
Wajah Pieter nampak merah padam karena malu. Ia malu karena ada orang lain yang mengetahui kelemahannya. Ia juga terkejut karena Faiq mengetahui masa lalunya yang telah berusaha ia tutup rapat-rapat.
“ Darimana Anda tau soal sumpah yang Kuucapkan itu...?” tanya Pieter penasaran.
“ Arwah Malini yang bilang padaku...,” sahut Faiq santai.
“ Ar..., arwah Malini. Maksudmu Malini sudah meninggal...?” tanya Pieter dengan suara bergetar.
“ Iya. Malini meninggal delapan tahun yang lalu tepat saat Kau menikahi Thalia...,” sahut Faiq.
Pieter terkejut dan langsung jatuh terduduk di samping mobilnya. Faiq, Iyaz dan Izar pun bergegas mendekati Pieter untuk memastikan kondisi Pieter.
Tiba-tiba Pieter menangis. Entah mengapa mendengar Malini meninggal dunia membuatnya sangat sedih dan terpukul. Padahal dulu ia sangat membenci Malini dan mencoba menyingkirkan wanita itu dari hidupnya.
“ Malini..., Aku ga percaya Kamu mati semudah itu. Bukankah saat Aku mencoba membuatmu mati Kau tetap bertahan...,” rintih Pieter.
Mendengar ucapan Pieter membuat Faiq, Iyaz, Izar dan Dayang terkejut sekaligus kesal. Sedangkan hantu Malini yang ada di sana hanya membisu sambil menatap Pieter yang tengah menangis itu dengan perasaan tak menentu.
“ Apa yang harus kulakukan agar Aku bisa menebus kesalahanku dulu...?” tanya Pieter sambil menghapus air matanya.
“ Kenapa Kau bertanya seperti itu padaku...?” tanya Faiq.
“ Aku yakin Anda bisa membantuku karena hanya Aku dan Istriku yang mengetahui kelemahanku, tak ada orang lain. Kalo Anda bisa mengetahui rahasia itu termasuk penyebabnya, Aku yakin Anda bisa membantuku lepas dari kondisi ini...,” sahut Pieter hingga membuat Faiq tersenyum.
Faiq terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang. Ia pun menatap Pieter yang juga tengah menatapnya penuh harap.
“ Apa Anda yakin akan mengikuti semua caraku...?” tanya Faiq ragu.
“ Iya. Apa pun itu asal Aku bisa sembuh dan hidup normal...,” sahut Pieter cepat.
“ Baik lah. Sekarang ikut Aku...,” kata Faiq yang diangguki Pieter.
Untuk menghemat waktu Pieter pun masuk ke dalam mobil Faiq yang dikemudikan Izar. Sesaat kemudian mobil melaju meninggalkan restoran milik Pieter menuju restoran lain tempat dulu Pieter menggelar pesta pernikahannya dengan Thalia.
“ Kenapa Kita ke sini...?” tanya Pieter.
“ Karena di sini semuanya berawal. Dan arwah Malini masih kembali ke sini lagi dan lagi. Kita akan membantunya supaya arwah Malini bisa bebas...,” sahut Faiq.
“ Kalo boleh tau, dimana Anda menggelar pesta itu dulu...?” tanya Iyaz.
__ADS_1
“ Di ruang utama restoran ini. Aku dan Thalia memang hanya mengundang teman dekat dan keluarga inti saat Kami menikah dulu. Itu karena Aku dan Thalia tak terlalu suka keramaian...,” sahut Pieter.
“ Ok, Kita ke sana Zar...,” kata Iyaz sambil melangkah cepat menuju receptionist untuk membooking ruang utama. Beruntungnya ruang utama saat itu sedang kosong.
Setelah berhasil masuk ke dalam ruang utama, mereka juga memesan beberapa menu makanan sambil menunggu
kedatangan Fatur.
