
Tuan Scoot t dibuat bingung karena melihat banyak wartawan di depan kantor polisi. Tuan Scoot dan asistennya menduga jika ada kasus besar yang ditangani polisi saat itu. Namun saat para wartawan menoleh kearahnya dan mengejarnya, tuan Scoot mulai curiga.
“ Kenapa mereka mengejarku, apakah pelaku yang terlibat dengan kematian Anakku adalah orang penting...?” tanya tuan Scoot pada polisi saat ia berhasil lolos dari kejaran para wartawan.
“ Bapak akan dapat jawabannya sebentar lagi. Silakan masuk ke ruangan itu...,” sahut polisi sambil mengarahkan tuan Scoot ke sebuah ruangan dimana sudah ada seorang pria sedang diinterogasi oleh polisi.
Darta yang ada di ruangan itu menoleh lalu tersenyum kearah tuan Scoot.
“ Mari silakan masuk Tuan Scoot. Nah, ini lah orang yang Saya bilang kemarin...,” kata Darta sambil menunjukkan pria yang tengah diinterogasi rekannya itu kepada tuan Scoot.
“ Kamu...?!” kata tuan Scoot setengah menjerit.
“ Iya Tuan. Maafkan Saya...,” kata Hendrik lirih sambil meraih tangan tuan Scoot.
Tuan Scoot mematung di tempat. Ia terlihat shock dan tak percaya jika orang yang telah membuat Desiree meninggal adalah tunangannya sendiri, pria yang ia pilih untuk menikahi Desiree. Sesaat kemudian tuan Scoot tersadar dan langsung menepis tangan Hendrik dengan kasar. Ia ingat bagaimana kedua orangtua Hendrik memutuskan hubungan mereka begitu saja saat putrinya menghilang. Kalimat yang diucapkan pun membuat tuan Scoot sangat tersinggung dan marah.
“ Saya ga mau percaya ini, tapi Saya yakin Polisi ga bakal salah tangkap. Saya...,” ucapan tuan Scoot terputus saat tubuhnya merosot ke lantai. Beruntung Darta sigap menangkap tubuh tuan Scoot hingga tak tersungkur ke lantai.
“ Bawa Tuan Scoot ke klinik segera...,” perintah Darta pada anak buahnya.
Dua orang polisi dan asisten tuan Scoot pun langsung membawa tuan Scoot yang pingsan ke klinik yang tak jauh dari kantor polisi.
\=====
Malam itu hujan deras mengguyur kota. Kantor polisi tiba-tiba gempar karena kedatangan Hendrik sang walikota saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Polisi mengira jika Hendrik datang dengan membawa sejumlah laporan pencemaran nama baik seperti yang biasa terjadi pada seorang pejabat. Namun polisi dibuat terkejut karena Hendrik datang untuk menyerahkan diri tanpa didampingi pengacara.
Darta yang saat itu masih ada di kantor pun sigap menyambut niat baik Hendrik dan segera menyiapkan berkas yang diperlukan. Kebetulan ada Faiq dan Heru yang juga tengah berkunjung ke sana.
“ Saya mau menyerahkan diri dan mengakui kesalahan Saya. Saya lah orang yang telah membuat Desiree meninggal belasan tahun lalu...,” kata Hendrik tiba-tiba hingga membuat polisi yang sedang bertugas pun terdiam tak percaya.
“ Baik, Kami akan siapkan berkasnya sebentar. Silakan Pak Hendrik duduk di sini...,” kata Darta memecah keheningan sambil mempersilakan Hendrik duduk di sebuah kursi.
“ Tapi Pak, apa Bapak ga salah...?” tanya seorang polisi hati-hati.
__ADS_1
“ Lakukan tugasmu...,” kata Darta tegas hingga mengejutkan rekannya itu.
“ Baik Pak...,” sahut sang polisi lalu mulai menjalankan tugasnya.
Interogasi pun dilakukan. Faiq dan Heru yang melihat langsung kejadian langka itu di depan matanya pun mulai membahas apa yang sebenarnya terjadi.
“ Apa yang terjadi Bang. Kok, bisa-bisanya dia nyerahin diri kaya gini...?” tanya Heru sambil berbisik.
“ Dia lelah...,” sahut Faiq.
“ Lelah kok ke sini. Ke spa dong atau tukang pijit kek...,” kata Heru sambil mencibir hingga membuat Darta dan Faiq tersenyum.
“ Dia lelah karena diterror terus menerus sama hantu Desiree. Selama ini ga ada yang tau kalo Hendrik mengalami insomnia di malam hari. Bukan karena beban pekerjaan yang berat sebagai seorang Walikota, tapi karena diganggu sama hantu Desiree. Hantu Desiree sering datang menghantuinya dan itu berlangsung sejak belasan tahun yang lalu. Bahkan Hendrik harus mengkonsumsi minuman keras supaya bisa tidur dan melupakan semua kejahatan yang dia lakukan dulu...,” kata Faiq panjang lebar.
“ Oh gitu...,” sahut Heru dan Darta bersamaan.
Di depan sana terdengar seorang polisi menanyakan alasan Hendrik mengakui kesalahannya dan menyerahkan diri ke kantor polisi.
