Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
102. Misteri Kematian Tania


__ADS_3

Siang itu seperti biasa Tania dan Wina bertemu untuk makan siang di kios soto ayam kesukaan mereka. Saat itu Wina melihat jika suasana hati Tania sedikit berbeda.


“ Kenapa Lo, kok murung gitu...?” tanya Wina.


“ Gapapa, capek aja...,” sahut Tania sambil menggigit krupuk yang ada di tangannya.


“ Capek, tumben. Biasanya Lo ga pernah ngeluh capek. Ada apaan sih...?” tanya Wina setengah memaksa.


Tania menghela nafas panjang sambil menatap Wina. Semula Tania ragu untuk menceritakan masalahnya karena ia type orang yang selalu merahasiakan apa pun masalah yang tengah ia hadapi. Namun kali ini Tania memberanikan diri menceritakan masalahnya kepada Wina.


“ Tadi pagi Gue dipanggil ke ruangannya Pak Irwandi...,” kata Tania.


“ Terus...?” tanya Wina.


“ Gue dimarahin karena katanya uang yang kemarin Gue serahin ga sama jumlahnya sama laporan keuangan yang Gue kasih...,” sahut Tania sambil mengunyah soto di dalam mulutnya.


“ Kok Lo ceroboh banget sih Tan...,” kata Wina.


“ Bukan Gue yang ceroboh Win. Gue udah ngecek semuanya dan yakin kalo jumlahnya itu pas, ga selisih seperak pun. Gue punya buktinya kok di ponsel Gue. Padahal Gue juga udah nombokin beberapa barang yang hilang pake uang pribadi Gue tanpa harus melibatkan karyawan lain tapi masih aja disalahin. Mana ga ada yang belain Gue lagi...,” keluh Tania.


“ Lo masih ngelakuin itu Tan?, enak dong teman-teman Lo ga ngerasain apa yang Lo rasain...,” kata Wina setengah kesal.


“ Gapapa lah, ga banyak juga kok...,” sahut Tania santai.l


“ Ga banyak tapi kalo tiap hari ya kantong Lo jebol dong Tan. Mana cukup gaji Lo kalo cara Lo kaya gitu...,” kata Wina sewot.


“ Udah biarin. Lagian Gue kasian sama teman-teman Gue itu. Mereka kan udah nikah dan punya Anak. Ga kebayang deh Gue kalo gaji mereka dipotong cuma buat nutupin setoran yang kurang karena barang di toko raib diambil pencuri...,” sahut Tania tenang.


“ Lo kasian sama mereka tapi mereka kasian ga sama Lo...?!” tanya Wina lantang.


Tania hanya menggedikkan bahunya sambil melanjutkan makan siangnya. Wina yang melihat sikap Tania pun geram tapi tak bisa berbuat apa-apa.


“ Tapi kok Gue curiga kalo pencurinya itu orang dalam ya Tan...,” kata Wina tiba-tiba.


“ Maksud Lo gimana sih Win...?” tanya Tania tak mengerti.

__ADS_1


“ Kayanya ada orang yang lagi pengen nyingkirin Lo karena prestasi kerja Lo bikin posisi seseorang terancam Tan...,” sahut Wina.


“ Mmm, kalo ada yang mau nyingkirin Gue sih kayanya Gue percaya. Tapi kalo ada yang mau nyingkirin Gue karena posisinya terancam  Gue ga setuju. Lagian kan Gue cuma kasir, mau naik ke jenjang karir yang mana lagi sih kasir toko kaya Kita...,” sahut  Tania sambil tertawa.


“ Kali aja jadi Manager Keuangan...,” sahut Wina asal hingga membuat Tania tertawa.


Wina pun ikut tertawa. Keduanya pun kembali melanjutkan makan siang mereka lalu berpisah dan kembali ke toko


masing-masing saat jam makan siang usai. Wina dan Tania tak pernah tahu jika itu adalah hari terakhir mereka bertemu dalam keadaan sehat wal afiat dan hidup. Karena beberapa hari kemudian maut datang dan memisahkan mereka berdua untuk selamanya.


\=====


Malam itu setelah jam kerja usai Tania kembali mengecek laporan keuangan sesuai permintaan Irwandi. Berkali-kali mengecek Tania tak menjumpai kesalahan. Saat menoleh ia melihat Irwandi tengah menatap tajam kearahnya dengan tatapan yang sedikit berbeda.


“ Ya Allah kirain siapa...,” gumam Tania sambil menepuk dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.


“ Gimana udah dapat belum...?” tanya Irwandi sambil mendekati Tania.


“ Saya udah cek berkali-kali tapi ga ada kesalahan kok Pak...,” sahut Tania.


“ Yang mana Pak...?” tanya Tania.


“ Di sini...,” sahut Irwandi dengan tangan yang sengaja menyentuh area pribadi Tania.


Tania yang  tak terima dilecehkan pun berdiri menatap Irwandi sambil menutup kedua pa**daranya dengan kedua tangannya.


