Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
355. Makhluk Apa Itu ?


__ADS_3

Acara peresmian cabang perusahaan pun berjalan lancar. Dimulai dengan upacara bendera, pembacaan doa dan penyerahan pengurusan kantor cabang secara simbolis kepada Iyaz.


Iyaz dan Nuara terkejut saat mendengar Erik mengumumkan siapa pemimpin kantor cabang perusahaan itu. Keduanya saling menatap bingung. Para karyawan yang mendengar ucapan Erik pun bertepuk tangan termasuk Farah, Faiq, Shera, Efliya dan Heru yang nampak tersenyum kearah mereka.


Melihat Iyaz yang kebingungan membuat Izar gemas lalu menghampiri kembarannya itu.


“ Buruan ke depan sana Yaz. Kasian Opa kelamaan berdiri di sana…,” kata Izar.


“ Tapi kenapa Aku Zar, kan ada Kamu dan Cici…?” tanya Iyaz.


“ Mana Kutau, ntar tanya aja sama Opa langsung. Sekarang buruan ke sana, ga enak kan diliatin sama karyawan di lapangan…,” sahut Izar cepat.


“ Iya Yaz. Ntar bisa dibahas di rumah kan…,” kata Hanako memberi semangat.


Iyaz mengangguk lalu maju ke depan menemui sang Opa. Tepuk tangan kembali terdengar saat Erik menyerahkan sebuah anak kunci pertanda ia menyerahkan perusahaan cabang itu kepada Iyaz. Nuara dan Shera nampak menitikkan air mata melihat Iyaz menerima hadiah itu. Sedangkan Iyaz langsung  memeluk erat sang Opa setelah mencium punggung tangannya dengan khidmat.


“ Amanah ini sangat berat untuk Saya. Insya Allah Saya akan menjalankan perusahaan cabang ini seperti Opa menjalankan perusahaannya selama ini. Tapi Saya ga bisa sendiri. Saya juga butuh support dan bantuan Anda semua. Karena itu mari Kita bersama memajukan perusahaan ini bersama-sama…!” kata Iyaz lantang di akhir pidatonya.


“ Siap Pak…!” sahut para karyawan bersamaan hingga membuat Iyaz tersenyum bangga.


Setelahnya ucapan selamat pun berdatangan. Semua orang bergantian menyalami Iyaz hingga membuat suasana sedikit ricuh. Namun sesaat kemudian suasana kembali kondusif saat Izar turun tangan membantu.


Melihat kepiawaian Izar mengendalikan massa membuat Faiq dan Shera tersenyum. Mereka sengaja bertahan di kursi masing-masing dan memberi kesempatan pada yang lain untuk menyalami Iyaz.


“ Liat Izar Yah. Mirip banget sama Kamu kalo lagi ngadepin orang banyak…,” kata Shera sambil tersenyum.


“ Iya Bun…,” sahut Faiq bangga.


“ Punya anak kembar tapi ga berasa ya Yah. Abisnya karakter mereka beda banget. Biasanya kembar itu kan punya kemiripan hampir 85%. Ini mah beda banget…,” kata Shera stambil tertawa.


Faiq pun ikut tertawa mengingat tingkah anak kembarnya itu. Tak lama kemudian Iyaz pun datang menghampiri mereka dan memeluk keduanya bergantian.


“ Selamat ya Nak. Sekarang tanggung jawabmu bertambah. Ingat jangan lengah dan tetap waspada. Jangan lepaskan hatimu dari Allah agar Kamu selamat…,” kata Faiq sambil menepuk punggung Iyaz lembut.


“ Iya Yah. Tolong ingetin Aku kalo Aku salah ya Yah…,” sahut Iyaz sambil mengurai pelukannya.


“ Insya Allah…,” sahut Faiq sambil tersenyum.

__ADS_1


Izar nampak tersenyum melihat interaksi kembarannya dengan keluarga besar mereka. Izar bangga karena sang opa mempercayakan perusahaan cabang itu kepada Iyaz karena ia merasa Iyaz layak mendapatkannya.


Saat tengah mengamati interaksi keluarganya itu tak sengaja Izar melihat sosok makhluk halus berlari-lari di sekitar mereka. Makhluk halus berwujud lumayan menyeramkan itu nampak melesat cepat diantara orang-orang yang berada di lapangan itu. Saat ia berlari ada suara menyertainya seperti suara kepakan sayap burung.


Semula Izar mengabaikannya karena merasa ini bukan waktu yang tepat untuk berinteraksi dengan makhluk itu. Ia melirik kearah Hanako yang juga tengah menatap nanar kearah makhluk itu sambil memeluk Paundra erat. Izar mendekati Hanako untuk menenangkannya.


“ Kamu liat juga Ci…?” tanya Izar.


“ Iya. Kayanya auranya ga enak Zar, makanya Aku ga mau ngelepasin Anakku daritadi…,” sahut Hanako cemas.


“ Biar Aku yang ngurus Ci. Kamu di sini aja ya. Mas Pandu tolong jagain Cici sama Paundra ya…,” kata Izar.


“ Ga usah diminta Aku pasti jagain mereka Zar…,” sahut Pandu sambil memeluk Hanako yang tengah menggendong anak mereka.


“ OK, makasih Mas…,” sahut Izar.


Tiba-tiba makhluk itu melintas persis di depan Izar dan Hanako seolah sengaja meledek mereka. Hanako mengeratkan pelukannya sambil menghadap kearah Pandu yang juga tengah memeluknya untuk melindungi anak mereka. Sedangkan Izar bergerak cepat mengejar makhluk itu.


Plak..., plak…, plak….


