Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
222. Nikah Siri


__ADS_3

Wira nampak berjaga di samping Pandu. Ia tersenyum saat melihat Pandu membuka matanya. Dengan sigap Wira membantu Pandu untuk bangkit lalu memberinya minum.


“ Minum dulu Ndu, gimana keadaan Lo...?” tanya Wira.


“ Badan Gue sakit semua Wir. Gue yakin kalo ini bukan sakit biasa...,” sahut Pandu lirih.


“ Apa maksud Lo Ndu...?” tanya Wira tak mengerti.


“ Ini..., kayanya ini berhubungan sama penolakan Gue ke Pak Paulus...,” sahut Pandu hati-hati.


“ Maksud Lo, Lo kena santet...?” tanya Wira dengan suara tercekat.


“ Sssttt..., jangan berisik. Ini cuma Lo sama Gue aja yang tau ya Wir. Kalo nanti terjadi sesuatu sama Gue itu artinya dugaan Gue bener. Lo inget kan kalo Gue udah nolak Mirva?. Nah kalo tiba-tiba Gue ngomongin Mirva atau bahkan Gue keukeuh mau nikah sama Mirva, tolong hubungin keluarga Gue...,” sahut Pandu sambil menatap keluar jendela.


Wira menatap iba pada sahabatnya itu. selama ini Wira dan Pandu memang dekat. Wira senang berteman dengan Pandu yang ramah itu. Meski pun pangkat Pandu lebih tinggi darinya, namun Pandu tetap low profile dan tak segan menyapa jika mereka bertemu. Wira tersentak saat Pandu menyodorkan ponsel miliknya.


“ Di sini ada nomor keluarga Gue. Dan ini, foto tunangan Gue. Kalo terjadi sesuatu, tolong hubungi mereka ya...,” pinta Pandu lirih.


Wira menatap foto Hanako yang tengah berdiri di samping Pandu dengan senyum cantiknya itu. Wira pun ikut tersenyum saat melihat suasana di belakang mereka yang terlihat ramai.


“ Jadi Lo beneran tunangan Ndu dan ini foto sebelum Lo berangkat ke sini kan Ndu...?” tanya Wira.


“ Iya, ini Hanako tunangan Gue. Ssshhh...,” sahut Pandu sambil meringis menahan sakit.


“ Kenapa Ndu, sakit lagi...?” tanya Wira cemas yang diangguki Pandu.


“ Astaghfirullah aladziim..., Laa haula wala quwwata illa billahil aliyyil adziim...,” kata Pandu berulang-ulang.


Wira pun membantu Pandu membacakan beberapa ayat Al Qur’an yang dihapalnya. Tak lama kemudian Pandu pun tertidur karena kelelahan. Wira memberanikan diri membuka pesan Wa di ponsel milik Pandu. Ia melihat pesan intens antara Pandu dengan calon mertuanya.


“ Oh, calon Mertuanya Pandu Polisi. Wah, kayanya mereka deket banget...,” gumam Wira.


Namun mata Wira membelalak saat membaca pesan yang baru saja dikirim Heru. Heru mengatakan jika ia juga akan ditugaskan ke daerah Maluku dan berharap bisa bertemu dengan Pandu.


“ Maaf Pak, Pandu lagi tidur. Ini Saya Wira yang balas chat Bapak...,” kata Wira.


Di seberang sana Heru nampak mengerutkan keningnya. Heru merasa jika telah terjadi sesuatu yang buruk pada calon menantunya itu. Heru pun melakukan panggilan video call dan minta Wira memperlihatkan keadaan Pandu sekarang. Faiq yang saat itu tengah bersamanya pun nampak mengerutkan keningnya.


Faiq melihat aura mistis yang pekat tengah menyelimuti Pandu dan ia yakin jika Pandu sedang berada dalam pengaruh ilmu hitam.


“ Pandu sakit apa Nak...?” tanya Faiq pada Wira.


“ Saya ga tau Pak, tapi tiba-tiba Pandu ngerasa sakit perut hebat setelah nolak lamaran seorang laki-laki untuk anak perempuannya...,” sahut Wira setengah berbisik.


“ Apa...?!” kata Heru dan Faiq bersamaan.

__ADS_1


“ Ini bahaya Her, Lo mesti ke sana secepatnya...,” kata Faiq sambil menepuk pundak Heru.


“ Iya Bang, insya Allah Gue berangkat besok. Tapi apa Pandu masih bisa nunggu Gue datang Bang...?” tanya Heru cemas.


“ Insya Allah bisa. Wira, bisa kan Kamu bantu Kami...?” tanya Faiq sambil menatap Wira lekat.


“ Insya Allah kalo Saya bisa pasti Saya lakuin Pak...,” sahut Wira mantap.


“ Ok, makasih. Begini, tolong jangan tinggalin Pandu sendirian ya, karena harus ada yang stay di sampingnya. Jangan terima makanan apa pun dari orang asing. Dan ingatkan Pandu untuk tetap sholat dan dzikir...,” pesan Faiq.


“ Siap Pak. Sebenernya Pandu juga minta dibuatin air doa tadi. Setelah minum air itu keliatannya enakan tapi cuma sebentar...,” kata Wira.


“ Itu bagus. Namanya air ruqyah, buat lah sebanyak-banyaknya dan suruh Pandu minum. Insya Allah akan menetralisir pengaruh santet yang baru aja dikirim...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Siap Pak...,” sahut Wira.


Panggilan video call pun berakhir. Heru dan Faiq saling menatap sejenak.


“ Jangan bilang sama Cici ya Her, kasian dia...,” kata Faiq.


