Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
329. Obrolan Ringan


__ADS_3

Iyaz dan Izar tiba di kamar penginapan saat jam menunjukkan pukul sebelas siang. Perasaan letih luar biasa ditambah perasaan sedih yang menerpa membuat keduanya terlihat murung.


Mereka bergantian membersihkan diri lalu menunaikan sholat Dzuhur berjamaah di masjid dekat penginapan. Setelahnya mereka memutuskan makan siang di sebuah rumah makan tak jauh dari masjid.


Saat sedang menunggu pesanan mereka diantar, Iyaz dan Izar mendengar pembicaraan para pengunjung rumah makan itu.


“ Iya bener. Ledakannya kenceng banget kaya ada bom gitu. Aku aja kaget sampe lari-lari nyari asal suara tapi ga ketemu...,” kata seorang pengunjung rumah makan.


Mendengar ucapan pria berbaju putih itu membuat Iyaz dan Izar saling menatap. Mereka berniat mencari informasi tentang keberadaan panti asuhan yang tadi mereka kunjungi itu. Baru akan membuka mulut untuk bertanya, seorang karyawan rumah makan datang dan meletakkan makanan di meja pengunjung yang sedang membahas ledakan itu.


“ Ledakannya juga kedengeran sampe sini kok Pak...,” kata pelayan rumah makan.


“ Oh ya. Kamu tau darimana asalnya...?” tanya pria itu.


“ Kalo ga salah sih dari bekas panti asuhan yang ga terpakai itu Pak...,” sahut pelayan rumah makan.


“ Emangnya di sana masih ada orang ya. Bisa aja itu tabung gas yang meledak karena penghuninya lupa matiin kompor...?” tanya pria itu sambil mulai menikmati makanannya.


“ Setau Saya sih udah ga ada siapa-siapa di sana Pak...,” sahut pelayan rumah makan.


“ Kalo ga ada siapa-siapa, terus yang meledak apaan dong...?” tanya pria itu.


“ Kata tukang ayam yang kebetulan lewat, yang meledak itu pohon rambutan besar yang ada di tengah itu lho Pak...,” sahut pelayan rumah makan.


“ Pohon rambutan raksasa itu...?” tanya pengunjung lain.


“ Iya Bu...,” sahut pelayan rumah makan.


“ Alhamdulillah kalo pohon rambutan raksasa itu meledak. Itu artinya kan jin penunggu pohon itu ikut meledak alias mati...,” kata wanita itu sambil tersenyum.


“ Kok Ibu bersyukur pas tau pohon itu meledak...?” tanya salah satu pengunjung.


“ Bapak-bapak ini ga tau sih wujud pohon rambutan itu. Pohonnya tuh besar banget, bercabang banyak dan daunnya juga rimbun tapi anehnya ga pernah berbuah. Saking besarnya tuh pohon, kalo dari jauh mirip raksasa yang lagi nongkrong gitu Pak. Apalagi kalo ngeliatnya pas malam hari. Hiiiyy..., kebayang kan gimana seremnya...,” sahut wanita itu sambil bergidik hingga membuat para pria yang mendengar ucapan wanita itu pun tertawa.


“ Selain wujudnya yang serem, pohon rambutan itu konon dihuni sama rajanya kuntilanak ya Bu...?” tanya pelayan rumah makan.


“ Iya Mas. Buktinya para penghuni panti itu mati semua tapi ga ada yang tau. Kalo bukan ulah hantu, mana ada pembunuhan massal tapi ga ketauan sama sekali sama warga yang tinggal di sekitarnya. Iya ga...?” tanya wanita itu.


“ Kapan kejadiannya Bu...?” tanya seorang pengunjung rumah makan.


“ Udah lima belas atau enam belas tahun yang lalu Pak, Saya juga lupa...,” sahut wanita itu.


“ Gimana caranya warga tau kalo semua penghuninya meninggal dunia...?” tanya pengunjung lain.


“ Warga curiga saat ngeliat halaman panti yang kotor ga terurus. Terus suasana panti juga sepi, padahal biasanya

__ADS_1


kan rame. Maklum aja kan di sana semua penghuninya anak-anak usia lima sampe sepuluh tahunan. Setelah berhari-hari mengamati, akhirnya warga dan pengurus RT setempat mendatangi panti. Mereka kaget liat semua anak panti termasuk pengurusnya meninggal dunia. Polisi bilang sih mereka meninggal udah beberapa hari bahkan ada yang udah satu bulan...,” kata wanita itu.


“ Penyebab mereka meninggal apa Bu...?” tanya pelayan rumah makan.


“ Kata polisi sih dugaan sementara mereka keracunan. Ga tau keracunan apa. Tapi sejak saat itu panti ditutup. Ga ada satu orang pun yang berani masuk ke sana sampe hari ini...,” sahut wanita itu.


“ Tapi kemarin sore Saya ngeliat dua orang laki-laki masuk ke dalam panti Bu...,” kata pelayan rumah makan itu.


“ Masa sih, mau ngapain mereka...?” tanya wanita itu.


“ Ga tau, tapi bada Isya Saya liat mereka keluar dari sana terus jalan kaki ga tau kemana...,” sahut pelayan rumah makan itu.


