
Vena menyerang Hanako dengan brutal tanpa menghiraukan kehadiran sang raja di sana. Semula Hanako sedikit kewalahan menghadapi serangan Vena yang mendadak itu. Namun akhirnya Hanako berhasil mengimbangi serangan Vena dan sesekali berhasil memukul Vena dengan telak.
Vena yang dibakar api cemburu itu tak terima dirinya dikalahkan oleh Hanako dalam meraih hati sang raja. Serangan Vena makin brutal. Tak lama kemudian terlihat Hanako berlari menjauh agar bisa lebih leluasa menghadapi Vena. Dari tempat persembunyiannya Iyaz dan Izar menyaksikan pertarungan itu dengan tenang. Sang raja juga mengamati pertarungan kedua wanita itu dan bersiap membantu Hanako yang nampak mulai terdesak itu.
Di saat semua orang mengira Hanako akan kalah, hal sebaliknya justru terjadi. Hanako berhasil memenangkan pertarungan dan memukul Vena hingga jatuh terjengkang ke tanah. Seruan tertahan pun terdengar saat Vena memuntahkan darah merah kehitaman dari mulutnya pertanda jika ia terluka parah. Semua orang yang menyaksikan kejatuhan Vena pun membelalakkan mata tak percaya.
Di tempat persembunyiannya Iyaz dan Izar adu toast menyaksikan kemenangan Hanako. Mereka nampak tersenyum puas melihat Hanako berhasil menjatuhkan lawan dengan telak.
Melihat Vena terkapar bersimbah darah, Raja pun memberi kode pada para pengawalnya untuk membawa Vena kembali ke penjara bawah tanah. Tanpa belas kasihan Vena diseret ke penjara dengan posisi terbalik. Saat kedua kakinya ditarik, Vena pun mencoba berontak. Tangannya berusaha menggapai kaki sang raja.
“ Tolong ampuni Aku Tuanku. Bukan kah Aku selalu memberikan yang terbaik dan dalam jumlah lebih. Tak ada kah pengampunan untukku mengingat apa yang telah kulakukan selama ini untukmu Tuan...,” kata Vena menghiba sambil menangis.
“ Aku tak memintamu melakukan itu. Lagi pula imbalan atas apa yang Kau sebutkan tadi sudah Kuberikan Vena, apa Kau lupa itu...?” tanya sang raja sambil menepis tangan Vena yang memegangi kakinya dengan kasar.
Vena terdiam karena sadar tak akan mungkin mempengaruhi raja untuk merubah keputusannya. Vena pun pasrah saat tubuhnya kembali ditarik oleh pengawal raja. Darah membasahi lantai yang dilewati tubuh Vena yang masih menatap nanar kearah raja.
Saat tubuh Vena melewati tempat persembunyian Iyaz dan Izar, ketiganya saling menatap dalam diam. Bisa saja Vena memberitahu kehadiran si kembar pada sang raja dan pasukannya. Namun saat teringat sikap sang raja yang tak membalas kebaikannya dengan layak, Vena pun memilih bungkam.
Ada butiran air mata yang jatuh di ujung mata Vena saat itu, dan si kembar yakin jika itu adalah air mata penyesalan. Vena menyesal telah mengabdi pada siluman biawak itu dan menghabiskan dua per tiga usianya dalam kesia-siaan. Namun penyesalan Vena tak ada artinya lagi. Kini ia harus membayar pengkhianatannya pada Sang Khaliq Allah Swt dengan menjalani hukuman yang memenjarakan jiwa dan raganya dalam kesengsaraan hingga hari kiamat kelak.
Iyaz dan Izar pun bernafas lega saat Vena tak memberitahukan kehadiran mereka di sana. Kemudian keduanya keluar dari tempat persembunyiannya lalu mendekati Hanako dan berdiri di samping kanan kirinya dengan gagah.
“ Siapa lagi mereka...?” tanya sang raja gusar.
“ Kami ga tau Tuan...,” sahut para pengawal bersamaan.
“ Tunggu apa lagi, cepat kejar dan habisi mereka!. Ingat, jangan lukai Permaisuriku...!” kata raja dengan lantang.
“ Baik Tuanku...!” sahut para pengawal itu bersamaan lalu mulai mengepung Iyaz, Izar dan Hanako.
__ADS_1
Pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. Iyaz dan Izar bergerak cepat menghadapi para pengawal raja siluman biawak hingga dalam waktu singkat ketiganya berhasil lolos dari kepungan.
Raja siluman biawak nampak marah saat menyaksikan anak buahnya terkapar jatuh di lantai. Ia meyaksikan bagaimana kedua pria asing itu menarik tangan Hanako dan membawanya pergi dari tempat itu.
Tak ingin kehilangan sang permaisuri, raja biawak pun ikut mengejar Iyaz, Izar dan Hanako.
