
Helaan nafas lega terdengar di dalam ruangan itu. Faiq, Fatur dan Izar saling menatap kemudian tersenyum. Santoso pun ikut tersenyum saat menyadari anaknya telah lepas dari aura negatif yang melingkupinya selama ini.
“ Alhamdulillah..., makasih Pak...,” kata Santoso dengan suara bergetar menahan tangis.
“ Sama-sama Pak...,” sahut Faiq yang diangguki Fatur dan Izar.
Mendengar ucapan suaminya membuat Yamini mengurai pelukannya perlahan. Ia menatap wajah suaminya yang terlihat bahagia itu lalu ikut tersenyum.
“ Apa semuanya udah selesai Pak...?” tanya Yamini sambil menatap Faiq lekat.
“ Insya Allah semua udah berakhir Bu. Makhluk itu hancur karena kesombongannya sendiri. Insya Allah ke depannya Tiara bakal bisa hidup normal seperti dulu lagi...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah. Saya senang dengarnya...,” kata Yamini sambil menciumi Tiara.
“ Terus gimana nasib Todi Pak...?” tanya Santoso penasaran.
Faiq dan Fatur saling menatap sejenak seolah ingin menyembunyikan sesuatu. Namun sesaat kemudian mereka menganggukkan kepala pertanda jika tak ada yang harus disembunyikan tentang Todi.
“ Todi terluka sedikit tapi ga parah kok. Anggap aja itu sebagai pengingat jika dia pernah salah langkah dan mencoba mencelakai orang lain dengan ilmu hitam...,” kata Fatur.
“ Gapapa Pak, Saya sih senang dengarnya. Biarin aja dia luka. Saya harap Todi bisa sadar dan bertobat sebelum terlambat...,” sahut Yamini geram.
Rupanya rasa kecewa Yamini sudah sampai pada puncaknya dan itu membuatnya marah. Beruntung Tiara tak
menyimpan dendam pada Om angkatnya itu dan lebih memilih melupakan semuanya.
\=====
Di sebuah ruangan terlihat Todi tengah berbaring sambil memegangi wajahnya yang nampaknya terluka parah dan berdarah. Di hadapannya keadaan sang dukun pun tak kalah mengenaskan. Tubuh sang dukun nampak terbaring lemah dengan luka parah di sekujur tubuh dan wajahnya. Darah nampak menggenang di sekeliling tubuh sang dukun.
Rupanya saat Fatur dan Faiq menaburkan bubuk gaharu tadi bersamaan dengan aksi sang dukun yang ingin melenyapkan Tiara atas permintaan Todi melalui makhluk kirimannya itu. Hingga makhluk hitam berkepala botak suruhan sang dukun pun nampak bingung karena satu sisi ia harus mematuhi perintah sang dukun, sedangkan sisi lainnya ia sangat mencintai Tiara.
Namun pengaruh sang dukun lebih kuat hingga akhirnya makhluk itu pun menyerang Tiara tapi berhasil digagalkan oleh Fatur, Faiq dan Izar dengan gabungan tiga kekuatan yang mereka miliki.
Butiran kayu gaharu yang lembut dan beraroma wangi itu berubah menjadi senjata mematikan saat mengenai Todi dan sang dukun hingga membuat keduanya terluka parah dengan permukaan kulit yang dipenuhi pasir.
__ADS_1
“ Ah sia*an. Pasir darimana sih ini, sakit banget rasanya...,” gumam Todi sambil bangkit mencari jalan keluar tanpa mempedulikan nasib pria yang ada di hadapannya itu.
“ Heiii Todiii..., mau kemana Kau. Bantu Aku keluar dari sini Todiii...,” panggil sang dukun dengan suara bergetar menahan sakit.
“ Maaf Kek, Aku harus pergi. Mana mungkin Aku nolongin orang lain sedangkan Aku juga butuh bantuan...,” kata Todi ketus.
“ Kurang ajar kau Todi. Ini semua gara-gara Kau. Kalo Aku ga membantumu pasti Aku masih baik-baik aja sekarang...!” maki sang dukun sambil meringis menahan sakit.
“ Jangan lupa kalo Aku udah bayar mahal supaya Kau mau membantuku Kek. Jadi sekarang terima saja bagianmu...,” sahut Todi sambil berjalan terhuyung-huyung.
Dukun itu menggeram marah karena harus terluka parah karena mencoba menyerang Tiara dengan ilmu hitam yang ia miliki tadi. Ia tak menyangka jika Tiara dilindungi oleh kekuatan yang besar yang mampu memporak porandakan pertahanannya. Selain terluka parah sang dukun juga harus kehilangan pembantu setianya yaitu si makhluk besar berkepala botak yang telah ia utus untuk mencelakai Tiara.
“ Kurang ajar, tunggu saja pembalasanku. Kalian bisa tertawa sekarang tapi bakal menangis di akhir nanti...,” kata sang dukun sambil mengepalkan tangannya.
Melihat kondisinya yang parah itu rasanya sulit untuk sang dukun bisa bertahan apalagi sembuh. Perlahan suara makian yang keluar dari mulut sang dukun pun menjadi lirih bahkan hilang sama sekali. Tubuhnya yang semula bergerak liar itu pun perlahan melemah dan terdiam. Tak lama kemudian dukun itu mati dalam keadaan penuh luka bersimbah darah.
Sedangkan di luar sana Todi masih berusaha mengobati luka yang dideritanya dengan berbagai cara. Saat menjalani pengobatan Todi tak berani menyentuh air karena khawatir lukanya akan basah dan sulit sembuh jika terkena air. Namun pengobatan yang dijalani Todi tak membuahkan hasil dan memaksa Todi kembali ke rumah sang dukun beberapa hari kemudian.
