
Todi berdiri mematung di depan pagar rumah Santoso. Sudah sepuluh menit dia berdiri di sana dengan perasaan tak menentu. Ada rasa haru, takut dan rindu yang memenuhi hatinya saat itu.
Todi kembali mengingat saat Tiara mengatakan jika Santoso dan Yamini mengundangnya makan malam, perasaan Todi bahagia bukan kepalang kala itu. Sepanjang hari ia selalu tersenyum seolah baru saja menang lotre. Hal itu membuat beberapa rekan kerjanya bingung namun ikut senang saat Todi menceritakan sebabnya.
“ Selamat ya Bro, semoga ini jadi awal yang baik. Hubungan saudara emang kaya gitu, gampang hancur tapi gampang utuh lagi. Yah, tinggal pandai-pandainya Kita aja buat merawatnya supaya tetap awet...,” kata rekan kerja Todi.
“ Setelah ini yakinkan mereka kalo Lo ga bakal buat mereka kecewa lagi ya Tod. Apalagi Kakak perempuan Lo itu sayang benget sama Lo...,” kata yang lain.
“ Iya, pasti...,” sahut Todi sambil tersenyum.
Todi menghela nafas panjang sebelum maju untuk menekan bel rumah. Sesaat kemudian wajah Tiara nampak menyembul di balik pintu.
“ Om Todi, ayo masuk Om...,” sapa Tiara sambil tersenyum.
“ Iya...,” sahut Todi ragu sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya dulu.
Todi menghirup dalam-dalam aroma khas rumah yang selalu membuatnya nyaman sejak dulu hingga sekarang itu dengan hati-hati. Tiba-tiba sebuah suara yang lama ia rindukan menyebut namanya.
“ Todi...,” panggil Yamini dari ambang pintu ruang makan.
Todi menoleh lalu melangkah cepat kearah Yamini yang nampak merentangkan kedua tangannya itu. Kemudian Todi menghambur memeluk Yamini dengan erat dan kini keduanya pun menangis hingga membuat Santoso dan Tiara terharu.
“ Maafin Aku Kakak...,” kata Todi sambil menangis dan bersimpuh di hadapan Yamini.
“ Iya, Kakak udah maafin Kamu Todi...,” sahut Yamini di sela isak tangisnya.
Beberapa saat kemudian Todi mengurai pelukannya dan beralih menatap Santoso yang berdiri gagah di samping Yamini.
“ Maafin Aku Mas...,” kata Todi sambil mencium punggung tangan Santoso dengan khidmat.
__ADS_1
“ Sama-sama Tod. Mas juga minta maaf karena udah kasar sama Kamu...,” sahut Santoso sambil memeluk Todi erat.
Untuk sesaat suasana dalam ruangan itu didominasi dengan suara tangisan. Tiara tersenyum melihat ketiga orang yang disayanginya itu bisa kembali akur.
“ Ehm, kapan Kita makannya kalo nangis terus kaya gini...,” kata Tiara hingga menyadarkan semua orang.
“ Oh iya. Ibu sampe lupa Nak. Ayo, ajak Om Todi ke ruang makan. Kita makan sekarang...,” kata Yamini sambil mengusap air matanya.
“ Siap Bu, ayo Om...,” ajak Tiara sambil menggamit tangan Todi dan membawanya masuk ke ruang makan.
Malam itu mereka kembali berkumpul di ruang makan dalam suasana kekeluargaan yang kental. Tak ada lagi tangis kesedihan. Yang ada hanya tawa bahagia yang memenuhi penjuru ruangan. Sesekali Yamini mencuri pandang kearah Todi seolah tak berani menatap wajahnya.
Dari tempat duduknya Yamini melihat ada bekas luka di wajah Todi. Yamini ingat jika wajah Todi tak seperti itu dulu. Menyadari jika sang kakak memperhatikan bekas luka di wajahnya membuat Todi tersenyum.