“ Saya ga kuat terus menerus diterror sama hantu Desiree...,” kata Hendrik jujur.
“ Ok, maaf. Kalo boleh tau bagaimana cara hantu Desiree menerror Anda...?” tanya sang polisi.
Hendrik terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang. Selanjutnya mengalirlah cerita dari bibirnya.
Desiree datang kapan saja tanpa pemberitahuan. Saat datang biasanya ditandai dengan aroma parfum yang disukai Desiree, harum dan lembut. Namun perlahan aroma itu memudar dan berganti dengan bau busuk bersama dengan udara dingin yang mencekam di sekelilingnya.
Kemudian Desiree akan menampakkan diri di hadapan Hendrik yang sedang menyelesaikan tugasnya dalam berbagai wujud. Misalnya berbaring tanpa busana di lantai dengan darah yang menggenanginya. Wajah pucat dan rambut kusut menjadi pelengkapnya, persis seperti saat Hendrik melihat jasadnya untuk yang terakhir kali.
Kadang suara rintihan Desiree ditingkahi jeritan mampir di telinga Hendrik dan membuatnya terkejut. Jika sudah seperti itu biasanya Hendrik akan menutup kedua telinganya sambil memohon agar hantu Desiree berhenti menjerit.
“ Jangan..., jangan lakukan itu. Ampuni Aku Hendrik...!” jerit hantu Desiree di telinga Hendrik.
“ Hentikan Desiree...!” kata Hendrik marah sambil mencari keberadaan hantu Desiree.
__ADS_1
“ Terus lah bicara, karena Aku tak akan berhenti...,” sahut suara tanpa wujud, sama persis seperti apa yang Hendrik katakan saat ia meminta Hendrik menghentikan aksinya dulu.
Atau lain waktu Hendrik akan melihat hantu Desiree berdiri dengan tubuh setengah telan**ng di dekat jendela. Telunjuk dimana tangannya teriris nampak terangkat lalu menunjuk tepat kearah Hendrik seolah sedang menandai pria itu sebagai target berikutnya. Rambut pirangnya terurai menutupi sebagian wajahnya dengan mata yang berwarna semerah darah.
“ Kadang dia datang mengganggu saat Aku sedang rapat dengan stafku. Ia akan berdiri di sampingku lalu mulai mewarnai air dalam gelasku dengan darah yang mengalir dari irisan di pergelangan tangannya. Hanya air yang Kuminum yang berwarna merah sedangkan yang lain tetap jernih. Kalian pikir Aku gila, tapi Kalian bisa tanyakan pada stafku jika tak percaya...,” kata Hendrik dengan suara bergetar.
“ Hantu Desiree bahkan berdiam di ruang kerja dengan tampilan yang menggoda hingga membuat para staf dan tamu Bapak salah paham. Mereka mengira Bapak membawa wanita simpanan ke kantor dan melakukan sesuatu yang tak sepatutnya di sana...,” kata Faiq menambahkan hingga membuat Hendrik menoleh.
“ Itu benar. Dia juga membuat suara-suara rintihan yang membuat orang lain salah sangka. Aku..., Aku malu tapi ga tau gimana cara menghentikannya...,” kata Hendrik gusar.
“ Dia juga telah membuat hubungan rumah tangga Bapak berada di ujung tanduk...,” bisik Faiq di telinga Hendrik hingga membuat Hendrik terkejut sekaligus malu.
“ Kamu tau banyak tentang ini. Apa Kamu bisa membantuku lepas dari kejaran hantu Desiree...?” tanya Hendrik penuh harap.
“ Insya Allah Aku bisa bantu asal Kau bersedia mempertanggung jawabkan semuanya di depan hukum...,” sahut Faiq.
“ Iya. Kau liat Aku di sini sekarang. Apa ini belum cukup sebagai jaminan...?” tanya Hendrik.
“ Aku hanya bisa membantu setelah vonis dijatuhkan untukmu...,” sahut Faiq.
“ Baik. Aku setuju. Tolong bantu Aku...,” kata Hendrik lagi sambil memegang tangan Faiq.
“ Insya Allah...,” sahut Faiq sambil mengangguk.
“ Terima kasih...,” kata Hendrik sambil tersenyum lega.
“ Sama-sama...,” sahut Faiq.
Kemudian Hendrik melanjutkan interogasi hingga tuan Scoot datang dan menemuinya. Heru yang berdiri di samping Faiq pun penasaran dengan sikap abang iparnya itu.
“ Kenapa Lo nunggu vonis segala Bang...?” tanya Heru.
“ Biasanya orang lupa sama janjinya kalo udah menjabat di posisi tertentu, walau ga semua kaya gitu. Gue ga mau Hendrik lupa, makanya Gue mau liat kesungguhannya dulu. Lagian penjahat kaya dia ga pantas menjabat sebagai Walikota. Dia lebih pantas di penjara untuk nebus kesalahannya dulu...,” sahut Faiq santai.
__ADS_1
Heru dan Darta tersenyum mendengar ucapan Faiq. Walau Hendrik telah mengakui kesalahannya, namun tugas Faiq masih terus berlanjut.
Bersambung