Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
284. Iyaz Kesal


__ADS_3

Hasil test interview pun dibacakan. Dari sembilan belas orang yang mengikuti test interview hanya tujuh orang yang lulus dan diantaranya adalah Nuara. Gadis itu nampak terkejut lalu tersenyum. Berkali-kali ia mengucap hamdalah dengan mata berkaca-kaca. Dan sikap gadis itu tak luput dari perhatian Iyaz.


Izar yang melihat kembarannya menatap gadis itu dengan intens pun berdehem untuk menyadarkan Iyaz.


“ Ehm, sabar dikit lah Yaz. Jangan sampe gara-gara Kamu ngeliatin terus, tuh cewek malah ga jadi kerja di sini...,” kata Izar menggoda Iyaz.


“ Iya Zar...,” sahut Iyaz malu-malu.


“ Keliatannya gadis yang baik, siapa namanya...?” tanya Izar.


“ Nuara Adam Sarjana Ekonomi...,” sahut Iyaz cepat hingga membuat Izar terkejut karena tak menyangka Iyaz bisa hapal nama gadis itu di luar kepala.


“ Masya Allah. Kamu hapal nama gadis itu Yaz...?” tanya izar tak percaya.


“ Kebetulan aja...,” sahut Iyaz malu-malu.


\=====


Nuara Adam yang merupakan karyawati baru itu ditempatkan di Divisi keuangan di bawah kepemimpinan Hanako. Hal itu membuat Iyaz lebih sering datang ke tempat Hanako untuk sekedar menyapanya.


“ Kayanya beberapa hari belakangan ini Kamu jadi sering mampir ke ruanganku Yaz. Ada apa sih...?” tanya Hanako curiga.


“ Itu kan menurut Kamu Ci. Kalo menurutku apa yang Aku lakukan udah sesuai kok, sesuai sama peraturan perusahaan...,” sahut Iyaz.


“ Jangan ngelak Yaz. Kamu lagi cari perhatian sama cewek di Divisi Keuangan kan, siapa Yaz...?” tanya Hanako.


“ Apaan sih Kamu. Mana ada kaya gitu...,” bantah Iyaz.


“ Pasti ada lah. Kan karyawati di Divisi Keuangan cantik-cantik kaya Aku...,” kata Hanako percaya diri.


“ Ck, berisik. Jangan gosip Kamu Ci. Ntar kalo karyawati itu denger gimana...?” tanya Iyaz sambil berdecak sebal kemudian keluar dari ruangan Hanako.


Karena terlalu tergesa-gesa tak sengaja Iyaz menabrak Nuara yang kebetulan lewat membawa berkas yang baru saja difotocopy. Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Lembaran kertas itu bertebaran di lantai saat mereka bertabrakan.


“ Maaf...,” kata Iyaz lalu refleks membungkukkan tubuhnya untuk membantu Nuara mengumpulkan kertas yang berserakan itu.


“ Gapapa Pak, ini juga salah Saya yang ga ngeliat ke depan waktu jalan tadi...,” sahut Nuara sambil tersenyum.


Iyaz tertegun melihat senyum Nuara. Baginya senyum Nuara adalah senyum terindah yang pernah ia lihat. Sedangkan Nuara nampak tersipu malu saat menyadari tatapan Iyaz yang tertuju hanya padanya. Suara deheman Hanako mengejutkan Iyaz dan Nuara.


“ Ehm, ada apa ini...?” tanya Hanako pura-pura tak tahu.


“ Maaf Bu, Saya ga sengaja menjatuhkan kertas-kertas ini tadi. Pak Iyaz hanya mencoba membantu Saya ngumpulin semuanya...,” sahut Nuara sambil menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Nuara membuat Iyaz dan Hanako saling menatap lalu tersenyum. Mereka salut dengan sikap Nuara yang tak menyalahkan Iyaz meski pun Iyaz yang telah menabraknya lebih dulu.


“ Oh gitu, ya udah gapapa. Kamu bisa kembali ke tempat Kamu sekarang...,” kata Hanako sambil tersenyum.


“ Baik Bu, permisi Pak...,” pamit Nuara dengan santun.


“ Iya...,” sahut Hanako dan Iyaz bersamaan sambil menatap pungggung Nuara yang menjauh.


Hanako menyenggol lengan Iyaz yang nampak menatap kagum kearah gadis itu hingga membuat Iyaz tersadar dan salah tingkah.


“ Gimana. Masih mau ngelak juga...?” goda Hanako sambil mengedipkan matanya.


“ Terserah Kamu lah Ci...,” sahut Iyaz sambil bersiap melangkah.


“ Kalo Kamu ga tertarik sama Nuara, berarti Aku bisa jodohin sama si Ruli kan...?” tanya Hanako.


Mendengar ucapan Hanako membuat Iyaz terkejut lalu menghentikan langkahnya. Kemudian Iyaz berbalik mengejar Hanako yang masuk ke dalam ruangannya.


