
Faiq baru saja tiba di pesantren untuk menjenguk kedua anak kembarnya. Faiq tak sendiri. Kali ini dia datang bersama Shera dan keluarga Heru. Haikal nampak tak sabar ingin bertemu dengan kedua sepupunya itu.
“ Abang mana...?” tanya Haikal saat mereka memasuki halaman pesantren.
“ Sabar dong Nak. Kan mobilnya baru aja parkir...,” kata Heru sambil mengusap kepala anaknya yang sekarang berusia enam tahun itu.
“ Nah Kita bisa turun sekarang, ayo Haikal...,” ajak Faiq yang diangguki Haikal.
Namun nampaknya Haikal harus menelan kecewa karena tak bisa bertemu dengan Iyaz dan Izar. Kedua matanya mulai berkaca-kaca dan itu membuat Efliya bingung.
“ Kamu kenapa Nak...?” tanya Efliya lembut.
“ Haikal gagal ketemu si kembar Bun...,” sahut Hanako.
“ Lho kenapa emangnya...?” tanya Efliya tak mengerti.
“ Si kembar lagi diajak pergi sama Ustadz Hamzah ke rumah guru taekwondonya...,” sahut Hanako lagi.
“ Kok gitu. Ini kan waktunya kunjungan dan Ustadz Hamzah juga udah tau kalo Kita mau ke sini. Tapi kenapa malah ngajak Anak-anak pergi ya. Ada apa sih Yah...?” tanya Shera penasaran.
“ Keliatannya ada urusan penting Bun, Aku juga ga tau. Tapi coba Ayah tanya dulu sama Ustadz Hamzah dimana mereka sekarang...,” sahut Faiq sambil meraih ponsel dari dalam saku kemejanya.
Setelah mendapat jawaban tentang keberadaan ustadz Hamzah dan kedua anaknya, maka Faiq memutuskan untuk menyusul mereka.
“ Gini aja. Kalian pergi jalan-jalan dulu diantar Heru. Aku mau nyusul si kembar ke rumah gurunya. Ternyata anaknya guru itu lagi kerasukan. Dan si kembar dimintain tolong untuk bantuin nyadarin anaknya itu. Nah, Aku ke sana sekalian mau bantuin supaya bisa cepat selesai..,” kata Faiq.
“ Apa Aku harus ikut juga sama Papa...?” tanya Hanako.
“ Ga usah Ci. Kamu ikut Ayah Kamu aja sekalian bujuk Adik Kamu ya. Papa sendiri aja. Nanti kalo udah selesai Papa bakal hubungi Kalian...,” sahut Faiq.
“ Siap Pa...,” sahut Hanako cepat.
Kemudian mereka berpisah di halaman pesantren. Heru melajukan mobil meninggalkan halaman pesantren sedangkan Faiq masuk ke ruang guru untuk meminjam motor salah seorang pengurus pesantren. Ternyata sang pengurus pesantren bersedia mengantarkan Faiq ke rumah Bayan.
Jarak dari pesantren ke rumah Bayan tak terlalu jauh dan hanya ditempuh dalam waktu sepuluh menit saja. Saat tiba di rumah Bayan, Faiq disambut oleh Iyaz dan Izar di depan pintu rumah Bayan.
“ Ayah...!” panggil Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Iyaz, Izar. Gimana keadaan Kalian...?” tanya Faiq sambil memeluk kedua anaknya bergantian.
__ADS_1
“ Alhamdulillah Ayah datang. Pak Ustadz masih di dalam buat nyadarin Neta Yah...,” sahut Iyaz.
“ Ayo Kita masuk Yah...,” ajak Izar tak sabar.
“ Iya...,” sahut Faiq.
“ Maaf Pak Faiq. Kalo gitu Saya balik lagi ke pesantren ya. Banyak yang harus Saya urus di sana. Kan ini hari kunjungan Wali murid, pasti banyak hal yang ingin mereka konsultasikan sama pengurus pondok...,” kata sang pengurus pesantren.
“ Iya Pak. Makasih udah ngantar Saya...,” sahut Faiq.
“ Sama-sama Pak, Assalamualaikum...,” kata pengurus pesantren lalu melajukan motornya meninggalkan Faiq dan kedua anak kembarnya.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Faiq dan si kembar bersamaan.
Setelah melepas kepergian sang pengurus pesantren, Faiq dan kedua anaknya masuk ke dalam rumah Bayan. Saat menginjakkan kaki di dalam rumah, Faiq melihat sosok hantu wanita tengah merasuki tubuh Neta. Faiq pun langsung bergabung dengan ustadz Hamzah untuk menenangkan Neta. Bayan sendiri nampak tengah berjuang memegangi tubuh Neta yang seolah memiliki kekuatan berkali-kali lipat dari kekuatan aslinya. Sedangkan Aldi nampak duduk di sudut ruangan karena kelelahan memegangi Neta sejak tadi.
“ Ga nyangka kalo lagi kerasukan kaya gini si Neta bisa kuat banget tenaganya, malah ngalahin tenaganya lima orang cowok sekaligus...,” kata Aldi sambil menggelengkan kepalanya.
