
Faiq dan Hendro mencoba mencari jejak Lilian. Semua informasi tentang SD Dewantara mereka kumpulkan. Melalui internet Hendro menemukan jejak SD Dewantara sekarang. Ternyata lokasi SD Dewantara dipindahkan ke lahan yang lebih luas untuk mensuport kegiatan pendidikan di sana.
Kini Faiq dan Hendro sudah berada di salah satu ruangan di SD Dewantara sedang menunggu sang kepala sekolah mengambil arsip di lemari besar. Dengan reputasi yang dimiliki Faiq sebagai reporter televisi Sahabat, tidak sulit untuk Faiq dan Hendro mendapatkan informasi dari kepala sekolah SD Dewantara.
“ Jadi Mas Hendro ini alumni SD Dewantara ya...,” kata kepala sekolah dengan ramah.
“ Betul Pak. Saya dan teman-teman bermaksud mengadakan reuni gabungan untuk beberapa angkatan. Tapi Kami
kehilangan alamat teman-teman. Saya di sini mewakili panitya untuk mencari informasi...,” sahut Hendro.
“ Iya, Saya paham kok. Nah, ini data Anak-anak yang sekolah di sini sampe tahun terakhir sekolah di lokasi yang
lama ya Mas...,” kata kepala sekolah sambil menyodorkan buku besar berisi data para siswa yang terdaftar di SD Dewantara.
Faiq dan Hendro membuka buku besar yang ada di hadapan mereka. Kemudian Hendro menunjuk foto seorang
gadis cilik berwajah muram.
“ Ini Lilian Iq...,” bisik Hendro.
“ Wajahnya kok kaya gini, sedih kaya ga punya semangat...,” sahut Faiq iba.
“ Oh, itu namanya Lilian. Kasian dia. Menurut info yang Saya dapat, Lilian ini lulus dengan nilai yang minim. Kondisinya juga sedang ga baik-baik aja karena keluarganya yang tercerai berai akibat ulah ibu tirinya yang membawa kabur uang Papanya...,” kata kepala sekolah prihatin.
“ Masa sih Pak...?” tanya Hendro tak percaya.
“ Iya, itu sebabnya Lilian jarang masuk sekolah karena harus mengurus Papanya yang stress karena kehilangan
uangnya. Mereka kehilangan rumah mereka dan terpaksa tinggal di rumah kontrakan kecil. Karena melihat kegigihan Lilian dan semangat belajarnya yang tinggi, semua guru sepakat meluluskan Lilian walau nilainya pas-pasan...,” sahut kepala sekolah.
“ Apa Bapak tau dimana Lilian sekarang...?” tanya Hendro hati-hati.
“ Kalo ga salah dia kerja dinrestoran Jepang di daerah Pasar Baru. Tapi itu info tiga bulan yang lalu ya Mas. Kalo sekarang Saya ga tau...,” sahut kepala sekolah.
“ Baik, makasih infonya. Boleh kan Saya foto beberapa data teman-teman yang ada di buku ini...?” tanya Hendro yang diangguki sang kepala sekolah.
Setelah merasa cukup, Hendro dan Faiq pun meninggalkan SD Dewantara. Di dalam perjalanan Hendro menghubungi temannya yang merupakan panitya reuni untuk menyerahkan info yang mereka dapat tadi.
“ Jadi Lo beneran jadi panitya reuni Hen...?” tanya Faiq sambil mengemudi.
“ Iya Iq, walau bukan panitya inti sih. Temen Gue kesulitan nyari alamat beberapa teman dan minta tolong sama Gue buat nyariin. Kebetulan Lo juga lagi nyari Lilian, ya udah sekalian deh...,” sahut Hendro sambil tersenyum dan diangguki Faiq.
“ Lo bilang Lilian itu Kakak kelas, mana mungkin bisa reunian di waktu yang sama...,” kata Faiq.
“ Reuni ini untuk semua angkatan yang sekolah di lokasi lama Iq. Nah, setiap angkatan pasti punya koordinator
kan. Panitya menghubungi tiap koordinator biar mereka lanjut menghubungi teman-teman. Khusus untuk Lilian, semua ga ada yang tau. Jadi Kita aja yang nemuin Lilian dengan alasan ngundang reuni. Gimana Iq, cerdas kan Gue...?” tanya Hendro bangga sambil memperlihatkan undangan reuni yang dibawanya.
