
Bayan dan istrinya masih berusaha mendobrak pintu kamar mandi dimana Neta terkunci. Ketiga kakak Neta pun kembali mendatangi kamar Neta karena mendengar suara ribut yang ditimbulkan oleh kedua orangtua mereka.
“ Ada apa lagi Ma...?” tanya kakak sulung Neta bernama Aldi.
“ Adikmu terkunci di dalam. Dia baru aja teriak dan Mama khawatir terjadi sesuatu yang buruk sama Neta...!” sahut sang mama panik.
“ Didobrak aja Yah...,” kata kakak perempuan Neta yang bernama Ina.
“ Ayah udah mau dobrak daritadi, tapi kayanya Neta berdiri pas di balik pintu. Ayah khawatir malah melukai Neta nanti...,” sahut Bayan.
Tiba-tiba Neta kembali menjerit. Namun kali ini justru Neta nampak kesulitan membuka pintu dari dalam karena handle pintu terlihat bergerak tapi pintu tak juga terbuka.
“ Ayah, Mama, tolong buka pintunya...!” kata Neta panik.
“ Iya, sebentar Nak...,” sahut mama Neta sambil menatap anak dan suaminya bergantian.
“ Gimana nih. Kita harus cepat Yah...,” kata Aldi yang diangguki Bayan.
Tiba-tiba Bayan teringat jika biasanya hantu atau makhluk halus akan takut saat mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an.
“ Kalian bantu membaca doa atau apa pun, biar Ayah dan Aldi yang mendobrak pintu...!” kata Bayan.
“ Baik Yah...,” sahut istri dan ketiga anak Bayan bersamaan.
“ Neta, Kamu geser ya. Jangan berdiri di situ. Ayah mau dobrak pintunya sekarang...!” kata Bayan
lantang.
Tak ada sahutan dan itu membuat Bayan dan Aldi bertambah khawatir. Diiringi lantunan Al Fatihah dan ayat Kursi,
Bayan dan Aldi pun berhasil mendobrak pintu kamar mandi hingga hancur. Mereka terkejut menyaksikan tubuh Neta terbaring di lantai dalam kondisi tak sadarkan diri.
“ Pantesan dia ga nyaut tadi, rupanya pingsan di dalam kamar mandi...,” kata Aldi sambil menyingkirkan serpihan kayu yang mengganggu.
Bayan pun sigap mengangkat tubuh Neta dan membawanya keluar dari kamar itu. Saat ia hendak melangkah keluar, Bayan berbalik dan menatap istrinya.
__ADS_1
“ Tadi Neta ke kamar mandi mau ngapain sih Ma...?” tanya Bayan.
“ Katanya sih mau ganti pembalut Yah. Kenapa emangnya...?” tanya istri Bayan.
“ Aku liat ada pembalut di lantai kamar mandi. Tolong diberesin ya Ma...,” pinta Bayan sambil melangkah.
“ Iya Pa...,” sahut istri Bayan sambil melangkah hati-hati ke dalam kamar mandi karena khawatir terkena serpihan kayu yang masih menempel di kusen pintu.
Ina pun menemani sang mama mengambil pembalut milik Neta yang tertinggal di lantai kamar mandi. Mama Neta meraih pembalut bekas di lantai lalu membungkusnya dengan plasti setelah mencuci pembalut bekas itu dengan sabun cair. Setelahnya mereka keluar dari kamar Neta menuju ruang tengah dimana keluarga mereka berkumpul.
Di atas sofa terlihat tubuh Neta terbaring dengan ditutupi selimut. Sang mama segera pergi ke dapur lalu membuatkan teh manis hangat untuk Neta. Sedangkan Bayan terlihat berusaha menyadarkan Neta dengan menggosok telapak tangan dan kaki Neta bergantian. Aldi pun ikut sibuk mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung Neta.
“ Bajunya basah, sebaiknya diganti dulu Yah...,” kata kakak kedua Neta sambil menyodorkan satu set pakaian pada ayahnya.
“ Sini Aku yang gantiin Yah...,” kata Ina menawarkan diri.
“ Iya, makasih ya Kak...,” sahut Bayan lalu menyingkir untuk memberi ruang pada Ina menggantikan baju Neta yang
basah.
“ Kamu udah sadar Nak...?” tanya mama Neta.
“ Mama...,” panggil Neta lirih.
“ Minum dulu yaa, biar perutmu hangat...,” kata mama Neta sambil menyuapkan teh manis hangat ke mulut Neta.
