Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
78. Berbaik Hati


__ADS_3

Kemudian tubuh Asep dibaringkan di atas sofa yang terdapat di teras belakang. Saat itu Sumantri merasa jika tubuh Asep dingin dan bergetar hebat.


“ Asep sadar, Kamu kenapa Asep...?” tanya Sumantri sambil menepuk pipi Asep berulang kali.


Bukannya tersadar tapi Asep malah menjerit keras lalu menangis. Yang lucu karena selain suara jeritannya mirip dengan jeritan wanita, Asep juga bertingkah seperti seorang wanita.


Iyaz dan Izar tak sanggup menahan tawa. Mereka tahu apa yang terjadi, namun melihat sekspresi Asep saat itu membuat keduanya tertawa geli. Bayan dan ustadz Hamzah pun ikut tersenyum. Sedangkan Faiq dan Sumantri nampak fokus membantu Asep.


“ Tolong Aku, Aku kesakitan. Aku ga bisa nafas...,” racau Asep dengan suara hantu Laudya.


“ Pergi lah, jangan ganggu dia...,” kata Faiq datar.


“ Aku ga bisa pergi. Aku ga bisa kemana-mana. Sofian dan Bu Sumantri telah mengikat tubuhku dan mengubur


jasadku di dasar kolam renang itu...,” kata Hantu Laudya sambil menunjuk kearah kolam renang.


“ Jangan fitnah Kamu. Istriku bukan orang kejam. Dia ga mungkin melakukan itu sama Kamu...!” hardik Sumantri marah hingga membuat hantu Laudya menangis.


“ Ternyata Aku salah. Aku pikir bisa menuntut keadilan pada Pak Sumantri. Tapi ternyata Pak Sumantri telah dibutakan oleh cinta palsu istrinya dan membelanya meski pun dia salah...,” racau Asep.


“ Apa maksudmu, yang jelas kalo ngomong...!” kata Sumantri gusar.


Tak ingin mendengar perdebatan lebih lama lagi, Faiq menarik tangan Sumantri lalu menempelkan telapak tangan Sumantri ke dahi Asep yang terus meracau sambil terpejam itu.


Sumantri seperti bisa melihat kilasan peristiwa dimana Laudya dibunuh. Detik-detik kematian Laudyayang kehabisan nafas itu pun terekam dengan jelas. Juga saat sebelum Laudya datang dan melihat perselingkuhan istrinya dengan supir pribadinya itu.


Sumantri menggelengkan kepalanya seolah tak percaya jika ia memberi tempat dan kehidupan yang layak pada dua manusia yang telah mengkhianati kepercayaannya. Sumantri nampak menjerit marah lalu melepaskan tangannya tepat saat jasad Laudya diletakkan di dasar kolam lalu ditutupi lantai keramik.


“ Biadab, ban**at. Aku akan buat perhitungan sekarang juga...!” kata Sumantri marah.


“ Tenang dulu Pak Sumantri. Menyelesaikan masalah itu mudah dan bisa menyusul nanti. Yang penting sekarang adalah memakamkan jasad Laudya dengan layak sesuai syariat agama. Kemudian Kita juga harus mengabarkan orangtuanya tentang kematiannya yang ga wajar ini...,” kata Faiq.


“ Mas Faiq betul Pak Sumantri. Sebaiknya Pak Sumantri hubungi pihak kepolisian dan laporkan tentang penemuan jasad Laudya segera...,” kata ustadz Hamzah.


“ Baik Pak Ustadz. Maafkan Saya kalo sempat emosi tadi Mas Faiq...,” kata Sumantri tak enak hati.


“ Gapapa Pak, Saya maklum kok...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


Setelah memastikan kondisi aman, Ustadz Hamzah pun mengajak Faiq meninggalkan tempat itu sebelum polisi datang. Sebelumnya ustadz Hamzah juga membantu menyadarkan Asep yang kerasukan arwah Laudya tadi.


Sumantri segera menghubungi pihak kepolisian dan melaporkan penemuan mayat di dasar kolam renang miliknya itu. Sumantri minta agar pihak kepolisian melakukan penyelidikan diam-diam karena tak ingin Sofian dan istrinya melarikan diri sebelum bertanggung jawab.


