Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
227. Datang


__ADS_3

Saat Paulus menceritakan apa yang terjadi pada Mirva secara jujur, Pandu nampak terkejut. Ia tak menyangka jika Mirva melakukan kejahatan itu selama bertahun-tahun hingga menelan korban jiwa.


“ Jadi maksud Pak Paulus ceritain ini semua sama Saya apa ya...?” tanya Pandu tak mengerti.


“ Kata orang pintar yang membantu Kami tadi, Saya harus minta tolong sama Pak Pandu...,” sahut Paulus tak enak hati.


“ Tapi Saya ga ngerti soal ini Pak, gimana caranya Saya membantu...?” tanya Pandu.


“ Bukan Pak Pandu yang membantu Mirva, tapi orang dekat Pak Pandu yang bisa membantu Mirva...,” sahut Paulus.


“ Orang dekat Saya gimana maksudnya ya Pak...?” tanya Pandu lagi.


“ Kata Kakek, Pak Pandu dikelilingi aura positif dari orang-orang yang mengerti hal ghaib. Saya mau minta tolong Pak Pandu sampaikan sama mereka kalo Saya dan Anak Saya sangat memerlukan bantuan mereka...,” sahut Paulus sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Mendengar ucapan Paulus membuat Pandu terkejut. Pandu tahu betul siapa yang dimaksud sang dukun. Tanpa banyak tanya Pandu pun mengangguk lalu mencoba menghubungi Heru di Jakarta.


Karena signal yang kurang bagus membuat Pandu bergeser agak jauh ke tanah lapang agar bisa bicara lancar dengan mertuanya itu. Saat tersambung Pandu langsung menceritakan garis besar dari masalah yang dihadapi Paulus. Heru nampak menyimak ucapan sang menantu dengan serius sambil menatap Faiq yang sedang duduk di hadapannya.


“ Kenapa bisa nyambung kaya gini sih. Ini Bang Faiq juga baru aja ngomong kalo bakal terjadi sesuatu sama perempuan yang ngerjain Pandu itu...,” batin Heru.


“ Kata Pak Paulus, dukun itu yang nyuruh dia minta bantuan sama Aku Yah. Sekarang Mirva sedang terancam jiwanya. Apa kira-kira Kita bisa bantu mereka Yah...?” tanya Pandu hati-hati.


“ Bicara langsung aja sama Papamu, beliau ada di sini kok...,” kata Heru sambil menyerahkan ponsel miliknya kepada Faiq.


Pandu kembali menceritakan garis besar masalah yang tengah dihadapi Paulus dan anaknya. Jawaban Faiq mengejutkan sekaligus menyenangkan untuk Pandu.


“ Papa bersedia bantu mereka Nak...,” kata Faiq.


“ Alhamdulillah, serius Pa...?” tanya Pandu tak percaya.


“ Iya. Insya Allah Kami ke sana besok...,” sahut Faiq tegas.


“ Baik, makasih Pa...,” kata Pandu di akhir kalimatnya.


“ Sama-sama...,” sahut Faiq lalu mengembalikan ponsel milik Heru.


“ Sama siapa Abang ke sana...?” tanya Heru.


“ Sama si kembar, Om Fatur dan Lo...,” sahut Faiq sambil berlalu.


“ Ck, kebiasaan main perintah aja. Untung besok libur...,” gerutu Heru sambil menatap lekat punggung sang kakak ipar yang makin jauh.

__ADS_1


“ Gue denger Her...!” kata Faiq lantang.


“ Bodo amat...,” sahut Heru cuek hingga membuat Faiq tertawa.


\=====


Pagi harinya Heru nampak keluar dari kamar sambil membawa tas ransel berisi pakaian dan beberapa keperluan pribadinya.


“ Cuma ini aja Yah...?” tanya Efliya.


“ Iya Bun. Insya Allah ga lama kok di sana...,” sahut Heru sambil melangkah menuju ruang makan.


“ Ayah mau kemana, dinas lagi...?” tanya Haikal dengan nada kecewa.


“ Iya Nak. Haikal baik-baik di rumah ya. Jangan nakal, jangan lupa jagain Bunda dan Kakak...,” sahut Heru sambil mengusap kepala Haikal dengan sayang.


“ Lama ga Yah...?” tanya Haikal.


“ Insya Allah dua atau tiga hari aja kok...,” sahut Heru.


Tiba-tiba Hanako ikut bergabung untuk sarapan. Dia nampak terkejut melihat tas ransel sang ayah.


“ Ayah mau ke Maluku Kak. Apa Kamu mau titip sesuatu untuk Suamimu itu...?” tanya Heru.


Mendengar Heru menyebut kata ‘suami’ membuat Hanako tersipu malu. Ia menggeleng karena memang tak tahu harus menitip apa untuk Pandu yang kini berstatus suaminya.


