Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
188. Ketemu Hantu Bundir


__ADS_3

Kematian Gavin dan Urai membuat suasana lingkungan tempat mereka tinggal jadi mencekam dan menakutkan. Apalagi warga sekitar mempercayai jika orang yang meninggal tak wajar apalagi karena bunuh diri akan menjadi arwah penasaran yang berkeliaran mengganggu ketentraman warga.


Hal itu pun berlaku pada teman-teman sekost Iyaz. Mereka tak berani keluar rumah saat malam hari seperti biasanya. Mereka akan berusaha pulang lebih awal dan tetap berada di rumah sebelum waktu Maghrib tiba.


Selain itu Iyaz juga mulai risih karena terus diikuti oleh Rocki kemana pun ia pergi. Rocki yang selalu ingin berada di dekat Iyaz membuat Iyaz protes.


“ Udah dong, ngapain sih ngikutin Gue terus. Lo ga bosen ya...?” tanya Iyaz.


“ Ga, Gue suka kok...,” sahut Rocki.


“ Tapi Gue ga suka...,” kata Iyaz.


“ Ck, ayo lah Yaz. Lo kan tau alasan Gue kenapa kaya gini...,” sahut Rocki.


“ Gue ga tau apa alasan Lo...,” kata Iyaz pura-pura tak tahu.


Belum sempat Rocki menjawab pertanyaan Iyaz, tiba-tiba terdengar kegaduhan di luar kamar yang membuat Iyaz dan Rocki bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Di depan pintu terlihat seluruh penghuni kost sedang berkerumun.


“ Ada apaan nih...?” tanya Rocki.


“ Ga tau nih, mendadak Mirza jatuh di depan pintu...,” sahut penghuni kost lainnya.


“ Mirza jatuh, kok bisa jatuh...?” tanya Rocki lagi.


Melihat kondisi Mirza yang mengkhawatirkan membuat Iyaz mengingatkan semua temannya agar membawa Mirza masuk ke dalam rumah.


“ Bantu gotong Mirza ke dalam rumah dong Bro...,” pinta Iyaz.


Teman-teman Iyaz pun bergerak cepat menggotong Mirza ke ruang tengah lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Sedangkan Iyaz pergi mengambilkan air minum untuk Mirza.


“ Nih Za minum dulu ya...,” kata Iyaz yang diangguki Mirza.


Setelah meneguk minum yang disodorkan padanya Mirza terlihat lebih tenang. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan kasar sambil memejamkan mata.


“ Istighfar Za...,” saran Rocki.


“ Astaghfirullah aladziim..., Astaghfirullah aladziim...,” kata Mirza berulang-ulang hingga ia terlihat jauh lebih tenang.

__ADS_1


“ Emangnya Lo kenapa sih Za...?” tanya salah seorang penghuni kost.


“ Gue ngeliat hantu...,” sahut Mirza lirih.


“ Mana ada hantu sih Za, jangan nakut-nakutin dong Lo...,” kata salah satu penghuni kost.


“ Gue ga bohong !. Kayanya mereka hantu orang yang bunuh diri itu deh...,” sahut  Mirza.


“ Maksud Lo hantunya lebih dari satu...?” tanya Rocki.


“ Iya...,” sahut Mirza.


“ Kok Lo bisa yakin kalo mereka hantu orang yang bunuh diri itu...?” tanya teman mereka.


“ Karena muka mereka pucat, lidah menjulur dan mata mendelik. Itu kan sama persis seperti saat mayat mereka terakhir ditemukan...,” sahut Mirza gusar.


Mendengar jawaban Mirza membuat semua penghuni kost panik. Kasak kusuk pun terdengar bahkan ada yang mengusulkan pindah kost agar tak diganggu oleh hantu Gavin dan Urai. Iyaz pun menengahi dan meminta mereka menyudahi pembicaraan tentang hantu itu.


“ Kalian kan takut, makanya ga usah bahas soal hantu lagi lah. Lebih baik Kita jaga sholat dan berdoa supaya arwah korban bunuh diri itu ga gangguin Kita...,” kata Iyaz.


“ Iyaz betul, lebih baik Kita bubar dan jangan lupa doain mereka setiap selesai sholat. Masa iya sih udah didoain tapi masih gangguin Kita, itu namanya ga tau diri. Iya kan...,” gurau salah seorang penghuni kost hingga membuat yang lain tertawa.


“ Tolong jangan tinggalin Gue sendirian Yaz, Gue takut...,” kata Mirza.


“ Lo ga sendirian, kan Lo sekamar sama Rocki Za...,” sahut Iyaz.


“ Tapi Rocki ga bisa diandalkan Yaz, dia kan lebih penakut daripada Gue...,” kata Mirza sambil melirik kearah Rocki.


