
Keluarga Sydra masih berusaha membangunkan Sydra. Karena tak kunjung siuman, maka sang ayah memutuskan memanggil seorang ulama terkenal di lingkungan mereka bernama Maher untuk membantu menyadarkan Sydra. Pak Maher pun mengajak beberapa jamaah untuk membantunya. Ada lima orang yang diajak Pak Maher dan Iyaz ada diantara mereka.
Saat Pak Maher dan rombongan tiba di rumah orangtua Sydra kedua saudara Sydra pun berdiri menyambut.
“ Assalamualaikum...,” sapa pak Maher dan rombongan.
“ Wa alaikumsalam Pak Maher...,” sahut kedua saudara Sydra.
Keduanya berdiri lalu mencium punggung tangan sang ulama dengan khidmat kemudian menjabat tangan lima orang lainnya bergantian.
“ Mari silakan masuk Pak, Sydra ada di dalam...,” kata ibu Sydra dengan mata sembab.
“ Baik Bu...,” sahut pak Maher sambil tersenyum.
Mereka pun mengajak pak Maher masuk ke ruang tengah untuk menemui Sydra. Sang ulama nampak mengerutkan keningnya saat melihat wajah Sydra yang memucat dengan leher yang terluka.
“ Apa yang terjadi sama Sydra Pak. Terus luka ini...,” ucapan pak Maher terputus saat ayah Sydra menjawab cepat.
“ Saya ga tau Pak, seingat Saya tadi lukanya belum separah itu...,” sahut ayah Sydra.
“ Astagfirullah aladziim...,” kata pak Maher sambil menggelengkan kepalanya.
Kemudian pak Maher meminta kelima orang yang datang bersamanya untuk membaca Al Qur’an dan berdzikir. Sedangkan keluarga Sydra diminta berdzikir. Ibu Sydra diminta menjauh karena saat itu sedang kedatangan tamu bulanan. Awalnya sang ibu protes, namun setelah pak Maher memberi penjelasan ia pun mengerti.
“ Kok beliau bisa tau kalo Aku lagi datang bulan ya Yah...?” tanya ibu Sydra sambil berbisik.
“ Pak Maher kan punya indra keenam Bu. Makanya beliau tau kalo Kamu lagi berhalangan. Dan darah itu malah bikin makhluk halus yang ganggu Sydra makin liar karena merasa diundang dan ga mau pergi nanti. Udah nurut aja biar Sydra bisa cepat sembuh...,” kata ayah Sydra.
“ Iya Yah...,” sahut ibu Sydra pasrah lalu menjauh dari tubuh Sydra.
Saat berdzikir Iyaz mengedarkan pandangannya dan melihat ada dua hantu pria yang tengah berdiri dekat dengan Sydra sambil terus mengamati Sydra. Mereka adalah hantu Gavin dan Urai. Saat mereka melihat Iyaz tengah menatap mereka, kedua hantu itu tersenyum lalu menjauh dari Sydra.
Dan hal aneh pun terjadi. Saat kedua hantu itu menjauh, luka di leher Sydra pun perlahan memudar dan hilang sama sekali. Semua yang melihat hal itu pun bernafas lega sambil terus melanjutkan bacaan Al Qur’an yang mereka lantunkan.
Tak lama kemudian Sydra pun mulai siuman. Ia merintih lalu membuka matanya. Mata yang baru saja terbuka itu nampak menatap nanar ke sekelilingnya seolah mencari sesuatu.
“ Sydra..., Sydra..., Kamu kenapa...?” tanya ayah Sydra.
“ Ada..., ada hantu Yah. Mereka ngikutin Aku, Aku takuutt...,” sahut Sydra sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
Melihat gerakan Sydra yang tiba-tiba itu membuat semua orang terkejut namun mereka berusaha maklum. Ayah Sydra mencekal tangan anaknya itu agar tetap duduk di dekat pak Maher.
“ Duduk di sini. Ustadz mau doain Kamu biar ga gampang pingsan lagi...,” kata ayah Sydra gemas.
“ Tapi Aku pingsan kan ada sebabnya Yah...,” sahut Sydra.
“ Apa sebabnya...?” Tanya ayah Sydra.
“ Hantu Yah. Aku ngeliat hantu di kamar tadi. Bukan cma satu tapi dua...,” sahut Sydra dengan wajah memelas.
“ Kok bisa ada hantu di kamar Kamu, padahal selama ini rumah Kita kan ga pernah didatengin hantu atau sejenisnya. Pasti Kamu udah melakukan sesuatu yang bikin para hantu marah dan ngikutin Kamu...,” kata ayah Sydra.
“ Mereka itu hantu temanku yang meninggal karena bunuh diri Yah. Aku juga ga ngerti kenapa mereka ngikutin Aku. Kemarin Aku juga ketemu hantu di gudang pabrik, tapi cuma satu. Kok sekarang malah dua-duanya datengin Aku...,” keluh Sydra.
Ucapan Sydra membuat semua orang terkejut. Iyaz ingin bicara namun sengaja menahannya karena tak ingin memperkeruh suasana. Setelah pak Maher mendoakan dan menasehati Sydra, mereka pun pamit.
