Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
42. Asal Muasal Cermin


__ADS_3

Hari ini Fatur dan Faiq melakukan ruqyah pada cermin milik Warti. Tapi kali ini mereka sengaja tak melibatkan Hanako, Iyaz dan Izar melainkan Fajar dan Darius.


Saat mengetahui jika cermin itu lah yang telah merenggut nyawa mama kandungnya dulu, Fajar sangat terpukul. Namun Darius minta agar Fajar merahasiakan hal ini dari Farah karena ia tak ingin Farah terluka.


“ Baik Pa. Tapi Aku mau ngawal semua proses pengusiran iblis itu dari awal sampe akhir...,” pinta Fajar sambil mengusap matanya yang basah.


Darius menatap Fatur dan Faiq bergantian seolah minta pendapat mereka. Di luar dugaan Fatur dan Faiq mengangguk mengiyakan permintaan Fajar hingga membuat Fajar dan Darius tersenyum lega. Sekarang Fajar dan Darius tengah ada di sebuah ruangan bersama Faiq dan Fatur. Mereka sedang berdzikir dan membaca Al Qur’an.


Hampir satu jam sudah mereka berdzikir dan membaca Al Qur’an namun belum ada tanda-tanda makhluk penghuni cermin itu menampakkan diri. Faiq mengerutkan keningnya lalu menempelkan telapak tangannya di permukaan cermin.


“ Hentikan. Kita salah waktu...,” kata Faiq tiba-tiba.


“ Apa maksudmu Nak...?” tanya Fajar tak mengerti.


“ Waktu makhluk itu keluar bukan sekarang Om, tapi nanti. Ternyata makhluk itu punya waktu tertentu untuk menjalankan aksinya...,” sahut Faiq.


“ Jadi sia-sia dong Kita dzikir daritadi...,” sahut Fajar gusar.


“ Ga sia-sia Bang. Kita tetap dapat pahala dari Allah juga kan...,” kata Fatur sambil tersenyum.


“ Kalo itu Gue tau Tur. Masalahnya...,” ucapan Fajar terputus karena dipotong dengan cepat oleh Faiq.


“ Maaf Om, tapi tolong kendalikan amarah Om karena itu ga baik buat Om nanti. Makhluk itu bisa membalikkan energi negatif yang Om miliki untuk menyerang Om. Yang ada malah senjata makan tuan karena dia bisa lebih kuat dan mempersulit Kita nanti. Aku ngerti gimana perasaan Om, tapi Kita berjuang sekarang untuk menyelamatkan umat manusia Om. Dan Aku yakin Oma juga pasti ga suka ngeliat Om kaya gini...,” kata Faiq sambil menatap sendu kearah Fajar.


Fajar tersentak mendengar ucapan Faiq. Ia memejamkan matanya untuk menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Nampak kesedihan di wajahnya hingga membuat Darius iba lalu menepuk punggungnya dengan halus untuk menenangkan Fajar.


“ Maafin Om ya Nak. Om emang kebawa emosi tadi. Om teringat bagaimana dulu harus nahan sedih tiap kali ngeliat teman-teman sebaya Om dipeluk dan digendong sama Ibunya. Bahkan Om harus pura-pura kuat di depan Mama Kamu saat dia menangis karena sedih ga punya Mama. Apalagi tiap kali nanya sama Papa kenapa Mama meninggal, Papa selalu sedih. Lalu Om dan Mama Kamu sepakat ga bakal nanya lagi penyebab Mama Kami meninggal karena ga mau ngeliat Papa Kami sedih. Beruntung Mama Gendis datang dan menepis kesedihan Kami. Makanya Kami sangat menyayangi Mama Gendis sama seperti menyayangi Mama Kami sendiri...,” kata Fajar sambil menatap Fatur dengan mata berkaca-kaca.


Fatur maju dan memeluk Fajar untuk memberi kekuatan. Fajar membalas pelukan Fatur. Sesaat kemudian keduanya saling mengurai pelukan sambil tersenyum hingga membuat Darius dan Faiq ikut tersenyum.


“ Jadi sekarang Kita harus ngapain Nak...?” tanya Fajar.


“ Kita jeda dulu Om, nanti bada Ashar Kita mulai lagi...,” sahut Faiq.


“ Ok, kalo gitu Om ajak Opa buat istirahat dulu sebentar ya...,” kata Fajar yang diangguki Faiq.


Setelah Fajar dan Darius keluar dari ruangan itu Fatur menatap Faiq dengan tajam seolah meminta penjelasan. Faiq menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum karena tahu jika ia tak mungkin berbohong di hadapan Fatur.


“ Iya, iya. Aku bakal jelasin semuanya Om. Aku sengaja bikin Om Fajar dan Opa keluar dari sini karena ga mau mereka terlalu sedih...,” kata Faiq.

__ADS_1


“ Hmmm...,” sahut Fatur hingga membuat Faiq salah tingkah karena bukan jawaban seperti itu yang ingin ia dengar.