“ Luka ini Aku dapat saat jin yang dikirim dukun itu gagal menjalankan tugasnya Kak...,” kata Todi.
“ Eh, apa maksudmu...?” tanya Yamini tak enak hati karena tak ingin mengorek luka lama diantara mereka yang baru saja berdamai.
“ Alhamdulillah..., apa lukanya ga bisa hilang Tod...?” tanya Yamini.
“ Kayanya ga bisa Kak. Tapi gapapa. Luka ini sekalian ngingetin Aku supaya ga melakukan kejahatan lagi ke depannya...,” sahut Todi santai.
Yamini dan Santoso pun mengangguk tanda setuju dengan pendapat Todi. Kemudian mereka pindah ke ruang tengah dan melanjutkan perbincangan mereka di sana.
“ Ehm, ada hal penting yang mau Aku sampein malam ini sama Kakak dan Mas...,” kata Todi.
“ Apa...?” tanya Santoso dan Yamini bersamaan.
“ Aku mau menikah...,” sahut Todi malu-malu.
__ADS_1
“ Menikah...?” tanya Yamini tak percaya.
“ Iya Kak. Kenapa muka Kakak kaya gitu, apa Kakak ga percaya kalo Aku bakal menikah. Atau karena wajahku yang buruk ini bikin Kakak ragu kalo ada cewek yang mau sama Aku...?” tanya Todi sambil cemberut hingga membuat Santoso dan Tiara tertawa.
“ Bukan, bukan gitu maksud Kakak...,” sahut Yamini panik sambil berusaha membujuk Todi.
“ Jadi siapa wanita yang udah bikin Kamu ingin menikah Tod...?” tanya Santoso di sela tawanya.
“ Namanya Hani Mas. Sama seperti namanya yang artinya madu dalam bahasa Inggris, Hani ini juga orangnya manis Mas. Kata-katanya manis, pokoknya semua yang ada di dirinya itu kesannya manis Mas...,” gurau Todi.
“ Semanis madu...?” tanya Tiara tak percaya.
“ Ck, Kamu ga percaya. Ok, besok Om bakal bawa ke sini dan kenalin sama Kalian. Jangan kaget ya kalo Om bisa juga dapat cewek manis untuk Om nikahi...,” kata Todi sambil membulatkan matanya hingga membuat Tiara tertawa.
“ Jangan terbuai sama penampilan fisiknya aja Tod. Akhlak dan imannya yang terpenting. Kalo penampilan fisik mah bisa ditutupin pake make up mahal, tapi kalo ahlak dan iman itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari...,” kata Santoso mengingatkan.
“ Iya Mas...,” sahut Todi.
“ Betul Yah. Dia juga harus bisa menemanimu dalam suka dan duka Tod. Jangan hanya pas senang ditemenin eh giliran susah ditinggalin...,” kata Yamini menambahkan.
“ Iya Kak...,” sahut Todi.
Malam itu Todi kembali mendapat petuah bijak dari Santoso dan Yamini. Hal yang telah lama hilang dari hidupnya kini kembali Todi dapatkan. Ia nampak mendengarkan dengan serius semua petuah itu tanpa mau menyela. Dalam hati Todi bahagia karena bisa kembali mendengar ‘ocehan’ sang kakak yang dulu baginya seperti kaleng rombeng tapi kini seperti suara dawai yang merdu dan menenangkan.
Setelah merasa cukup Todi pun pamit. Ia berjanji akan kembali dengan membawa calon istri yang ia ceritakan tadi. Santoso, Yamini dan Tiara pun melepas kepergian Todi dengan perasaan bahagia.
“ Semoga Todi bahagia dengan pilihannya dan bisa berumah tangga dengan baik nanti...,” kata Yamini sambil menatap punggung Todi yang kian menjauh.
“ Aamiin...,” sahut Santoso dan Tiara bersamaan.
__ADS_1
Santoso,Yamini dan Tiara masih berdiri di teras rumah hingga sosok Todi menghilang ditelan kegelapan malam.
\=====