Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
232. Rapat Perdana


__ADS_3

Setelah dokumen pernikahan Hanako dan Pandu disetujui kesatuan, mereka dan keluarga besar pun mulai mempersiapkan pernikahan mereka.


Farah, Efliya dan Shera adalah orang yang paling sibuk mempersiapkan semuanya. Sedangkan di pihak Pandu sang ibu dan Pita lah yang palin antusias. Bisa dibayangkan jika mereka berlima bertemu untuk membahas resepsi pernikahan Hanako dan Pandu nanti.


“ Pandu suka warna apa Bu ?, biar nanti Kita sesuaikan dengan warna kesukaan Cici...,” kata Efliya.


“ Pandu mah simpel Bunda. Dia suka apa pun yang berwarna biru persis seragamnya sekarang yang serba biru...,” sahut ibu Pandu sambil tersenyum.


“ Sebaiknya warna itu nanti dipakai saat resepsi aja Nak. Mereka harus ngikutin ritual pedang pora karena Pandu kan perwira...,” saran Farah.


“ Iya Mama, Aku setuju...,” sahut Efliya yang diangguki ibu Pandu, Shera dan Pita.


“ Terus akad nikahnya pake warna apa dong...?” tanya Shera.


“ Tema akad nikah putih aja Nak...,” sahut Yasmine dan Bilqis yang baru saja tiba lalu ikut bergabung.


Semua wanita yang tengah duduk itu pun menoleh lalu tersenyum. Mereka saling menyapa dan menjabat tangan dengan hangat tak lupa saling cium pipi kanan kiri. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan mereka tanpa Hanako karena sang calon pengantin menyerahkan semuanya kepada keluarga.


\=====


Sementara itu di perusahaan Erik tengah dilaksanakan rapat untuk memperkenalkan ketiga cucu Erik yang baru saja bergabung dengan perusahaan yaitu Hanako, Iyaz dan Izar. Semua peserta rapat menyambut antusias kehadiran mereka bertiga.


“ Ini ketiga Cucu Saya, masih ada satu di rumah. Sayangnya dia masih terlalu kecil untuk diajak ikut bergabung ke dalam perusahaan ini. Karena dia masih SD kelas enam sekarang. ..,” kata Erik setengah bergurau.


Kemudian Hanako, Iyaz dan Izar mulai memperkenalkan diri bergantian. Diantara para staf ada sepasang mata yang menatap intens kerah Hanako. Rupanya karyawan bernama Andri itu tertarik dengan Hanako dan berniat mendekatinya.


“ Wah ga nyangka Cucunya Big bos cantik banget. Kayanya masih single, boleh nih dijadiin Istri. Siapa tau Gue  kecipratan tajir dan ga perlu capek kerja lagi...,” batin Andri sambil mengulum senyum.


Setelah sesi perkenalan yang santai itu berlanjut dengan sesi tanya jawab. Andri adalah orang pertama yang mengacungkan jari untuk bertanya. Semua orang tersenyum dan membiarkan Andri mengeluarkan uneg-unegnya.


“ Saya Andri dari Divisi Marketing. Saya cuma mau nanya, Mbak Hanako ini single atau doble ya...?” tanya Andri malu-malu hingga membuat seisi ruangan tertawa.


“ Andri tau aja orang cantik...,” kata staf lainnya sambil tertawa.


“ Tau lah Pak. Orang normal pasti tau kalo Mbak Hanako itu cantik. Cuma orang ga normal aja yang ga tau orang cantik...,” sahut Andri cuek hingga membuat ruangan itu kembali penuh dengan tawa.


Erik dan ketiga cucunya itu pun ikut tertawa mendengar ‘banyolan’ Andri. Hanako terlihat tenang meski pun saat itu semua mata tertuju padanya.

__ADS_1


“ Ayo jawab Ci...,” kata Izar yang diangguki Hanako.


“ Makasih. Saat ini status Saya doble karena Saya telah menikah dengan laki-laki yang Saya cintai dan kebetulan usia pernikahan Kami baru hitungan Minggu...,” sahut Hanako santun.


“ Yaaa..., terlambat doonngg...,” kata para staf pria sambil memperlihatkan mimik wajah kecewa yang disambut tawa para staf wanita.


Sedangkan Andri bukan hanya menampilkan wajah kecewa, tapi rasa kecewa itu juga menembus hingga ke jantung. Ia merasa kesempatan untuk kaya raya lenyap mendengar pengakuan Hanako tadi. Meski pun begitu Andri masih bisa tersenyum mendengar ucapan rekan-rekannya.


Dari tempat duduknya Andri masih mengamati Hanako. Ia tak percaya dengan ucapan Hanako yang mengatakan telah menikah itu. Karena rupanya Andri menemukan sesuatu pada diri Hanako yang membuatnya yakin jika Hanako masih virg*n dan belum menikah.


Sikap Andri tak lepas dari pengamatan Iyaz dan Izar. Sebagai laki-laki mereka tahu jika Andri memiliki niat tak baik kepada Hanako.


