Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
170. Viona Cemburu


__ADS_3

Berita tentang kebakaran


di apartemen X pun menyebar dengan cepat. Dugaan sementara penyebab kebakaran


adalah karena korsleting listrik. Ada dua lantai yang terbakar. Dan hari ini


Suraj bersama para korban kebakaran lainnya pun sibuk membereskan sisa-sisa


kebakaran berharap masih ada yang bisa diselamatkan.


Saat pertama kali tiba di


lantai empat belas terlihat kepulan asap yang mulai menipis. Suasana terasa


pengap dan panas. Bau gosong dan benda terbakar menyeruak pekat hingga membuat


nafas sedikit sesak. Bersama security Suraj mencoba masuk ke dalam kamarnya.


Petugas Asuransi yang


datang pun mulai mencatat kerugian yang dialami para korban. Pemilik gedung pun


sempat menyampaikan rasa prihatin kepada semua korban kebakaran dan berjanji


akan memberi kompensasi yang layak untuk mereka.


“ Kami akan urus semua secepatnya


Pak Suraj. Jika berkenan, Bapak bisa tempati kamar kosong di gedung sebelah


yang masih belum disewa...,” kata pengelola gedung menawarkan.


“ Saya setuju, Saya ambil


tempat itu aja. Rasanya Saya sulit untuk cari tempat baru dalam waktu dekat.


Apalagi ngebayangin tinggal jauh dari kantor, ck pasti merepotkan nanti...,”


sahut Suraj sambil berdecak kesal.


“ Ok, kalo gitu sore ini


Pak Suraj bisa langsung pindah ke sana...,” kata pengelola gedung sambil


tersenyum.


“ Baik, makasih ya


Pak...,” sahut Suraj.


“ Sama-sama Pak. Kalo


gitu Saya permisi untuk menyiapkan berkas-berkasnya ya Pak...,” kata pengelola


gedung sambil berlalu.


Selepas kepergian


pengelola gedung dan security, Suraj masuk ke dalam kamarnya yang terbakar itu.


ia tersenyum kecut saat melihat tak ada yang tersisa di sana.


Dinding dan plafond kamar


menghitam, lampu hias hancur, furniture dan semua benda habis terbakar. Suraj


menoleh lalu melangkah ke sudut kamar dan mencoba peruntungan. Ia mencari


dokumen penting miliknya yang sengaja ia simpan di dalam brankas.


Saat menyentuh pintu


brankas yang terbuat dari besi itu, wajah Suraj sedikit meringis karena


merasakan panas di telapak tangannya. Suraj meniup-niupnya sesaat lalu mulai


menekan tombol angka di permukaan pintu brankas.


Saat pintu brankas


berhasil dibuka Suraj nampak bernafas lega. Di dalam sana dokumen penting


miliknya masih utuh dan tak tersentuh api. Suraj bersyukur dan langsung


memasukkan dokumen penting berupa ijasah, surat kepemilikan apartemen dan


beberapa sertifikat tanah serta perhiasan  itu ke dalam tas yang dibawanya.


Setelah mengamankan


semuanya Suraj keluar dari ruangan yang terbakar itu dengan perasaan ringan.


Saat tiba di depan kamar Suraj disambut oleh beberapa polisi berseragam yang


datang untuk mengamankan lokasi kebakaran sekaligus menyelidiki penyebab


kebakaran di sana.


“ Sudah selesai Pak...?”


tanya security.


“ Sudah Pak...,” sahut

__ADS_1


Suraj.


“ Oh gitu. Pak Polisi mau


pasang police line di sini, jadi Kita keluar sekarang ya Pak...,” ajak security


pada Suraj dan korban lainnya.


Suraj mengangguk lalu


membiarkan polisi melakukan tugasnya.


\=====


Di kantor terlihat Viona


gelisah karena belum mendapat kabar dari Suraj dan Hanako tentang ketidak


hadiran mereka hari ini.


Viona memang mengetahui


jika apartemen yang ditempati Suraj terbakar dari berita yang ditayangkan


televisi tadi pagi. Viona ingin menghubungi Suraj dan memberi suport moral pada


sang atasan. Namun saat ingat bagaimana sikap Suraj selama ini padanya, Viona


pun akhirnya mengurungkan niatnya.


Tiba-tiba ponsel Viona


berdering. Viona berharap jika Hanako lah yang menghubunginya karena Viona


merasa tak enak hati akan ucapannya kemarin yang membuat Hanako tersinggung


hingga meninggalkan kantor sebelum jam kerja usai.


Viona mengerutkan


keningnya saat melihat nama ‘Bos Suraj’ lah yang terpampang di layar ponselnya.


Viona mengabaikan panggilan itu karena enggan menerima perintah yang sudah


dihapalnya di luar kepala. Viona hanya sedang tak ingin mendengar suara Suraj


yang bak diktator itu.