“ Emosi Om Fajar adalah makanan untuk makhluk itu yang memang menghisap energi hidup manusia melalui rasa takut dan rasa marah yang mereka miliki. Dan lama kelamaan daya hidup manusia akan habis sedangkan iblis itu makin kuat. Oma sakit karena setiap hari terus menerus diterror dengan suara dan bayangan aneh yang terpantul di cermin itu. Bisa dipastiin kalo Oma sangat tertekan dan ketakutan saat itu. Makanya saat meninggal Oma dinyatakan kekurangan darah...,” kata Faiq.


“ Jadi, Kita jangan memperlihatkan kesedihan atau kemarahan yang berlebih. Gitu maksud Kamu...?” tanya Fatur.


“ Betul Om...,” sahut Faiq mantap dan diangguki Faiq.


\=====


Setelah menyelesaikan sholat Ashar berjamaah, Faiq pun mengajak Darius, Fajar dan Fatur kembalu berkumpul di ruangan itu. Kemudian Faiq mulai menjelaskan asal muasal cermin itu sesuai penelusurannya tadi.


“ Cermin itu dibuat atas permintaan seorang wanita bernama Ratu. Wanita sombong yang selalu bersikap bak ratu sungguhan dan gemar meremehkan orang lain. Ratu memang berwajah cantik dan memiliki bentuk tubuh sempurna. Tapi sayangnya dia punya sifat yang buruk yang membuat suaminya berpaling pada wanita lain. Dan saat dia mulai mencium gelagat suaminya yang mendua, dia minta dibuatkan cermin berukuran besar. Tiap hari Ratu selalu berdiri di depan cermin untuk mencari kekurangan pada dirinya. Ratu ingin memperbaiki penampilannya


agar suaminya mau kembali setia padanya. Namun sayangnya sang suami tak merespon baik usaha istrinya itu karena masalah utamanya bukan pada fisik sang istri melainkan pada sifat dan ucapannya. Ratu makin depresi dan mendatangi seorang dukun untuk membantunya. Dukun itu memantrai cermin milik Ratu sebagai jimat untuk menarik suaminya kembali. Yang terjadi justru sebaliknya. Ratu hanya melihat jika dirinya tetap muda dan cantik meski pun usianya terus bertambah. Di cermin itu Ratu juga melihat jika tubuhnya terlihat selalu langsing


padahal sudah berubah gemuk dan tak menarik. Hingga akhir hayatnya Ratu tak bisa meraih hati suaminya lagi. Lalu arwahnya yang penasaran itu pun masuk ke dalam cermin dan menjadi penghuni di sana...,” kata Faiq.


“ Makhluk itu membohongi siapa pun yang bercermin dengan memperlihatkan tampilan terbaiknya. Sedangkan arwah wanita itu mengganggu wanita lain yang hidup harmonis bersama suami dan keluarganya. Itu lah yang


terjadi sama Mama dan temannya sebelum meninggal. Mereka diterror oleh hantu Ratu yang tak suka melihat kebahagiaan pasangan suami istri lain di depan matanya...,” kata Fatur menambahkan.


wanita lain. Makanya wanita yang pemilik cermin ini lah yang dibuat sekarat dan mati...,” kata Faiq sambil mengusap wajahnya.


Darius dan Fajar saling menatap kemudian menghela nafas panjang. Meski pun tak masuk akal namun Darius percaya jika itu lah yang terjadi pada istri pertamanya dulu. Namun di luar itu semua Darius merasa jika itu lah takdir yang ditetapkan oleh Allah untuknya dan keluarga kecilnya.


“ Pasti hantu itu iri ngeliat kemesraan Papa sama Mama dulu...,” kata Fajar sambil menatap Darius.


“ Pasti Nak. Kami pasangan yang menikah karena cinta jadi wajar kalo Kami selalu mesra kan...,” sahut Darius sambil tersenyum dan diangguki Fajar, Fatur dan Faiq.


“ Jadi Kita mulai ruqyah sekarang ya. Oh iya, kalo tadi Om Fajar bilang dzikir Kita sia-sia, itu ga bener Om. Soalnya makhluk penghuni cermin itu mulai melemah. Sekarang Kita tinggal lanjutin aja biar iblis itu bisa segera Kita singkirkan...,” kata Faiq.


“ Oh gitu, ayo lah Kita mulai sekarang aja...,” sahut Fajar antusias hingga membuat semua tertawa.


Mereka berempat pun kembali berdzikir dan membaca Al Qur’an. Tak lama kemudian terlihat asap hitam yang menyelubungi cermin. Lama kelamaan asap hitam itu membentuk sosok padat dan berdiri tegak di depan cermin. Sosok itu memiliki tubuh sangat kurus dan tak berdaging, berwarna hitam pekat mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, sekujur permukaan kulitnya ditutupi bulu hitam tegak seperti landak dan sorot matanya merah menyala.


Sosok hitam itu nampak menatap ke sekelilingnya dengan nanar seolah mencari sasaran baru untuk memuaskan dahaganya. Dan ia melihat Darius, sosok yang terlemah diantara tiga orang lainnya.