Sementara itu di pinggir pantai tempat Fatur, Faiq dan Pandu menunggu. Ketiganya terlihat khusu melantunkan
dzikir yang panjang. Ini adalah hari ke dua mereka bertahan di sana. Mereka hanya pergi untuk menuntaskan hajat pribadi. Selebihnya mereka tetap di sana termasuk sholat dan makan.
“ Kapan mereka kembali Pa...?” tanya Pandu mulai tak sabar.
“ Sabar Nak. Waktu di dimensi ghaib dengan dunia Kita berbeda jauh. Jika di sana hanya beberapa jam, di sini sudah dua hari. Jika di sana satu hari, bisa jadi di sini sudah dua Minggu bahkan lebih...,” sahut Faiq.
“ Ya Allah, bagaimana nasib Istriku dan si kembar tanpa makan dan minum juga istirahat Pa...,” keluh Pandu sambil mengusap wajahnya.
“ Mereka adalah orang yang terpilih. Dan Kami sudah melatih mereka sejak mereka kecil. Jadi Kamu ga perlu khawatir...,” kata Fatur menenangkan Pandu.
“ Ada apa Nak...?” tanya Fatur.
“ Mereka sedang berusaha melarikan diri Om. Ayo bantu mereka dengan dzikir dan jangan bicara dulu...,” sahut Faiq sambil memejamkan mata dan melanjutkan dzikirnya.
Fatur pun memberi kode pada Pandu agar kembali berdzikir. Pandu mengangguk dan kembali duduk di dalam mobil untuk berdzikir. Dzikir yang dilantunkan Fatur, Faiq dan Pandu ternyata sangat membantu perjuangan Iyaz, Izar dan Hanako untuk melarikan diri dari istana siluman biawak. Saat itu ketiganya sedang berlari menuju pintu gerbang yang terbuka.
“ Ayo Ci, Kita harus cepet mumpung pintunya terbuka...!” kata Iyaz.
“ Iya...!” sahut Hanako sambil terus berlari mengikuti kedua sepupunya itu.
“ Liat, pintunya hampir tertutup Yaz...!” kata Izar sambil menunjuk kearah gerbang yang mulai tertutup perlahan.
__ADS_1
“ Buruan Kalian ke sana, tahan pintu itu jangan sampe tertutup...,” pinta Hanako.
“ Kalo Aku sama Iyaz ke sana, terus Kamu gimana Ci...?” tanya Izar bingung.
“ Gini aja, Aku duluan ke sana. Biar Izar yang nemenin Kamu ya Ci. Aku khawatir pengawalnya raja siluman biawak itu melukai Kamu nanti...,” kata Iyaz.
“ Aku setuju, cepetan Yaz...!” sahut Izar lantang sambil meraih tangan Hanako dan membawanya lari lebih cepat.
Iyaz pun mempercepat larinya dan tiba di gerbang lebih dulu. Saat itu dua penjaga pintu tengah berusaha menutup
pintu gerbang dengan dua daun pintu berukuran besar dan berat itu. Dengan sigap Iyaz menahan salah satu daun pintu setelah terlebih dulu menjatuhkan penjaga pintu dengan sekali tendangan. Melihat rekannya jatuh, penjaga pintu lainnya pun turun tangan membantu.
Perkelahian dua lawan satu pun terjadi. Iyaz tersenyum senang karena berhasil menunda waktu. Sedangkan Izar dan Hanako berhasil mencapai gerbang namun diikuti belasan pengawal dan raja siluman biawak yang mengejar di belakangnya.
“ Kita keluar sekarang Yaz...!” kata Izar sambil menarik tangan Hanako untuk melewati gerbang.
“ Ok...!” sahut Iyaz sambil berlari mengikuti Izar dan Hanako setelah menendang kedua penjaga pintu gerbang hingga jatuh terjengkang.
Melihat permaisurinya dibawa ‘kabur’ oleh dua pemuda asing membuat raja siluman biawak naik pitam. Ia memerintahkan agar pintu gerbang ditutup namun terlambat. Iyaz, Izar dan Hanako telah melewati pintu gerbang.
“ Kita kemana nih...?” tanya Hanako dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
“ Kita ke sana Ci...,” sahut Izar sambil menunjuk sosok buaya raksasa yang menanti mereka di seberang jalan yang berhadapan dengan pintu gerbang istana siluman biawak.
“ Ke buaya itu...?!” tanya Hanako setengah menjerit.
Hanako memang terkejut melihat sosok buaya yang berukuran sangat besar itu. Bahkan saking terkejutnya Hanako menghentikan larinya hingga membuat pegangan tangan Izar terlepas. Iyaz yang berhasil menyusul keduanya pun menarik tangan Hanako dan mengajaknya lari.
“ Nanti Kita jelasin Ci. Sekarang Kamu ikut Kita dulu ya...,” kata Iyaz sambil terus berlari.
__ADS_1
Hanako hanya mengangguk. Jantungnya seakan lepas saat langkahnya makin mendekat kearah buaya raksasa yang tampak menatap garang kearah mereka dengan sorot matanya yang tajam itu.
\=====