Suasana ruangan yang semula nyaman pun berangsur menjadi dingin hingga membuat Pieter menggigil kedinginan.
“ Aku merasa ga nyaman Om Faiq. Apakah arwah Malini ada di sini...?” tanya Pieter sambil berbisik.
“ Iya. Dia ada di sudut sana dan sedang menatapmu penuh dendam...,” sahut Faiq.
“ Ya Tuhan. Apakah dia akan membunuhku...?” tanya Pieter sambil bergidik.
Belum juga Faiq menjawab tiba-tiba Fatur datang bersama seorang pendeta yang juga merupakan teman Fatur. Pendeta Xavier pun disambut dengan hangat oleh Faiq dan kedua anaknya. Mereka saling memeluk pertanda jika hubungan mereka sangat baik.
“ Apa kabar Opa...?” tanya Iyaz ramah.
“ Baik Nak. Opa dengar Kalian sekarang bergabung dalam perusahaan keluarga ya...?” tanya pendeta Xavier.
“ Opamu membangun perusahaan itu dengan susah payah. Sayang kan kalo harus ditutup. Apalagi banyak karyawan bergantung di perusahaan itu. Lagipula sudah waktunya Kalian membantu Opa Kalian itu...,” kata pendeta Xavier bijak.
“ Iya Opa...,” sahut si kembar bersamaan.
Kemudian Faiq mengenalkan Pieter yang terlihat kacau kepada Fatur dan pendeta Xavier. Setelahnya mereka duduk dan Pieter menceritakan keluhannya itu. Pendeta Xavier nampak menggelengkan kepala usai mendengar pengakuan Pieter.
“ Kau telah berbuat dosa Pieter. Selain Kau bersumpah dengan nama Tuhan lalu berkhianat, Kau juga berzina dengan gadis itu. Kau bersumpah hanya demi mendapatkan gadis itu karena Kau hanya ingin mempermainkannya. Sejak awal Kau tak pernah serius ingin menikahinya, iya kan...?” tanya pendeta Xavier hingga membuat Pieter malu.
“ Iya. Sekarang Aku menyesalinya, bagaimana caraku menebusnya Pak pendeta...?” tanya Pieter sungguh-sungguh.
“ Minta maaf lah pada gadis itu. Terserah padanya mau memaafkanmu atau tidak. Aku akan membantumu membujuk gadis itu. Apakah dia ada di sini Nak...?” tanya pendeta Xavier sambil menatap si kembar bergantian.
“ Ada Opa. Dia berdiri di sebelah sana...,” sahut Izar sambil menunjuk ke sudut ruangan.
“ Kita langsung lakukan saja. Sekarang baca lah kitab ini. Renungi maknanya dan menangis lah. Mungkin air matamu bisa meluluhkan hati gadis itu...,” kata pendeta Xavier sambil menyerahkan sebuah kitab kepada Pieter.
Fatur, Faiq, Iyaz dan Izar pun menepi untuk memberi kesempatan pada pendeta Xavier dan Pieter menjalani ritual permohonan maaf pada arwah Malini. Mereka berempat tetap melantunkan dzikir dalam hati untuk perlindungan diri.
__ADS_1
Pieter mulai membaca kitab pemberian pendeta Xavier dengan serius hingga air mata nampak menetes membasahi pipinya. Sedangkan pendeta Xavier melantunkan doa sambil memercikkan air suci yang ia bawa ke sudut ruangan dimana arwah Malini berada.
Saat air suci itu mengenai tubuhnya Malini nampak meringis. Ia pun mundur ke belakang beberapa langkah untuk menghindari air itu. Namun lantunan doa yang dibaca pendeta Xavier dan Pieter membuat arwah Malini gelisah dan mulai menjerit kesakitan. Karena tak tahan dengan rasa sakit yang menerpanya, arwah Malini pun menerjang ke depan melewati pendeta Xavier dengan satu sasaran yaitu Pieter. Kemudian Malini menduduki tubuh Pieter dan mencekik lehernya dengan kuat hingga membuat Pieter merasa sesak dan sulit bernafas.