“ Neta ga sadar ngelakuin itu Bang. Dan yang ngamuk daritadi tuh bukan Neta tapi makhluk halus yang ada di dalam tubuh Neta...,” kata Iyaz menjelaskan.
“ Kalo boleh tau apa sih makhluk yang ngerasukin Neta. Kok kayanya penuh dendam gitu, apalagi saat ngeliat cowok...?” tanya Aldi penasaran.
Baru saja Iyaz membuka mulut ingin menjawab pertanyaan Aldi, tiba-tiba jeritan keluar dari mulut Neta. Setelah menjerit panjang, tubuh Neta pun terkulai dan kembali tertidur karena kelelahan.
“ Baik Ustadz. Gimana, apa Neta bisa ditolong Ustadz...?” tanya Bayan cemas.
“ Insya Allah bisa Pak Bayan. Oh iya, kenalin dulu ini Mas Faiq Ayahnya Iyaz sama Izar...,” kata ustadz Hamzah.
“ Apa kabar Mas Faiq. Saya mau minta maaf karena mengganggu waktu kunjungan Mas Faiq untuk Iyaz dan Izar...,” sapa Bayan ramah.
“ Gapapa Pak, Saya maklum kok...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
Tiba-tiba istri dan anak perempuan Bayan datang sambil membawa dua nampan besar berisi beberapa piring makanan.
“ Nah sambil nunggu Neta bangun, ada baiknya makan dulu ya...,” kata istri Bayan sambil meletakkan beberapa piring berisi lontong sayur di atas meja.
“ Kebetulan Ma, Ayah juga udah lapar nih...,” sahut Bayan sambil tertawa.
“ Iya, tapi tamunya dulu dong yang disuruh makan Yah...,” gurau istri Bayan.
__ADS_1
“ Iya, iya. Kami bakal makan semuanya sampe piringnya sekalian Bu...,” sahut ustadz Hamzah yang disambut tawa semua orang.
Kemudian mereka makan bersama dalam suasana yang akrab. Sesekali Faiq mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan dan berhenti pada istri Bayan.
“ Sepertinya Ibu tau sesuatu ya...,” kata Faiq sambil menatap lekat kearah istri Bayan.
Bayan dan istrinya saling menatap sejenak. Kemudian Bayan menganggukkan kepalanya pertanda ia mengijinkan istrinya menjelaskan apa yang terjadi. Kemudian istri Bayan mulai menceritakan awal mula Neta diterror makhluk halus. Ia juga mengatakan jika anak temannya mengalami hal yang serupa seperti yang dialami Neta.
“ Apa villa itu dibuka untuk umum Bu...?” tanya ustadz Hamzah.
“ Kayanya sih ga Pak Ustadz. Villa itu milik pribadi dan ga disewain...,” sahut istri Bayan.
“ Siapa nama pemiliknya...?” tanya Faiq.
“ Pak Sumantri. Dia teman sekelas Saya waktu SMA dulu...,” sahut istri Bayan cepat.
“ Maaf kalo Saya lancang. Keliatannya Ibu dan Pak Sumantri pernah punya hubungan dekat dulu...,” tebak Faiq hingga mengejutkan Bayan dan istrinya.
Istri Bayan nampak salah tingkah. Sedangkan Bayan nampak tersenyum sambil mengusap punggung istrinya itu. Tampak jelas jika Bayan tak mempermasalahkan hubungan istrinya dengan Sumantri dulu.
“ Kamu tenang aja Ma, Ayah ga marah kok. Itu kan masa lalu. Lagian siapa sih orang di dunia ini yang ga punya masa lalu...,” kata Bayan bijak.
“ I, iya Yah...,” sahut istri Bayan malu-malu.
Kemudian istri Bayan menatap balik kearah Faiq yang juga tengah menatapnya.
“ Jangan salah paham Bu. Makhluk di dalam tubuh putri Ibu ingin menyampaikan sesuatu pada Pak Sumantri. Dia merasa Ibu bisa membantunya karena Ibu pernah punya hubungan dekat dengan Pak Sumantri itu. Makanya dia datang dan mengganggu Neta...,” kata Faiq menjelaskan.
Bayan dan keluarganya pun nampak mengangguk tanda mengerti.
“ Jadi apa yang harus Saya lakukan Mas...?” tanya istri Bayan.
“ Bisa tolong hubungi Pak Sumantri dan minta dia ke sini. Boleh kah Pak Bayan...?” tanya Faiq.
“ Gapapa Mas, ini demi Anak Kami. Lagian Saya percaya Istri Saya ga bakal mengkhianati Saya kok. Iya kan Ma...?” goda Bayan sambil merangkul pundak istrinya.
“ Iya Yah. Lagian cinta Aku tuh udah habis diborong sama Kamu semua...,” sahut istri Bayan mantap hingga membuat semua orang di dalam ruangan tertawa.
“ Ga nyangka Mama bisa juga ngegombal...,” bisik Ina pada dua saudaranya yang nampak menahan tawa.
__ADS_1
Sedangkan Neta yang juga sudah terbangun nampak mengulum senyum melihat tingkah absurd kedua orangtuanya itu.
\=====