“ Lumayan...,” sahut Faiq asal sambil menatap jalan raya di depannya.
“ Ck, apa susahnya sih bilang iya...,” gerutu Hendro.
“ Iya, iya. Hendro emang the best...,” sahut Faiq sambil mengacungkan ibu jarinya hingga membuat Hendro tertawa.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah makan Jepang yang dimaksud. Di depan pintu mereka sudah disambut dengan ramah oleh pelayan restoran. Namun sebelum masuk ke dalam rumah makan itu Hendro sempat bertanya tentang Lilian pada pelayan restoran.
“ Liliannya ada Mbak...?” tanya Hendro.
“ Ada Pak...,” sahut pelayan restoran sambil mengarahkan Faiq dan Hendro ke sebuah meja.
“ Bisa tolong panggilin Lilian kan Mbak, bilang aja Saya teman di SD Dewantara dulu...,” pinta Hendro.
“ Baik Pak...,” sahut sang pelayan dengan santun.
Tak lama kemudian Lilian datang menghampiri Hendro dan Faiq.
“ Ehm, apa betul Bapak cari Saya...?” tanya Lilian dengan sopan.
Hendro dan Faiq menoleh kearah Lilian. Mereka melihat sosok wanita dewasa yang cantik dengan raut wajah yang
tegas. Meski terlihat tegar, namun Faiq dapat melihat jika sorot mata Lilian penuh luka dan lelah.
“ Hai Lilian, kenalin Saya Hendro. Ga usah panggil Bapak lah, Kita kan seumuran. Saya juga murid di SD Dewantara dulu. Apa kabar...?” sapa Hendro ramah sambil mempersilakan Lilian duduk di hadapannya.
__ADS_1
“ Hai, Saya Lilian. Darimana Kamu tau kalo Saya kerja di sini...?” tanya Lilian.
“ Dari Kepala Sekolah SD Dewantara dong. Oh iya, kenalin ini teman Saya namanya Faiq...,” kata Hendro sambil
menepuk punggung Faiq.
Faiq pun menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil tersenyum kearah Lilian yang disambut
Lilian dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil mengangguk.
“ Ehm, maksud Kami ke sini mau ngundang Kamu untuk hadir di acara reuni sekolah Kita bulan depan...,” kata
Hendro sambil menyerahkan kartu undangan reuni kepada Lilian.
Lilian menerima kartu undangan itu lalu membukanya. Membacanya sesaat kemudian menggelengkan kepalanya.
“ Maaf, Saya ga bisa hadir...,” kata Lilian sedih.
“ Tapi Kamu harus ikut Li...,” kata Hendro setengah memaksa.
“ Ini bukan kali pertama ada undangan reuni kaya gini dan Saya emang ga pernah hadir kok. Selama ini ga ada yang keberatan jadi Kamu juga ga boleh maksa Saya...,” sahut Lilian dingin.
Mendengar ucapan Lilian membuat Hendro salah tingkah. Ia melirik kearah Faiq seolah minta bantuan. Faiq yang
memang mengamati Lilian sejak awal pun turun tangan membantu.
“ Ada yang kangen dan mau ketemu sama Kamu...,” kata Faiq tiba-tiba.
“ Siapa, seinget Saya ga ada satu pun murid yang mau temenan sama Saya dulu. Jadi mustahil rasanya kalo ada yang mau ketemu sama Saya karena kangen...,” sahut Lilian sambil tersenyum sinis.
“ Bukan ga ada yang mau temenan sama Kamu tapi mereka takut sama Papa Kamu yang arogan itu...,” kata Faiq
sambil menatap wajah Lilian dengan lekat.
Lilian nampak menggigit bibirnya saat mendengar nama ayahnya disebut. Wajah Lilian mendadak sedih. Ia ingat
sikap temannya dulu yang menjauhinya karena takut pada sosok Marco yang selalu marah tiap kali datang ke sekolah.
