Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
266. Masalah Klasik


__ADS_3

Melihat Hara yang bisa menerima kehadiran Hanako dan bicara dengannya membuat Graha dan Gayatri memutuskan memberi waktu pada keduanya untuk bicara dari hati ke hati. Iyaz dan Izar pun ikut keluar bersama Graha dan Gayatri karena ingin memberi kesempatan pada Hanako menggali informasi langsung dari mulut Hara.


“ Menjauhlah sedikit, Aku sangat bau...,” kata Hara mengingatkan Hanako.


“ Aku tak terganggu sama sekali...,” sahut Hanako cepat.


“ Tapi Aku yang terganggu karena Kau adalah orang asing bagiku. Berada berdua saja dengan orang asing dalam kamar ini membuatku tak nyaman...,” kata Hara lirih.


“ Baik lah, bagaimana kalo Aku duduk di sebelah sini...?” tanya Hanako sambil duduk di dekat jendela kamar.


“ Itu lebih baik...,” sahut Hara sambil tersenyum.


Hara pun kembali mengamati cara berpakaian Hanako. Hara menyukai penampilan Hanako dan ingin mengikuti cara berpakaian Hanako.


“ Apa nama kain yang menutupi kepalamu itu Kak...?” tanya Hara tiba-tiba.


“ Oh, ini namanya hijab. Gunanya untuk menutupi rambut di kepalaku karena ini adalah aurat. Sesuai tuntunan agamaku, Kami para wanita wajib menutup aurat yaitu mulai dari kepala sampai ujung kaki. Hanya telapak tangan dan punggung tangan aja yang boleh terlihat. Pakaian yang Kami pakai tak hanya harus menutup aurat tapi juga ga boleh memperlihatkan bentuk tubuh...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Terdengar indah tapi rasanya sulit untuk dilakukan...,” kata Hara hingga membuat Hanako tersenyum.


“ Jadi, apa Kamu mau cerita gimana awalnya Kamu bisa sakit seperti ini...?” tanya Hanako hati-hati.


“ Aku tak ingat pasti. Tapi yang Aku ingat, Aku sakit setelah pulang bermain dengan temanku. Saat itu sedang ada pesta rakyat merayakan kemenangan pasukan Ayah yang berhasil menghalau musuh...,” sahut Hara sambil memijit keningnya.


“ Apa yang Kamu rasakan saat itu...?” tanya Hanako lagi.


Lalu mengalir lah cerita dari mulut Hara. Bagaimana ia menghabiskan waktu seharian penuh dengan seorang teman wanita yang bernama Yunda. Selama ini Hara tak berteman dekat dengan Yunda, namun anehnya saat itu Hara menuruti ajakan Yunda begitu saja. Mereka pergi ke suatu tempat yang asing. Hara berusaha mengingat tempat itu tapi nihil.


Hanako dengan sabar menunggu Hara melanjutkan ceritanya itu. Namun sayangnya Hara hanya diam mematung dan itu membingungkan Hanako.


“ Hara..., Hara...,” panggil Hanako.


“ Eh, iya iya...,” sahut Hara gugup.


“ Kamu mau lanjutin cerita Kamu atau ga, kok diem aja. Aku masih sabar nunggu kelanjutannya nih...,” kata Hanako setengah bergurau.


“ Aku..., maaf Kak. Kepalaku sakit banget. Bisa Kita lanjutkan lain waktu...?” tanya Hara.

__ADS_1


“ Boleh. Kalo gitu Kamu istirahat aja, biar Aku keluar sekarang...,” sahut Hanako.


“ Makasih Kak, Kamu baik sekali...,” kata Hara sambil menatap Hanako.


“ Sama-sama...,” sahut Hanako sambil tersenyum sebelum menutup pintu.


Saat Hanako keluar dari kamar Hara terlihat Iyaz dan Izar yang berdiri menyambut. Sedangkan raja Graha dan istrinya pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri Hanako.


“ Bagaimana, apa katanya...?” tanya Gayatri tak sabar.


“ Jangan di sini, Kita pindah ke tempat lain...,” kata Graha sambil menggamit lengan istrinya untuk menjauh dari depan kamar Hara.


Hanako, Iyaz dan Izar pun mengikuti Graha dan istrinya. Kini mereka berada jauh dari kamar Hara. Kemudian Hanako menceritakan isi pembicaraannya dengan Hara. Graha dan Gayatri nampak terkejut mendengar cerita Hanako yang merasa hanya mendapat sedikit informasi dari Hara.


“ Yunda..., Yunda. Rasanya Aku pernah dengar nama itu...,” gumam Graha sambil berusaha mengingat.


“ Itu kan Putrinya Braja...,” kata Gayatri sambil menyentuh lengan Graha.


“ Oh iya Kamu benar. Tapi kenapa dia melakukan itu...?” tanya Graha tak mengerti.


