas. Bau gosong dan benda terbakar menyeruak pekat hingga membuat
nafas sedikit sesak. Bersama security Suraj mencoba masuk ke dalam kamarnya.
Petugas Asuransi yang
datang pun mulai mencatat kerugian yang dialami para korban. Pemilik gedung pun
sempat menyampaikan rasa prihatin kepada semua korban kebakaran dan berjanji
akan memberi kompensasi yang layak untuk mereka.
“ Kami akan urus semua secepatnya
Pak Suraj. Jika berkenan, Bapak bisa tempati kamar kosong di gedung sebelah
yang masih belum disewa...,” kata pengelola gedung menawarkan.
“ Saya setuju, Saya ambil
tempat itu aja. Rasanya Saya sulit untuk cari tempat baru dalam waktu dekat.
Apalagi ngebayangin tinggal jauh dari kantor, ck pasti merepotkan nanti...,”
sahut Suraj sambil berdecak kesal.
“ Ok, kalo gitu sore ini
Pak Suraj bisa langsung pindah ke sana...,” kata pengelola gedung sambil
tersenyum.
“ Baik, makasih ya
Pak...,” sahut Suraj.
“ Sama-sama Pak. Kalo
gitu Saya permisi untuk menyiapkan berkas-berkasnya ya Pak...,” kata pengelola
gedung sambil berlalu.
Selepas kepergian
pengelola gedung dan security, Suraj masuk ke dalam kamarnya yang terbakar itu.
ia tersenyum kecut saat melihat tak ada yang tersisa di sana.
Dinding dan plafond kamar
menghitam, lampu hias hancur, furniture dan semua benda habis terbakar. Suraj
menoleh lalu melangkah ke sudut kamar dan mencoba peruntungan. Ia mencari
dokumen penting miliknya yang sengaja ia simpan di dalam brankas.
Saat menyentuh pintu
brankas yang terbuat dari besi itu, wajah Suraj sedikit meringis karena
merasakan panas di telapak tangannya. Suraj meniup-niupnya sesaat lalu mulai
menekan tombol angka di permukaan pintu brankas.
Saat pintu brankas
berhasil dibuka Suraj nampak bernafas lega. Di dalam sana dokumen penting
miliknya masih utuh dan tak tersentuh api. Suraj bersyukur dan langsung
memasukkan dokumen penting berupa ijasah, surat kepemilikan apartemen dan
beberapa sertifikat tanah serta perhiasan itu ke dalam tas yang dibawanya.
Setelah mengamankan
semuanya Suraj keluar dari ruangan yang terbakar itu dengan perasaan ringan.
Saat tiba di depan kamar Suraj disambut oleh beberapa polisi berseragam yang
datang untuk mengamankan lokasi kebakaran sekaligus menyelidiki penyebab
kebakaran di sana.
“ Sudah selesai Pak...?”
tanya security.
“ Sudah Pak...,” sahut
__ADS_1
Suraj.
“ Oh gitu. Pak Polisi mau
pasang police line di sini, jadi Kita keluar sekarang ya Pak...,” ajak security
pada Suraj dan korban lainnya.
Suraj mengangguk lalu
membiarkan polisi melakukan tugasnya.
\=====
Di kantor terlihat Viona
gelisah karena belum mendapat kabar dari Suraj dan Hanako tentang ketidak
hadiran mereka hari ini.
Viona memang mengetahui
jika apartemen yang ditempati Suraj terbakar dari berita yang ditayangkan
televisi tadi pagi. Viona ingin menghubungi Suraj dan memberi suport moral pada
sang atasan. Namun saat ingat bagaimana sikap Suraj selama ini padanya, Viona
pun akhirnya mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba ponsel Viona
berdering. Viona berharap jika Hanako lah yang menghubunginya karena Viona
merasa tak enak hati akan ucapannya kemarin yang membuat Hanako tersinggung
hingga meninggalkan kantor sebelum jam kerja usai.
Viona mengerutkan
keningnya saat melihat nama ‘Bos Suraj’ lah yang terpampang di layar ponselnya.
Viona mengabaikan panggilan itu karena enggan menerima perintah yang sudah
dihapalnya di luar kepala. Viona hanya sedang tak ingin mendengar suara Suraj
yang bak diktator itu.
Sesaat kemudian Viona
bernafas lega karena Suraj mengakhiri panggilan via telephon itu. Viona meraih
ponselnya dan mencoba menghubungi Hanako dan tersambung.
sapa Hanako dari sebrang sana.
