Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
140. Menghadang


__ADS_3

Faiq akan melangkah keluar kamarnya saat Izar berdiri di ambang pintu kamar. Faiq tersenyum saat membuka pintu karena tahu apa yang akan Izar bicarakan dengannya.


“ Ga sabaran banget sih Nak...,” goda Faiq sambil tersenyum.


“ Apaan sih Ayah. Aku cuma mau nanya Kita berangkat jam berapa ke rumahnya Tiara besok...?” tanya Izar malu-malu.


“ Insya Allah siang bada Zuhur  aja ya Nak. Ayah mau ngajak Opa Fatur biar sekalian ikut bantuin bersihin semuanya...,” sahut Faiq.


“ Ok deh...,” kata Izar sambil mengangguk.


“ Jadi masalahnya apa lagi kali ini...?” tanya Erik sambil meletakkan cangkir kopi yang dibawanya ke atas meja.


“ Tiara itu ternyata dicintai jin Opa. Mereka malah udah nikah segala lho Opa...,” sahut Izar sambil duduk di samping Erik.


“ Oh ya, kasian banget ya gadis itu. Papa jadi inget sama Tante Rara anaknya Oma Uun. Dia juga dulu sempat dicintai sama jin dan hampir dinikahi jin. Untungnya Om Irfan datang dan berhasil mematahkan pengaruh buruk itu...,” kata Erik bernostalgia.


“ Iya, Papa benar. Ternyata cinta tulus Om Irfan berhasil membawa Tante Rara keluar dari perangkap jin itu...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Ya Allah, terus gimana nasib pernikahan mereka Opa...?” tanya Izar penasaran.


“ Alhamdulillah mereka baik-baik aja kok sampe sekarang. Ga ada yang aneh, semua normal. Bahkan Tante Rara juga bisa hamil dan melahirkan dengan normal...,” sahut Erik.


“ Alhamdulillah, senang dengarnya...,” kata Izar lega.


“ Kenapa Kamu ngomong kaya gitu Nak. Apa Kamu juga khawatir sama Tiara...?” tanya Farah.


“ Ah ga kok Oma. Aku cuma ngerasa kasian aja sama Tiara. Jangan sampe pernikahannya dengan iin malah menghambat dia untuk menemukan jodohnya...,” sahut Izar.


“ Kok sampe mikirin jodoh orang segala sih. Kenapa Kamu ga nyoba mikirin jodohmu sendiri yang belum keliatan sampe sekarang...,” sindir Farah.


“ Ish, apaan sih Oma. Aku kan laki-laki, masih muda, masih mau belajar, masih banyak yang mau Aku kejar. Aku belum mikirin jodoh apalagi nikah...,” sahut Izar sambil cemberut.

__ADS_1


“ Emangnya Kamu ga tertarik sama Tiara...?” tanya Shera.


“ Ga Bun. Tiara bukan type Aku...,” sahut Izar cuek sambil melangkah ke kamarnya.


Jawaban Izar sontak membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut lalu tertawa. Mereka tak menyangka jika Izar yang terlihat cuek itu pun punya type wanita yang ingin dia nikahi.


\=====


Faiq, Fatur dan Izar tiba di rumah Santoso menjelang Zuhur. Kedatangan mereka pun disambut hangat oleh keluarga Santoso. Namun kali ini hanya ada Santoso, Yamini dan Tiara di rumah itu sesuai permintaan Faiq.


“ Saya ga mau pernikahan Tiara dengan jin menjadi konsumsi publik atau orang lain yang ga berkepentingan. Saya khawatir mereka yang ga ngerti malah bikin ini jadi berita besar dan membuat Tiara ga nyaman. Bagaimana pun Kita harus menjaga privacy Tiara selaku korban...,” kata Faiq beralasan.


“ Kami mengerti dan setuju dengan apa yang Pak Faiq maksud. Terima kasih karena udah mau melindungi Tiara dan menutupi aibnya ini...,” kata Santoso dengan tulus.


“ Sama-sama..., sebaiknya Kita mulai setelah melaksanakan sholat Zuhur nanti ya Pak...,” sahut Faiq yang diangguki Santoso dan keluarganya.


Setelah menunaikan sholat Zuhur berjamaah di musholla dekat rumah Santoso, mereka pun mulai meruqyah Tiara.


Sesaat kemudian alunan suara merdu Izar pun terdengar. Begitu lembut dan menanangkan hingga membuat semua orang hanyut dalam ketenangan. Tiara pun demikian. Bahkan ia hampir memejamkan matanya karena terlena dengan suara merdu Izar. Namun Tiara membuka matanya dengan cepat saat mendengar sebuah suara lirih yang memanggil namanya dari sudut ruangan. Tiara nampak menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sumber suara itu karena tak melihat siapa pun di sana.


“ Tiaraaa..., Tiaraaakuuu...,” panggil suara tanpa wujud itu.