“ Jadi siapa yang mau ketemu sama Saya...?” tanya Lilian dengan suara bergetar.
sekarang...?” tanya Faiq hati-hati.
Lilian terkejut mendengar ucapan Faiq, air matanya luruh tanpa bisa ia kendalikan. Kemudian ia balas menatap
kedua mata Faiq seolah mencari jawaban dari kegundahannya selama ini.
“ Ar, arwah Mama...?” tanya Lilian dengan suara yang nyaris hilang.
“ Iya, apa Kamu percaya...?” tanya Faiq lagi.
“ Saya percaya, karena Saya selalu mimpi buruk. Dalam mimpi Saya ngeliat Mama melambaikan tangannya sambil manggil-manggil Saya dari tempat yang jauh entah dimana. Tiap kali Saya datangi asal suaranya, ga ada siapa pun di sana. Selalu begitu, lagi dan lagi. Saya juga masih mimpi hal yang sama sampe sekarang...,” sahut Lilian dengan suara lirih.
Faiq dan Hendro saling menatap sejenak sambil tersenyum bahagia karena usaha mereka untuk mempertemukan hantu Nihana dengan putrinya akan segera terwujud.
“ Faiq dan Anak-anaknya indigo. Mereka didatangi arwah Mama Kamu yang minta tolong supaya dibantuin mencari
Kamu...,” kata Hendro.
Kemudian Faiq menjelaskan kisah pertemuannya dengan hantu Nihana dan apa yang ia ketahui tentang akhir hayat hantu Nihana. Lilian nampak kembali menangis saat mendengar kronologi kematian sang mama.
“ Tolong bantu Saya ketemu sama Mama Saya Mas...,” pinta Lilian dengan berurai air mata.
“ Insya Allah. Kapan Kamu punya waktu bilang aja sama Hendro...,” sahut Faiq.
“ Mmm, kalo lusa gimana Mas. Saya baru aja masuk hari ini dan ga mungkin ngajuin cuti lagi. Ga enak sama teman
yang lain...,” sahut Lilian.
“ Ok, gapapa...,” sahut Faiq.
Setelah bertukar nomor ponsel dengan Hendro, Lilian pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Faiq dan Hendro pamit undur diri.
\=====
__ADS_1
Malam itu Faiq dan Hendro menjemput Nihana usai pulang kerja. Lalu mereka meluncur ke lokasi dimana hantu
Nihana menampakkan diri. Saat tiba di deretan toko yang sebagian sudah rusak itu Lilian pun menitikkan air mata.
“ Pantesan arwah Mama berkeliaran di sini karena di sana adalah tempat Mama disiksa sampe meninggal...,” kata
Lilian sambil menunjuk ke deretan toko bagian ujung yang dulunya merupakan dapur pabrik roti.
Mendengar ucapan Lilian membuat Hendro terkejut tapi tidak dengan Faiq. Ia terlihat santai sambil membuka pintu
mobil lalu keluar menemui hantu Nihana.
“ Aku membawanya ke sini Nihana...,” gumam Faiq sambil menatap sosok Nihana di ujung jalan yang tengah mondar mandir itu.
Seperti mendengar suara Faiq, hantu Nihana menghentikan gerakannya lalu menoleh kearah Faiq. Sesaat kemudian ia melayang mendekati Faiq bersamaan dengan Lilian yang turun dari mobil. Hantu Nihana menatap Lilian dengan lekat.
“ Anakku, Lilianku, Sayangku...,” kata hantu Nihana sambil mendekat kearah Lilian lalu memeluknya erat.
Lilian merasakan hawa dingin di sekitar tubuhnya secara tiba-tiba dan itu membuatnya merapatkan jaket yang ia
pakai. Perlahan hawa dingin itu memudar berganti dengan hawa hangat yang familiar dan sejak lama Lilian rindukan. Lilian meresapi hawa hangat yang melingkupi tubuhnya itu sambil memejamkan matanya. Tanpa sadar Lilian pun memanggil mamanya.
“ Mama...,” panggil Lilian lirih.