\=====


Neta nampak kembali tertawa sesaat setelah menjalani proses ruqyah. Wajahnya kembali merona dan tak sepucat tadi. Keluarga Bayan nampak bahagia melihat Neta kembali pulih.

__ADS_1


“ Tapi masih ada ganjalan di hati Saya tentang sosok hantu yang menerror Neta Pak Ustadz...,” kata istri Bayan.


“ Maksud Kamu gimana sih Ma...?” tanya Bayan yang duduk di samping istrinya.


“ Gini lho Yah. Semalam kan Neta juga melihat penampakan miss Kunti di kamar mandi. Nah itu tuh siapa dan darimana. Sedangkan hantu Laudya kan hanya menampakkan diri dalam bentuk wanita dengan sekujur tubuh dan rambut yang basah...?” tanya istri Bayan.


“ Oh itu. Ada sosok lain yang mengikuti Neta. Dan keliatannya itu dari sekolah Neta Bu. Soalnya sosok itu mencium aroma darah haid Neta saat Neta melamun di sekolah...,” sahut ustadz Hamzah.


“ Sebaiknya kalo lagi M jangan suka menyendiri, karena makhluk halus sangat suka saat Kita sendiri, jauh dari keramaian dan berbau darah. Lebih baik berkumpul sama teman-teman di tempat yang rame kan lebih seru...,” saran Faiq sambil menatap Neta.


“ Iya Om. Ke depannya Aku ga bakal kaya gitu lagi...,” sahut Neta malu-malu hingga membuat Faiq tersenyum.


“ Kamu ini gadis yang cantik lho Neta. Apalagi Kamu juga jago taekwondo. Jadikan kelebihanmu sebagai modal untuk bisa meraih semua mimpimu. Tapi ingat, jangan sombong dengan kelebihan yang Kamu miliki. Karena bisa aja  Allah mengambilnya suatu saat nanti. Dan saat itu tiba, yang ada hanya penyesalan. Jadi tetap rendah hati dan waspada dalam bergaul...,” kata Faiq bijak.


“ Siaaapp Om...!” sahut Neta sambil bersikap sempurna layaknya tentara hingga membuat semua orang di ruangan itu termasuk ketiga kakak Neta pun tertawa melihat tingkahnya.


Iyaz dan Izar juga tertawa sambil menatap kagum kearah Neta yang tampak makin cantik saat tersenyum.


\=====


Di tempat lain terlihat Sofian dan istri Sumantri baru saja usai bercinta. Keduanya nampak sedang berada di sebuah kamar hotel yang disewa istri Sumantri.


“ Malam ini Kita nginep lagi ya Sayang...?” tanya Sofian sambil memeluk majikannya erat.


“ Ga bisa. Aku harus pulang. Sumantri bisa curiga kalo Aku ga pulang...,” sahut wanita itu.


“ Kita pulang nanti kan gapapa yang penting judulnya pulang. Jam satu dini hari juga bisa kok. Dan sambil nunggu waktu pulang Kita masih bisa main lagi kan...,” sahut istri Sumantri sambil tersenyum.


“ Jam tiga...,” tawar Sofian.


“ Jam dua...,” sahut istri Sumantri.


“ Ok, deal...,” kata Sofian sambil tertawa lalu kembali mencumbu sang majikan.


Tok..., tok..., tok....


Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar hingga menghentikan aksi Sofian dan majikannya. Sofian pun bergegas membuka pintu karena mengira itu adalah layanan kamar seperti biasa. Sedangkan istri Sumantri masih berbaring dengan tubuh polos dan hanya ditutupi selimut.


“ Iya, ada ap...,” ucapan Sofian terhenti karena sebuah bogem mentah mampir ke wajahnya hingga membuatnya terkejut dan terjengkang ke belakang.


Sofian berusaha bangkit dan hendak membalas serangan tiba-tiba itu. Tapi gerakan tangannya terhenti saat ia menatap pria di depannya. Sumantri adalah orang yang telah meninjunya tadi dan itu membuat Sofian mematung di tempat.


“ Ba, Bapak...,” kata Sofian gugup namun diabaikan oleh Sumantri.


Sumantri yang datang dengan empat anak buahnya itu nampak menoleh kearah kamar tempat istrinya berbaring saat mendengar suara sang  istri.