“ Mudah-mudahan mereka gapapa ya. Kasian kan kalo sampe dijailin sama hantu penghuni panti...,” kata wanita itu dengan tulus.


“ Iya Bu...,” sahut pelayan rumah makan sambil tersenyum.


Iyaz dan Izar yang sadar mereka lah yang dimaksud pelayan rumah makan itu hanya tersenyum lalu melanjutkan makan siang mereka.


Usai makan siang Iyaz dan Izar sengaja melintas di depan panti. Mereka melihat jika area panti telah bersih dari pengaruh mistis. Suasana di sana lebih terang dan hangat. Sedangkan dukun yang telah menimbulkan kekacauan itu telah menerima karmanya dan mati mengenaskan karena ulahnya sendiri.


\=====


Iyaz dan Izar telah tiba di Jakarta. Mereka memutuskan pulang malam itu juga karena semua tugas sudah diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Selain itu mereka juga tak ingin mengingat kejadian buruk yang menimpa anak-anak yatim piatu  dan pengurus panti asuhan jika mereka terus menginap di penginapan itu.


“ Assalamualaikum Bunda, Ayah...,” sapa Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Wa alaikumuslam Anak-anak...,” sahut Shera dan Faiq bersamaan.


Keempatnya saling memeluk bergantian lalu duduk di teras rumah. Faiq yang paham jika kedua anaknya baru saja mengalami kejadian mistis pun nampak tersenyum sambil mengusak rambut Iyaz dan Izar bergantian.


“ Kalian hebat, Ayah bangga sama Kalian...,” kata Faiq.


“ Makasih Yah...,” sahut Iyaz dan Izar sambil tersenyum.


“ Kejadian apalagi kali ini Anak-anak...?” tanya Shera penasaran.


Iyas dan Izar pun menceritakan apa yang mereka temui bergantian. Shera dan Faiq nampak serius mendengarkan cerita si kembar.


“ Kalo udah jadi abu artinya ga bakal balik lagi dang mengganggu manusia lain kan Yah...?” tanya Shera sambil


menatap Faiq.


“ Insya Allah iya Bun...,” sahut Faiq.


“ Alhamdulillah..., sekarang sebaiknya Kalian masuk dan istirahat gih. Atau mau Bunda buatin kopi...?” tanya Shera menawarkan diri.

__ADS_1


“ Buat Aku aja Bun, kalo Iyaz maunya dibuatin kopi sama istri tercintanya itu...,” kata Izar sambil mencibir.


Ucapan Izar membuat Faiq, Shera dan Iyaz tertawa. Apalagi setelah mengucapkan itu Izar memilih masuk ke dalam


kamarnya.


“ Kenapa lagi si Izar...?” tanya Faiq.


“ Lagi sensi Yah. Soalnya selama di sana Kami kan nginep di satu kamar yang sama. Jadi kalo pas Aku telphonan sama Nuara dia juga denger...,” sahut Iyaz sambil mengulum senyum.


“ Hanya itu ?. Kok Bunda ga percaya yaa...,” kata Shera sambil menatap penuh selidik kearah Iyaz.


“ Iya iya, Aku emang sedikit ngeledekin Izar kemarin. Aku juga nyuruh dia cepet nikah supaya tau rasanya diperhatiin sama Istri sendiri...,” sahut Iyaz sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“ Kamu tuh iseng banget sih Yaz. Kasian kan Izar jadi bete gitu...,” kata Shera sambil mencubit lengan Iyaz.


“ Aww..., sakit Bun...,” sahut Iyaz sambil mengusap lengannya yang memerah bekas cubitan sang bunda.


“ Rasain...,” kata Shera sambil bergegas masuk ke dalam rumah lalu menuju dapur.


Faiq hanya tersenyum melihat tingkah anak dan istrinya itu. Sesaat kemudian Iyaz bangkit lalu melangkah menuju kamar untuk menemui Nuara yang tidur di kamar lamanya.


Nuara terbangun saat merasakan tetes air jatuh di atas wajahnya. Ia membuka mata lalu tersenyum melihat kehadiran Iyaz.


“ Assalamualaikum Sayang...,” sapa Iyaz sambil menciumi wajah Nuara.


“ Wa alaikumsalam Mas, katanya pulang besok kok malah udah sampe rumah jam segini...?” tanya Nuara sambil


menggeliat.


“ Urusannya udah selesai dan Aku kangen sama Kamu...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah ada yang kangen...," kata Nuara dengan mimik lucu.


" Emang Kamu ga kangen sama Aku...?" tanya Iyaz gemas.


" Kangen dong. Udah makan belum, mau Aku buatin nasi goreng ga...?” tanya Nuara sambil mengalungkan tangannya di leher sang suami.


“ Mau banget, kopinya juga yaa...,” pinta Iyaz sambil mengecup pipi Nuara.


“ Siap Bos...,” sahut Nuara lalu mengurai pelukan mereka.


Kemudian Nuara meraih hijabnya di atas kursi lalu keluar dari kamar untuk membuat nasi goreng dan menyeduh kopi sesuai permintaan suaminya.


\=====

__ADS_1


__ADS_2