“ Jangan kurang ajar Pak. Saya bisa aja laporin sikap Bapak ini sama atasan...!” kata Tania galak sambil menjauhi meja dan berjalan mundur menuju pintu.


“ Oh ya. Lapor aja sana. Saya mau liat siapa yang terusir dari sini, Saya atau Kamu...,” sahut Irwandi sambil merangsek maju dan mulai menyentuh Tania.


Tania menjerit dan terus meronta. Namun apa lah daya tenaga seorang gadis dibandingkan tenaga pria bertubuh besar seperti Irwandi. Saat kesuciannya direnggut paksa Tania hanya bisa menangis dan menjerit.


Wajah Hanako nampak gelisah dan marah saat melihat peristiwa pemer**saan yang dilakukan Irwandi kepada Tania. Faiq mengeratkan genggaman tangannya pertanda Hanako harus kembali fokus agar mereka bisa melihat masa lalu Tania. Hanako mengangguk lalu kembali menyentuh Wina.


Setengah jam kemudian Irwandi nampak merapikan pakaiannya setelah puas menikmati tubuh Tania. Sedangkan Tania nampak menangis sambil memeluk lututnya.

__ADS_1


“ Udah ga usah nangis. Saya ga sengaja kok. Lagian salahmu kenapa terus menantang Saya. Coba kalo Kamu nurut, pasti ga akan kaya gini jadinya...,” kata Irwandi.


“ Saya ga pernah nantang Bapak...!” sahut Tania lantang.


“ Kamu udah tau hubungan Saya sama Meila, dan itu ancaman buat Saya dan Meila. Saya ga mau dipecat gara-gara Kamu ember dan ngomong soal ini ke sana kemari...,” kata Irwandi.


“ Saya ga pernah cerita kemana-mana...,” bantah Tania.


“ Siapa yang bisa ngejamin. Tapi sekarang Saya punya rekaman adegan Kita tadi sebagai jaminan kalo Kamu ga bakal bocorin rahasia Saya sama Meila kemana-mana. Ternyata Kamu lebih ok daripada si Meila ya...,” kata Irwandi sambil mengedipkan matanya lalu memperlihatkan rekaman di layar ponselnya hingga membuat Tania kembali menjerit dan menangis.


Irwandi melangkah keluar dari mini market meninggalkan Tania seorang diri di dalam sana. Tania berhasil keluar


dengan tubuh lebam dan pakaian yang sobek di sana sini. Dengan bantuan seorang pria tak dikenal, Tania bisa sampai di kost an dengan selamat.


\=====


Keesokan harinya Tania tak bekerja karena luka fisik dan mental akibat perbuatan Irwandi. Dan kesempatan itu digunakan oleh Irwandi untuk menjatuhkan nama baik Tania. Irwandi mengatakan jika Tania telah menggelapkan uang dan memalsukan data keuangan. Sebagian besar karyawan tak ada yang percaya namun mereka tak bisa berbuat apa-apa.


Di hari keempat Wina yang penasaran pada nasib Tania pun menyambangi kediaman Tania. Saat mengetuk pintu kamar tak ada sahutan. Wina mendobrak pintu dengan kuat dan mendapati Tania terbaring mengenaskan di lantai. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, ada darah yang keluar dari mulutnya. Wina terpaksa menutup hidung karena tak tahan dengan bau busuk yang menguar di kamar itu.


Wina keluar untuk mencari Taxi setelah tak mendapatkan respon yang baik dari tetangga kamar Tania. Sang pengemudi dengan senang hati membantu Wina. Ia bahkan menggendong tubuh Tania yang bersimbah darah itu tanpa rasa jijik.


“ Kita ke dokter ya Mbak...,” bisik sang pengemudi Taxi saat melihat Tania menatapnya.


Tania mengangguk lalu kembali memejamkan matanya. Wina yang terus mendampingi Tania pun tak kuasa menahan tangisnya. Setelah sepuluh menit berjuang di ruang UGD, Tania dinyatakan meninggal dunia karena terlambat mendapat pertolongan.


Faiq dan Hanako menarik tangan mereka dan menyudahi penelusuran mereka untuk saat ini karena iba melihat kondisi Wina. Kemudian Faiq menyerahkan sebotol air ruqyah kepada Hanako  yang langsung menggunakannya untuk membasuh wajah Wina. Sesaat kemudian Wina tersadar sambil menatap bingung ke sekelilingnya.


“ Minum dulu ya Win...,” kata Hanako.


“ Gue kenapa Han, bukannya tadi Kita mau keluar dari sini ya...?” tanya Wina.


“ Panjang ceritanya. Sekarang yang penting Lo minum terus istirahat sebentar ya. Tenang aja, Gue di sini nemenin Lo kok...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


Wina mengangguk lalu meneguk habis air yang disodorkan Hanako tadi sambil mengamati semua orang yang sedang sibuk berdzikir dengan tatapan tak mengerti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2