“ Jangan Ci. Nuara buat Aku aja...,” kata Iyaz sambil mencekal tangan Hanako.


“ Jadi beneran nih Kamu naksir sama Nuara...?” tanya Hanako sambil menahan tawa.


“ Iya...,” sahut Iyaz sambil melepaskan cekalan tangannya hingga membuat Hanako tertawa.


“ Mau banget Ci...,” sahut Iyaz antusias.


“ Ok, tapi Kamu harus ikut aturan main yang Aku terapkan ya...,” kata Hanako.


“ Iya iya Cici cantik. Sebelumnya makasih ya...,” sahut Iyaz sambil memeluk Hanako erat.


“ Sama-sama. Udah sana balik lagi ke ruanganmu...,” kata Hanako sambil berusaha mengurai pelukan Iyaz.


Iyaz pun mengangguk lalu kembali ke ruangannya dengan perasaan bahagia.


\=====


Sore itu Nuara baru saja menyelesaikan tugasnya. Sedikit terlambat dari karyawan lain karena Hanako sengaja mengaturnya begitu. Nuara pun bergegas merapikan meja kerjanya saat jam menunjukkan pukul lima sore lebih dua puluh menit. Setelahnya Nuara pun melangkah cepat menuju lift untuk turun ke lantai satu.


Saat itu hanya ada Nuara dan seorang office boy bernama Yoyo yang tengah membersihkan lantai di depan lift. Yoyo pun menyapa Nuara dengan ramah.


“ Baru pulang Mbak...?” tanya Yoyo basa basi.


“ Iya, tugas Saya baru selesai makanya baru pulang...,” sahut Nuara sambil tersenyum.

__ADS_1


“ Mbak Nuara berani kan turun sendiri...?” tanya Yoyo.


“ Iya, kenapa emangnya...?” tanya Nuara tak mengerti.


“ Gapapa Mbak. Soalnya di lift ini sering terdengar suara perempuan yang minta tungguin tapi ga ada wujudnya...,” sahut Yoyo tanpa bermaksud menakuti Nuara.


“ Yang bener, jangan nakutin Kamu ya...,” kata Nuara gusar.


“ Saya serius Mbak...,” sahut Yoyo meyakinkan.


“ Jangan suka nakutin karyawati dengan cerita itu Yo. Apa Kamu mau Saya pecat karena udah bikin suasana kantor jadi ga nyaman karena ulahmu...?!” tanya Iyaz lantang dari belakang Yoyo dan Nuara hingga mengejutkan keduanya.


Yoyo dan Nuara menoleh kearah Iyaz dengan memperlihatkan ekspresi yang berbeda. Jika Yoyo nampak ketakutan akan dipecat, sedangkan Nuara tampak lega karena merasa punya ‘teman’ untuk turun ke lantai satu dengan lift itu.


“ Jadi begini caramu bekerja Yo...?” tanya Iyaz dengan tatapan yang tajam.


“ Maaf Pak, Saya ga bemaksud kaya gitu. Saya cuma mau ngingetin supaya Mbak Nuara hati-hati...,” sahut Yoyo dengan suara bergetar.


“ Tapi bukan begitu caranya. Kalo Kamu bilang kaya gitu Kamu justru nakutin dia...,” kata Iyaz tak suka.


“ Iya maaf Pak...,” sahut Yoyo.


“ Jangan minta maaf sama Saya, tapi minta maaf sama Nuara dan orang-orang yang udah Kamu takutin itu. Atau Saya bakal bikin Kamu keluar dari kantor ini tanpa pesangon...,” kata Iyaz setengah mengancam.


“ Jangan Pak. Maafkan Saya ya Mbak, Saya ga bermaksud nakutin Mbak Nuara...,” sahut Yoyo panik.


“ Iya, Saya maafin Kamu. Tapi tolong jangan diulangin ya. Kan ga semua orang berani sama hal ghaib kaya gitu...,” kata Nuara mengingatkan.


“ Baik Mbak...,” sahut Yoyo cepat.


“ Sekarang lanjutkan tugasmu. Ayo Nuara Kita pulang...,” ajak Iyaz tegas.


“ Baik Pak...,” sahut Nuara sambil menganggukkan kepalanya.


Kemudian Iyaz dan Nuara beriringan memasuki lift meninggalkan Yoyo yang berdiri mematung di depan lift.


Iyaz dan Nuara masuk ke dalam lift, kemudian Iyaz menekan tombol angka satu. Nuara hanya mengamati dalam diam karena tak enak hati telah membuat Yoyo dimarahi Iyaz tadi.


Lift pun turun perlahan. Iyaz berdiri menghadap pintu lift,  sedangkan Nuara berdiri di belakangnya dengan gugup. Suasana terasa tak nyaman hingga sebuah suara memecahkan keheningan di dalam lift itu.


“ Tunggu...!” kata sebuah suara tanpa wujud mengejutkan Iyaz dan Nuara.


Mereka saling menatap bingung lalu menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari asal sumber suara itu.

__ADS_1


\=====


__ADS_2