
Ratih sudah menunggu di depan pintu rumah saat Qiana turun dari ojeg on line yang mengantarnya pulang. Ratih
pun merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Qiana. Semula Qiana ragu untuk menyambutnya, namun melihat senyum tulus Ratih membuat Qiana luluh dan balas memeluk Ratih.
“ Apa kabar Qi...?” tanya Ratih.
“ Alhamdulillah baik, Kamu sendiri gimana Tih...?” tanya Qiana.
“ Aku juga baik...,” sahut Ratih cepat.
Kemudian kedua gadis itu masuk ke dalam rumah. Mereka pun makan malam bersama kedua orangtua Qiana. Celotehan Ratih mewarnai ruang makan dan membuat suasana menjadi lebih ramai dibandingkan hari biasanya. Namun Qiana terlihat murung seolah sedang memikirkan sesuatu hingga membuat Ratih tak nyaman.
Saat menjelang tidur, Ratih pun menanyakan penyebab murungnya Qiana.
“ Apa Kamu punya masalah serius Qi...?” tanya Ratih.
“ Ga ada. Kenapa Kamu ngomong kaya gitu...?” tanya Qiana.
“ Soalnya Aku ngeliat Kamu kaya orang bingung daritadi. Kupikir Kamu lagi ada masalah yang ga pengen orang lain
tau...,” sahut Ratih santai.
Mendengar ucapan Ratih membuat Qiana salah tingkah. Setelah menghela nafas panjang, Qiana pun duduk di samping Ratih lalu memberanikan diri bertanya sesuatu.
“ Apa Kamu masih berniat mengejar Mas Izar, Tih...?” tanya Qiana dengan mimik serius.
“ Mmm..., kayanya ga Qi. Aku tau Mas Izar ga pernah tertarik sama Aku. Rasanya bodoh aja mengharap perhatiannya yang jelas-jelas bukan untukku...,” sahut Ratih.
“ Maksud Kamu apa Tih...?” tanya Qiana.
“ Aku nyerah Qi. Mas Izar ga pernah menganggap kehadiranku di dekatnya. Dia justru tertarik sama cewek lain...,” sahut Ratih dengan nada kecewa.
“ Cewek lain, siapa...?” tanya Qiana penasaran.
“ Kamu...,” sahut Ratih cepat.
“ Aku...?” tanya Qiana tak percaya.
__ADS_1
“ Iya. Setiap kali Kita ketemu sama dia, Kalian emang keliatan ga akur dan musuhan. Tapi Aku sering ngeliat
tatapan Mas Izar tuh berbeda banget sama Kamu. Apalagi saat terakhir Kita ketemu pas acara peresmian kantor cabang itu. Aku tau kalo dia cemas banget saat ngeliat Kamu hampir tertimpa papan reklame waktu itu. Akhirnya Aku sadar kalo sebenernya dia tertarik sama Kamu bukan Aku. Dan seharusnya Aku ga ada diantara Kalian berdua...,” sahut Ratih sambil tersenyum.
Qiana terdiam mendengar ucapan Ratih. Sesaat kemudian Qiana ikut tersenyum.
“ Kayanya Aku tau apa alasan Kamu sebenernya Tih. Pasti ada cowok lain yang udah berhasil membuat jantungmu
berdebar lebih hebat dari biasanya. Iya kan...,” kata Qiana sambil tersenyum simpul.
“ Iya Qi. Namanya Hardin. Aku udah jadian sama dia sejak dua Minggu yang lalu...,” sahut Ratih malu-malu.
“ Kamu serius Tih...?” tanya Qiana.
“ Serius lah Qi. Dan kali ini Aku dapat pasangan yang bener-bener serius mau nikahin Aku Qi. Dia bilang akan
melamarku setelah pekerjaannya di luar kota selesai...,” sahut Ratih dengan wajah berbinar.
“ Apa Kamu mencintainya Tih...?” tanya Qiana hati-hati karena khawatir jika Ratih hanya menjadikan Hardin sebagai pelarian karena gagal mendapatkan Izar.
Keduanya saling memeluk dan tertawa bersama. Sebelum mengurai pelukan mereka Ratih pun membisikkan sesuatu yang membuat Qiana tersipu malu.
“ Aku tau kalo sebenernya Kamu juga menyukai Mas Izar, Qi. Jadi buruan kasih dia kepastian sebelum ada ulat pengganggu yang datang dan menghancurkan semuanya...,” bisik Ratih hingga membuat Qiana kembali tersenyum.
