Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
156. Hanako Panik


__ADS_3

Saat kembali ke rumah Izar sudah disambut sikap tak bersahabat sang bunda. Izar tahu jika Shera telah mendengar cerita tentang insiden di rumah Hanako pagi tadi. Dan kali ini Izar harus bersiap menghadapi konsekensinya.


“ Assalamualaikum Bunda...,” sapa Izar.


“ Wa alaikumsalam, gimana hasilnya...?” tanya Shera tanpa menatap Izar.


“ Hasil yang mana nih Bun...?” tanya Izar bingung.


“ Maksud Kamu apa...?” tanya Shera.


“ Kan ada dua peristiwa penting hari ini. Pertama interviewnya Cici yang kedua soal Aku yang bikin ulah di rumah Cici...,” sahut Izar sambil nyengir.


“ Terus...?” tanya Shera sambil merangsek maju.


“ Iya Bun. Cici lulus interview dan mulai kerja lusa...,” sahut Izar sambil melangkah mundur.


“ Terus...?” tanya Shera lagi.


“ Aku udah minta maaf kok Bun sama semuanya. Cici juga udah ga marah sama Aku lagi...,” sahut Izar hingga


langkahnya terhenti karena punggungnya membentur dinding.


Tiba-tiba Shera memukul wajah Izar dengan keras hingga keluar darah dari sela hidungnya. Bahkan wajah Izar sampai tertoleh ke samping saking kerasnya pukulan sang bunda.


“ Bunda ga pernah ngajarin Kamu ngomong tanpa adab ya Zar. Kamu laki-laki, harusnya bisa melindungi semua


wanita dalam keluarga ini bukannya malah membully ga jelas. Lain kali bukan hanya ini yang Kamu terima. Ingat itu...,” ancam Shera sambil menepuk dada Izar dengan keras sambil menatap kedua matanya tajam.


“ Iya Bun, maaf. Aku janji ga akan kaya gini lagi ke depannya...,” sahut Izar sambil mengusap darah yang mengalir dari sela hidungnya.


“ Ok, buktikan. Ga usah banyak ngomong...!” kata Shera galak.


Izar mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Nampaknya Izar sadar jika ucapannya kali ini telah ‘kelewat batas’


karena telah membuat semua orang marah. Sambil menatap wajahnya di cermin Izar mengusap hidungnya yang terasa sakit itu. Izar masih harus bersiap menghadapi kemarahan ayahnya yang ia yakin pasti lebih dahsyat dari kemarahan sang bunda.


\=====


Suasana makan malam di rumah Erik sedikit tegang. Izar nampak menundukkan wajahnya sepanjang makan malam berlangsung.

__ADS_1


“ Tumben Kamu diam aja Nak, sepi nih jadinya...,” goda Erik.


“ Iya Pa, Kamu sakit gigi ya Zar...?” tanya Farah sambil tersenyum.


“ Gapapa kok Oma, Opa. Aku lagi belajar menngendalikan lidahku aja supaya ga salah ngomong lagi...,” sahut Izar sambil mendongakkan wajahnya hingga memperlihatkan hidungnya yang sedikit bengkak.


“ Hidungmu kenapa, berkelahi ya...?” tanya Farah.


“ Aku pukul Ma...,” sahut Shera cepat hingga membuat Erik, Farah dan Faiq terkejut.


“ Oh, kalo soal itu Oma sama Opa ga bisa ikut campur deh. Pasti kamu udah ngelakuin kesalahan yang besar sampe bikin Bundamu marah kaya gitu...,” kata Farah sambil mengangkat kedua tangannya.


“ Iya Oma. Aku tau, Aku juga kapok ga bakal kaya gitu lagi...,” sahut Izar malu-malu hingga membuat semua orang tersenyum mendengarnya.


Diam-diam Faiq menatap wajah Shera yang terlihat datar itu. dalam hati Faiq berterima kasih karena Shera telah mewakilinya memberi pelajaran pada Izar tentang pentingnya menjaga lisan.


\=====


Hari pertama Hanako bekerja pun tiba. Hanako datang ke gedung perkantoran diantar Heru.


“ Semangat kerjanya ya Kak...,” kata Heru memberi semangat sambil mengusap kepala Hanako dengan sayang.


Setelah turun dari mobil Hanako langsung masuk ke area gedung. Di depan pos security ia bertemu Laras dan Fera. Kemudian ketiganya masuk ke lobby gedung dan menggunakan lift untuk naik ke lantai empat belas.


Lagi-lagi pembahasan tentang lantai tiga belas pun terjadi. Fera dan Laras membahas hal itu dengan santai


tanpa beban sedangkan Hanako hanya membisu karena melihat penampakan makhluk astral di dalam lift itu.