“ Oh jadi ini cinta segitiga rupanya...,” kata Izar sambil tersenyum.


“ Begitu lah Nak. Dulu Jaladra sempat meminang Hara ketika Hara masih berusia enam belas tahun. Meski pun di dunia Kami usia itu sudah cukup untuk menikah, tapi Aku menolaknya karena bagiku Hara masih terlalu muda untuk berumah tangga. Aku meminta Jaladra datang lagi saat Hara berusia delapan belas tahun, tapi hingga Hara berusia dua puluh tiga tahun Jaladra tak pernah kembali...,” kata Graha sambil menerawang.


“ Maksud Tuan, saat itu tuan menerima pinangan Jaladra hanya saja menunda merestui pernikahan mereka...?” tanya Iyaz.


“ Betul. Bukan tanpa alasan Aku menerima pinangan Jaladra. Dia pemuda yang hebat. Jaladra  menguasai ilmu pedang dan panah, dia bisa mengendarai kuda dengan baik, dia juga santun dan tak pernah tebar pesona pada gadis-gadis meski pun dia memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Di sini tak ada seorang pun yang tak menginginkan Jaladra sebagai menantu, termasuk Aku. Hanya saja Aku tak ingin Hara menikah dan melahirkan di usia muda. Kedua kakak laki-laki Hara pun menikahi istrinya saat gadis-gadis itu berusia dua puluh satu tahun. Usia yang layak untuk menikah dan melahirkan anak...,” sahut Graha.


“ Lalu kemana Jaladra sekarang...?” tanya Hanako.


“ Kami ga tau. Jaladra pergi begitu saja dan ga ada kabar sama sekali...,” sahut Gayatri.


“ Keliatannya Yunda tau sesuatu dan penyakit Hara ada sangkut pautnya dengan menghilangnya Jaladra...,” kata Izar hingga membuat semua menoleh kearahnya.


“ Kamu betul Zar...,” sahut Iyaz.


“ Jadi sekarang cari Yunda, karena dia lah kuncinya...,” kata Izar.

__ADS_1


“ Sesederhana itu...?” tanya Gayatri tak percaya hingga membuat Iyaz, Izar dan Hanako saling menatap bingung.


“ Apa maksudmu Sayang. Selama ini Hara bahkan tak bisa bicara apalagi cerita tentang pertemuannya dengan Yunda dan perjalanannya ke suatu tempat. Jadi Kita ga pernah tau apa penyebab sakitnya kan...?” tanya Graha tak suka.


“ Maafkan Aku Suamiku. Aku hanya sedikit bingung dan ga bermaksud meremehkan tamu Kita. Aku hanya merasa jika sakit Hara tak sesederhana itu, pasti ada yang lain...,” sahut Gayatri sambil mengusap lengan suaminya.


" Kita akan tau setelah mengangkat penyakit ini dulu Tuanku...," kata Iyaz.


" Oh gitu. Maaf kalo Aku sedkit ga sabar...," kata Gayatri tak enak hati hingga membuat ketiga bersaudara itu mengangguk maklum.


“ Baik lah. Kita akan cari Yunda secepatnya, jangan tunda lagi...,” kata Graha.


“ Tolong lakukan diam-diam hingga Yunda tak menyadari jika Kita sedang mengawasinya Tuan...,” pinta Hanako.


“ Tentu saja...,” sahut Graha sambil tersenyum.


Kemudian Graha memanggil pengawal pribadinya dan meminta mereka mengawasi gerak-gerik Yunda.


\=====


Yunda sedang berjalan sambil membawa sebuah keranjang berisi makanan. Ia berdandan cantik hari itu karena ingin menemui seseorang. Wajahnya nampak tersenyum hingga membuat wajah cantiknya terlihat bercahaya.


“ Hai Yunda, apa yang membuatmu senyum-senyum sendiri. Apa Kau sedang bahagia...?” sapa seorang gadis yang berpapasan dengan Yunda.


“ Ish, Kamu ini usil banget sih Mina. Tapi karena Aku sedang bahagia maka Aku akan jawab pertanyaanmu itu. Iya,


Aku bahagia karena sudah mendapatkan kekasih. Mungkin sebentar lagi akan ada pesta besar di rumahku untuk merayakan pernikahan Kami...,” sahut Yunda bangga sambil tertawa.


“ Oh ya. Siapa pria itu Yunda, apakah sehebat Jaladra...?” tanya Mina penasaran.


Tawa Yunda pun terhenti saat mendengar pertanyaan Mina. Ia terlihat gugup hingga membuat Mina mengerutkan keningnya.


“ Aku pergi dulu Mina...,” kata Yunda lalu meninggalkan Mina begitu saja.


Mina menatap kepergian Yunda dengan tatapan bingung. Apalagi Yunda berjalan dengan cepat tanpa mau berpaling lagi.


\=====

__ADS_1


__ADS_2