Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
181. Kakeknya Bintang


__ADS_3

Faiq sedang ada di ruangan Heru di kantor polisi. Ia bermaksud melaporkan temuannya pada pihak kepolisian. Selain merasa iba dengan apa yang dialami oleh Aldi, Beatrix dan Chandra. Faiq juga merasa jika kasus pembakaran SPBU itu sarat dengan muatan kriminal.


“ Kasus ini udah lewat puluhan tahun Bang, rasanya perlu waktu yang ga sebentar buat ngungkap kasus ini lagi ke permukaan...,” kata Heru.


“ Gapapa Her. Gue tau ini ga gampang. Tapi please bantu mereka ya...,” pinta Faiq hingga membuat Heru mengerutkan keningnya karena merasa sikap Faiq yang sedikit berbeda itu.


“ Kok Gue ngerasa kalo permintaan Lo ini sedikit aneh ya Bang...?” tanya Heru.


“ Gue cuma kasian sama nasib tiga korban yang terbakar itu Her. Sampe sekarang mereka masih penasaran dan ga mau kembali. Pasti ada sesuatu yang aneh di kasus ini...,” sahut Faiq.


“ Kenapa Lo ga tanya langsung aja sama mereka Bang...?” tanya Heru.


“ Udah, tapi mereka ga mau ngomong apa-apa. Mereka cuma nunjukin peristiwa kelam itu terus setelahnya menghilang gitu aja...,” sahut Faiq gusar.


“ Gitu ya. Insya Allah Gue sama team Gue bakal ngawal kasus ini sampe selesai Bang. Gue juga curiga ini bukan kasus premanisme kaya biasanya. Keliatannya ada unsur persaingan bisnis juga di sana...,” kata Heru.


“ Apa pun itu, kasian mereka yang jadi korban. Mereka kan hanya kerja nyari uang buat menuhin kebutuhan keluarga mereka. Tapi mereka malah mati sia-sia. Apalagi si Beatrix harus ngalamin pelecehan se*ual sebelum meninggal...,” kata Faiq sambil melangkah keluar dari ruangan Heru.


“ Iya Bang...,” sahut Heru sambil mengamati foto korban kebakaran SPBU yang terjadi dua puluh lima tahun silam itu.


\=====


Hanako sedang duduk di taman sambil memperhatikan Haikal yang asyik bermain dengan teman-temannya. Tiba-tiba bayangan Beatrix saat sedang dilecehkan melintas di kepalanya. Hanako merasa sangat marah mengingat apa yang terjadi pada gadis itu.


Seorang pria nampak duduk di bangku taman tepat di hadapan Hanako. Pria tua yang terlihat masih gagah di usianya yang tak lagi muda itu cukup menyita perhatian Hanako.


Entah mengapa Hanako seolah mengenal pria itu padahal baru kali ini ia melihatnya. Saat menoleh ke kiri Hanako pun maklum mengapa ia memiliki perasaan itu. Rupanya hantu Beatrix sedang berusaha merasukinya dan mempengaruhinya.


“ Jadi Kamu mengenalnya...?” tanya Hanako.


“ Iya. Dia adalah security di SPBU tempatku bekerja. Malam naas itu dia ga ada di sana. Dia pamit untuk mengurus keluarganya yang sakit...,” sahut hantu Beatrix.


“ Oh gitu...,” kata Hanako sambil mengangguk.


“ Tapi Aku penasaran gimana reaksinya saat tau Kami meninggal terbakar...,” kata hantu Beatrix sambil melayang mendekatinya.


Hanako ingin mencegah namun terlambat. Hantu Beatrix sudah melayang mendekati pria itu. Namun sebelum hantu Beatrix merasuki pria itu, Hanako melihat kehadiran Bintang di sana yang melangkah mendekati pria itu.

__ADS_1


“ Kakek...!” panggil Bintang sambil melambaikan tangannya.


Hantu Beatrix menghentikan niatnya lalu berdiri mematung di hadapan Bintang dan pria yang dipanggilnya kakek itu. Hanako pun mengerutkan keningnya mencoba menarik kesimpulan dari kehadiran Bintang dan apa yang dialami pria itu di SPBU ghaib tempo hari.


“ Oh jadi gitu. Karena Bintang adalah keturunan dari security yang pernah kerja di SPBU itu makanya dia diganggu dan diarahkan untuk masuk ke sana. Keliatannya hubungan darah memang ga bisa bohong ya...,” gumam Hanako maklum.


Di depan sana terlihat Bintang mencium punggung tangan sang kakek lalu duduk di sampingnya. Kakek Bintang nampak menatap wajah cucunya sejenak.


“ Ada apa Kakek ngajak ketemuan di sini. Kenapa ga di rumah aja sih...?” tanya Bintang.


“ Kakek kebetulan lagi sumpek di rumah. Makanya sekalian cari angin Kita ketemuan aja di sini...,” sahut kakek Bintang yang bernama Pujo itu.