“ Ke sebelah sana Zar, hati-hati ya…!” kata Hanako.


Izar pun mulai mengejar makhluk itu hingga beberapa kali tak sengaja menabrak orang di hadapannya. Tatapan Izar membulat saat makhluk itu berhenti berlari tepat di dekat dua orang wanita yang tengah duduk di bawah tiang


penyangga papan reklame. Dan ternyata dua wanita itu adalah Qiana dan Ratih yang tengah menikmati sepiring rujak sambil bersenda gurau.


Makhluk itu berhenti lalu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Izar. Kini terlihat jelas sosok makhluk yang berlarian sejak tadi. Makhluk bertubuh hitam legam dengan sekujur tubuh dipenuhi bulu berwarna hitam. Rambutnya panjang terurai hingga sepinggang dengan dua telinga nampak meyembul kaku di sela rambutnya. Wajahnya menyerupai babi dengan empat taring mencuat berhadapan di sela bibirnya. Kedua matanya nampak merah menyala. Kedua tangannya panjang hingga menyentuh tanah dengan kuku panjang menghitam menghiasi jarinya.


Izar melihat telapak kaki makhluk di hadapannya yang besar menyerupai tampah. Dan kini Izar mengerti darimana suara berdepak itu berasal.


Makhluk hitam itu nampak menyeringai lalu mundur beberapa langkah seolah menantang Izar untuk menangkapnya. Arah langkah makhluk itu mendekati Qiana dan Ratih yang tak menyadari ada bahaya yang tengah mengintai mereka. Izar menggelengkan kepalanya pertanda ia tak suka makhluk itu mempermainkannya. Anehnya makhluk itu ikut menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh makna.


“ Jangan main-main denganku…,” kata Izar dengan suara dalam sambil menatap tajam makhluk hitam di hadapannya itu.


Makhluk itu tertawa keras lalu melesat cepat ke atas. Izar mengikuti gerakan makhluk itu dengan matanya dan bersiap menyerang. Izar melihat makhluk itu hinggap di papan reklame tepat di  atas Qiana dan Ratih.


Sambil menyeringai makhluk itu menyentak papan reklame itu hingga terlepas dari tiang penyangganya lalu melepaskannya begitu saja hingga papan reklame itu meluncur cepat ke bawah menuju Qiana dan Ratih. Orang-orang pun menjerit saat melihat papan reklame itu melayang jatuh ke bawah tanpa sebab.

__ADS_1


“ Awaass Mbak, papan reklamenya jatuhh…!” teriak orang-orang bersamaan hingga mengejutkan Qiana dan Ratih.


Qiana dan Ratih pun mendongak ke atas dan terkejut melihat papan reklame yang berukuran 3 X 2 meter itu melayang cepat kearah mereka. Keduanya pun bergegas lari namun terlambat. Papan reklame itu jatuh mengenai keduanya. Qiana dan Ratih refleks melindungi kepala mereka masing-masing agar tak terkena benturan.


Suara jeritan tertahan pun terdengar saat papan itu tertahan oleh sepasang tangan hingga tak seluruhnya jatuh mengenai Qiana dan Ratih.


Saat merasa papan itu tak mengenai kepalanya Qiana pun mendongakkan kepalanya dan melihat Izar lah yang telah menahan papan itu agar tak melukai tubuhnya dan Ratih. Izar dan Qiana saling menatap sejenak dengan jantung yang berdetak cepat.


“ Kamu gapapa Qi…?” tanya Izar sambil menatap Qiana lekat.


“ A…, Aku gapapa…,” sahut Qiana dengan suara bergetar karena shock.


Mendengar suara Izar membuat Ratih mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum saat mengetahui Izar lah yang telah menahan papan reklame itu. Namun senyum Ratih memudar saat ia melihat  tatapan cemas Izar tak tertuju padanya melainkan pada Qiana.


Tak lama kemudian beberapa karyawan pria mendekati Izar dan membantunya menyingkirkan papan reklame itu. Sedang sebagian yang lain membantu Qiana dan Ratih berdiri. Izar nampak mengibaskan pakaiannya.


“ Mas Izar gapapa kan…?” tanya seorang karyawan dengan cemas.


“ Alhamdulillah gapapa…,” sahut Izar sambil tersenyum.


“ Tapi papannya lumayan berat lho Mas…,” kata karyawan lain.


“ Untungnya ukurannya ga terlalu besar. Kalo ukurannya kaya yang di pinggir jalan tol itu mungkin Saya bakal ikut ketiban papan tadi…,” sahut Izar santai.


Mendengar ucapan Izar membuat ******* lega terdengar. Qiana dan Ratih pun nampaknya bersyukur dalam hati melihat kondisi Izar yang terlihat baik-baik saja.


“ Kalian gapapa Mbak…?” tanya para karyawan sambil mengamati Qiana dan Ratih bergantian.


“ Alhamdulillah Kami gapapa, iya kan Tih…?” tanya Qiana sambil menoleh kearah Ratih.


“ Iya gapapa. Cuma lecet aja sedikit…,” sahut Ratih sambil tersenyum kecut.


“ Tolong antar mereka ke klinik ya…,” pinta Izar pada salah satu karyawati yang berdiri di samping Ratih.


“ Baik Pak…,” sahut karyawati itu.


Lalu Qiana dan Ratih pun pergi menuju klinik yang terletak di samping lapangan diantar dua orang karyawati perusahaan Erik. Izar pun ikut bernafas lega namun hanya sesaat karena ia melihat keluarganya nampak berjalan cepat kearahnya. Izar tahu apa yang akan terjadi dan harus bersiap menjawab hujan pertanyaan dari keluarganya itu nanti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2