
Seminggu berlalu begitu saja. Fatur, Faiq dan Pandu masih menunggu di tepi pantai yang sama dengan gelisah. Beruntung tempat mereka menunggu tidak terlalu menarik perhatian hingga mereka bisa fokus berdzikir tanpa terganggu dengan lalu lalang pengunjung pantai.
Diantara mereka bertiga Pandu lah yang paling repot karena harus mondar mandir mengambil pakaian ganti untuk Faiq dan Fatur. Dia juga harus kembali bekerja dan tak mungkin mengajukan cuti lagi karena masa cutinya telah ia ambil saat silaturrahim ke rumah bibinya di Riau beberapa waktu yang lalu.
Setelah usai jam kerja Pandu segera meluncur ke pantai tempat dimana Faiq dan Fatur menunggu. Pandu sengaja menggunakan motor agar lebih mudah melakukan aktifitas dan lebih cepat melaju di jalan raya yang padat.
“ Assalamualaikum Opa, Papa...,” sapa Pandu.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Fatur dan Faiq bersamaan sambil tersenyum.
“ Gimana Pa, apa udah ada kabar...?” tanya Pandu sambil menyerahkan makan malam untuk Fatur dan Faiq.
“ Belum Nak. Dayang bilang mereka sedang ditahan di sana untuk menyelesaikan sebuah masalah...,” sahut Faiq.
“ Ditahan, apa itu artinya mereka ga bisa pulang...?” tanya Pandu cemas.
“ Ga juga, mereka ditahan untuk membantu raja Graha. Keliatannya mereka uah menemukan siapa si pembuat onar itu...,” sahut Faiq cepat.
“ Kenapa, Kamu kangen ya sama Cici...?” goda Fatur sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
“ Iya Opa...,” sahut Pandu sambil nyengir.
“ Kamu tenang aja. Dayang bilang Cici juga kangen sama Kamu dan mikirin Kamu terus kok...,” kata Faiq mencoba menenangkan Pandu.
“ Yang bener Pa...?” tanya Pandu dengan mata berbinar.
“ Iya. Udah, sekarang makan dulu dan ga usah terlalu cemas...,” sahut Faiq.
“ Siap Pa...,” sahut Pandu lalu mulai melahap makanannya sambil tersenyum diam-diam.
“ Apa Kita ga perlu membantu mereka Nak...?” tanya Fatur.
“ Sampe saat ini belum Om. Anak-anak masih sanggup menyelesaikan masalah itu sendiri...,” sahut Faiq.
“ Syukur lah. Semoga semua masalah cepat selesai dan mereka bisa segera pulang...,” kata Fatur.
“ Aamiin...,” sahut Faiq dan Pandu bersamaan.
\=====
__ADS_1
Iyaz, Izar dan Hanako masih tertahan di dimensi lain. Meski pun sikap para penghuni istana sedikit berbeda namun raja Graha dan putri Hara tetap bersikap baik. Mereka bertiga juga diberi kebebasan untuk berkeliling di area istana tanpa pengawalan. Dan kesempatan ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Iyaz, Izar dan Hanako untuk mencari informasi sebanyak mungkin dan dengan cara mereka sendiri.
“ Gimana...?” tanya Izar pada kedua saudaranya itu.
“ Belum dapet apa-apa. Kamu sendiri gimana...?” tanya Iyaz.
“ Sama...,” sahut Izar cepat.
“ Kamu gimana Ci...?” tanya Iyaz.
“ Sama juga. Tapi ga tau ini penting atau ga. Aku ngeliat permaisuri Raja Graha ngobrol berdua sama seorang laki-laki berpakaian kerajaan di taman tadi...,” sahut Hanako dengan enggan.
“ Laki-laki yang mana, siapa namanya...?” tanya Izar.
“ Aku ga tau namanya. Tapi dia sering terlihat mondar-mandir di istana ini kok...,” sahut Hanako.
“ Ini aneh...,” kata Iyaz.
“ Aneh kenapa, bisa aja itu pengawal pribadi yang lagi laporan sama Bu Gayatri...,” sahut Hanako.
“ Tapi ga mungkin hanya berdua aja kan. Sebagai seorang permaisuri Raja, Bu Gayatri harusnya bisa menjaga sikap dan kata-katanya supaya ga membuat Suaminya malu...,” kata Iyaz.
“ Kita harus laporkan hal ini sama Raja Graha...,” kata Izar.
“ Tapi gimana cara Kita menemui Raja Graha...?” tanya Iyaz.
“ Hara. Dia bisa bantu Kita ketemu dan ngobrol sama Ayahnya...,” sahut Hanako antusias.
“ Iya, Kamu benar...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Kemudian ketiganya menyampaikan keinginan mereka saat Hara menemui mereka. Hara nampak mendengarkan apa yang disampaikan Hanako dengan seksama. Tanpa mereka sadari Izar tengah memperhatikan interaksi keduanya dengan serius. Bukan, tapi mengamati Hara lebih tepatnya.
