Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
116. Kenapa Sandria ?


__ADS_3

Tak lama kemudian mobil yang mengantar Faiq dan keluarganya tiba di Rumah Sakit tempat Sandria dirawat. Ternyata letak Rumah Sakit itu tak terlalu jauh dari penginapan.


Saat melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit Faiq dan keluarganya disambut oleh Papa Sandria yang nampak tersenyum lega saat melihat kehadiran mereka terutama Iyaz.


“ Terima kasih udah mau datang...,” kata papa Sandria sambil menjabat erat tangan Faiq.


“ Sama-sama Pak. Gimana keadaan Sandria...?” tanya Faiq.


“ Buruk. Sandria kritis sekarang...,” sahut papa Sandria dengan suara bergetar.


“ Yang sabar ya Pak. Semoga Allah membawa Sandria kembali ke pelukan Bapak dan Istri,..,” kata Faiq prihatin.


“ Aamiin..., makasih Pak. Mari ikut Saya...,” ajak papa Sandria.


Faiq dan keluarganya mengikuti langkah kaki papa Sandria dengan cepat. Mereka seolah sedang berpacu dengan waktu. Siapa yang cepat, dia lah pemenangnya.


Kemudian mereka masuk ke sebuah ruangan yang nampaknya menghendaki pengunjung untuk steril. Mereka pun mengenakan pakaian pelapis berwarna hijau dan masker setelah membasuh tangan dengan sabun cair di wastafel. Setelahnya mereka masuk untuk menjenguk Sandria.


“ Sandria ada di sana. Saya dan Istri Saya ga diijinkan masuk ke dalam karena kehadiran Kami mengganggu tenaga medis yang sedang merawat Sandria. kata dokter Sandria mengalami luka parah dan butuh perawatan intensif. Lagi pula ga ada yang bisa Kami lakukan selain menangis di dalam sana...,” kata papa Sandria sedih.


Dari balik kaca transparan mereka bisa melihat jelas tubuh Sandria yang terbaring dengan berbagai selang menempel hampir di seluruh permukaan tubuhnya. Para tenaga medis pun terlihat berusaha memberi pertolongan pada Sandria.


Mama Sandria menoleh dan tersenyum kearah Iyaz. Ia mendekat kearah Iyaz dan ingin memeluknya namun Iyaz menghindar dan sembunyi di balik tubuh Shera. Mama Sandria terlihat kecewa lalu menangis. Farah pun memeluk mama Sandria dan berusaha menjelaskan kepada orangtua Sandria mengapa Iyaz bersikap seperti itu.


“ Maafin Cucu Saya ya Bu. Dia baru aja lulus dari pesantren dan ga biasa bersentuhan dengan wanita baligh yang


bukan muhrimnya. Tapi Iyaz mau kok membantu menemani Sandria sampe dia siuman nanti...,” kata Farah.


“ Oh gitu. Maaf Saya ga tau...,” sahut mama Sandria dengan wajah merona karena malu.


“ Tapi terima kasih kalo Mas Iyaz bersedia menemani Sandria. Keliatannya Sandria cukup nyaman ada di dekat Mas Iyaz tadi. Mudah-mudahan kehadiran Mas Iyaz bisa membuat Sandria siuman dan kembali pulih...,” kata papa Sandria penuh harap.

__ADS_1


“ Aamiin...,” sahut semua orang bersamaan.


Tiba-tiba para tenaga medis keluar dari ruangan sambil menatap iba kearah kedua orangtua Sandria. Farah yang juga berprofesi sebagai dokter mengerti arti tatapan itu dan hanya bisa mengusap pundak mama Sandria untuk memberi dukungan.


“ Sandria boleh ditemani Pak, hanya satu orang ya ga boleh lebih...,” kata sang dokter sambil tersenyum pahit.


“ Baik, makasih dok...,” sahut papa Sandria.


“ Sekarang biar Mas Iyaz aja yang masuk ya Pa. Mama ga kuat ngeliat kondisi Sandria kaya gitu...,” kata mama Sandria.


“ Iya Ma...,” sahut papa Sandria sambil membukakan pintu untuk Iyaz.


Iyaz masuk lalu duduk di samping Sandria. Ia nampak sedih melihat keadaan Sandria yang berbanding terbalik dengan Sandria yang ia temui beberapa jam yang lalu. Di samping samping kepala Sandria terlihat hantu Vino sedang menatap kakaknya tanpa berkedip. Iyaz mengabaikan hantu Vino dan memilih menyapa Sandria.


“ Assalamualaikum Sandria, Kamu dengar suara Kakak kan...,” sapa Iyaz sambil menyentuh anak rambut Sandria.


Tak ada sahutan namun perlahan kedua mata Sandria terbuka walau hanya sedikit. Sandria nampak tersenyum melihat kehadiran Iyaz di dekatnya. Ia menggerakkan jarinya seolah berusaha memberitahu agar Iyaz mendekat kearahnya. Iyaz yang tak mengerti hanya menatap iba kearah Sandria sambil berdzikir dalam hati.


“ Sandria mau ngomong sesuatu, Kamu dekatkan telingamu ke bibirnya...,” kata Faiq yang diangguki Iyaz.


Iyas mendekatkan telinganya untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Sandria.