\=====
Reno sedang duduk sambil menengadahkan kepalanya. Malam itu ia merasa tak nyaman dan gelisah seolah akan
terjadi sesuatu yang buruk. Berkali-kali ia keluar masuk rumah seolah sedang mencari sesuatu. Oce yang melihat tingkahnya itu pun hanya bisa mengamati tanpa berani menegur karena tahu jika Reno masih kesal padanya.
Namun saat Reno kembali masuk ke dalam rumah untuk kesekian kalinya, Oce pun tak sanggup lagi untuk diam. Oce pun memberanikan diri bertanya.
“ Kenapa Kamu mondar mandir kaya gitu Reno. Ada apa, apa yang Kamu cari...?” tanya Oce.
“ Ga usah ikut campur urusanku Mi...,” sahut Reno datar.
“ Selama Kamu masih tinggal di sini, di rumahku, maka urusanmu menjadi urusanku dan juga sebaliknya. Kamu ngerti ga...?” tanya Oce gusar.
__ADS_1
“ Tapi Aku ga suka Kau mencampuri urusanku lagi Mi. Kau sudah membuatku sakit hati...,” sahut Reno.
Ucapan Reno membuat Oce tertawa diam-diam. Ia sadar betapa Reno hanya manusia besar tanpa otak yang sanggup mengatakan apa pun tanpa perlu memikirkannya lebih dulu. Namun Oce tak bisa menepis perasaan sayangnya pada Reno yang merupakan keponakan kandungnya itu.
Saat seperti itu lah tiba-tiba Reno terjatuh dengan kepala terlebih dulu membentur lantai. Posisinya yang
terlentang dengan mata mendelik, mulut berbusa dan tubuh mengejang menjadi pertanda jika penyakit epilepsi yang lama diidapnya kembali kambuh.
Oce bergegas menghampiri Reno dan berusaha menenangkannya. Setelah satu menit mengalami kejang hebat, tubuh Reno pun terdiam. Nafas Reno pun mulai teratur dan dengkuran halus pun terdengar. Rupanya Reno tertidur setelah mengalami kejang hebat. Oce nampak mengusap peluh di keningnya sambil menatapi Reno yang tengah tertidur itu.
“ Sudah lama ga pernah kambuh, kenapa sekarang kambuh lagi. Ini pasti gara-gara ga ngasih tumbal. Harusnya
Reno bisa hidup sehat jika tumbal terakhir yang diminta diserahkan. Sayangnya Reno malah jatuh hati sama calon tumbal itu...,” gerutu Oce dalam hati.
Kemudian Oce masuk ke dalam kamar untuk mengambil selimut. Setelahnya ia membentangkan selimut itu untuk menutupi tubuh Reno. Jika dulu Oce akan memindahkan Reno dan membersihkan tubuhnya setelah mengalami kejang, maka hal itu tak pernah lagi Oce lakukan. Tubuh Reno yang berat dan besar itu menjadi alasan utama mengapa Oce tak lagi melakukan itu.
Oce menatap Reno dalam diam. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Reno lalu mengusapnya dengan sayang sambil berbisik.
“ Maafkan Aku jika harus menolak permintaanmu Reno. Nyawamu dan keselamatanmu jauh lebih berharga dibandingkan nyawa gadis itu...,” kata Oce lirih.
Setelahnya Oce melangkah menuju kamar rahasia untuk membuat ritual penyerahan tumbal. Kali ini Oce sengaja menutup pintu karena tak ingin Reno mengganggu pekerjaanya nanti.
Saat Oce sibuk melakukan ritual sesatnya itu, saat itu Reno membuka matanya. Ia menatap ke sekelilingnya lalu
menyentuh selimut yang menutupi tubuhnya. Ia mencari keberadaan sang mami sambil berusaha bangkit dari posisi tidurmya.
Saat itu lah tak sengaja Reno melihat asap hitam keluar dari bawah pintu kamar rahasia Oce. Semula Reno
mengabaikan asap hitam itu karena ia tahu apa yang dilakukan sang mami. Namun saat asap hitam itu kian menebal ditambah bau menyengat yang menyapa hidungnya, Reno dengan sigap langsung berdiri dan berjalan cepat menuju pintu kamar rahasia Oce.
“ Jangan sentuh dia Mami...!” kata Reno lantang sambil meninju daun pintu itu berulang kali.
Mendengar suara lantang Reno membuat Oce terkejut dan menghentikan ritual sesaatnya itu sejeanak. Namun
sesaat kemudian Oce kembali melanjutkan ritual penyerahan tumbalnya itu dan mengabaikan kemarahan Reno di depan pintu.
\=====
__ADS_1