Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
124. Ketemu Niken


__ADS_3

Izar membuka mata saat tepukanhalus di pipinya membangunkannya. Rupanya sang ayah lah yang membangunkannya dan mengajaknya untuk sholat Subuh berjamaah di masjid dekat penginapan. Izar berusaha bangun namun tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak apalagi berjalan jauh. Hal itu membuat Faiq dan Erik cemas lalu memutuskan agar Izar sholat di penginapan saja.


“ Kalo kaya gini kayanya Kita undur aja kepulangan Kita ke Jakarta ya Pa...,” kata Faiq dalam perjalanan menuju


masjid.


“ Tapi Papa harus pulang Nak, Mama juga. Pekerjaan Kami udah ga sabar menunggu...,” sahut Erik sambil tersenyum kecut.


“ Gapapa, Papa sama Mama bisa pulang duluan. Ntar Anak-anak biar sama Aku dan Shera...,” kata Faiq.


“ Itu lebih baik Nak. Jangan paksa Izar pulang kalo belum sehat...,” sahut Erik sambil menepuk pundak Faiq.


Saat kembali ke penginapan, ternyata mereka disambut oleh Farah yang telah lebih dulu memutuskan untuk mengundur kepulangannya karena iba pada nasib cucunya itu. Erik pun akhirnya mengalah dan ikut mengundur kepulangannya karena tak ingin sendiri di rumah.


\=====


Keluarga Faiq memutuskan sarapan di restoran penginapan saja mengingat kondisi Izar yang masih lemah. Biasanya mereka akan sarapan pagi sambil mencicipi kuliner yang dijual di pinggir jalan dekat penginapan.  Sambil menceritakan mimpinya Izar makan dengan lahap seolah sudah beberapa hari tak makan.


“ Pelan-pelan makannya Nak. Kami ga minta kok...,” goda Shera saat melihat cara makan Izar yang sedikit berbeda.


“ Hmm. Iya Bun. Abisnya Aku lapar banget...,” sahut Izar malu-malu.


Faiq hanya menatap Izar dengan tatapan yang sulit diartikan tanpa menegur Izar yang nampak berbeda dari biasanya. Sesungguhnya Faiq, Hanako dan Iyaz melihat ada sesuatu yang tengah mengikuti Izar. Dan itu adalah hal yang buruk. Mereka cemas namun hanya bisa menunggu ‘sesuatu’ itu memperlihatkan diri.


“ Terus setelah kematian Suharsa apa yang terjadi Zar...?” tanya Iyaz penasaran.


“ Ga ada...,” sahut Izar sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


“ Ga ada, kok bisa...?” tanya Hanako tak mengerti.


“ Iya. Karena si Inar pergi entah kemana. Warga kampung mendengar kalo si Inar itu juga bikin grup tari sendiri dan kaya raya sekarang. Tapi di kota mana persisnya, Aku juga ga tau...,” sahut Izar.


Semua terdiam dan tak membahas tentang mimpi Izar lagi. Tanpa mereka sadari seorang nenek berhijab dan bergamis serba hitam duduk tak jauh dari mereka dan mendengar semua percakapan mereka. Tiba-tiba dia menyela dengan ucapan yang mengejutkan Faiq dan keluarganya.


“ Dia ada di kota ini...,” kata nenek itu sambil melangkah menghampiri Faiq dan keluarganya hingga membuat mereka menoleh.


“ Maaf, maksud Nenek apa ya...?” tanya Shera santun.


“ Maksud Saya, Inar yang Kalian bicarakan tadi ada di kota ini...,” sahut nenek berpakaian serba hitam itu sambil tersenyum.


“ Nenek kenal sama Inar itu...?” tanya Iyaz tak percaya.


“ Iya, karena Saya lah Niken...,” sahut nenek itu dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar pengakuan nenek itu membuat Faiq terkejut sekaligus senang. Kemudian Faiq berdiri lalu menarik sebuah kursi kosong agar sang nenek bisa duduk bersama mereka.


“ Saya ga keberatan membantu Kalian, asal belikan Saya segelas kopi hitam dan roti bakar. Saya belum sarapan pagi ini...,” sahut nek Niken sambil tersenyum.


Mendengar permintaan sederhana nek Niken membuat Faiq dan keluarganya tertawa. Hanako memanggil pelayan restoran untuk menyampaikan permintaan nek Niken tadi. Nek Niken yang tahu jika Hanako juga memiliki kelebihan itu pun nampak tersenyum sambil menatap wajah cantik Hanako.


Sambil menunggu pesanan nek Niken, mereka pun melanjutkan sarapan yang sempat terhenti tadi sambil membahas masa lalu nek Niken.


“ Maaf, apa Nenek yakin jika Kita membahas orang yang sama...?” tanya Farah hati-hati.