“ Wa alaikumsalam. Kamu
ga masuk kerja hari ini Hanako...?” tanya Viona.
“ Oh iya maaf Bu, Saya
lupa mau ngasih tau. Hari ini Saya ijin ga masuk karena Saya sakit Bu...,”
sahut Hanako.
“ Kamu sakit, sakit apa,
parah ga...?” tanya Viona.
“ Mmm..., cuma luka bakar
di wajah dan tangan Bu. Saya ga tau ini parah atau ga. Makanya rencananya Saya
dan orangtua Saya mau ke Rumah Sakit pagi ini...,” sahut Hanako.
“ Luka bakar...?” tanya
Viona.
“ Iya Bu. Kenapa Bu, kok
kayanya Ibu terkejut gitu...?” tanya Hanako.
“ Oh gapapa. Cuma kok pas
banget ya kejadiannya sama kebakaran di apartemennya Pak Suraj...,” sahut Viona
ragu.
“ Apartemen Pak Suraj
kebakaran...?” tanya Hanako.
“ Iya, beritanya ada di
tivi pagi ini. Saya pikir Kalian ada di tempat yang sama kemarin sampe Kamu
juga ngalamin luka bakar gitu...,” sahut Viona.
“ Ibu tenang aja, luka
bakar Saya karena sebab yang lain kok Bu. Ehm..., tapi kayanya ada yang cemburu
__ADS_1
nih. Jangan-jangan Bu Viona cemburu ya sama Saya...,” goda Hanako.
“ Apaan sih Kamu, siapa
yang cemburu...,” sahut Viona salah tingkah.
“ Gapapa Bu, Saya paham
kok kalo sebenernya selama ini Bu Viona suka kan sama Pak Suraj...,” kata
Hanako menenangkan Viona.
“ Kalo Kamu tau, kenapa
Kamu malah kabur kemaren...?” tanya Viona.
“ Saya kesel sama Ibu.
Bukannya usaha buat diri sendiri eh malah jadi comblang buat Saya. Pak Suraj
lebih cocok sama Ibu bukan Saya. Kok malah dijodohin ke Saya...,” sahut Hanako
kesal hingga membuat Viona tertawa.
“ Saya ga maksud begitu
Hanako. Saya cuma mau cerita aja apa yang Saya liat bukannya bikin Kamu takut.
Saya kira selama ini Kamu juga suka sama Pak Suraj, ga taunya Kamu malah marah
dan lari setelah Saya ceritain semuanya. Maafin Saya ya Hanako...,” kata Viona
tulus.
“ Iya Bu. Saya juga minta
maaf karena udah bertingkah kaya Anak ABG. Harusnya Saya ga lari kemarin,
maaf...,” sahut Hanako.
“ Sekarang kesalah
pahaman diantara Kita udah clear ya Hanako. Semoga Kamu cepat sembuh dan masuk
kantor lagi. Jujur Saya kesepian di kantor tanpa Kamu...,” kata Viona di akhir
kalimatnya.
Hanako tersenyum
mendengar ucapan Viona. Dalam hati Hanako sedikit menyesal karena memberi
harapan palsu pada Viona. Hanako membulatkan tekad untuk resign dari kantor itu
setelah membantu mengantar jiwa-jiwa wanita korban ilmu sesat Burhan kembali ke
haribaan Allah nanti.
“ Maaf Bu Viona. Aku
mungkin ga akan bisa nemenin Ibu lagi di kantor itu. Aku ga nyaman sama suasana
kantor yang terasa penuh tekanan itu...,” gumam Hanako sambil menyentuh
wajahnya perlahan.
“ Apa Kamu udah siap
Nak...?” tanya Efliya sambil membuka pintu kamar.
“ Udah Bun. Apa Ayah juga
ikut...?” tanya Hanako.
“ Ayah ga ikut Kak. Cuma
Mama dan Bunda aja yang nganterin. Oma yang bakal kenalin Kita sama dokter
kulit itu nanti. Gapapa kan...?” tanya Efliya lembut.
“ Gapapa Bun...,” sahut
Hanako santai.
“ Ya udah, Kita berangkat
sekarang yuk...,” ajak Efliya.
“ Terus Haikal sama siapa
Bun...?” tanya Hanako.
“ Haikal udah berangkat
sekolah dintar Izar tadi...,” sahut Efliya.
Hanako mengangguk lalu
mengikuti Efliya keluar menemui Farah dan Shera yang telah siap di dalam mobil.
Sesaat kemudian mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah menuju ke Rumah
Sakit Firdausi.
__ADS_1
\=====