Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
310. Menemui Mikaila


__ADS_3

Hari ke dua usai Hanako melahirkan bayinya, Izar datang menjenguk. Suasana di kamar sangat ramai saat itu karena suara celotehan keluarga mereka.


“Assalamualaikum...!” sapa Izar dengan suara lantang untuk menandingi suara tawa yang memenuhi ruangan rawat inap Hanako.


Semua orang berhenti tertawa lalu menoleh kearah ambang pintu dimana Izar tengah berdiri sambil tersenyum.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut semua orang bersamaan.


“ Kompak benget, tapi bagus lah...,” kata Izar sambil menghampiri Shera lalu mencium pipinya.


Kemudian Izar juga menghampiri Efliya dan Farah lalu melakukan hal yang sama kepada mereka.


“ Rame banget sih, gimana bayinya bisa tidur kalo kaya gini...,” kata Izar.


“ Jangan sok tau Kamu. Justru Paundra sukanya suasana rame kaya gini, lebih seru katanya...,” sahut Shera.


“ Masa sih Bun, ga percaya Aku...,” kata Izar dengan mimik lucu hingga membuat semua orang tertawa.


Sadar jika dirinya sedang dikerjai, Izar pun nampak meringis. Kemudian ia melangkah mendekati Hanako lalu memeluknya erat. Hanako pun membalas pelukan Izar sambil menepuk punggungnya dengan lembut. Setelahnya mereka saling mengurai pelukan dan tertawa bersama.


Izar menoleh kearah box bayi lalu menggeser tubuhnya untuk melihat keponakan barunya itu.


“ Assalamualaikum Paundra, ini Uncle Izar. Salam kenal ya...,” sapa Izar pada bayi yang tengah terlelap di box bayi itu.


“ Wa alaikumsalam. Jangan salam doang dong Uncle, hadiahnya mana...?” sindir Hanako.


“ Tenang aja, Mami Kamu yang cerewet ini bakal diem pas tau hadiah apa yang Uncle kasih untuk Kamu nanti...,” sahut Izar dengan santai.


“ Masa sih. Emang Uncle mau kasih hadiah apa untuk Aku...?” tanya Hanako mewakili sang bayi.


“ Rahasia. Insya Allah pas aqiqahan nanti Paundra juga tau...,” sahut Izar sambil tersenyum puas.


Hanako hanya memonyongkan bibirnya karena gagal mencari tau hadiah apa yang akan Izar berikan pada bayinya nanti.


“ Iyaz mana Zar...?” tanya Hanako.


“ Lagi honey moon...,” sahut Izar.


“ Honey moon kemana, kapan berangkat...?” tanya Hanako.


“ Ga tau kemana, mereka langsung berangkat honey moon waktu Kita selesai liburan di Tasikmalaya...,” sahut Izar


cepat.

__ADS_1


“ Gitu ya, padahal Aku mau minta tolong...,” kata Hanako.


“ Minta tolong apa...?” tanya Izar.


“ Kemarin Aku ngeliat anak kecil cewek baru aja selesai operasi mata. Tapi dia menjerit histeris sambil nangis


dan bilang kalo dia ngeliat hantu. Ibunya dan team medis juga ga percaya karena perban di matanya aja belum dibuka. Gimana caranya dia bisa ngeliat penampakan makhluk halus di sekitarnya...,” kata Hanako dengan suara lirih karena tak ingin diketahui oleh keluarganya.


“ Aneh...,” sahut Izar.


“ Aneh kan. Nah waktu itu pas banget Aku mau dibawa ke ruang bersalin dan dia mau dibawa kemana gitu. Kami ga sengaja papasan. Saat itu Aku ngerasa aura mistis yang kuat banget di sekitar anak itu. Kalo bisa, tolong bantu dia ya Zar...,” pinta Hanako.


“ Insya Allah, sekarang anak itu ada dimana...?” tanya Izar.


“ Kata perawat yang bantu mandiin Paundra tadi sih anak itu ada di ruang rawat inap di samping kamarku. Coba aja


Kamu cek ke sana...,” sahut Hanako.


“ Ok, Aku ke sana nanti...,” kata Izar sambil mengecup pipi Paundra.


\=====


Usai mengunjungi Hanako, Izar pun menjalankan misinya untuk membantu Mikaila. Saat keluar dari kamar Hanako, ia sengaja memperlambat langkahnya sambil berpura-pura mengetik sesuatu di ponselnya.


langkahnya tepat di depan pintu lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada orang lain yang memergoki aksinya.


Perlahan Izar membuka pintu kamar dan melihat seorang gadis cilik tengah duduk di atas tempat tidur. Rambutnya


ikal, kulitnya coklat, dan ada perban yang menutupi kedua matanya. Izar percaya jika gadis cilik itu baru saja menjalani operasi mata seperti apa yang dikatakan Hanako.