\=====
Iyaz tengah melangkah pulang kearah rumah kost usai membantu ustadz Maher tadi. Saat itu sudah pukul sepuluh malam. Iyaz berjalan santai sambil terus berdzikir. Di jalan Iyaz berpapasan dengan tetangga di sekitar tempat kostnya.
“ Cepat pulang ya Nak, bahaya kalo udah malam kaya gini. Apalagi belum lama ada yang meninggal tak wajar di sekitar rumah Kita...,” kata seorang pria sambil mengendarai motor.
“ Kami duluan ya Nak, Assalamualaikum...,” kata istri pria itu dengan mimik ketakutan sambil menepuk pundak suaminya.
“ Silakan Bu, wa alaikumsalam...,” sahut Iyaz.
Iyaz melepas kepergian pasangan suami istri yang menyapanya tadi sambil tersenyum. Bagaimana tidak. Hantu yang mereka bicarakan itu ternyata sedang berdiri tak jauh dari mereka dan tengah menatap kearah mereka. Kemudian Iyaz melanjutkan perjalanannya menuju rumah kost.
“ Kalian liat sendiri gimana takutnya warga sama Kalian. makanya jangan suka gangguin orang lain...,” kata Iyaz.
“ Kami ga bermaksud nakutin mereka kok...,” bantah hantu Urai.
“ Walau pun Kalian ga bermaksud nakutin mereka, tapi cara Kalian nongol ke hadapan mereka dengan cara tiba-tiba dan dengan penampilan Kalian yang kaya gini aja udah bikin mereka takut...,” kata Iyaz sambil membuka pintu pagar.
“ Kami harus gimana dong. Kami memperlihatkan diri kan karena Kami ingin mereka nolongin Kami...,” sahut hantu Gavin.
“ Memangnya Kalian mau minta tolong apa...?” tanya Iyaz sambil menyandarkan tubuhnya di dinding rumah kost.
Kedua hantu di hadapan Iyaz nampak saling menatap lalu tersenyum.
__ADS_1
“ Kami ini mati dibunuh bukan bunuh diri...,” kata hantu Gavin.
“ Sudah Kuduga, terus apa lagi...?” tanya Iyaz.
“ Tapi yang membunuh Kami bukan orang...,” kata hantu Urai.
“ Kalo bukan orang terus siapa, hantu...?” tanya Iyaz hampir tertawa.
“ Iya...,” sahut hantu Gavin dan Urai bersamaan hingga mengejutkan Iyaz.
“ Masa sih...?” tanya Iyaz tak percaya.
Hantu Gavin dan Urai menganggukkan kepalanya. Lalu mereka mulai menceritakan kronologi kematian mereka dan Iyaz nampak mendengarkan dengan seksama.
“ Aku ga tau darimana asal tali yang melingkari leherku itu. Tau-tau Aku udah ada tali di leherku dan Aku ditarik ke atas lalu mati...,” kata hantu Gavin sedih.
“ Aku juga sama. Waktu mau keluar dari kamarku, tau-tau ada tali yang melingkari leherku. Aku udah berusaha menghindari tali itu dan awalnya berhasil. Tapi tali itu terus ngejar Aku. Karena lari tanpa melihat ke depan Aku tersandung dan jatuh tersungkur di depan lemari. Tiba-tiba tali itu melingkari leherku begitu aja. Aku ditarik dengan cepat kearah pintu lalu ditarik ke atas hingga menggantung. Ga lama kemudian Aku juga mati...,” kata hantu Urai tak kalah sedih.
“ Jadi Kamu bukan mati karena depresi dan gantung diri...?” tanya Iyaz mencoba meyakinkan.
“ Aku emang patah hati karena kekasihku dinikahkan dengan pria lain oleh orangtuanya. Tapi Aku masih punya akal sehat dan ga bakal sebodoh itu bunuh diri hanya gara-gara perempuan...,” sahut hantu Urai kesal.
“ Maaf kalo membuatmu tersinggung, Aku cuma denger dari orang tentang kematianmu...,” kata Iyaz.
“ Gapapa...,” sahut hantu Urai sambil tersenyum.
“ Apa Kamu bisa membantu Kami...?” tanya Gavin.
“ Insya Allah...,” sahut Iyaz.
“ Terima kasih...,” kata hantu Gavin dan Urai bersamaan.
“ Jangan terima kasih dulu, Aku kan belum melakukan apa-apa...,” kata Iyaz tak enak hati.
“ Berkomunikasi denganmu dan menceritakan keluhan Kami juga bentuk bantuan kan...,” kata hantu Gavin yang diangguki hantu Urai.
“ Ok, terserah Kalian aja deh. Sekarang Aku harus masuk ke dalam. Janji jangan nongol kaya gini lagi di depan orang lain ya...,” kata Iyaz sebelum masuk ke dalam rumah.
Hantu Gavin dan Urai mengangguk lalu menghilang setelah Iyaz masuk ke dalam rumah kost.
__ADS_1
\=====