“ Ga ada lantai tiga belas di gedung ini, aneh ga...?” tanya Laras setengah berbisik.


“ Katanya itu permintaan dari owner gedung ini...,” sahut Fera.


“ Masa sih, emang kenapa harus gitu...?” tanya Laras.


“ Mungkin ada hubungannya sama hal mistis. Kan udah jadi rahasia umum kalo angka tiga belas itu biasanya disebut angka jelek, angka sial. Makanya supaya ga terjadi kesialan di gedung ini, angka tiga belasnya sengaja dibuang...,” sahut Fera.


“ Apa berhasil membuang semua kesialan di gedung ini...? tanya Laras.


“ Ga tau. Kan Gue bilang biasanya. Lagian ga semua gedung kaya gini. Tergantung lokasinya aja. Ada yang ga pake angka enam atau angka dua puluh misalnya. Kalo soal rahasia kenapa ga pake angka-angka itu mungkin tergantung kebutuhan atau kepercayaan aja...,” sahut Fera.

__ADS_1


“ Gue baru kali ini denger yang kaya gini. Serem juga ya...,” kata Laras.


Pembicaraan mereka berakhir saat pintu lift terbuka. Sedangkan makhluk astral yang sejak tadi bersama mereka pun ikut keluar dari lift dan itu membuat Hanako sedikit tak nyaman.


“ Ada apa nih, kok dia ikutan turun di sini. Padahal daritadi dia ga kemana-mana...,” batin Hanako sambil


menatap makhluk astral berwujud wanita cantik itu melayang cepat mendahului langkahnya.


Hanako melihat makhluk halus itu menghilang di balik dinding saat sesi perkenalan karyawan baru dengan


lingkungan kantor dimulai. Viona menyambut mereka dengan ramah lalu memperkenalkan sosok pria dewasa yang merupakan manager personalia bernama Suraj.


Suraj bertubuh tinggi, tegap dan tampan. Namun aura dingin yang menguar dari dalam dirinya membuat orang enggan untuk berada di sampingnya. Begitu pun dengan Viona yang berkali-kali terlihat gugup dan menghapus peluh di dahinya karena khawatir membuat kesalahan di depan Suraj. Nampaknya Suraj adalah orang yang kaku dan tak mentolerir kesalahan sekecil apa pun.


“ Nah, ini Bapak Suraj. Beliau adalah Manager Personalia yang akan memutuskan di divisi mana Kalian akan ditempatkan. Bapak Suraj akan melihat langsung kinerja Kalian selama seminggu ke depan...,” kata Viona.


“ Ehm, begini. Perusahaan ini memang sedang melakukan perampingan karyawan tapi di saat yang sama perusahaan juga membutuhkan beberapa karyawan yang mumpuni di bidangnya. Seleksi akan berlangsung ketat. Penilaian Saya mutlak dan ga bisa diganggu gugat. Jadi untuk yang wanita, ga usah mimpi bakal bisa menjerat Saya atau mempengaruhi Saya dengan kecantikan Kalian karena itu ga berarti apa-apa buat Saya...,” kata Suraj jumawa hingga mengejutkan semua orang.


Hanako, Laras dan Fera saling menatap bingung sedangkan Viona hanya meringis mendengar ucapan Suraj tadi.


Sementara lima karyawan pria nampak mengerutkan kening meski tak mengatakan apa pun.


“ Jadi tanpa banyak basa basi, silakan Kalian ikuti apa yang Viona katakan dan Saya akan mengamati Kalian mulai sekarang...,” kata Suraj sambil melirik Viona.


“ Baik, makasih Pak. Sekarang Kalian ikuti Saya...,” ajak Viona sambil tersenyum.


Kedelapan karyawan baru itu pun bangkit dari duduknya lalu melangkah mengikuti Viona. Suraj memperhatikan gerak gerik mereka dengan seksama tanpa terlewat. Dan tatapannya terpaku pada sosok Hanako.


Suraj mengamati penampilan Hanako yang berhijab itu dengan teliti. Hanako memang tampil berbeda diantara


karyawati yang ada di ruangan itu. Selain tenang, Hanako juga nampak serius saat mendengarkan semua yang diucapkan Viona dan nampaknya itu membuat Suraj tertarik.


Sadar jika dirinya diamati oleh Suraj membuat Hanako berkeringat dingin karena teringat ucapan Izar dua hari yang lalu.


“ Ya Allah, masa omongannya Izar manjur sih. Aku ga mau kalo Om-om itu kepincut sama Aku ya Allah. Izaaarrr...,


awas aja kalo Pak Suraj sampe ngejar-ngejar Aku gara-gara sumpah Kamu ya. Liat apa yang bakal Aku lakuin sama Kamu nanti...,” gumam Hanako panik sambil mengepalkan tangannya dengan geram.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2