
Nuara baru saja keluar dari kamar saat sang mama melintas sambil membawa banyak belanjaan. Nuara pun tergerak membantu sang mama dan mengikutinya ke dapur.
“ Tumben banyak banget sih belanjaannya Ma...,” kata Nuara.
“ Iya. Bakal ada tamu kehormatan yang datang ke rumah nanti malam. Makanya usahain pulang cepet ya Nak...,” sahut mama Nuara.
“ Ya ga bisa lah Ma. Emangnya itu perusahaan Aku, bisa pulang kapan aja Aku mau...,” kata Nuara sambil tersenyum.
“ Usahain lah Nak. Mama mau Kamu sampe rumah sebelum Maghrib. Jadi pulang kerja langsung pulang dan jangan mampir kemana-mana dulu ya. Ngerti ga...?” tanya sang mama.
“ Insya Allah. Kalo gitu Aku berangkat dulu ya Ma. Assalamualaikum...,” pamit Nuara sambil mencium punggung tangan sang mama.
“ Wa alaikumsalam, hati-hati ya Nak...,” sahut sang mama sambil tersenyum.
“ Ok Ma...,” sahut Nuara sambil mempercepat langkahnya.
Namun Nuara berhenti saat langkahnya hampir mencapai pintu rumah. Ia membalikkan tubuhnya lalu kembali menghampiri sang mama yang nampak asyik menata bahan makanan itu di atas meja.
“ Emang siapa sih tamunya Ma...?” tanya Nuara penasaran hingga mengejutkan sang mama.
“ Astaghfirullah aladziim..., Kamu ngagetin aja sih Ra...,” kata sang mama sambil memegangi dadanya saking
kagetnya.
“ Maaf Ma. Emang siapa tamunya Ma...?” tanya Nuara lagi.
“ Kasih tau ga ya...,” sahut sang mama sambil tersenyum.
“ Ck, apaan sih Mama. Kenapa pake rahasia segala sih...,” kata Nuara kesal.
“ Kakak bakal dilamar nanti malam, makanya ntar harus dandan yang cantik ya...,” sahut adik laki-laki Nuara yang bernama Nando sambil meletakkan gelas kosong di dekat sang mama.
Mendengar ucapan sang adik membuat Nuara terkejut sedangkan sang mama nampak mencubit tangan Nando karena gagal memberi surprise.
“ Nando jangan ember dong...,” sergah sang mama kesal.
“ Ups, sorry Ma. Keceplosan...,” sahut Nando sambil nyengir kuda.
“ Apa itu benar Ma. Ada orang yang bakal melamar Aku malam ini...?” tanya Nuara gusar.
“ Iya Ra. Kenapa memangnya...?” tanya sang mama.
“ Tapi Aku belum mau nikah Ma...,” sahut Nuara menghiba.
“ Kamu udah dewasa Ra, usiamu juga udah cukup. Kalo ada lamaran untukmu dan laki-laki itu orang baik, Mama sama Papa ga punya alasan untuk nolak kan...?” tanya sang mama santai.
“ Tapi Aku ga kenal sama orang itu Ma. Mana mungkin Aku nikah sama dia...?” kejar Nuara.
“ Kalian bisa kenalan saat Kalian menikah nanti...,” sahut mama Nuara.
__ADS_1
“ Lagian kenapa Kamu keukeuh banget nolak lamaran itu Ra. Jangan bilang Kamu udah punya pacar ya di luar sana...?” tanya sang papa tiba-tiba.
“ Bukan gitu Pa. Aku hanya ga suka dijodohin. Aku mau nikah sama laki-laki yang Aku cintai...,” sahut Nuara lirih.
“ Oh boleh aja kalo laki-laki itu ada dan siap untuk nikahin Kamu...,” kata sang papa sambil tersenyum.
Nuara terdiam karena sejujurnya ia memang tak punya pilihan. Tak ada seorang pria pun yang sedang dekat dengannya saat ini. Nuara nampak mengusap wajahnya karena bingung. Melihat hal itu membuat kedua orangtuanya mengerutkan kening.
“ Kamu gapapa kan Ra...?” tanya sang mama hati-hati.
“ Gapapa Ma...,” sahut Nuara lirih.
“ Udah berangkat sana, nanti Kamu terlambat lho...,” kata sang papa mengingatkan.
Nuara mengagguk lalu melangkah keluar rumah dengan langkah gontai.
“ Assalamualaikum Mama, Papa...!” kata sang mama lantang untuk menyindir Nuara yang lupa mengucap salam saat keluar rumah.
“ Iya iya. Assalamualaikum Ma, Pa...,” kata Nuara sambil cemberut.
Kedua orangtua Nuara nampak saling menatap bingung. Nando yang berdiri di samping sang mama pun mencoba mengingatkan kedua orangtuanya.
“ Kayanya Mama sama Papa salah langkah deh. Keliatannya Kakak ga suka dijodohin kaya gitu...,” kata Nando.
“ Hush, Anak kecil ngerti apa sih Kamu...,” sahut sang mama ketus.
“ Aku udah kelas tiga SMA Ma, udah ngerti juga soal cinta. Kalo menurut Aku, lebih baik batalkan aja perjodohan Kakak sama laki-laki itu. Kasian kalo Kakak terpaksa menikah tanpa cinta, bisa-bisa dia ga bahagia nanti...,” kata Nando sambil berlalu.
“ Gimana nih Pa...?” tanya mama Nuara.