__ADS_1


“ Siapa Sayang, kok lama banget sih...?” tanya istri Sumantri dengan manja.


Sofian nampak salah tingkah. Apalagi saat itu ia hanya menggunakan cela*a boxer tanpa pakaian di atasnya. Semua orang bisa menduga apa yang tengah dilakukan Sofian tadi.


Karena tak ada sahutan, istri Sumantri pun berinisiatif menyusul Sofian. Langkahnya terhenti dan tubuhnya membeku saat melihat siapa tamu yang telah mengusik kebersamaannya dengan Sofian. Tubuhnya yang polos nampak hanya ditutupi sehelai selimut dan wajahnya pun langsung memucat.


“ Apa kabar Sayang. Jadi ini ya arisan yang Kamu bilang tadi...?” sindir Sumantri sambil menatap jijik kearah wanita yang masih berstatus istrinya itu.


“ Mmm..., Aku bisa jelasin Pa. Ini ga kaya yang Kamu liat kok. Kamu percaya kan sama Aku...?” tanya istri Sumantri sambil meraih tangan Sumantri dan memeluknya erat.


“ Aku percaya. Udah yuk, Kita pulang sekarang...,” ajak Sumantri sambil tersenyum.


“ Oh syukur lah kalo Kamu percaya. Ok, Aku siap-siap dulu ya Pa...,” sahut istri Sumantri cepat lalu bergegas masuk untuk berganti pakaian.


Melihat sikap Sumantri membuat empat anak buahnya itu bingung. Sumantri hanya menyilangkan jari telunjuknya ke depan bibirnya sambil tersenyum.


“ Ini urusan Suami Istri. Sekarang bawa bang**t ini keluar...,” kata Sumantri.


“ Siap Bos...,” sahut empat anak buah Sumantri bersamaan.


“ Maafkan Saya Pak. Saya bisa jelasin semuanya. Ini hanya salah paham. Saya sama Ibu ga ngapa-ngapain kok. Saya aaakkhh...,” kata Sofian menghiba namun suara Sofian pun hilang begitu saja saat salah seorang anak buah Sumantri memukul tengkuknya.


Mereka pun mengikat tubuh Sofian lalu membawanya pergi. Kemudian mereka menyerahkan Sofian kepada polisi.


Sedangkan Sumantri sengaja mengulur waktu agar istrinya terkecoh dan mau mengakui perbuatan busuknya.


“ Sebentar Sayang. Kenapa Aku ga ngeliat Sofian ya daritadi...?” tanya istri Sumantri saat mereka sedang makan malam di rumah makan mewah.


“ Kamu merindukan supir itu ya...?” tanya Sumantri tak suka sambil menatap tajam istrinya itu.


“ Kamu ngomong apa sih. Ya ga mungkin lah...,” sahut istri Sumantri.


Setelah menyelesaikan makan malam, Sumantri membawa istrinya pergi sambil menutup kedua mata sang istri dengan sehelai kain.


“ Habis ini Aku akan membawamu ke suatu tempat yang ga bakal Kamu lupain seumur hidupmu...,” kata Sumantri.


“ Kita mau kemana sih Pa. Ini dimana, udah sampe yaa...?” tanya istri Sumantri saat mobil berhenti.


“ Udah. Kamu boleh buka sekarang...,” sahut Sumantri.


Sang istri nampak mengerjapkan matanya lalu membelalak saat mendapati dirinya ada di halaman kantor polisi. Bahkan beberapa polisi tampak berdiri mengelilingi mobil yang ia tumpangi.


“ I, ini apa maksudnya Pa...?” tanya istri Sumantri gugup.


“ Aku berbaik hati mengantarmu ke kantor polisi agar Kamu mau bertanggung jawab atas kematian Laudya. Oh iya, Kamu tenang aja karena Kamu ga sendiri. Kekasih gelapmu juga udah duluan sampe di sini daritadi...,” kata Sumantri.

__ADS_1


Mendengar ucapan Sumantri membuat sang istri panik dan menjerit histeris tapi Sumantri tak peduli. Ia turun dari mobil dan membiarkan istrinya ditangkap lalu dimasukkan ke dalam sel tahanan.


Bersambung


__ADS_2