Hanako mengetahui perubahan statusnya dua hari yang lalu. Heru mengatakan hal itu saat Hanako dan sang bunda tengah duduk di ruang tengah. Heru menceritakan alasannya mengambil keputusan itu hingga membuat Hanako shock. Ia tak menyangka jika kini ia dan Pandu adalah pasangan suami istri. Pandu memang tak mengatakan apa pun karena ia juga sulit menghubungi Hanako.


“ Maaf kalo Ayah bikin Kamu kecewa ya Nak. Ayah ga ingin pernikahanmu dan Pandu gagal hanya karena orang ketiga...,” kata Heru kala itu.


“ Gapapa Ayah, Aku berterima kasih karena Ayah udah menyelamatkan pernikahanku...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Ternyata apa yang Opa dan Papamu bilang tentang Kamu benar ya Nak. Kamu bisa mengerti keputusan Ayah dan menerimanya dengan legowo. Makasih ya Nak...,” kata Heru sambil memeluk Hanako erat.


“ Sama-sama Ayah...,” sahut Hanako sambil membalas pelukan sang ayah.


“ Apa Pandu belum bilang sama Kamu kalo Kalian udah nikah siri...?” tanya Heru tak mengerti.


“ Belum Yah. Mungkin karena signal ga bagus jadi Mas Pandu ga hubungin Aku dua hari ini...,” sahut Hanako.


“ Mungkin dia tau kalo Ayah yang bakal bilang sama Kamu tentang ini. Ayah juga sengaja ga ngajak Kamu dalam misi kali ini karena terlalu berbahaya untukmu, Kamu ngerti kan...,” kata Heru yang  diangguki Hanako.

__ADS_1


Efliya yang menjadi saksi perbincangan suami dan anaknya itu pun nampak terharu. Ia senang karena Hanako menerima semuanya dengan lapang dada. Efliya pun ikut memeluk Hanako samil tersenyum.


Dan kini senyum Efliya kembali terbit saat melihat wajah Hanako yang bersemu merah ketika Heru menawarkan bantuan untuk menyampaikan sesuatu kepada Pandu.


“ Yakin nih ga titip apa-apa...?” tanya Heru sekali lagi.


“ Yakin Yah...,” sahut Hanako dengan wajah merona.


“ Udah jangan dipaksa sih Yah...,” kata Efliya menengahi karena gemas melihat sikap Heru dan Hanako.


Heru dan Hanako pun tertawa melihat sikap Efliya. Sesaat kemudian Heru bergegas berangkat menuju bandara setelah Faiq menelephonnya.


\=====


Faiq dan rombongan tiba di barak militer saat jam dua siang. Di sana mereka disambut Wira dan Rian yang telah mengenal Heru.


“ Mana Pandu...?” tanya Heru.


“ Lagi patroli Pak, sebentar lagi pulang kok...,” sahut Wira.


Kemudian Heru memperkenalkan empat pria yang bersamanya yaitu Faiq, Fatur, Iyaz dan Izar. Wira dan Rian pun menyalami keempatnya dengan ramah. Kemudian Wira mengantar mereka keluar dari barak militer atas permintaan Iyaz dan Izar. Mereka keluar untuk mengamati situasi. Dan saat itu lah mereka berpapasan dengan Pandu dan tiga rekannya yang baru saja kembali.


“ Selesaikan dulu tugasmu biar Kami tunggu di warung itu...,” kata Heru.


“ Siap Yah...,” sahut Pandu sambil melangkah cepat menuju barak militer.


Setengah jam kemudian Pandu menemui Faiq dan rombongan yang masih menunggunya di warung kopi.


“ Sebaiknya Kita langsung ke rumah gadis itu. Kalo kelamaan ada dalam dekapan iblis itu akan bikin Kita sulit membantunya nanti...,” kata Faiq mengingatkan.


“ Betul Nak...,” sahut Fatur cepat.


“ Ok, Kita ke sana sekarang...,” kata Pandu sambil melangkah lebih dulu.


Faiq dan keluarganya mengikuti langkah Pandu setelah berpamitan pada Wira dan Rian yang masih harus menjalankan tugasnya.


Ternyata letak rumah Paulus tak terlalu jauh dari barak militer. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mereka tiba di sana. Saat tiba di depan rumah Paulus terlihat warga yang masih berkumpul. Melihat kehadiran Pandu warga pun mengangguk hormat dan langsung menepi untuk memberi jalan kepada Pandu dan rombongan.


Paulus pun terlihat bahagia saat melihat Pandu datang bersama orang-orang yang akan membantu anaknya nanti.


\=====

__ADS_1


__ADS_2