Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
373. Hancur Lebur


__ADS_3

Setelah selesai berpamitan pada Reno, Oce membalikkan tubuhnya menghadap Faiq dan kedua anaknya. Wajah Oce terlihat siap dan itu membuat Faiq dan kedua anaknya serba salah. Namun mereka terkejut saat melihat kelebatan bayangan merah melesat cepat menuju tubuh Reno yang tengah terbaring itu.


Ketiganya sigap mengejar untuk menghalangi bayangan merah yang dipastikan akan menyakiti Reno itu. Melihat


gerakan Faiq, Iyaz dan Izar yang berusaha melindungi Reno dari sesuatu tak kasat mata membuat Oce tersenyum bahagia karena ia tahu Faiq dan kedua anaknya akan melindungi Reno.


“ Ternyata iblis itu udah datang ya. Saya baru tau ternyata iblis juga bisa jadi ga sabaran kalo bersinggungan dengan masalah tumbal...,” kata Oce sinis.


Mendengar ucapan Oce membuat iblis yang berupa bayangan merah itu berbalik menyerang Oce. Hempasan angin yang kuat pun menerpa tubuh Oce hingga wanita itu membentur dinding dengan keras. Darah segar keluar dari mulut, lubang hidung dan lubang telinga Oce pertanda jika saat itu Oce terluka dalam.


Melihat kondisi Oce yang memprihatinkan membuat Faiq, Iyaz dan Izar pun membagi tugas. Faiq tetap berjaga di samping Reno sedangkan Iyaz dan Izar menyerang iblis merah yang telah menyakiti Oce.


Pertempuran sengit pun terjadi. Benda-benda berjatuhan ke lantai hingga menimbulkan suara bising saat benturan


terjadi. Anehnya Reno tak terusik sama sekali. Iyaz dan Izar pun seolah tak ingin mengalah. Keduanya terus merangsek maju menyerang iblis merah yang berkelabat cepat di dalam ruangan itu. Sedangkan Faiq tampak mengamati pertempuran itu dengan tenang karena yakin kedua anaknya mampu mengalahkan iblis itu.


Sementara itu kondisi Oce kian memburuk. Tubuhnya kian melemah dan makin banyak darah yang keluar dari mulut, hidung dan telinganya. Rupanya tulang Oce patah atau bahkan remuk saat tubuhnya terhempas membentur dinding tadi karena sejak saat itu Oce tak lagi sanggup bergerak meski hanya bergeser sedikit.


“ Sekarang Yaz...!” kata Izar lantang sambil melompat menggapai makhluk merah yang tengah bergelantungan di


lampu kamar itu.


“ Siaapp Zar...!” sahut Iyaz lantang.


Lalu secara bersamaan keduanya mengepung iblis itu dan melemparkan bubuk kayu cendana kearah iblis itu. Suara lolongan terdengar saat bubuk kayu cendana mengenai tubuh makhlu itu. suara berdebum di lantai terdengar sesaat kemudian. Meski pun secara kasat mata tak terlihat apa pun di sana, namun Faiq, Iyaz dan Izar tahu jika makhluk itu terluka parah akibat terkena serangan mereka tadi.


Mereka juga melihat ada cairan kehitaman yang berceceran di lantai dan tengah mengarah ke Oce. Ketiganya


bergerak cepat untuk melindungi Oce, namun sayangnya mereka terlambat. Makhluk itu telah berhasil menguasai tubuh Oce. Menyadari jika waktunya tak banyak lagi, Oce pun mengatakan sesuatu yang membuat Faiq, Iyaz dan Izar terharu.


“ Terima kasih telah membantuku. Tolong pastikan Reno selamat dan hidup layak. Terima kasih...,” kata Oce sambil tersenyum.


Sesaat kemudian tubuh Oce meledak dan  hancur lebur. Namun serpihan tubuhnya tak membekas di kamar itu. Iblis merah itu telah membawa jiwa dan raga Oce ke alamnya untuk mempertanggung jawabkan kelalaiannya.


Faiq, Iyaz dan Izar nampak tertegun sambil berdzikir dalam hati. Ketiganya menatap nanar tempat terakhir tubuh Oce berada. Mereka tak melihat apa pun di sana walau hanya setitik noda darah seolah tak pernah terjadi apa pun di sana. Bahkan ketika mereka menatap ke sekeliling ruangan, ruangan itu terlihat bersih dan semua benda masih berada pada tempatnya semula.


“ Selesai. Akhir yang tragis tapi kenapa sebagian manusia masih ada yang mau mengambil resiko itu...,” kata Izar kesal.


“ Itu karena iman mereka lemah dan malas berusaha...,” sahut Iyaz yang diangguki Faiq dan Izar.


“ Sekarang Kita harus mengurus Reno dan memastikan hidupnya baik-baik aja tanpa Ibunya...,” kata Faiq sambil menatap Reno.


“ Iya Yah...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.

__ADS_1


\=====


Kondisi Reno sepeninggal ibunya makin kritis. Rupanya Reno tahu jika telah terjadi sesuatu yang buruk dan itu


memperburuk kondisinya. Bahkan Reno selalu mengigau dan memanggil nama Qiana berulang kali hingga membuat Iyaz dan Izar bingung.


“ Apa memanggil Qiana bisa membuat Reno sembuh Zar...?” tanya Iyaz hati-hati karena tak ingin melukai perasaan


kembarannya itu.


“ Aku ga tau Yaz, tapi ga ada salahnya dicoba. Cuma masalahnya Qiana mau ga ketemu sama Reno. Yang Aku tau


Qiana terlanjur benci sama Reno karena pernah hampir melecehkannya dulu...,” sahut Izar.