Izar menghentikan bacaannya lalu menatap ke sudut ruangan dimana makhluk yang memanggil Tiara tengah berdiri menatap Tiara. Penampilan makhluk itu sedikit berbeda. Ada luka bakar di wajah dan sebagian tubuhnya akibat perlawanan yang ia lakukan dua hari yang lalu.


“ Lanjutkan Nak...,” bisik Faiq mengingatkan Izar.


Izar mengangguk lalu melanjutkan bacaannya hingga membuat makhluk itu berdiri gelisah karena terganggu dengan lantunan ayat suci al Qur’an yang dibaca Izar.


“ Dia..., dia datang Bu...,” kata Tiara dengan suara tercekat sambil merapat pada Yamini.


“ Kamu jangan takut ya Nak. Kami bersamamu...,” sahut Yamini menguatkan Tiara sambil memeluk gadis itu erat padahal dia sendiri merasa sangat takut di saat yang sama.

__ADS_1


“ Terus berdzikir Nak, jangan berhenti. Fokus dan ingat lah kalo Allah pasti akan menolong hambaNya yang meminta pertolongan dengan sungguh-sungguh...,” kata Santoso sambil mengusap kepala Tiara.


Mendapat suport dari kedua orangtuanya membuat Tiara lebih kuat, ia mengangguk lalu kembali berdzikir. Hal itu tentu saja membuat makhluk berkepala botak yang sejak tadi mengintai Tiara marah. Dengan mengeluarkan suara geraman bak hewan terluka makhluk itu pun melompat kearah Tiara dengan kedua tangannya yang terkembang seolah siap meraup tubuh Tiara.


Braakkk !.


Terdengar suara berdebum yang sangat keras seolah ada benda berat dan besar yang jatuh tepat di tengah rumah itu. Yamini memberanikan diri menatap ke atas tempat suara itu terdengar tadi namun ia tak melihat apa pun di sana dan itu membuat bulu kuduk Yamini meremang. Kemudian Yamini kembali menundukkan wajahnya dan berdzikir sambil memeluk Tiara.


Sedangkan Fatur, Faiq dan Izar justru melihat jika tubuh makhluk itu terpental jauh seolah baru saja membentur dinding tak kasat mata yang membentang melindungi Tiara. Nampaknya benturan yang keras tadi juga mengakibatkan makhluk itu terluka dalam karena ada darah kehitaman yang keluar dari sudut bibirnya. Kini makhluk itu bangkit sambil mengaum marah.


Lalu dengan kekuatan penuh makhluk itu kembali melompat menerjang Tiara yang ada dalam pelukan Yamini dan Santoso. Kali ini Faiq tak tinggal diam. Bersama Fatur ia menghadang serangan makhluk itu dengan kedua telapak tangan terkembang. Tak menyangka dirinya dihadang oleh Faiq dan Fatur membuat makhluk itu terkejut lalu terpelanting ke lantai dengan keras dengan wajah yang mendarat lebih dulu.


Makhluk itu menjerit keras dan membuat suasana tenang dalam rumah itu menjadi kacau. Lantai tempat makhluk


itu terjatuh pun nampak melesak ke dalam seolah ada benda berton-ton yang jatuh di sana tadi. Santoso melirik lantai yang melesak dan mengepulkan asap itu dengan jantung berdebar. Bisa dibayangkan sebesar apa makhluk yang mengincar Tiara dilihat dari bekas jatuh yang ditinggalkan oleh makhluk itu di lantai rumahnya. Santoso pun mempererat pelukannya untuk melindungi anak dan istrinya.


Makhluk berkepala botak itu nampak berusaha kembali bangkit namun terhalang oleh kekuatan Faiq dan


Fatur yang menghadangnya. Faiq dan Fatur terlihat mendekati lantai yang melesak itu padahal yang sesungguhnya terjadi adalah mereka menghampiri makhluk itu sambil bersholawat.


Keduanya lalu menaburkan bubuk kayu gaharu di atas lantai yang melesak itu. Wangi kayu gaharu menyeruak di dalam ruangan menimbulkan rasa nyaman bagi siapa pun yang menghirup aromanya.


Namun hal itu tak berlaku untuk makhluk itu. Ia justru melolong kesakitan saat terkena bubuk gaharu itu. Kedua mata makhluk itu pecah saat terkena bubuk gaharu, kulit tubuhnya yang lentur itu pun menyusut drastis, darah kehitaman nampak menggenang di lantai tepat dimana makhluk itu meregang nyawa.


“ Allahumma sholli ala sayyidina Muhammadin wa ala alii sayyidina Muhammad...,” gumam Faiq dan Fatur berulang-ulang sambil menaburkan bubuk gaharu ke penjuru ruangan dengan tenang.


Gusraakkk !.


Terdengar suara benda besar dan berat merosot jatuh ke lantai lalu hening bersamaan dengan berakhirnya lantunan ayat suci al Qur’an yang dibaca Izar. Sesaat kemudian asap hitam nampak melayang di atas tubuh Tiara, berputar sesaat di atas kepala Tiara lalu terbang menghilang bersama angin sore yang menyeruak masuk ke dalam rumah.


\=====

__ADS_1


__ADS_2