“ Gimana lagi Ma, udah terlanjur kan. Masa orang mau bertamu Kita tolak...?” tanya papa Nuara.
“ Tapi Nuara ga suka sama yang Kita lakukan Pa...,” sahut mama Nuara gusar.
“ Kita hanya mempertemukan mereka aja Ma, kalo cocok dan dua-duanya setuju mereka bisa lanjutin. Kalo ga cocok, mereka bisa ngomong baik-baik kan...,” kata papa Nuara.
“ Tapi...,” ucapan mama Nuara terputus.
“ Kamu tenang aja Ma. Aku juga ga bakal bikin Anakku menderita dengan pernikan ini. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Nuara. Dan Aku ga akan maksa Nuara melakukan sesuatu jika dia ga suka atau ga mau...,” sahut papa Nuara menenangkan istrinya.
“ Papa janji ga maksa Nuara ya Pa...,” kata mama Nuara penuh harap.
“ Iya Mama Sayang...,” sahut papa Nuara sambil tersenyum.
“ Makasih Pa...,” kata mama Nuara balas tersenyum.
\=====
Setelah mendengar jika dirinya akan dijodohkan dengan seorang pria tak dikenal, Nuara pun terlihat gelisah. Bahkan hal itu berpengaruh pada kinerja Nuara. Ia beberapa kali melakukan kesalahan hingga membuat rekan kerjanyanya yang bernama Lina pun menegurnya.
__ADS_1
“ Kamu kenapa sih Ra, daritadi salah terus...,” protes Lina.
“ Maaf Lin...,” sahut Nuara.
“ Ga usah minta maaf Ra. Untungnya ini belum Aku serahin ke Bu Hanako. Kalo udah kan alamat Kita kena tegur nanti...,” kata Lina sambil mengecek ulang pekerjaan Nuara.
“ Iya, makasih Lin...,” sahut Nuara sambil berusaha fokus.
Kemudian Lina pun pergi ke ruangan Hanako untuk menyerahkan laporan keuangan yang diminta Hanako. Sedangkan Nuara pergi ke pantry untuk menyeduh teh manis.
Lina yang kebetulan melintas di depan pantry pun terkejut saat melihat Nuara melamun dan membiarkan air panas dari dispenser mengalir kelantai.
“ Ya Allah, airnya luber tuh Ra...!” kata Lina lantang.
“ Eh, iya. Duh kok bisa luber kaya gini sih...,” sahut Nuara gugup.
Nuara bergegas mengambil alat pel untuk mengelap air yang menggenang di lantai hingga kering. Setelahnya Nuara kembali mendekati meja dimana gelas tehnya berada. Lina mengamati Nuara dengan kening berkerut.
“ Kamu lagi ada masalah ya Ra, kok kayanya gelisah gitu...?” tanya Lina sambil menyodorkan tissu kearah Nuara.
“ Mmm, iya Lin. Aku lagi bingung...,” sahut Nuara akhirnya.
“ Bingung ?. Kalo kamu percaya sama Aku, Aku mau kok dengerin keluhanmu itu. Siapa tau Aku bisa bantu. Andai ga bisa bantu juga, tapi lumayan lah bisa meringankan sedikit bebean pikiran Kamu...,” kata Lina menawarkan diri hingga membuat Nuara tersenyum.
“ Aku percaya sama Kamu Lin. Begini, nanti malam ada tamu yang bakal datang ke rumah untuk melamarku...,” kata Nuara sedih.
“ Melamar, itu bagus dong. Usia Kita kan emang udah layak menikah Ra. Terus apa masalahnya...?” tanya Lina.
“ Aku ga kenal sama cowok itu Lin. Aku ga mau nikah sama orang yang ga Aku cintai tapi Aku ga bisa nolak keinginan orangtuaku...,” sahut Nuara sambil menghela nafas panjang.
“ Repot juga ya. Harusnya Kamu bisa kenalin cowok Kamu sama orangtuamu supaya mereka ga maksa Kamu untuk nerima perjodohan ini Ra...,” kata Lina ikut prihatin.
Saat Lina mengucapkan hal itu kebetulan Iyaz tengah melintas dan mendengar semuanya. Iyaz pun terkejut lalu berhenti untuk mendengar jawaban Nuara.
“ Aku ga punya cowok Lin...,” sahut Nuara cepat dan membuat Iyaz tersenyum.
“ Wah ribet banget dong kalo Kamu ga punya alasan sama sekali buat nolak perjodohan itu Ra...,” kata Lina sambil
menggaruk kepalanya karena bingung.
Nuara pun mengangguk sambil mengaduk teh manisnya perlahan dengan wajah sendu.
“ Kalo cowok yang Kamu suka, ada ga...?” tanya Lina.
“ Ada, tapi kan Aku ga mungkin maksa dia buat ngelamar Aku Lin. Lagipula Aku ga tau apa dia punya perasaan yang sama kaya Aku...,” sahut Nuara putus asa.
“ Yang sabar ya Ra. Kita pikirin bareng-bareng gimana jalan keluarnya. Tapi sekarang Kita balik lagi ke meja yuk. Ga enak kalo diliat sama atasan Kita lagi ngobrol di sini, ntar dikira makan gaji buta lho...,” gurau Lina hingga membuat Nuara tersenyum.
Keduanya pun bergegas keluar dari pantry untuk kembali ke meja masing-masing.
__ADS_1
\=====