“ Aku curiga sama si Andri itu Zar...,” bisik Iyaz.


“ Aku juga. Gerak-geriknya keliatan mencurigakan banget ya...,” sahut Izar.


“ Iya. Mudah-mudahan Cici tau dan bisa berhati-hati sama si Andri...,” kata Iyaz.


“ Keliatannya Cici ga tau Yaz. Dia lagi sibuk nyiapin pernikahannya, jadi wajar kan kalo capek dan banyak pikiran. Nah itu bikin dia sedikit lengah kan...,” sahut Izar.


“ Kok daritadi pertanyaannya tertuju buat Hanako aja ya. Apa Kalian lupa kalo ada dua Cucu laki-laki Saya di sini...?” tanya Erik.


Ucapan Erik membuat para staf tersentak lalu tertawa. Kemudian salah satu staf wanita mengacungkan jarinya. Wanita yang masih belia itu memang cantik dan itu membuat Erik mengerutkan keningnya.


“ Jangan bilang modusmu sama kaya si Andri itu ya...,” gurau Erik hingga membuat semua tertawa sedangkan gadis itu hanya tersenyum simpul.


“ Nama Saya Sasha, dari Divisi Ketenaga Kerjaan. Maaf sebelumnya kalo ini terdengar lancang. Saya cuma mau bilang kalo Saya belum menerima data diri Mbak Hanako. Mas Iyaz dan Mas Izar Pak...,” kata Sasha santun.


Ucapan Sasha mengejutkan semua orang namun Erik hanya tersenyum.


“ Saya paham maksud Sasha dan itu bagus. Artinya Sasha sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya. Apalagi data karyawan ini juga berkaitan dengan gaji mereka nantinya. Tapi khusus untuk data diri ketiga Cucu Saya, biar menjadi urusan Saya dulu. Bagaimana Sasha...?” Tanya Erik.


“ Baik Pak, terima kasih...,” sahut Sasha sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


“ Sama-sama...,” sahut Erik sambil tersenyum.


Beberapa pertanyaan berikutnya masih diajukan oleh para staf. Kini giliran Iyaz dan Izar yang menjawab pertanyaan itu secara bergantian. Keduanya menjawab dengan fasih dan lancar hingga membuat Erik bangga.

__ADS_1


Menjelang makan siang rapat pun berakhir. Semua staf meninggalkan ruangan satu per satu meninggalkan Erik dan ketiga cucunya itu.


“ Staf Opa ramah-ramah ya...,” kata Izar dengan nada menyindir.


“ Jangan tersinggung Nak. Bagaimana pun mereka telah membantu mengembangkan perusahaan Kita hingga sebesar ini lho...,” sahut Erik sambil tersenyum.


“ lya Opa, maaf...,” kata Izar tak enak hati.


“ Kamu harus membiasakan diri bekerja dalam lingkungan kantor seperti ini Nak. Opa maklum Kamu terbiasa bekerja di lapangan, jadi situasinya pasti sedikit berbeda. Iya kan...,” kata Erik bijak.


“ Iya Opa. Biasanya kan kalo di lapangan semua serba lugas, ga ada intrik. Tapi kalo di kantor kaya gini Kita malah harus hati-hati karena yang terlihat baik belum tentu baik juga dalamnya...,” sahut Izar sambil meluruskan kakinya.


“ Itu lah kehidupan Nak. Kita yang harus waspada dan jangan terlena. Yang paling penting jangan tinggalkan sholat dan tetap jaga dzikir...,” kata Erik tegas.


“ Baik Opa...,” sahut Hanako, Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Ngomong-ngomong Kamu harus hati-hati sama si Andri itu ya Ci...,” kata Izar sambil menoleh kearah Hanako.


“ Oh ya, kenapa memangnya...?” tanya Hanako hingga membuat Iyaz dan Izar saling menatap karena tebakan mereka jika Hanako sedang tak fokus ternyata benar.


“ Keliatannya Andri punya maksud ga baik sama Kamu...,” sahut Izar cepat.


“ Masa sih...?” tanya Hanako.


“ Iya, masa Kamu ga percaya sih sama Aku...,” sahut Izar kesal.


“ Ga ada salahnya Kamu berhati-hati Nak. Yang Izar bilang tadi benar kok, Opa juga mencium gelagat aneh dia tadi...,” kata Erik menengahi.


“ Maaf Opa, Izar. Kepalaku emang sedikit sakit tadi jadi Aku ga merhatiin sikapnya...,” sahut Hanako tak enak hati.


“ Kalo gitu lebih baik Kamu pulang sekarang dan istirahat ya Ci...,” kata Erik.


“ Baik Opa makasih...,” sahut Hanako.


Kemudian Hanako pun kembali ke rumah diantar Iyaz sedangkan Izar kembali melanjutkan pekerjaannya.


\=====

__ADS_1


__ADS_2