Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
184. Mantan Preman


__ADS_3

Penyelidikan kasus pembakaran SPBU yang terjadi puluhan tahun silam itu berjalan alot. Apalagi kek Pujo selalu mengelak menjawab dengan alasan lupa. Namun polisi tak kehabisan akal. Mereka terus mencari keberadaan mantan preman pimpinan Jerangkong yang terlibat dalam kejadian itu.


Polisi mendatangi tempat-tempat dimana Jerangkong biasa berkumpul dulu dan menanyakan pada semua orang tentang keberadaannya. Warga pun memberi informasi dengan sukarela karena para polisi menggunakan seragam dinas saat itu sehingga warga tak punya alasan menyembunyikan info penting itu.


“ Kalo Jerangkong mah udah koit Pak...,” kata warga yang ditanyai polisi.


“ Kapan...?” tanya polisi.


“ Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu...,” sahut warga.


“ Kalo boleh tau penyebab meninggalnya apa ya Pak...?” tanya Polisi.


“ Berantem rebutan lapak parkir Pak. Jerangkong dikeroyok sampe mati sama warga yang muak sama ulahnya itu. Udah tua tapi ga mau insyaf juga. Apalagi katanya dia juga baru aja melecehkan janda yang jualan kopi di warung dekat terminal sana Pak, tambah emosi lah warga. Terus dia dipukulin sampe sekarat dan mati...,” sahut warga sambil meneguk kopinya.


“ Gitu ya. Kalo anak buah Jerangkong dimana Pak...?” tanya polisi.


“ Kabur Pak. Sejak Bosnya mati, ga ada Anak buah Jerangkong yang berani nongol lagi di sekitar sini. Soalnya mereka takut mati konyol kaya pimpinannya itu Pak...,” sahut warga.


“ Wah sulit juga ya kalo kaya gini...,” gumam polisi.


“ Kenapa baru dicariin sekarang sih Pak. Padahal kan Jerangkong sama Anak buahnya itu udah lama bikin ulah yang meresahkan warga. Sekarang giliran orangnya udah mati dan Anak buahnya kabur baru dicariin...,” kata istri pemilik warung kesal.


“ Kami bekerja kan berdasarkan laporan warga Bu. Kalo warga ga merasa terganggu dengan keberadaan mereka gimana Kami mau nangkap mereka. Apalagi tiap kali mau nangkap preman-preman kaya gitu warga seolah jadi pelindung terdepan dan bilang kalo mereka jaga keamanan lah, melindungi warga lah. Jadi sulit buat Polisi memenjarakan mereka. Apalagi rata-rata korbannya memilih bungkam dan ga lapor sama Polisi...,” sahut polisi sambil tersenyum.


“ Itu karena korbannya diancam supaya ga lapor sama Polisi Pak...,” sahut istri pemilik warung.


“ Itu dia Bu. Kan ada sistem pemerintahan terkecil yang namanya Ketua RW atau Ketua RT. Warga kan bisa lapor sama pemimpinnya masing-masing, lalu diteruskan ke pihak kepolisian. Tenang aja, identitas para pelapor pasti dilindungi sama Polisi jadi para preman ga akan tau siapa yang udah ngelaporin mereka. Kalo udah atas nama warga, mereka juga harus berpikir seribu kali buat balas dendam. Kalo warga bersatu yang ada mereka yang kalah bukan warga. Betul kan Bu...?” tanya polisi.

__ADS_1


“ Iya Pak. tapi gimana kalo Ketua RW atau Ketua RT nya malah bekerja sama melindungi para preman dari kejaran Polisi...?” tanya istri pemilik warung lagi.


“ Wah kalo itu warga yang harus bertindak. Kan Ketua RW dan Ketua RT dipilih langsung oleh warga. Jadi warga yang berhak mutusin untuk lanjut dipimpin sama pemimipin model kaya gini atau milih pemimpin baru. Kalo perlu laporin aja sama Lurahnya. Karena terus terang aja, kerja sama dengan preman itu lebih banyak ruginya daripada untungnya. Betul kan Bu...?” tanya polisi.


“ Betul Pak...,” sahut warga bersamaan.


“ Satu sisi lingkungan Kita aman ga diganggu perusuh dari luar. Tapi lebihnya Kita juga harus ngeluarin duit ekstra buat bayar mereka. Belum lagi kalo mereka mau ngadain hajatan. Bisa-bisa warga yang modalin sedang mereka tinggal ongkang-ongkang kaki nikmatin hasilnya...,” gerutu warga.