Pieter pun memejamkan mata untuk mengatur nafasnya sambil meletakkan kitab yang dibacanya tadi di atas pangkuannya. Air mata yang mengalir di wajah Pieter kian deras. Saat itu lah Pieter kembali teringat saat ia merayu Malini dengan sumpahnya lalu merenggut mahkota Malini diimbuhi janji-janji manis yang melenakan Malini.
“ Ma..., afkan Aku Ma..., li..., ni...,” kata Pieter terputus-putus.
Pieter merasa jika rasa sakit yang ia rasakan saat itu karena ulah Malini karena Pieter melihat sekelebat bayangan Malini yang tengah marah berada tepat di atas tubuhnya. Pendeta Xavier pun membantu Pieter melepaskan diri dari himpitan arwah Malini.
Keanehan pun terjadi. Tiba-tiba perut Pieter membesar seperti orang hamil. Pieter pun menjerit kesakitan saat sesuatu di dalam perutnya menendang-nendang seolah ingin keluar. Tanpa sadar Pieter membuang kitab yang tadi dibacanya lalu jatuh bergulingan di lantai.
Arwah Malini juga terus menendang perut buncit Pieter hingga darah segar nampak keluar dari bagian bawah tubuh Pieter persis wanita hamil yang keguguran. Jeritannya pun memenuhi ruangan. Beruntung ruangan itu kedap suara hingga tak menarik perhatian orang lain.
“ Apa Kita ga perlu membantunya Yah...?” tanya Iyaz cemas.
“ Jangan Nak. Itu adalah urusan Pieter dengan Malini dan Tuhan mereka. Mungkin itu lah yang disebut karma karena sekarang Pieter juga merasakan apa yang dirasakan Malini dulu...,” sahut Faiq.
“ Ayahmu benar. Dulu Pieter selalu menyiksa Malini dan berusaha menggugurkan bayi dalam rahim Malini agar dia tak harus bertanggung jawab menikahi Malini. Saat itu Malini merasa sakit juga pendarahan hebat karena ulah Pieter. Sekarang Pieter tau gimana rasanya. Apalagi darah itu keluar dari alat vitalnya langsung...,” kata Fatur menambahkan hingga membuat si kembar bergidik.
Setelah menjerit sekali lagi Pieter pun jatuh pingsan. Pendeta Xavier nampak mengusap peluh di dahinya. Ia menatap Pieter sambil menggelengkan kepalanya.
“ Ini sulit. Arwah gadis itu menginginkan Pieter ikut bersamanya...,” kata pendeta Xavier dengan nafas tersengal-sengal.
“ Kita harus memanggil Ambulans Opa. Kita bawa dia ke Rumah Sakit ya...,” kata Izar yang diangguki pendeta Xavier.
“ Iya Nak. Aku juga khawatir Pieter kehabisan darah akibat lukanya itu...,” sahut pendeta Xavier.
Tak lama kemudian Ambulans pun tiba. Pieter pun digotong menuju Ambulans oleh petugas medis. Salah seorang pengunjung restoran menjerit tertahan saat mengenali Pieter. Ternyata itu adalah Thalia yang sedang makan bersama seoran pria di restoran itu.
“ Pieter, apa yang terjadi padanya. Kenapa dia...?!” tanya Thalia histeris.
“ Kami juga belum tau. Jika mau, Anda bisa ikut Kami ke Rumah Sakit...,” sahut Fatur.
“ Ba, baik. Aku akan mengikuti dari belakang...,” kata Thalia gugup.
Kemudian Pieter pun dilarikan ke Rumah Sakit. Di belakang Ambulans terlihat iring-iringan mobil milik Faiq, Fatur dan Thalia yang bergerak mengawal Pieter hingga tiba di Rumah Sakit.
Bersambung
__ADS_1