“ Vi..., Vino da..., datang Kak. Dia mau nga..., ngajak Aku pergi...,” kata Sandria lirih.


“ Bukan Sandria. Dia hanya ingin menjengukmu. Vino menyesal karena udah mencelakaimu tadi. Iya kan Vino...?” tanya Iyaz sambil menatap hantu Vino dengan lembut.


Hantu Vino menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk kearah wajah Sandria seolah marah karena Sandria juga pernah mencelakainya dulu.


“ Kakak juga nakal. Aku didolong sampe ketablak mobil. Aku beldalah dan kesakitan, tapi Kakak malah senyum-senyum. Kakak bilang Aku boleh lakuin hal yang sama kalo Aku selamat nanti. Sekalang Aku datang mau jemput Kakak bial Aku ga main sendilian lagi. Lagian Kakak juga ga bisa main sama temannya lagi sejak Aku meninggal...,” kata hantu Vino dengan suara cadelnya.


“ Apa benar begitu Sandria...?” Tanya Iyaz dengan suara parau.

__ADS_1


“ Iya Kak. Aku benci sama Vino, Aku iri sama dia. Sejak Vino lahir Papa sama Mama ga sayang sama Aku lagi. Papa sama Mama lebih sering ngajak Vino pergi kemana-mana sedangkan Aku dititipin sama Nenek. Aku juga pengen diajak pergi tapi Mama sama Papa selalu ngelarang. Papa bilang Aku udah besar dan ga pantas ikut kemana pun Papa sama Mama pergi. Mama bilang repot kalo ngajak Aku sama Vino, jadi Mama milih ngajak Vino aja tanpa Aku...,” sahut Sandria sambil menangis.


“ Itu ga bener Sandria. Papa sama Mama Kamu juga sayang sama Kamu kok. Coba Kamu liat di sana, mereka lagi nangis karena khawatir sama Kamu...,” kata Iyaz sambil menunjuk kearah orangtua Sandria.


“ Mereka kaya gitu setelah Vino meninggal Kak. Waktu Vino masih hidup mereka malah cuek sama Aku dan ga peduli sama Aku. Mereka bakal kaya gitu lagi kalo Adik dalam perut Mama lahir nanti...,” sahut Sandria sedih.


“ Kamu salah Sandria, mereka ga akan kaya gitu kok...,” kata Iyaz sambil menghapus air mata Sandria.


“ Iya, Aku emang salah Kak. Aku juga nyesel udah bikin Vino meninggal. Ternyata Aku baru tau kalo Aku sebenernya sayang sama Vino. Aku mau ikut Vino aja biar bisa main terus sama Vino ya Kak...,” sahut Sandria lalu perlahan memejamkan matanya.


“ Jangan Sandria. Sandria...!” panggil Iyaz sambil mengguncang tubuh Sandria dengan lembut. Iyaz juga menepuk pipi Sandria agar mau membuka matanya.


Melihat kepanikan di wajah Iyaz membuat Shera ikut panik. Ia menepuk kaca pembatas ruangan sambil memanggil nama Iyaz.


“ Iyaz ada apa Nak. Iyaz...!” panggil Shera namun sia-sia karena ruangan tempat Sandria dirawat dilapisi kaca kedap suara.


“ Panggil dokter sekarang Pak...,” pinta Farah yang diangguki ayah Sandria.


Tak lama kemudian dokter dan seorang perawat datang dan langsung mengecek kondisi Sandria. Farah yang sudah bisa menebak apa yang terjadi pun berdiri siaga di belakang mama Sandria karena khawatir wanita itu jatuh dan membentur lantai.


Dua menit terlewati dalam ketegangan lalu sang dokter mendongakkan wajahnya sambil menatap iba kearah orangtua Sandria. Ia menggelengkan kepalanya pertanda Sandria tak bisa diselamatkan. Mama Sandria pun menjerit histeris lalu jatuh pingsan.


Faiq masuk ke dalam ruangan lalu menggamit tangan Iyaz yang sedang berdiri mematung menatap jasad Sandria. Iyaz menyaksikan kepergian arwah Sandria yang melayang sambil bergandengan tangan dengan Vino dan tersenyum manis kearahnya. Kemudian Faiq membawa Iyaz keluar dari sana sambil merangkul pundaknya. Sesaat kemudian Iyaz tersadar dan langsung memeluk sang ayah sambil menitikkan air mata.Ia tak kuasa menahan sedih melihat Sandria meninggal setelah bicara banyak hal dengannya tadi.


“ Takdir hidupnya udah sampe Nak. Jangan sesali itu, doakan saja...,” bisik Faiq sambil mengusap punggung Iyaz yang bergetar karena menangis.


Shera mendekat kearah Iyaz lalu ikut mengusap punggungnya dengan lembut. Suasana makin mencekam saat tubuh mama Sandria dibawa dengan brankar untuk dipindahkan ke ruangan lain. Papa Sandria tampak menangis sambil menciumi wajah Sandria.


“ Kenapa pergi Nak. Kenapa ninggalin Mama sama Papa...?” tanya papa Sandria lirih sambil membelai wajah cantik Sandria yang nampak tersenyum damai.


\=====

__ADS_1


__ADS_2