Sosok hitam yang hanya bisa dilihat oleh Faiq dan Fatur itu langsung melesat kearah Darius sambil mengembangkan telapak tangannya. Dengan tubuhnya yang kurus membuat gerakan iblis itu terlihat gesit. Faiq dan Fatur pun menghadang langkah iblis itu lalu berbalik menyerangnya dengan cepat. Sedangkan Fajar membawa Darius menepi ke sudut ruangan agar tak terkena imbas ‘perkelahian’ Faiq, Fatur dan iblis itu. Samar-samar Darius dan Fajar bisa melihat sosok iblis penghuni cermin itu yang berkelebat cepat menghindari serangan Faiq dan Fatur.

__ADS_1


Setelah pertarungan sengit berlangsung beberapa menit, rupanya iblis itu mulai terdesak. Tubuh hitamnya terlihat mengepulkan asap putih. Rupanya dzikir yang dibaca oleh empat orang itu secara bersamaan membuat tubuh iblis itu terbakar perlahan dan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.


Sesaat kemudian tubuh iblis itu membentur dinding akibat tendangan yang dilancarkan Faiq. Ia memuntahkan darah berwarna hitam dari mulutnya. Selain itu seluruh pori-pori di permukaan kulitnya juga mengeluarkan cairan berwarna kehitaman. Melihat hal itu membuat Faiq dan Fatur makin semangat menyerang iblis itu. Sedangkan Fajar dan Darius bisa melihat cairan hitam membasahi lantai diikuti jejak kaki seperi kaki katak yang berselaput


nampak menjauhi Faiq dan Fatur.


“ Cairan apa itu...?” tanya Darius sambil berbisik.


“ Keliatannya iblis itu terluka parah Pa...,” sahut Fajar.


“ Oh syukur lah, semoga Fatur dan Faiq bisa mengalahkan iblis itu...,” kata Darius antusisas.


“ Aamiin...,” sahut Fajar lirih lalu kembali berdzikir.


Tak lama kemudian terdengar benda berdebum jatuh dan Fajar yakin jika itu adalah suara tubuh iblis yang tumbang karena tak sanggup menghadapi Fatur dan Faiq.


Fatur merangsek maju dan berhasil meringkus iblis itu dari belakang. Ia menempelkan telapak tangannya di leher iblis yang sedang berusaha bangkit itu. Iblis itu berhenti berontak sambil menatap marah kearah Faiq yang mendekat kearahnya. Faiq meraih tangan iblis itu lalu dengan ujung jarinya ia menulis sesuatu di telapak tangan iblis itu hingga menimbulkan goresan yang menyakitkan dan membuat iblis itu menjerit kesakitan. Rasa sakit yang dirasakan oleh iblis itu pun bertambah saat telapak tangan Fatur yang menempel di leher iblis itu membuat gerakan seolah sedang  menyembelih lehernya. Darah berwarna hitam dan berbau busuk pun muncrat membasahi seluruh tubuh iblis itu diiringi jerit kesakitan sang iblis.


Suara lolongan iblis itu tak terdengar oleh orang lain tapi diwujudkan dengan angin kencang yang bertiup dan menghempaskan daun jendela. Pusaran angin itu berhenti setelah iblis itu mati dan tubuhnya terbakar lalu menjadi abu. Perlahan abu dari jasad iblis yang terbakar itu pun  lenyap tertiup angin senja.


Meski pun iblis itu telah lenyap, namun tugas Faiq dan Fatur belum selesai. Arwah Ratu masih terperangkap di dalam cermin dan tak mau keluar seolah menunggu sesuatu. Hantu Ratu menolak saat Faiq mengulurkan bantuan.


“ Aku menunggu seseorang untuk menjemputku...,” kata hantu Ratu.


“ Siapa...?” tanya Faiq.


“ Seseorang yang berhak menerima warisanku...,” sahut hantu Ratu sebelum menghilang.


Faiq tertegun sejenak karena yakin akan sulit mencari orang yang berhak menerima warisan Ratu. Sebab setau Faiq, Ratu meninggal tanpa sempat memiliki keturunan.


“ Biarkan dia Nak, dia tak terlalu berbahaya lagi sekarang...,” kata Fatur menengahi.


“ Tapi Om...,” ucapan Faiq terputus.


“ Ada orang yang lebih butuh bantuan Kita sekarang yaitu Bu Warti dan Anaknya. Kita harus menetralkan pengaruh iblis dalam diri mereka Iq. Setelahnya pelan-pelan Kita cari cara untuk mengantar arwah wanita itu supaya bisa pergi ke tempat yang seharusnya...,” kata Fatur mengingatkan.


“ Iya, Om betul. Ok kalo gitu Aku bakal undang Bu Warti dan Anaknya untuk diruqyah ya Om...,” sahut Faiq yang diangguki Fatur.


Di sudut ruangan terlihat Darius dan Fajar nampak tersenyum sambil meneteskan air mata bahagia karena telah menyaksikan kematian iblis yang menyebabkan kematian wanita yang mereka cintai.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2