“ Pasti Bang. Gue juga ga bakal ceritain ini sama Bundanya Anak-anak, biar ini jadi rahasia Kita aja...,” sahut Heru yang diangguki Faiq.


\=====


Saat tiba di sana Heru disambut Wira di depan pos jaga. Keduanya saling berjabat tangan dan tersenyum.


“ Bagaimana keadaan Pandu sekarang...?” tanya Heru.


“ Alhamdulillah baikan Pak. Cuma dia keliatan linglung...,” sahut Wira.


“ Sekarang dia dimana dan sama siapa...?” tanya Heru cemas.


“ Pandu maksa ikut main bola Pak. Tuh di sana...,” sahut Wira sambil menunjuk kearah lapangan.


Heru mengerutkan keningnya lalu tersenyum karena melihat kondisi Pandu yang baik-baik saja. Wira meninggalkan Heru lalu memanggil Pandu yang terkejut saat Wira mengatakan calon mertuanya ingin bertemu dengannya. Pandu langsung berlari keluar lapangan dan menemui Heru.


“ Assalamualaikum Ayah, kok bisa di sini juga...?” sapa Pandu sambil mencium punggung tangan Heru dengan khidmat.


“ Wa alaikumsalam. Kebetulan Ayah juga ditugasin ke daerah sini Nak...,” sahut Heru sambil menatap Pandu dengan perasaan berkecamuk.


“ Kalo Ayah ga keberatan, Aku mandi dulu ya Yah...,” kata Pandu sambil mengibas kaos yang dipakainya karena merasa gerah dan panas bersamaan.


Heru juga melihat keringat yang keluar dari tubuh Pandu sangat banyak seolah tubuh Pandu diperas oleh kekuatan ghaib yang memaksa cairan dalam tubuhnya keluar dalam jumlah tak wajar.


“ Boleh. Ayah tunggu di sini sama Wira ya...,” sahut Heru dan diangguki Wira.

__ADS_1


Pandu mengangguk lalu berlari kearah kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Sedangkan Heru ditemani Wira menunggu di luar mess sambil berbicara banyak hal. Tak lama kemudian Pandu keluar menemui Heru dan Wira dengan penampilan yang jauh lebih baik.


“ Berapa lama Kalian di sini...?” tanya Heru.


“ Belum tau Yah, kenapa memangnya...?” Tanya Pandu.


“ Gapapa. Apa Kamu masih ingat sama Anakku Pandu...?” tanya Heru sambil menatap Pandu lekat.


“ Tentu Ayah, Eisha kan calon Istriku. Bagaimana mungkin Aku lupa...,” sahut Pandu dengan wajah bersemu malu.


“ Alhamdulillah..., kalo gitu nikahi dia sekarang...,” kata Heru tegas hingga mengejutkan Pandu dan Wira.


“ Kenapa mendadak Yah, bukannya Kita sepakat kalo pernikahan akan digelar setelah Saya kembali ke Jakarta...?” tanya Pandu bingung.


“ Ayah berubah pikiran. Nikahi Cici sekarang atau tidak sama sekali...,” kata Heru sambil menatap Pandu lekat.


Pandu yakin jika Heru tak main-main dengan ucapannya. Tak ingin kehilangan gadis yang ia cintai, Pandu pun mengangguk tanda setuju.


“ Baik Ayah. Aku akan menikahi Eisha sekarang...!” sahut pandu mantap hingga membuat Heru tersenyum.


Disaksikan Wira dan seorang rekan lainnya yang bernama Rian, juga dua orang anggota polisi yang bersama Heru tadi, Pandu dan Heru melaksanakan ijab kabul. Mahar yang diberikan Pandu saat itu adalah uang cash yang tersisa di dompetnya sebesar dua juta dua ratus lima belas ribu rupiah. Heru menolak saat Pandu ingin pergi ke ATM untuk mengambil uang.


“ Maharnya uang yang Kamu pegang sekarang aja Nak...,” kata Heru.


“ Baik Yah...,” sahut Pandu dengan wajah sedikit bingung karena tak mengerti dengan jalan pikiran Heru saat itu.


Pernikahan siri yang digelar dalam keadaan darurat itu membuat Pandu dan Heru terharu hingga menitikkan air mata. Apalagi Wira juga mengabadikan moment pernikahan Pandu dengan kamera ponselnya. Tidak hanya merekam, Wira juga memotret moment istimewa itu.


Setelah melaksanakan ijab kabul Heru dan Pandu saling memeluk dengan erat.


“ Ayah lakukan ini demi kebaikanmu dan Anak Ayah. Semoga Kamu mengerti Nak...,” bisik Heru di telinga Pandu.


“ Aku ga keberatan melakukan ini. Makasih Yah...,” sahut Pandu sambil tersenyum bahagia.


Pandu bahagia karena akhirnya bisa menikahi Hanako. Meski pun baru pernikahan siri, namun Pandu merasa lebih tenang sekarang. Sedangkan Heru dan Wira bahagia karena bisa meminimalisir pengaruh ilmu hitam yang tengah mengintai Pandu.


Tak lama kemudian Heru pamit untuk kembali ke kantor. Pandu pun melepas kepergian mertuanya itu dengan senyum mengembang.


“ Duh senengnya yang baru berubah status...,” goda Wira.


“ Alhamdulillah..., seneng dong. Eisha Istri Gue sekarang. Itu artinya peluang laki-laki yang mau deketin Eisha udah tertutup rapat...,” sahut Pandu sambil tertawa bahagia.


Wira dan Rian pun ikut tertawa. Tiba-tiba Pandu terdiam lalu melangkah kearah kamar. Wira dan Rian nampak saling menatap kemudian mengangguk. Mereka tahu jika pengaruh ilmu hitam itu datang lagi dan mengganggu Pandu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2