Saat tiba di depan rumah sang dukun terlihat warga yang sedang bergotong royong membersihkan rumah sang dukun dan itu membuat Todi bingung.
“ Kamu cari siapa ke sini, Kek Maja ya. Dia udah meninggal Mas. Mayatnya aja udah sulit dikenali karena udah hancur...,” kata salah seorang warga mengejutkan Todi.
“ Iya hancur. Kami gotong royong di sini untuk mengusir bau yang tersisa akibat mayatnya yang hancur itu Mas. Itu lah hukuman buat dukun jahat kaya dia. Mas sendiri mau ngapain ke sini...?” tanya salah seorang warga.
“ Saya mau nyampein pesan untuk Kek Maja. Tapi karena Kek Maja udah meninggal, lebih baik Saya pergi aja Bu...,” sahut Todi sambil menjauh dari rumah sang dukun.
Di perjalanan Todi kembali merasa kesakitan. Ia mengerang sambil memegangi wajahnya yang sudah tak berbentuk itu. Luka di wajahnya pun mulai membusuk dan menimbulkan bau yang tak sedap. Di saat seperti itu lah Todi mendengar kumandang adzan Zuhur dari sebuah musholla kecil yang ia lewati. Ia melihat beberapa pria nampak sedang berwudhu di bawah air mengalir. Dari kejauhan Todi bisa merasakan segarnya air yang mengalir dan membasahi wajah para pria itu.
“ Duh segernya. Pasti enak banget bisa ngerasain air seperti seharusnya. Sejuk, dingin, menyegarkan...,” gumam Todi sambil mengusap wajahnya yang bengkak dan bernanah itu.
“ Kamu juga bisa ngerasain segarnya air itu kalo Kamu mau...,” kata seorang pria sambil menepuk pundak Todi.
Todi terkejut lalu berusaha menyembunyikan wajahnya karena malu dengan luka di wajanya yang mulai bau dan bernanah itu.
“ Saya pergi aja, maaf kalo Saya ganggu...,” kata Todi.
__ADS_1
“ Kamu ga ganggu kok. Ayo, silakan masuk...,” ajak pria tadi yang ternyata adalah seorang ustadz bernama Amri.
Todi menatap wajah ustadz Amri dengan tatapan ragu. Namun keinginan kuat dalam hatinya membawa Todi melangkah menuju tempat wudhu. Dengan bantuan ustadz Amri Todi pun mulai membasuh wajahnya dengan air.
“ Jangan lupa baca Bismillah ya Mas...,” kata ustadz Amri yang diangguki Todi.
Saat air pertama kali menyentuh wajahnya Todi menjerit kesakitan bahkan hampir pingsan karena tak kuat menahan sakit. Jeritannya membahana hingga membuat warga yang masih berada di musholla usai menunaikan sholat Zuhur pun terkejut dan mendatanginya. Tapi langkah mereka terhenti saat ustadz Amri memberi kode agar mereka menjauh.
“ Lanjutkan Mas...,” pinta ustadz Amri.
“ Saya ga kuat Pak Ustadz, ini sakit banget...,” sahut Todi sambil menangis.
“ Paksa aja dan Kamu akan liat hasilnya setelah basuhan yang ke tiga...,” kata ustadz Amri.
Todi pun menuruti ucapan ustadz Amri dan kembali membasuh wajahnya. Saat basuhan kedua Todi melihat pasir yang menempel di permukaan kulit wajahnya berjatuhan ke lantai bersama air yang membasahi wajahnya.
Saat basuhan ke tiga Todi merasa bau busuk yang menyertainya beberapa hari ini pun lenyap tak bersisa. Kemudian Todi menangis sambil berlutut di bawah air yang mengalir itu.
“ Menangis lah karena itu tandanya masih ada iman di hatimu. Menangis lah karena itu tandanya Kamu merasa kecil dan lemah di hadapan zat Allah Yang Maha Agung...,” kata ustadz Amri.
Untuk beberapa saat Todi menangis meluapkan semua perasaannya. Ustadz Amri nampak setia mendampinginya hingga Todi selesai menangis. Kemudian ustadz Amri menyodorkan sehelai sarung dan baju koko kepada Todi lalu mengajaknya sholat berjamaah di musholla itu. Setelahnya Todi menceritakan semua yang terjadi pada dirinya termasuk kejahatan yang telah ia lakukan.
“ Bertobat lah selagi masih ada waktu dan minta maaf lah kepada orang yang telah Kamu sakiti...,” kata ustadz Amri.
“ Saya malu Pak Ustadz...,” sahut Todi.
“ Apa perlu Saya temani...?” tanya ustadz Amri.
“ Ga usah Pak Ustadz, biar Saya aja...,” sahut Todi sambil tersenyum.
“ Bagus. Pergi lah, temui mereka. Sekarang Kamu ikuti jalan ini dan jangan menoleh ke belakang lagi ya...,” kata ustadz Amri.
“ Kenapa Ustadz...?” tanya Todi.
Sepi tak ada jawaban. Saat Todi menoleh ternyata ia tengah berada di sebuah taman kota tepat di pinggir jalan yang ramai. Tak ada musholla, tak ada siapa pun di sana. Hanya ada air mancur di tengah kolam besar yang sekelilingnya berupa rumput yang menghijau.
__ADS_1
Todi mengerjapkan matanya karena tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Saat mengamati dirinya Todi tersenyum karena ia masih mengenakan sarung dan baju koko pemberian ustadz Amri. Sadar jika baru saja masuk ke dimensi lain, Todi pun bergegas meninggalkan taman kota itu dengan satu tujuan yaitu meminta maaf pada Santoso dan keluarganya.
Bersambung