Para polisi itu tersenyum mendengar kasak kusuk warga. Mereka pun keluar dari warung kopi untuk mencari informasi ke tempat lain. Namun saat hendak meninggalkan tempat itu, mereka melihat seseorang yang mencurigakan tengah sembunyi di balik pohon. Kedua polisi itu pun bergerak cepat dan berhasil meringkus penguntit itu yang berteriak ketakutan.


Warga yang mendengar jeritan pria itu pun bergegas keluar dari warung untuk melihat apa yang terjadi.


“ Ampuuunn Pak, ampuunn. Saya bukan penjahat Pak, tobaat..., ampuunn...,” kata pria itu sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepala pertanda ia menyerahkan diri dengan sukarela.


“ Kalo Kamu bukan penjahat ngapain ngumpet di sana. Kamu nguping ya...?!” tanya polisi.


“ Ga Pak, Saya ga nguping. Saya cuma ga sengaja dengar aja tadi...,” sahut pria itu dengan suara bergetar.


“ Saya Bachir Pak...,” sahut pria itu.


“ Bachir. Bukannya Kamu dulu Anak buahnya Jerangkong ya...?” tanya polisi lagi.


“ Iya, itu dulu Pak. sekarang Saya udah tobat dan ga jadi preman lagi kok...,” sahut Bachir cepat.


“ Ok, sekarang bangun dan ikut Kami ke kantor...,” kata polisi itu.


“ Tapi Saya kan ga salah apa-apa Pak, kenapa Saya ditangkap...?” protes Bachir.

__ADS_1


“ Yang nangkap Kamu tuh siapa. Kami hanya mau minta keterangan sama Kamu. Atau jangan-jangan Kamu udah melakukan kejahatan baru yang bikin Kamu ketakutan kaya gini ya...?” tanya polisi sambil mengamati Bachir dari atas hingga ke bawah dengan teliti.


“ Ga Pak. Kan Saya udah bilang tadi kalo Saya udah tobat...,” sahut Bachir dengan wajah memelas.


“ Ya udah Kami percaya. Sekarang ikut Kami ke kantor ya...,’ kata polisi.


“ Iya Pak...,” sahut Bachir pasrah.


Kemudian Bachir pun dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Saat masuk ke dalam mobil polisi wajah Bachir terlihat sendu. Warga yang melihatnya pun menjadi iba namun tak bisa berbuat apa-apa. Salah seorang wanita yang melihat penangkapan Bachir pun mengatakan sesuatu yang membuat warga geram.


“ Kasian ya Bachir...,” kata sang wanita.


“ Ngapain dikasianin sih Bu. Bachir itu preman yang kejam. Masih muda dulu tuh ga kenal takut sama orang, siapa pun dilawan. Ringan tangan, galak dan suka nindas warga. Kalo ngeliat dia yang sekarang mah ga ada yang percaya kalo dulunya dia preman yang ditakuti di wilayah sini. Apalagi kalo udah jalan bareng si Jerangkong, wuihh udah serasa dunia milik mereka deh pokoknya...,” kata salah seorang warga dengan kesal.


“ Oh gitu ya, maaf Saya ga tau...,” sahut sang wanita tak enak hati.


“ Iya. Makanya warga ga ada yang belain dia tadi. Sekarang Bachir emang udah tua, tapi warga masih inget kok sama sepak terjangnya dulu...,” kata warga lagi.


“ Betul. Mungkin kalo Jerangkong masih hidup si Bachir juga belum tentu tobat kaya sekarang...,” sahut salah seorang warga.


“ Iya...,” sahut beberapa warga bersamaan.


“ Mudah-mudahan tobatnya si Bachir bukan cuma di mulut aja...,” kata seorang warga penuh harap.


“ Aamiin...,” sahut warga saling bersahutan dengan respon yang berbeda-beda.


Tak lama kemudian warga pun membubarkan diri satu per satu dan kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan warung kopi kembali ramai setelah penangkapan Bachir tadi. Rata-rata warga yang datang ingin tahu kesalahan apa yang diperbuat oleh Bachir hingga ia ditangkap polisi.

__ADS_1


Pemilik warung kopi pun senang karena warung kopinya lebih ramai dari biasanya meski pun harus menjual cerita tentang masa muda Bachir sebagai anggota genk preman yang cukup terkenal pada masanya.


\=====


__ADS_2