Sesaat kemudian Viona


bernafas lega karena Suraj mengakhiri panggilan via telephon itu. Viona meraih


ponselnya dan mencoba menghubungi Hanako dan tersambung.


sapa Hanako dari sebrang sana.


“ Wa alaikumsalam. Kamu


ga masuk kerja hari ini Hanako...?” tanya Viona.


“ Oh iya maaf Bu, Saya


lupa mau ngasih tau. Hari ini Saya ijin ga masuk karena Saya sakit Bu...,”


sahut Hanako.


“ Kamu sakit, sakit apa,


parah ga...?” tanya Viona.


“ Mmm..., cuma luka bakar


di wajah dan tangan Bu. Saya ga tau ini parah atau ga. Makanya rencananya Saya


dan orangtua Saya mau ke Rumah Sakit pagi ini...,” sahut Hanako.


“ Luka bakar...?” tanya


Viona.


“ Iya Bu. Kenapa Bu, kok


kayanya Ibu terkejut gitu...?” tanya Hanako.


“ Oh gapapa. Cuma kok pas


banget ya kejadiannya sama kebakaran di apartemennya Pak Suraj...,” sahut Viona


ragu.


“ Apartemen Pak Suraj


kebakaran...?” tanya Hanako.


“ Iya, beritanya ada di


tivi pagi ini. Saya pikir Kalian ada di tempat yang sama kemarin sampe Kamu


juga ngalamin luka bakar gitu...,” sahut Viona.


“ Ibu tenang aja, luka


bakar Saya karena sebab yang lain kok Bu. Ehm..., tapi kayanya ada yang cemburu

__ADS_1


nih. Jangan-jangan Bu Viona cemburu ya sama Saya...,” goda Hanako.


“ Apaan sih Kamu, siapa


yang cemburu...,” sahut Viona salah tingkah.


“ Gapapa Bu, Saya paham


kok kalo sebenernya selama ini Bu Viona suka kan sama Pak Suraj...,” kata


Hanako menenangkan Viona.


“ Kalo Kamu tau, kenapa


Kamu malah kabur kemaren...?” tanya Viona.


“ Saya kesel sama Ibu.


Bukannya usaha buat diri sendiri eh malah jadi comblang buat Saya. Pak Suraj


lebih cocok sama Ibu bukan Saya. Kok malah dijodohin ke Saya...,” sahut Hanako


kesal hingga membuat Viona tertawa.


“ Saya ga maksud begitu


Hanako. Saya cuma mau cerita aja apa yang Saya liat bukannya bikin Kamu takut.


Saya kira selama ini Kamu juga suka sama Pak Suraj, ga taunya Kamu malah marah


dan lari setelah Saya ceritain semuanya. Maafin Saya ya Hanako...,” kata Viona


tulus.


“ Iya Bu. Saya juga minta


maaf karena udah bertingkah kaya Anak ABG. Harusnya Saya ga lari kemarin,


maaf...,” sahut Hanako.


“ Sekarang kesalah


pahaman diantara Kita udah clear ya Hanako. Semoga Kamu cepat sembuh dan masuk


kantor lagi. Jujur Saya kesepian di kantor tanpa Kamu...,” kata Viona di akhir


kalimatnya.


Hanako tersenyum


mendengar ucapan Viona. Dalam hati Hanako sedikit menyesal karena memberi


harapan palsu pada Viona. Hanako membulatkan tekad untuk resign dari kantor itu


setelah membantu mengantar jiwa-jiwa wanita korban ilmu sesat Burhan kembali ke


haribaan Allah nanti.


“ Maaf Bu Viona. Aku


mungkin ga akan bisa nemenin Ibu lagi di kantor itu. Aku ga nyaman sama suasana


kantor yang terasa penuh tekanan itu...,” gumam Hanako sambil menyentuh


wajahnya perlahan.


“ Apa Kamu udah siap


Nak...?” tanya Efliya sambil membuka pintu kamar.


“ Udah Bun. Apa Ayah juga


ikut...?” tanya Hanako.


“ Ayah ga ikut Kak. Cuma


Mama dan Bunda aja yang nganterin. Oma yang bakal kenalin Kita sama dokter


kulit itu nanti. Gapapa kan...?” tanya Efliya lembut.


“ Gapapa Bun...,” sahut


Hanako santai.


“ Ya udah, Kita berangkat


sekarang yuk...,” ajak Efliya.


“ Terus Haikal sama siapa


Bun...?” tanya Hanako.


“ Haikal udah berangkat


sekolah dintar Izar tadi...,” sahut Efliya.


Hanako mengangguk lalu


mengikuti Efliya keluar menemui Farah dan Shera yang telah siap di dalam mobil.


Sesaat kemudian mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah menuju ke Rumah


Sakit Firdausi.

__ADS_1


\=====


__ADS_2