“ Terus Kakek mau nanya apa...?” tanya Bintang.


“ Mmm..., Kakek denger Kamu abis ngalamin kejadian mistis ya...?” tanya kek Pujo.


“ Iya, Kakek tau darimana...?” tanya Bintang.


“ Ga penting Kakek tau darimana. Ceritain apa yang kamu temuin...,” pinta kek Pujo.


Bintang pun menceritakan apa yang dilihatnya saat tersesat di SPBU ghaib itu. Juga pengalaman uji nyali yang gagal bersama kelima temannya itu.


“ Ga keliatan Kek. Soalnya cowok itu nunduk terus waktu ngelayanin Aku...,” sahut Bintang.


“ Oh gitu ya...,” sahut kek Pujo sedikit kecewa.


“ Namanya Aldi, Beatrix dan Chandra Kek...,” kata Hanako tiba-tiba sambil mendekati Bintang dan kakeknya.


Bintang dan Kek Pujo nampak menoleh kearah Hanako. Ekspresi berbeda ditunjukkan oleh keduanya. Kek Pujo nampak hampir menangis sedangkan Bintang nampak terkejut melihat kehadiran Hanako di sana.


“ Hanako...,” panggil Bintang dengan suara lirih.


“ Hai Bintang, apa kabar. Maaf kalo Aku harus ikut campur sama urusanmu dan Kakekmu ini...,” kata Hanako.


“ Oh gapapa. Kamu pasti tau dari Om dan Opamu ya tentang nama ketiga hantu itu...?” tanya Bintang.


“ Iya...,” sahut Hanako cepat.

__ADS_1


“ Oh gitu. Kenalin Kek, ini temanku. Namanya Hanako...,” kata Bintang sambil menoleh kearah kakeknya.


“ Assalamualaikum Kakek...,” sapa Hanako dengan santun sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut kek Pujo sambil tersenyum.


“ Maaf ya Kek kalo Saya lancang...,” kata Hanako tak enak hati.


“ Gapapa. Kakek senang ada yang ngasih tau tentang ini sama Kakek...,” sahut kek Pujo sambil tersenyum.


“ Apa Kakek kenal sama mereka...?” tanya Hanako pura-pura tak tahu.


“ Dulu Kakek kerja di SPBU yang terbakar itu. Malam itu Kakek pulang lebih awal karena ada kerabat yang sakit dan butuh bantuan Kakek. Andai aja Kakek ga pulang lebih awal, mungkin Kakek juga ikut jadi korban...,” kata Kek Pujo sedih.


Hanako dan Bintang nampak saling menatap sekilas lalu sama-sama mengalihkan pandangan kearah lain.


“ Kalo boleh tau, apa ketiga hantu itu mengatakan sesuatu...?” tanya kek Pujo sambil menatap Hanako.


“ Ga tau Kek, kan Saya ga bisa berkomunikasi sama mereka. Yang bisa berkomunikasi sama mereka tuh Opa dan Papa Saya...,” sahut Hanako.


“ Oh gitu ya...,” kata kek Pujo sambil menghela nafas panjang.


“ Emangnya Kakek ngarepin hantu-hantu itu ngomong apaan Kek...?” tanya Bintang penasaran.


“ Ga ada. Cuma biasanya kan hantu suka menyampaikan sesuatu. Semacam permintaan terakhir sebelum mereka pulang kembali ke haribaan Allah...,” sahut kek Pujo.


Jawaban kek Pujo memang membuat Bintang mengangguk tanda mengerti. Namun tidak dengan Hanako. Ia justru curiga dengan pertanyaan kek Pujo yang terkesan ingin menyembunyikan sesuatu. Setelah merasa cukup berbincang dengan Bintang dan kakeknya, Hanako pun kembali ke tempatnya semula untuk mengawasi Haikal yang tengah bermain.


“ Dia gadis yang menarik, cantik lagi...,” kata kek Pujo sambil menatap punggung Hanako yang makin menjauh.


“ Iya Kek...,” sahut Bintang sambil tersenyum.


“ Rupanya Cucu Kakek yang ganteng ini suka ya sama gadis berhijab itu ya...,” goda kek Pujo.


“ Iya, tapi sayangnya dia masih menjaga jarak Kek. Susah deketinnya. Padahal ini bukan pertemuan pertama Kami lho Kek...,” sahut Bintang gusar.


“ Sabar dan kejar. Cuma itu kuncinya...,” kata kek Pujo sambil menepuk pundak Bintang.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu Kek Pujo nampak berdiri lalu berjalan perlahan meninggalkan Bintang yang masih melamun di taman itu. Bintang tersentak kaget saat mendengar suara sang kakek memanggilnya dari kejauhan. Dengan langkah cepat Bintang menghampiri sang kakek lalu membantunya menyebrang jalan.


\=====


__ADS_2