
Irwandi ditemukan oleh salah seorang karyawan mini market yang bernama Toto. Kebetulan Toto bertukar shift dengan Doni. Karena pintu utama sangat ramai, maka Toto memutuskan lewat pintu samping yang merupakan pintu khusus para karyawan. Saat menginjakkan kakinya di dalam mini market itu lah Toto melihat tubuh Irwandi tergeletak tepat di dekat gudang.
Toto pun langsung memanggil beberapa temannya untuk membantu mengangkat tubuh Irwandi.
“ Kok bisa sampe kaya gini sih To...?” tanya Doni.
“ Mana Gue tau. Gue aja baru sampe di sini...,” sahut Toto.
“ Keliatannya Pak Irwandi pingsannya udah lama ya To, badannya sampe dingin kaya gini...,” kata Surya.
“ Kayanya sih gitu...,” sahut Toto.
“ Panggil Ambulans aja biar dibawa ke Rumah Sakit sekarang. Kita ga bisa ninggalin tempat soalnya di luar lagi rame sama pengunjung...,” saran Surya.
“ Iya bener tuh Sur. Ya udah coba telephon Rumah Sakit sekarang...,” kata Toto yang diangguki Doni.
Sepuluh menit kemudian ambulans datang dan Irwandi segera dilarikan ke Rumah Sakit. Para karyawan sempat kehilangan fokus sejenak saat melihat sang manager toko dilarikan ke Rumah Sakit karena ditemukan pingsan di dekat gudang.
“ Bukannya tadi baik-baik aja ya Don...?” tanya Meila.
“ Iya Mei. Toto yang nemuin waktu dia lewat pintu samping tadi. Keliatannya Pak Irwandi udah pingsan daritadi karena badannya udah dingin banget...,” sahut Doni.
“ Tapi masih bernafas kan Don...?” tanya Meila panik.
“ Masih kok, tenang aja...,” sahut Doni sambil berlalu.
Meila mengangguk lalu kembali ke meja kasir untuk membantu temannya. Meila berharap kondisi Irwandi baik-baik saja karena ia tak mau kehilangan ATM berjalannya itu.
“ Duh, rumah belum selesai direnovasi, tapi Pak Irwandi udah sakit aja. Mudah-mudahan gapapa ya. Kalo dia sakit, siapa yang bayar tukang nanti...,” gumam Meila gusar.
Tiba-tiba Meila dikejutkan dengan suara seorang wanita yang memaki kasir di hadapannya. Meila mendekat kearah temannya yang bernama Ika yang juga nampak kebingungan menghadapi pengunjung yang mengajukan komplain itu.
__ADS_1
“ Maaf ada apa ya Bu. Bisa kan diomongin baik-baik. Jangan kaya gini Bu, malu...,” kata Meila mencoba menengahi.
“ Saya ga malu, buat apa malu kalo Saya memperjuangkan hak Saya...!” sahut wanita gemuk itu dengan suara lantang.
“ Hak yang mana maksud Ibu...?” tanya Toto yang kini berdiri di samping Meila.
“ Saya tadi datang belanja ke sini untuk beli sembako yang dijual di sini. Pas Saya ke kasir, Saya bayar pake uang
lima ratus ribu. Harusnya kembali empat puluh satu ribu lima ratus rupiah kan. Terus karena kembaliannya kurang, Saya ditawarin ambil dua bungkus wafer ini. Saya tertarik dan mutusin ngambil enam bungkus biar pas sama uang kembaliannya tadi. Tapi waktu Saya buka di rumah wafernya udah belatungan kaya gini. Gimana dong. Wajar Saya marah karena beberapa bungkus udah Saya bagiin ke tetangga Saya. Mereka juga balikin wafer itu dan nuduh Saya mau ngeracunin Anak mereka. Padahal demi Allah ga ada niat Saya meracuni Anak-anak tetangga Saya itu. Gara-gara wafer ini Saya jadi ribut sama tetangga Saya. Nah, sekarang Saya mau nuntut kasir yang udah nawarin Saya wafer sia*an itu. Mana dia, tunjukin sama Saya orangnya...!” kata wanita gemuk itu marah sambil melempar enam bungkus wafer yang sudah tak layak makan ke meja kasir.