“ Iya Sayang, ini Mama. Mama kangen banget sama Lili. Sekarang Lili udah dewasa dan tambah cantik ya...,” puji hantu Nihana sambil tersenyum.
Mengerti jika Lilian juga ingin bicara dengan sang mama, Faiq mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu Lilian dengan diawali kata maaf. Lilian mengangguk tanda mengerti dan membiarkan Faiq menghubungkannya dengan sang mama.
Perlahan namun pasti Lilian bisa melihat wujud hantu Nihana sama persis seperti sebelum ia meninggal.
“ Mama...,” panggil Lilian sambil terisak lalu balas memeluk sang mama.
Pelukan yang membahagiakan Nihana dan membuatnya kembali menangis setelah sekian lama air matanya kering karena kehilangan pemicunya. Yah, Lilian lah sumber tangis Nihana. Bukan hanya tangis sedih tapi juga tangis bahagia.
“ Mama baik-baik ya di sana, Lili juga baik-baik aja kok di sini. Papa udah nerima karmanya Ma. Istri baru Papa itu, yang udah bikin Mama pergi, sekarang juga udah pergi dari hidup Papa sambil membawa semua harta Papa tanpa sisa. Sama yang kaya Papa lakukan sama Mama dulu, sekarang Papa juga g*la Ma...,” kata Lilian lirih.
“ Terus Kamu gimana...?” tanya hantu Nihana sambil membelai wajah Lilian dengan lembut.
“ Seperti yang Mama liat, Aku baik-baik aja. Bahkan Aku yang ngerawat Papa lho Ma. Laki-laki jahat yang ga menyayangi Aku dan yang udah misahin Aku sama Mama. Ternyata dia membutuhkan Aku Ma. Karena hanya Aku yang ada di sisinya sampe detik ini...,” sahut Lilian sambil menangis.
“ Kamu ga jadi pergi Nak...?” tanya hantu Nihana.
“ Udah Ma. Aku udah kabur jauh dari Papa. Tapi akhirnya Aku balik lagi karena ga tega ngeliat Papa dicampakkan sama Tante Evelyn. Maafin Aku Ma, Aku ga bisa nurutin pesan terakhir Mama...,” sahut Lilian di tengah isak tangisnya.
“ Lilian hebat. Anak Mama ini memang hebat. Meski udah disakitin sama Papa, tapi Lili masih mau merawatnya...,”
puji hantu Nihana sambil tersenyum.
“ Mama ga marah sama Lili...?” tanya Lilian sambil menatap Nihana.
“ Ga Sayang. Mama justru bangga sama Lili...,” sahut hantu Nihana.
Setelah saling melepas rindu dan mengungkapkan perasaan masing-masing, hantu Nihana pun pamit. Sebelum menghilang ia masih memperlihatkan senyum bahagia di bibirnya hingga membuat Lilian menangis bahagia.
“ Jangan sedih lagi ya Mama. Lili janji akan bahagia untuk Mama...,” kata Lilian lirih.
Faiq dan Hendro yang berdiri tak jauh dari Lilian pun nampak menatap iba kearah Lilian.
“ Apa setelah ini hantu Mamanya Lilian ga akan gentayangan lagi Iq...?” tanya Hendro.
“ Insya Allah Hen. Kan yang dia tunggu udah datang. Tapi mungkin dia bakal nuntut balas sama orang yang membuat dia dan Anaknya menderita...,” kata Faiq sambil menatap jauh ke depan.
Hendro terkejut mendengar ucapan Faiq. Saat ingin menanyakan apa yang akan dilakukan hantu Nihana, Lilian mendekat kearah mereka sambil tersenyum.
“ Makasih ya Mas Faiq udah bantuin Aku ketemu sama Mama...,” kata Lilian sambil tersenyum.
“ Sama-sama...,” sahut Faiq.
“ Saya senang tau Mama ga marah karena Saya ga nurutin permintaan terakhir Mama...,” kata Lilian lagi.
“ Justru dia bangga karena melahirkan orang berjiwa besar kaya Kamu Lilian...,” sahut Faiq.
Lilian tersenyum lalu kembali menatap jalan dimana hantu Nihana menghilang.
__ADS_1
Bersambung