Jika dilihat dengan mata biasa Mikaila memang bicara sendiri. Tapi Izar melihat jika Mikaila sedang bicara dengan sosok hantu anak kecil bertubuh hitam yang duduk tepat di hadapannya.


“ Aku ga bohong Burna. Aku beneran ngeliat mereka. Sosok mereka tuh serem banget, Aku jadi takut...,” kata Mikaila meyakinkan.


“ Tapi Kamu kan perbanmu belum dibuka Mika...,” sahut Burna.


“ Iya sih, tapi...,” ucapan Mikaila terhenti saat mendengar suara pintu terbuka.


Mikaila menunggu orang yang membuka pintu itu menyapanya  namun sayangnya itu tak terjadi hingga gadis cilik itu kesulitan mengenali orang yang masuk ke dalam kamar. Sedangkan sosok hantu gadis cilik berwarna hitam dengan baju yang compang camping itu ikut menoleh kearah Izar. Burna menyeringai lalu melesat cepat menembus dinding. Izar melangkah cepat untuk menghentikan Burna, namun sayang ia kalah cepat dengan Burna.


“ Burna, Burna. Dimana Kamu. Siapa yang datang Burna, tolong bilang sama Aku siapa yang datang...?” tanya Mikaila sambil mengulurkan tangannya untuk mencari keberadaan Burna, sang teman khayalan.


Izar maju mendekati Mikaila lalu menyambut uluran tangannya menggantikan sosok hantu gadis cilik yang tadi menemaninya. Saat menyentuh tangan Izar, Mikaila nampak terkejut lalu menarik tangannya.

__ADS_1


“ Siapa Kamu...?” tanya Mikaila.


“ Tenang Mikaila. Kenalin nama Saya Izar...,” sahut Izar hati-hati sambil duduk di samping Mikaila.


“ Izar siapa. Kok suaranya kaya Bapak-bapak...?” tanya Mikaila.


Mendengar ucapan Mikaila membuat Izar cemberut karena disamakan dengan bapak-bapak. Izar pun menggaruk kepalanya tanpa menjawab.


“ Pasti Kamu seumuran ayahku, jadi Aku panggil Om aja ya...,” sambung Mikaila sambil tersenyum karena merasa aura persahabatan mengelilinginya saat Izar berada di dekatnya.


“ Ok gapapa...,” sahut Izar pasrah.


Mikaila kembali tersenyum. Kemudian ia menoleh kearah Izar sambil menanyakan sesuatu.


“ Om Izar ngeliat Burna ga...?” tanya Mikaila.


“ Burna siapa...?” tanya Izar pura-pura tak mengerti.


“ Burna itu temen Aku yang tadi duduk di sini Om. Masa Om ga ngeliat...,” sahut Mikaila.


“ Oh, gadis cilik itu. Om liat tadi, tapi sekarang dia udah pergi ga tau kemana...,” kata Izar.


“ Gitu ya. Eh, Om kok tau kalo Burna itu anak kecil...?” tanya Mikaila terkejut.


“ Ya tau dong. Kan Om ngeliat dia lagi duduk di depan Kamu tadi...,” sahut Izar santai.


“ Wah Om Izar hebat ya bisa ngeliat Burna. Padahal selama ini Ibu sama Mama Aku bilang ga pernah bisa ngeliat Burna. Kata mereka Aku Cuma halu aja. Tapi kalo Om Izar bisa ngeliat Burna itu artinya Aku ga lagi berkhayal kan Om...?” tanya Mikaila antusias.


“ Iya...,” sahut Izar.


Izar terpaksa berbohong karena tak ingin mengejutkan Mikaila dengan mengatakan sejujurnya bahwa teman khayala Mikaila adalah hantu.


“ Kemana Ibumu, kok Kamu sendiri...?” tanya Izar sambil menyentuh kepala Mikaila.


“ Lagi nemuin dokter Om...,” sahut Mikaila.


“ Jadi Kamu abis operasi mata ya. Om denger tadi Kamu bilang kalo Kamu udah bisa ngeliat sesuatu padahal perbanmu aja belum dibuka sama sekali...?” tanya Izar.


“ Iya Om, tapi sayangnya ga ada yang percaya sama Aku. Apa Om percaya sama cerita Aku...?” tanya Mikaila.


“ Percaya...,” sahut  Izar cepat hingga membuat Mikaila tersenyum.


Saat Izar hendak kembali membuka mulut untuk menanyakan sesuatu, tiba-tiba pintu kamar rawat inap Mikaila terbuka.

__ADS_1


\=====


__ADS_2