“ Ya jangan dibiarin sendirian nemuin Reno dong. Kamu kan bisa nemenin Qiana saat ketemu sama Reno...,” kata


Iyaz.


“ Ok, nanti Aku coba Yaz...,” sahut Izar.


“ Jangan nanti Zar. Sekarang !. Kamu ga liat kondisi Reno yang mengkhawatirkan itu. Jujur Aku merasa keberatan


kalo harus jagain dia setiap hari. Aku juga kan punya keluarga yang harus Aku perhatiin. Dan Aku ga mungkin bawa Nuara ke sini karena itu ga akan baik untuk bayi Kami...,” kata Iyaz gusar hingga mengejutkan Izar.


“ Nuara hamil Yaz...?” tanya Izar.


“ Wah hebat. Sebentar lagi kembaranku ini jadi Ayah dong. Selamat ya Yaz...,” kata Izar sambil memeluk Iyaz dengan erat.


“ Iya, makasih Zar. Terus Kamu kapan mau nyusul...?” tanya Iyaz sambil membalas pelukan Izar.


“ Insya Allah secepatnya. Doain aja ya Yaz...,” sahut Izar sambil tertawa.


“ Ga usah diminta Aku selalu doain Kamu Zar...,” kata Iyaz sambil menepuk punggung Izar.


“ Iya iya, Aku percaya. Terus apa Kamu udah ngasih tau kehamilan Nuara sama keluarga Kita...?” tanya Izar.


“ Rencananya sore ini Zar. Makanya Aku minta supaya masalah Reno diselesaikan secepatnya biar moment indahku ini ga terganggu...,” sahut Iyaz sambil mencibir.


“ Ok. Aku bakal minta ijin sama orangtuanya Qiana untuk mempertemukan Qiana dan Reno hari ini...,” kata Izar mantap.


“ Bagus. Aku tunggu kabar baiknya ya Zar...,” sahut Iyaz.


“ Siaapp...,” kata Izar sambil tertawa hingga membuat Iyaz ikut tertawa.

__ADS_1


\=====


Menjelang waktu makan siang Qiana dan kedua orangtuanya tiba di Rumah Sakit untuk menemui Reno. Setelah Izar menjelaskan kondisi Reno, mereka pun mengijinkan Qiana menemui pria itu. Izar kembali ke Rumah Sakit untuk mempersiapkan segalanya bersama Iyaz.


“ Assalamualaikum...,” sapa abi Qiana sambil membuka pintu kamar rawat inap Reno.


“ Wa alaikumsalam. Mari silakan masuk...,” sahut Izar ramah.


“Makasih Mas Izar. Kami ikut ke sini karena mau ngeliat langsung laki-laki yang udah hampir melecehkan Qiana


dulu. Gapapa kan Mas...?” tanya abi Qiana.


“ Gapapa Pak. Itu hak Bapak dan Ibu selaku orangtua Qiana...,” sahut Izar sambil melirik kearah Qiana.


Saat itu tatapan Izar dan Qiana kembali bertemu. Keduanya tersenyum namun Qiana segera menundukkan wajahnya karena merasa malu.


Kemudian Izar membawa keluarga Qiana mendekati Reno. Saat Reno membuka matanya dan melihat Qiana, ia pun tersenyum. Bahkan Reno berusaha bangkit dari tidurnya untuk menggapai Qiana.


Qiana yang ketakutan pun bergeser ke belakang hingga tak sengaja membentur tubuh Izar yang kebetulan berdiri di belakangnya. Qiana mendongakkan wajahnya untuk menatap Izar lalu menggelengkan kepalanya seolah minta Izar tak memaksanya untuk mendekati Reno. Izar menganggukkan kepalanya lalu maju mendekati Reno.


“ Kamu tetap di sini atau Qiana pergi dari sini...,” kata Izar sambil menatap Reno lekat hingga membuat Reno terkejut.


“ A... ku mau min... ta ma... af sama Qi...ana...,” sahut Reno terbata-bata dengan suara yang nyaris hilang.


“ Aku tau. Kamu bilang aja dari sini, Qiana dengerin kok. Bilang maaf juga sama Abi dan Umminya Qiana ya...,” kata Izar yang diangguki Reno.


Melihat sikap posessif Izar pada Qiana membuat Iyaz tersenyum diam-diam. Iyaz berharap jika Qiana adalah


pelabuhan hati terakhir Izar.


“ Qi... ana. Ma... af, ma... af. Om Tan... te maaf...,” kata Reno sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Qiana dan kedua orangtuanya nampak saling menatap sejenak lalu mengangguk. Mereka memang membenci perbuatan Reno, namun saat melihat kondisi Reno saat ini justru membuat mereka iba. Hilang sudah Reno yang gagah dan garang itu. Yang tersisa hanya pria besar bertatto yang terbaring lemah tanpa daya di atas tempat tidur.


“ Baik lah, Aku maafin Kamu. Tapi tolong jangan ulangi lagi ya. Kepada siapa pun itu...,” kata Qiana.


“ Iya...,” sahut Reno dengan wajah berbinar.


“ Kami juga maafin Kamu Reno. Tolong jangan ganggu Qiana lagi ya. Datang lah baik-baik sebagai teman, insya


Allah Kami bisa menerimamu. Iya kan Mi...,” kata abi Qiana sambil melirik istrinya.


“ Iya Bi...,” sahut ummi Qiana sambil tersenyum.

__ADS_1


Mendengar ucapan orangtua Qiana membuat Reno, Izar dan Qiana terkejut. Wajah Reno berbinar bahagia. Ia merasa masih memiliki kesempatan untuk mendekati Qiana. Sedangkan Izar nampak sedikit kesal mendengar ucapan orangtua Qiana tadi.


Bersambung


__ADS_2