Diam-diam Izar mengagumi Hara. Tidak hanya fisiknya yang memang terlihat cantik dan sempurna, tapi Izar juga kagum pada sikap dewasa yang ditunjukkan Hara. Di usianya yang baru dua puluh tiga tahun putri Hara mampu meredam kekacauan yang terjadi di istana dengan baik.
Hara bersikap bijak dengan tidak menyudutkan ketiga tamu ayahnya itu dan meminta penghuni istana untuk tetap menghormati mereka bertiga. Hara pun menunjukkan sikap bersahabat meski kini sikap Gayatri berbeda dan
mencurigai ketiganya sejak mengetahui pusaka kerajaan menghilang. Bahkan Hara bersedia menjadi penyambung lidah antara ketiga bersaudara itu dengan ayahnya.
Iyaz yang mengetahui jika kembarannya tertarik pada Hara pun mulai menggodanya.
__ADS_1
“ Cantik ya Zar...,” bisik Iyaz.
“ Banget...,” sahut Izar cepat.
“ Pinter lagi...,” kata Iyaz menambahkan.
“ Bukan cuma pinter Yaz, dia baik, bijaksana dan hatinya tuh lembut banget...,” sahut Izar sambil terus menatap Hara.
“ Kalo sama Alya, mana yang lebih baik...?” tanya Iyaz lagi.
“ Ya pasti Hara dong. Eh, Kamu ngapain bawa-bawa nama Alya segala...?” tanya Izar saat tersadar jika Iyaz sedang membandingkan Alya dengan Hara.
“ Gapapa. Cuma mau tau aja sedalam apa sih perasaanmu sama Hara. Ingat Zar, Kita berbeda dimensi sama Hara. Jadi kendalikan perasaanmu itu biar Kamu ga kecewa nanti...,” kata Iyaz mengingatkan.
“ Aku tau Yaz. Aku cuma kagum aja kok sama dia...,” sahut Izar sambil menatap sendu kearah Hara seolah tersadar jika dia tak mungkin menggapai Hara apalagi memilikinya.
Hara yang menyadari Izar tengah menatapnya dengan intens pun tampak tak nyaman dan salah tingkah. Sesekali ia menundukkan kepalanya karena malu. Rupanya Hara pun tertarik pada Izar. Sejak pertama kali ia melihat Izar saat berkunjung ke kamarnya, sejak saat itu lah Hara menyukai Izar.
Hara merasa jika Izar adalah pria yang menyenangkan dan berbeda dari pria-pria yang ia temui selama ini. Jika selama ini para pria akan menjaga jarak dan sikap mereka saat berhadapan dengannya mengingat statusnya sebagai putri seorang raja, tapi tidak dengan Izar. Dengan santai Izar akan bicara dan bergurau dengannya tanpa canggung meski pun sesekali akan bersikap santun jika teringat statusnya. Tapi selebihnya Izar memperlakukannya selayaknya teman dan itu membuat Hara nyaman.
Namun rasa nyaman yang Hara rasakan pun berkembang menjadi rasa yang berbeda. Dalam waktu beberapa hari saja rasa nyaman itu berubah jadi cinta. Yang pasti Hara selalu merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat ia berhadapan dengan Izar. Meski pun ia berusaha mengendalikan perasaannya sendiri tapi nampaknya sulit. Apalagi tatapan Hara seringkali bertabrakan dengan tatapan Izar yang tajam itu.
Seringkali Hara mengingatkan dirinya sendiri agar tak jatuh cinta pada Izar. Hara sadar jika dunia mereka berbeda dan tak mungkin bersatu. Apa lah artinya cinta itu jika mereka tak bisa bersatu, demikian lah prinsip yang coba dipertahankan oleh Hara.
“ Kalo gitu Aku akan atur supaya Kalian bertiga bisa bicara sama Ayah. Mungkin Aku akan cari tempat lain yang ga mungkin diliat orang lain...,” kata putri Hara.
“ Ok terserah Kamu. Makasih ya Hara...,” kata Hanako.
“ Sama-sama Kak. Sekarang Aku pergi dulu ya...,” pamit Hara sambil tersenyum.
“ Iya...,” sahut Hanako sambil tersenyum melepas kepergian Hara lalu berbalik mendekati kedua sepupunya.
“ Kita harus cepet Ci. Aku ga mau Izar terjebak di sini...,” kata Iyaz.
“ Iya Yaz. Aku juga mau pulang, lebih cepat lebih baik...,” sahut Hanako mantap.
Kemudian Iyaz dan Hanako menatap Izar hanya diam tak merespon ucapan mereka karena galau dengan perasaannya pada Hara.
\=====
__ADS_1