Toto meraih sebungkus wafer yang tercecer di lantai dan mengamati bungkus wafer itu. Ia juga melihat tanggal kadaluarsa yang tertera di bungkus wafer lalu membulatkan matanya. Saat itu Toto juga merasakan ada belatung keluar dari dalam bungkus wafer hingga membuatnya terkejut dan refleks melempar bungkus wafer itu ke lantai.
“ Hiiyy, beneran ada belatungnya Ka. Lagian toko ini juga ga pernah jual wafer kaya gini kan Ka...,” kata Toto.
“ Iya, tapi sumpah Gue ga tau apa-apa soal ini To. Gue aja baru aplusan sama Meila. Iya kan Mei...?” tanya Ika sambil menoleh kearah Meila.
“ Iya...,” sahut Meila cepat.
“ Tadi Saya dilayani sama kasir yang tinggi putih dan rambutnya ikal itu lho. Dia yang nyaranin ngambil wafer ini sebagai pengganti uang kembalian yang kurang tadi...,” kata wanita gemuk itu.
Mendengar ucapan wanita gemuk itu tubuh Meila menegang. Ia tahu persis siapa kasir yang dimaksud wanita itu. Wajah Meila mendadak memucat, lidahnya pun kelu. Tanpa basa basi Meila meninggalkan meja kasir dan lari ke ruangan khusus karyawan.
Sementara itu Toto dan Ika masih berusaha membujuk wanita itu agar tak meneruskan aksinya karena bisa menghambat proses jual beli. Security mini market juga ikut menengahi namun nampaknya sulit karena wanita gemuk itu terus mengomel.
“ Enak aja nyuruh Saya berhenti. Tanggung jawab dong...,” kata wanita gemuk itu galak.
“ Tanggung jawab gimana Bu, wong orang yang Ibu maksud aja ga ada di sini...,” sahut Toto santai.
“ Jadi maksud Kamu Saya bohong...?!” tanya wanita gemuk itu tak suka.
“ Abis gimana ya Bu...,” ucapan Ika terputus saat wanita itu memotong cepat.
__ADS_1
“ Kalian bisa liat rekaman kamera CCTV, pasti ada Saya di sana. Jam berapa Saya sampe, apa aja yang Saya beli,
bahkan saat Saya bayar belanjaan di kasir tadi. Ayo Kita cek sama-sama biar Kalian ga nuduh Saya g*la dan mengada-ada...!” tantang wanita gemuk itu.
Ika, Toto dan security saling menatap kemudian menganggukkan kepala tanda setuju dengan usul wanita gemuk itu.
“ Lo lanjutin di sini aja Ka. Biar Gue sama security yang nemenin Ibu itu ke ruang pengawas CCTV...,” kata Toto.
“ Iya To, makasih...,” sahut Ika sambil tersenyum lega.
“ Sama-sama...,” kata Toto sambil berlalu.
Kemudian Toto, security dan wanita gemuk itu pun melangkah menuju sebuah ruangan. Ika kembali melayani pembeli yang sudah mengantri sejak tadi dan melihat keributan yang ditimbulkan oleh wanita itu.
“ Yang sabar ya Mbak...,” kata seorang ibu sambil menyerahkan selembar uang seraturs ribu rupiah.
“ Iya Bu, makasih. Tapi Saya bingung aja kenapa Ibu itu marahnya ke Saya. Padahal Saya kan baru datang, ga ngerti juga apa yang dia omongin...,” sahut Ika sambil tersenyum kecut.
“ Mudah-mudahan ga ada apa-apa ke depannya ya Mbak...,” kata ibu itu lagi.
“ Aamiin, makasih udah belanja di toko Kami ya Bu...,” sahut Ika santun dan diangguki oleh wanita itu.
“ Jangan-jangan ibu tadi salah toko. Belanjanya dimana, eh komplainnya di sini...,” kata seorang pengunjung sambil tertawa.
“ Betul juga. Kan sepanjang jalan ini aja ada dua mini market yang sama gedenya kaya mini market ini...,” sahut pengunjung lainnya.
“ Kalo itu yang terjadi Saya malah lega Mas. Itu artinya dia salah alamat sejak awal...,” kata Ika.
“ Terus gantian Mbak deh yang marah dan nuntut dia. Gitu ya Mbak...?” tanya seorang wanita.
“ Ga lah Bu. Saya bukan type orang yang suka cari ribut. Kalo kaya gitu ga kelar-kelar deh urusannya...,” sahut Ika sambil tertawa hingga membuat beberapa pengunjung ikut tertawa mendengar jawaban Ika.
__ADS_1
\=====