“ Tentu saja. Ini adalah foto Suharsa mantan Suamiku yang menceraikan Aku di malam pertama pernikahan Kami. Kalian bisa liat sendiri...,” kata nek Niken sambil menyodorkan foto lama itu kearah Izar.

__ADS_1


Izar mengamati foto usang yang berwarna hitam putih di tangannya itu beberapa saat lalu menganggukkan kepala.


“ Ini mereka Yah. Orang yang sama kaya yang ada di mimpi Aku semalam...,” kata Izar antusias.


Mendengar pengakuan Izar membuat nek Niken tersenyum sambil meneguk kopinya.


“ Foto itu diambil usai Kami pentas waktu itu. Ini Aku, yang di samping kananku adalah Kang Suharsa. Nah, di belakang Kang Suharsa ini si Inar. Yang ini Dewi dan ini Wardi. Sisanya adalah pemain musik gamelan yang mengiringi tarian Kami waktu itu...,” kata nek Niken memperkenalkan siapa saja yang ada dalam foto hitam putih itu.


“ Jadi kemana Nenek setelah menghilang tanpa jejak itu...?” tanya Faiq tanpa membuang waktu.


“ Aku pergi jauh keluar kota, entah kota apa namanya. Pokoknya Aku pergi tanpa arah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku Aku membantu orang di pasar. Mulai dari memilah sayuran sampe cuci piring di warung makan. Dari pekerjaan serabutan itu Aku dapat uang yang bisa kugunakan untuk membeli makanan. Malam hari Aku tidur di emperan toko sambil menunggu sayuran datang untuk disortir lagi. Dan di sana lah Aku berkenalan dengan supir truk sayur bernama Mahfud. Dia pria yang baik dan menawariku tempat tinggal yang tak jauh dari pasar. Tapi karena Aku masih trauma dengan laki-laki, Aku menolaknya dengan kasar. Bagiku saat itu semua laki-laki adalah orang yang breng*ek dan tak bertanggung jawab. Namun Mahfud begitu sabar menghadapiku, hingga lama kelamaan Aku luluh dan mau menerima tawarannya. Namun Aku mengajukan syarat jika dia harus menikahiku lebih dulu baru Aku mau ikut dengannya. Ternyata dia setuju dan Kami pun menikah...,” kata nek Niken sambil tersenyum saat mengenang pertemuannya dengan sang suami.


“ Wah Nenek hebat banget. Kalo gini mah namanya Nenek yang melamar dan bukannya dilamar...,” gurau Hanako hingga membuat semua tertawa.


“ Nenek ga bodoh Cu. Nenek ga mau hidup dengan laki-laki asing tanpa ikatan. Ternyata Mahfud sebenarnya memang ingin menikahi Nenek tapi ga tau bagaimana cara mengungkapkan keinginannya itu. Makanya waktu Nenek tantang untuk menikah dia langsung setuju...,” sahut nek Niken sambil memasukkan potongan roti bakar ke dalam mulutnya.


“ Oh, sebenarnya tawaran rumah yang diajukan Suami Nenek itu adalah bentuk rumah secara harfiah ya Nek. Beliau ngajak Nenek untuk berumah tangga tapi Nenek salah tanggap...,” kata Shera di sela tawanya.


“ Iya. Aku yang terlanjur emosi saat itu langsung meradang saat ada seorang laki-laki nawarin rumah buat Aku tempati sama dia. Dasar sableng, maklum lah orang pasar. Jadi ga tau cara merayu wanita...,” sahut nek Niken sambil tertawa.


“ Terus apa Nenek ga pernah pulang ke kampung setelah menikah dengan Suami Nenek itu...?” tanya Izar penasaran.


“ Nenek pulang ke kampung saat akan menikah, kan harus minta restu sama orangtua waktu itu. Saat itu setengah tahun setelah kepergian Kang Harsa...,” sahut nek Niken sambil menunduk.


“ Apa ga ada satu warga pun yang tau kemana perginya mantan Suami Nenek itu...?” tanya Faiq.


“ Ga ada. Aku pun baru dengar cerita sesungguhnya saat Anakmu cerita tadi. Aku ga tau, saat melihat Kalian Aku merasa ada kekuatan ghaib yang memaksaku untuk mengikuti Kalian. Aku di sini bersama Anakku dan Istrinya. Mereka sengaja mengajakku berlibur tapi Aku terlalu lelah mengikuti mereka, makanya Aku milih tinggal di penginapan aja. Eh ga taunya malah ketemu sama Kalian...,” sahut nek Niken.

__ADS_1


Faiq menganggukkan kepalanya tanda mengerti meski pun ia tahu tak ada yang kebetulan di dunia ini. Faiq menganggap pertemuan mereka dengan nek Niken adalah petunjuk dari Allah agar Izar bisa kembali pulih.


\=====


__ADS_2