“ Sembarangan Lo kalo ngomong, Gue ga kaya gitu ya...,” sahut Rocki tak suka.


“ Terus apa namanya selama dua hari ini Lo terus ngikutin Iyaz kemana pun dia pergi...?” tanya Mirza sambil mencibir.


“ Lo...,” ucapan Rocki terputus saat Iyaz melerai keduanya.


“ Iya iya..., Kalian boleh tidur di kamar Gue...,” kata Iyaz.


“ Yeeeyyy..., makasi Yaz...,” sahut Mirza dan Rocki bersamaan.

__ADS_1


“ Iya...,” sahut Iyaz sambil bersiap membuka pintu kamarnya.


Melihat Iyaz sudah berada di depan kamarnya membuat Mirza dan Rocki berebut saling mendahului. Sikap mereka membuat Iyaz menggelengkan kepalanya.


\=====


Meninggalnya Gavin dan Urai dengan cara bunuh diri menggemparkan pabrik furniture tempat keduanya bekerja. Para karyawan pabrik pun tak percaya dengan keputusan mereka dalam mengakhiri hidup.


“ Kok mereka bisa sama-sama gantung diri kaya gitu ya...,” kata salah seorang karyawan pabrik.


“ Iya, aneh. Emangnya masalah mereka juga sama ya...?” tanya karyawan lain.


“ Setau Gue sih ga. Kalo Urai kan semua tau dia emang lagi patah hati. Tapi kalo Gavin kayanya dia baik-baik aja kok. Malah sehari sebelumnya dia ngajakin Kita ngumpul-ngumpul weekend nanti...,” kata salah seorang karyawan.


“ Betul, Gue juga denger kok dia ngomong gitu. Ga nyangka kalo ketawanya hari itu jadi ketawa Gavin yang terakhir...,” kata karyawan lain dengan mimik sedih.


“ Ssssttt..., ada Pak Dazkan tuh. Ayo balik kerja lagi...,” kata salah seorang karyawan mengingatkan.


Para karyawan yang sibuk bergosip itu pun segera kembali ke tempatnya masing-masing. Sedangkan supervisor bernama Dazkan itu nampak tersenyum puas mengetahui para karyawan itu kembali bekerja saat melihat kehadirannya.


Dazkan kembali mengamati kinerja para karyawan hingga ia sampai di meja paling ujung tempat Gavin bekerja. Di sana ia melihat tumpukan kain yang berbeda. Gavin memang bertugas menyortir kain yang akan dijadikan pembungkus sofa. Dan Gavin sengaja memisahkan kain yang layak dipakai dengan yang rusak untuk memudahkan pekerjaan teman-temannya.


Saat itu salah satu tumpukan kain itu terlihat miring dan hampir jatuh ke lantai hingga Dazkan menegur karyawan yang ada di balik kain itu untuk menggesernya ke tengah meja. Namun nampaknya karyawan itu tak mendengar ucapan Dazkan hingga membuat Dazkan kesal. Dazkan menarik bahu karyawan yang tengah berdiri membelakanginya itu dengan kasar untuk melihat wajah karyawan yang telah mengabaikannya tadi.


“ Kamu ga denger apa yang Saya bilang ya...?!” tanya Dazkan dengan marah.


Saat karyawan pria itu menoleh Dazkan pun terkejut. Karyawan pria itu berwajah sangat pucat dengan lidah menjulur dan mata membelalak. Karyawan itu tersenyum tipis kearah dazkan dan itu membuat Dazkan menjerit ketakutan karena senyum itu lebih mirip seringai ancaman daripada sebuah senyuman.


Jeritan Dazkan mengejutkan para karyawan pabrik hingga membuat mereka menoleh kearahnya. Tak lama kemudian para karyawan itu pun mendekati Dazkan yang terlihat mematung sambil mengacungkan telunjuknya seolah sedang menunjuk sesuatu.


Mengetahui sang supervisor tengah melihat sesuatu yang tak kasat mata, salah seorang karyawan pabrik bernama Fauzan pun segera membasuh wajah Dazkan dengan air mineral. Dazkan tersentak lalu tersadar sambil menatap ke sekelilingnya dengan tatapan bingung.


“ Terima kasih...,” kata Dzakan sambil menatap Fauzan.


“ Sama-sama Pak. Maaf kalo lancang, Bapak ngeliat apa...?” tanya Fauzan.


“ Saya ngeliat Gavin tapi kok aneh ya. Mukanya pucat banget, lidahnya juga menjulur dan matanya putih semua...,” sahut Dazkan gusar.

__ADS_1


Mendengar jawaban Dazkan membuat para karyawan saling menatap sambil bergidik ngeri.


\=====


__ADS_2