Setelah menghabiskan setengah gelas teh manis hangat, Neta pun terlihat lebih baik. Kemudian Neta menceritakan apa yang dilihatnya di kamar mandi. Mendengar hal itu membuat mama Neta dan Ina nampak saling menatap.
“ Makanya kalo ganti pembalut tuh langsung dicuci dong, pake sabun biar bersih...,” sindir Ina.
“ Aku tau Kak. Tadi itu aku baru banget ganti pembalut, yang bekas Aku taro di lantai. Kalo udah selesai ganti Aku mau nyuci pembalut bekas tadi pake sabun. Biasanya juga gitu dan aman-aman aja kok. Tapi tadi itu beda banget. Pas Aku selesai ganti, Aku malah liat hantu wanita lagi jilatin pembalut bekas yang Aku pake tadi...,” sahut Neta.
“ Keliatannya hantu itu emang ngikutin Kamu Net. Bukannya sebelumnya Kamu juga udah ngeliat dia di kamar tadi...?” tanya Aldi.
“ Iya Kak. Aku pikir juga gitu. Soalnya selama ini Aku ga pernah buang pembalut dalam keadaan masih kotor lho. Aku selalu nyuci pembalut bekas sampe bersih. Kok bisa ada hantu yang ngikutin Aku sampe segitunya yaa...,” sahut Neta gusar.
__ADS_1
“ Ini memang aneh. Padahal selama tinggal di sini Ayah sama Mama ga pernah diganggu sama makhluk halus sampe kaya gini. Ini yang pertama kalinya. Tapi Kalian tenang aja. Insya Allah Ayah bakal cari jalan supaya hantu itu ga terus ngikutin Neta dan gangguin keluarga Kita...,” kata Bayan.
“ Iya, tapi cepet ya Yah. Aku takut kalo hantu itu nongol lagi. Biasanya dia nongol kalo Aku lagi sendirian di rumah. Makanya sekarang Aku lebih sering ikut Ayah daripada di rumah sendirian...,” kata Neta penuh harap.
“ Iya...,” sahut Bayan cepat.
“ Sekarang Kalian balik lagi ke kamar masing-masing sana. Tidur dan jangan lupa baca doa...,” kata istri Bayan.
“ Aku mau tidur di sini aja bareng sama Mama dan Ayah. Aku khawatir hantu itu nongol di kamar Aku dan gangguin Aku nanti. Hiiyy..., serem...,” sahut Ina sambil bergidik.
“ Dasar penakut...,” ledek Aldi.
“ Biarin...,” sahut Ina cuek.
“ Masuk akal juga sih. Ya udah, malam ini Kita tidur di ruang tengah ini bareng-bareng ya. Mungkin kalo Kita kumpul hantu itu jadi ga berani gangguin Kita...,” kata Bayan.
“ Setuju...,” sahut Ina dan Neta bersamaan hingga membuat Bayan dan istrinya tersenyum.
Kemudian istri Bayan dan ketiga kakak Neta mulai menata kasur di lantai. Mereka merapatkan posisi kasur dan tidur dengan posisi berdekatan. Neta memilih tidur di tengah karena takut. Bayan tidur di ujung dekat pintu sedangkan istrinya tidur di ujung lainnya. Mereka bersikap seolah sedang melindungi keempat anaknya dari bahaya.
“ Ini ga lucu banget deh. Aku kan udah dewasa, masa Aku malah di tengah kaya gini...,” protes Aldi.
“ Gapapa, ini sementara aja kok...,” sahut istri Bayan.
“ Mama pindah deh, biar Aku yang di situ...,” pinta Aldi.
“ Tapi Nak...,” ucapan istri Bayan terputus saat Bayan mendukung ucapan anak sulungnya itu.
“ Aldi betul. Dia laki-laki, jadi dia yang harus melindungi Mama dan Adik-adiknya...,” kata Bayan.
“ Iya, iya. Mama ngalah deh...,” sahut istri Bayan sambil bertukar posisi dengan anak sulungnya itu.
Aldi pun tersenyum penuh kemenangan. Ia bahagia karena ayahnya percaya jika kini dia mampu melindungi mama dan ketiga adiknya itu. Tak lama kemudian keluarga Bayan mulai terserang kantuk. Mereka pun tertidur dengan posisi rapat seolah saling menjaga satu sama lain.
\=====
__ADS_1